
*
*
Sebelum sarapan, Siska telah dipanggil lebih dulu oleh keempat laki-laki yang menyayanginya. Siapa lagi jika bukan Ayah, dua kakak, dan adiknya? Juga masih ada tambahan orang, kakak ipar dan ibunya. Semuanya menunggu Siska di ruang tamu.
Rendra yang pertama berbicara, ia membicarakan mengenai keuntungan selama dua hari, yang memang Rendra pegang.
"Adik ketiga, ini uang keuntungan selama dua hari. Tapi masih belum aku potong apapun. Untuk uang modal, aku juga menggunakan tabunganku juga uang milik Geri kemarin, sebanyak 100 jutaan, termasuk uang gajinya sudah aku berikan pada Satria dalam 100 juta tersebut." Ucap Rendra seraya menyerahkan uang dalam kresek hitam. Sengaja ia menyimpannya dalam kresek, karena tidak tenang saja jika disimpan di tempat yang bagus seperti tas, takutnya ada yang mengambilnya sewaktu di kedai, apalagi keadaan sangat ramai.
Bukan berarti ia mencurigai Sapta juga yang lainnya, tapi, ditakutkan ketika keduanya lengah, dan keduanya sedang sibuk membantu yang lainnya, ada pelanggan yang sadar akan uang tersebut. Jadilah ia memasukkannya ke kresek dan menggantungnya di bawah meja konter pemesanan dan pembayaran.
"Berapa jumlah keuntungan dua hari ini, kakak pertama?" Tanya Siska seraya mengambil mresek yang disodorkan. Sebetulnya, geli sendiri, kakaknya ini seperti ibu-ibu zaman dulu, meski kaya tapi suka sekali memakai kresek sebagai tempat menyimpan uang untuk berjaga-jaga.
"Semuanya ada sekitar 215 juta 720ribu. Keuntungan lebih banyak meski kami selalu tutup lebih cepat. Karena jika bahan habis, kami masih bisa membuat yang baru, jadi para pelanggan yang memesan juga lebih senang, karena produk yang dijual selalu ada. Hanya saja, mungkin stok untuk satu bulan tidak akan bertahan satu bulan. Aku perhitungkan, jika kami mendapat pelanggan besar-besaran terus menerus, bahan akan habis dalam 3 Minggu saja." Jelas Rendra
"Nah, ini yang mau ditanyakan juga, bagaimana menurutmu? Apa kamu harus tetap menjaga stok agar cukup untuk satu bulan, atau melakukan hal seperti dua hari ini? Selagi ada bahan, maka buat lagi saja yang baru?" Timpal Sapta, membantu Rendra menjelaskan situasinya.
"Menurut kalian bagaimana? Apa kalian merasa keberatan dan terbebani jika membuat lagi produk yang telah habis terjual sebelumnya? Apa kalian merasa kerepotan atau tidak?", Tanya Siska, kembali bertanya.
__ADS_1
"Sebetulnya, iya, karena orang kita juga berkurang di dapur. Tapi, masih bisa ditangani karena adik ipar kedua juga sesekali membantu kami di dapur. Juga sore hari akan ada Ergan dan Geri." Balas Santi, mengemukakan pendapat dan perasaan di lapangan, yakni dapur,.tempat tempur para koki.
"Yah, kalau begitu, aku kembalikan saja lagi pada kalian. Jika memang kalian tidak kerepotan dan mampu, maka lakukan saja. Untuk stok bahan tidak masalah, kita masih bisa menyuruh Satria membeli dan mencarinya lagi. Untuk uang jangan khawatir, tabunganku kini mungkin lebih dari cukup. Apalagi jika keuntungan kedai setiap harinya mencapai ratusan juta, kita malah bisa membuka cabang baru di kabupaten dan kota, bukan?" Ucap Siska seraya tersenyum semangat, jika bisa membuka cabang, betapa bagusnya?
Apalagi, para pelanggan kedainya, sebetulnya juga bukan dari satu desa ini saja, tapi banyak juga dari kabupaten bahkan kota yang memang tahu akan kedai Tasty Treats dari konten tutub Ergan.
"Ide bagus! Tapi, jika kami menambah orang apa dibolehkan? Untuk dibagian dapur, aku ada adik di rumah, apa bisa membawanya bekerja?" Tanya Putri yang sedari tadi diam. Menunggu waktu yang pas untuk angkat bicara.
"Tentu saja, bawa saja jika memang bisa memasak dan jujur. Aku tidak keberatan, lebih baik jika tambah 3 orang di dapur, dan dua orang masing-masing di depan. Agar Mama, adik keempat, dan keponakan pertama tidak perlu membantu lagi. Mama sudah berusia, Ergan dan Geri harus fokus sekolah. Aku rasa, kedai menganggu sekolahnya. Sudah cukup keduanya punya akun tutub saja, untuk mengisi waktu luang jika memang bosan." Jelas Siska lagi.
Kedua mata Putri berbinar, pun dengan Santi. Keduanya bisa membawa keluarganya bekerja bersama-sama di kedai. Cukup bagus.
Semuanya menganggukkan kepalanya, memang benar, selama ini keduanya selalu membantu di kedai ketika pulang sekolah, meski baru satu mingguan, tapi tetap saja dirasa keduanya malah tidak pernah terlihat mengerjakan tugas. Semua orang dewasa mengkhawatirkan keduanya.
"Menurut Bapak bagaimana?" Tanya Siska tersenyum. Ia tidak lupa dengan eksistensinya. Ayahnya ini memang suka diam sebelum tahu jelas pendapat masing-masing orang. Sebagai kepala keluarga, sudah seharusnya mengambil keputusan yang tidak memberatkan semua orang.
"Bapak juga setuju, Ergan dan Geri mulai hari ini dilarang membantu kedai jika besoknya tidak libur. Untuk Mama, biarkan saja, asal jangan berlebihan, jika sudah lelah cepat-cepat naik dan istirahat. Lalu untuk pegawai tambahan, 1 koki dari keluarga Santi, 1 pelayan dari keluarga Santi. Juga 1 koki dari keluarga Putri, 1 Pelayan dari keluarga Putri. Tambah 2 pelayan lagi, ambil dari teman Ergan, nak, coba tanyakan apakah temanmu ingin bekerja di kedai nanti." Ucap Ayahnya mengaturkan sama rata, agar semuanya tidak iri dan merasa adil.
Santi dan Putri mengangguk serempak. Sudah lebih dari cukup. Keduanya cukup puas dengan pengaturan adil dari Ayah mertuanya.
__ADS_1
"Ah, ada, dua hari lalu temanku ada yang meminta pekerjaan. Persis dua orang! Baiklah, besok aku akaninta keduanya datang ke kedai saja, bagaimana?" Tanya Ergan dengan senyum lebar.
Tidak msrasa keberatan sama sekali dengan aturan final dari Ayahnya. Karena ia tahu, ini demi kebaikannya sendiri. Lagipula, dirinyaasih bisa.membuat konten dan membantu kedai jika sedang libur sekolah. Cukup bagus.
"Baik, begitu saja." Ucap Ayahnya mengangguk setuju. Pun dengan yang lainnya.
Siska tersenyum, cukup puas, karena semuanya tidak merasa keberatan. Lalu ia beralih pada Rendra. Menyuruhnya mengambil 100 juta yang dipinjamnya padanya dari tabungannya.
Awalnya Siska kira, Rendra memakai uang keuntungan kedai sebagian, tapi ternyata tidak. Rendra tidak jadi memakai uang keuntungan kedai agar pemotongannya jelas katanya.
Setelah membagi uang, Siska kemudian beralih ke topik lainnya. Yakni tentang penjagaan dirinya dan anak-anaknya. Membicarakan secara rinci semua hal yang sebelumnya dibicarakan dengan dua kakak iparnya di dapur.
"Untuk penjagaan, biar bapak aturkan. Besok, paling lambat bapak pastikan sudah ada orangnya. Begini saja, bagaimana?" Tanya Ayahnya mengambil alih.
Siska percaya pada ayahnya, kemudian ia mengangguk setuju. Lagipula Siska tidak pernah lupa jika Ayahnya merupakan salah satu yang terkuat dulu. Jadi, masalah penjagaan biar bapaknya saja yang aturkan. Dengan begini, Siska juga tidak perlu susah-susah menguji kepribadian orang yang akan menjaganya kelak. Karena Ayahnya sudah pasti akan mempercayakan anaknya pada orang yang dipercayai sifat dan perilakunya. Intinya, yang sudah teruji.
Kemudian karena waktu sudah menunjukkan pukul 5.30, semuanya pun membubarkan diri. Mengurus urusannya sendiri salah satunya mengurus anak-anak yang memang harus disiapkan pergi ke sekolah.
*
__ADS_1
*