
*
*
Siska juga sangat tidak sabar melihat uang dari hasil penjualan hari ini. 4000 buah cireng dan 2000 bungkus cirambay. Astaga, 2000 bungkus cirambay saja, dijual dengan harga 10.000, bukankah jika dikalikan menjadi 20 juta an? pikir Siska.
Tapi meski sudah tahu hasil penjualan cirambay adalah sebanyak 20 juta, Siska tetap menarik box uang cirambay mendekat padanya. Dan mulai menghitungnya satu persatu. Dari mulai yg terbesar sampai terkecil, tidak ada yang dilewatkan. Tentu saja, semuanya kan sama-sama uang.
Sedangkan Santi, juga menyeret box uangnya sendiri. Memonopolinya sendirian, menghitung penghasilan dari penjualan 4000 buah cireng.
Tapi, mengingat harga cireng ada yang 5000, 8000, dan 17000, mungkin penghasilannya lebih sedikit dari cirambay yang sudah jelas 10000 per bungkus.
Apalagi, sekitar 13 orang memborong dagangannya, dari 13 orang pembeli ini, ada yang membeli sekitar 300 buah, 200 buah, dan 100 buah, sisanya 20 buah, 10 buah dan 50 buah, sepanjang melayani pembeli tidak ada yang membeli 5 buah, karna mungkin terlalu sedikit juga.
Jika dihitung-hitung, mungkin ada sekitar 6juta 800 ribu keseluruhannya. Tapi, hari ini banyak yang tidak mengambil kembalian. Jadi mungkin akan lebih banyak dari 6 juta 800 ribu.
1 jam kemudian, Siska dan Santi selesai menghitung uang. Hanya berdua saja, Ergan dan Geri sudah disuruh Siska membeli makan siang. Karena keempatnya tidak sempat pulang untuk makan siang kali ini.
"Aku selesai, kakak ipar! Jumlahnya 20juta 123ribu!" Pekik Siska senang, ia tertawa besar kali ini, benar-benar menakjubkan. Sama besarnya dengan uang muka yang di dapatkan dirinya dari Wasilah.
"Whoaa! Besar sekali?! Hebat! Punyaku hanya berjumlah 7juta 112 ribu saja!" Ucap Santi, dengan semangat menurun, ia menghitung paling lama dan malah mendapat jumlah paling kecil.
Siska tertawa, "Aiyo kak, harga cireng kan memang sedikit. Lihat cirambay ini harganya 10.000 perbungkus. dikalikan 2000 bungkus saja sudah 20 jutaan. Jadi wajar saja. Sedangkan harga cireng kan, beragam." Jelas Siska.
Membuat Santi diam sebentar kemudian menganggukkan kepalanya membetulkan, akhirnya sadar dan semangatnya kembali membara. Tertawa bodoh, seraya memegang uang ditangannya.
"Jadi berapa jumlah keseluruhannya? Itu sebanyak 27 juta 245 ribu! Yeah! Banyak sekali, hebat! hebat!" Seru Santi, dengan suara mengecil ketika menyebut nominal uangnya. Tidak ingin orang luar tahu, dan mendengarnya, berakhir membahayakan keduanya.
"Ini sangat gila, berjualan sehari saja bisa mendapat segini banyaknya. Pegawai pabrik saja kalah olehmu, Siska! Hahaha." Ucap Santi kembali tertawa senang.
__ADS_1
"Ibu, tolonglah, suara ketawamu sampai ke kejauhan, tahu tidak? Astaga, ibu, kau ini perempuan oke? Jaga sikapmu." Omel Geri yang tiba dengan langkah cepat. Ia menenteng dua buah kresek di tangannya. Rautnya terlihat sedikit kesal.
"Ibu hanya senang saja, anakku. Maklumi saja oke?" Ucap Santi seraya tersenyum lebar.
"Aku maklumi karena ini di ruang tertutup, tapi lain kali jangan begitu. Kau tahu Bu, kau itu cantik, jangan sampai kejadian di kota sebelah terulang, oke? Harus lebih kalem, dan dingin." Ucap Geri membuat Santi bukannya sedih, tapi malah semakin tersenyum lebar.
Karena terlalu ramah dan mudah bergaul lah, Santi ini bisa membuat laki-laki salah paham dengan sikap dan perilakunya. Maka dari itu, Geri memperingati ibunya agar lebih dingin dan tidak bar-bar begini.
Santi berdiri dan mendekati Geri, rautnya menggoda Geri. "Jadi, kau mengakui jika ibumu ini cantik, ya? Hahaha, akhirnya kau mau jujur, hmm?" Ucap Santi seraya mencolek dagu Geri.
Geri berdecak, kemudian memalingkan wajahnya, malu sendiri tapi ia dengan sekejap bisa merubah rautnya menjadi biasa lagi. "Sudahlah, ayo makan siang." Ajak Geri.
"Paman kecilmu mana?" Tanya Siska yang tidak melihat keberadaan Ergan begitu Geri kembali.
"Geri, dasar kau, meninggalkanku sendiri." Ucap Ergan yang datang dengan nafas terengah, karena berlarian.
Siska tertawa, "Sudah, ayo cepat kemari, bawakan makan siangnya. Kami sudahapar." Ucapnya seraya menarik Ergan duduk, dan menyodorkan minum padanya.
Keempatnya kemudian makan dengan sesekali mengobrol dan tertawa karena obrolan tersebut. Juga membicarakan Ergan yang kian hari makin populer. Setiap kali berjualan, ada saja gadis yang meminta berfoto.
Memang resiko menjadi seorang seleb. Jadi ya, Ergan juga terima-terima saja. Lagipula Ergan juga memang mau dan tidak merasa berat. Ia malah senang senang saja dengan atmosfernya.
30 menit berlalu, sesi makan siang keempatnya telah selesai. Kemudian keempatnya membereskan bekas makan dan sekalian membereskan kios, bersiap pulang.
Tapi sebelum pulang, Siska harus setor uang ke bank tersebut dahulu. Setelah ke bank, seperti biasa dirinya harus berbelanja untuk besok. Dan setelahnya ia harus bertanya tentang ruko yang lebih besar yang dijual pada Baron. Ah, juga harus mengantarkan pesanan pada penguasa pasar. Siang ini, menjadi jadwal padat Siska.
"Kakak ipar, ambil ini." Ucap Siska seraya menyodorkan yang sebanyak 3juta pada Santi.
"Untuk apa sebanyak ini? Kalau untuk belanja, 2 juta kemarin saja bukankah juga tersisa banyak? Ini 3 juta untuk apa saja?" Tanya Santi bingung.
__ADS_1
"Untukmu 500 ribu, belilah keperluan sekolah Geri. Bukankah Geri belum membeli tas, sepatu, dan seragam baru?" Ucap Siska seraya tersenyum.
"Astaga, tidak usah, tas sepatu dan seragamnya Pasih bagus, masih bisa dipakai." Ucap Santi memberikannya kembali, menyuruh Siska menghitung ulang uang yang akan diberikannya padanya.
"Kakak ipar, jika kau tidak mau, tidak apa-apa oke? Ini untuk Geri." Ucap Siska tersenyum, Kemudian beralih pada Geri. "Geri, kau mau membeli tas, sepatu, dan seragam baru?" Lanjutnya bertanya pada Geri.
Geri menatap Siska berbinar, kemudian menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Mau bibi! Terimakasih! Ibu tidak mau, aku mau, berikan padaku saja, aku bisa belanja sendiri!" Ucap Gadis semangat.
Santi mendalilkan matanya pada Geri begitu melihat antusiasmenya. "Hust! Biar ibu yang pegang, kau boros, nanti belanja yang lain-lain lagi!" Ucap Santi zeraya mengambil kembali uang dari Siska. "Siska terimakasih banyak ya, maaf merepotkanmu jadinya." Lanjut Santi tidak enak.
"Kakak, anggap saja ini gajimu berjualan selama dua hari, oke!" Ucap Siska tersenyum.
"Aiya, kau ini." Ucap Santi seraya tersenyum. Sedangkan Geri memasang raut cemberut, ibunya ini, tahu saja jika dia ingin memakai uangnya ke hal lain.
Eum, Geri butuh top up untuk membeli skin di game yang dimainkannya. Setidaknya, inilah yang dipikirkannya tadi begitu mendengar Siska mau memberinya uang 500 ribu.
"Yasudah, kakak ipar, kau pergilah belanja dengan Geri dan Ergan, aku harus mengobrol dengan bos Baron dulu. Lalu, mengantarkan pesanan pada penguasa pasar, dan ke bank untuk setor uang. Nanti minta diantarkan saja belanjaannya pada pemilik kiosnya. Karena kita juga membeli banyak. Jadi nanti kalian juga pulang duluan saja." Ucap Siska yang kemudian dipanggil oleh ketiga orang di depannya.
Ergan memimpin jalan, kemudian Santi yang kedua keluar. Setelahnya ada Geri yang berjalan paling belakang dengan raut tidak semangat. Siska tersenyum, kemudian ia menarik Geri Pelan.
Geri berbalik dan menatap Siska dengan wajah bingung, membuat Siska terkekeh kecil. "Ini, aku tahu kau mau membeli sesuatu kan? Belilah, jangan bilang-bilang pada ibumu." Ucap Siska berbisik.
Geri berbinar, ia kembali bersemangat kemudian mengucapkan terimakasih pada Siska seraya berbisik juga, tidak mau terdengar oleh ibunya. Karena jika ibunya tahu, pasti uangnya akan diambil, karena ibunya tahu jika dirinya memegang uang maka uangnya akan dipakai top up olehnya. Setelahnya ia keluar kios dengan perasaan senang. Dan menyusul ibunya serta Segan yang sudah berada di depan, sedikit jauh dari dirinya.
Siska tertawa seraya menggelengkan kepalanya. Box makanan kosong sudah dibawa oleh kakak ipar, Erga dan Geri tadi. Jadi Siska hanya membawa satu box makanan kecil yang berisi cireng dan cirambay buatannya untuk diberikan pada penguasa pasar.
*
*
__ADS_1