
*
*
Mendengar keluhan Sapta, semua orang tertawa. Kemudian sama-sama mengangguk setuju dengan keluhannya. Terlebih ke tiga teman Ergan, sungguh sangat melelahkan bagi ke tiga remaja yang baru turun bekerja ini. Meski begitu, ini sangat menyenangkan. Selain lelah, ketiganya menikmati pekerjaannya.
Selain Sapta, dan ketiga teman Ergan, Ergan, keponakannya Geri juga Deri sama-sama menelungkup kan wajahnya di meja. Membuat meja terlihat penuh dengan telungkupan kepala mereka.
Ibunya, Estika sudah lebih dulu naik ke atas, istirahat dengan membaringkan tubuh tuanya di sana. Pun dengan Putri dan Santi. Sama-sama sudah naik ke atas mengistirahatkan diri.
Sisa Siska dan Rendra, keduanya tertawa melihat telungkupan kepala di atas meja yang terlihat memutar membentuk lingkaran. Tapi keduanya masih berada di konter pembayaran atau Kasir.
Keduanya sedang membereskan uang yang sangat menumpuk di laci, bahkan lemari kosong di bawah laci juga penuh. Membuat Siska mengambil semuanya dan menaruhnya di dalam wadah bersih kosong.
Kemudian keduanya duduk di atas lantai, dan menghitung uang bersama-sama. Tanpa sepengetahuan yang lain, karena konter pembayaran ini bersatu dengan konter pemesanan, jadi ada penghalang sebatas perut jika berdiri. Hanya ada satu pintu kayu saja jika ingin masuk atau keluar dari konter ini. Jadi, keduanya benar-benar terhalangi dengan baik.
"Adik ketiga, aku pusing melihat uang sebanyak ini." Ucap Rendra seraya memegangi kepalanya dengan kedua mata yang terbuka lebar.
Siska tertawa, "Kakak, ini baru permulaan. Jika pendapatan kita sebanyak ini sekarang, bukan tidak mungkin, nanti kita bisa buka usaha baru, ah juga kita bisa merenovasi rumah!" Ucap Siska kemudian.
"Aiyo, masih terlalu jauh, cepat hitung dulu saja, jangan berhayal kemana-mana." Balas Rendra seraya mengetuk kepala Siska.
Siska tersenyum lebar, kemudian mengangguk dan keduanya mulai menghitung semua pendapatan yang ada. Ergan dan Siska sama-sama memilih uang yang besar-besarnya dulu, yakni uang 100 ribuan agar lebih mudah, kemudian ke 50 ribu, 20 ribu, dan seterusnya.
__ADS_1
Uang modal untuk pembelian bahan kemarin mencapai 5 juta 4 juta 550 ribu, ditambah uang belanja tepung tapioka dan lainnya, yang dibelanjakan oleh Santi sebanyak 1 juta 500 ribu. Jadi uang modal untuk bahan-bahan sekitar 6 juta 50 ribu.
Siska dan Rendra menghitung semuanya, sampai satu jam kemudian, keduanya langsung menyebutkan jumlah yang telah dihitungnya. Siska mendapat sekitar 20 jutaan, sedangkan Rendra lebih kecil, yakni 17 juta 561 ribu.
Untuk memperjelas keuntungan, Siska kemudian membuka komputer di kasir. Dan menatap jumlah uang yang seharusnya di dapatkan. Lalu kedua matanya membelalak, karena uang yang seharusnya di dapat adalah sekitar 37 juta 561 ribu.
Tapi setelah ditanyakan pada Rendra, memang ada beberapa orang yang memberi tip langsung pada kasir karena merasa puas dengan makanan dan tempatnya. Jadi, itu merupakan uang lebih yang diberikan pelanggan. Siska pun melompat dengan senang, benar-benar beruntung.
Tapi tetap saja kan, jumlah uang yang fantastis ini, 38 juta dalam satu hari, benaran hebat sekali kedainya ini! Padahal baru satu hari buka, kan? Benar-benar deh keberuntungan semuanya sangat baik!
Tapi, mari kita mulai perhitungannya agar lebih jelas.
Cappuccino Cincau saat belanja membutuhkan 500 ribu, dijual per gelas 8000, beberapa ada yang pakai cup dengan tambahan per cup 1000. Cappuccino cincau terjual sekitar 500 gelas dan 100 cup dibawa pulang. 500 ini dikalikan dengan 8000, jumlahnya saja sudah 4 jutaan. Lalu 100 dikalikan 9000, jumlahnya 900 ribu. Jumlah seluruh cappuccino cincau adalah 4 juta 900 ribu.
Berikut menghitung Bakso, dibeli dengan 500 ribu. Per pack harga 25 ribu. Jadi yang terbeli adalah 20 pack, dengan isi per pack adalah 20 bakso berukuran sedang. Tinggal kalikan 20 dengan 20, jadi Bakso yang disiapkan ada 400 an. Harga jual per satu bakso adalah 3000, sedangkan satu tusuknya 8000. Yang membeli pertusuk ada sekitar 5 orang dengan jumlah 20 tusuk. 20 dikalikan 8000, jadi 160 ribu. Sisanya adalah orang yang membeli perbakso karena kebanyakan ternyata dimasukkan ke seblak. sekitar 340 bakso. Kalikan 340 dengan 3000, jadi 1 juta 20 ribu. Jumlah semuanya adalah 1 juta 180 ribu.
Untuk Teh Rosella, dijual sekitar 7000 per gelas, dan ditambah 1000 per cup untuk yang dibawa pulang. Bahan utama gratis, karena benihnya juga diberikan oleh orang lain kata Ayahnya. Dihitung bahan dasar gula saja sekitar 200 ribu. Yang terjual ada sekitar 315 per gelas dan 100 per cup. Kalikan 315 dengan 7000, jadi 2 juta 205 ribu. Lalu 100 dikalikan 8000, jadi 800 ribu. Jumlahnya sekitar 3 juta 5 ribu.
Cireng isi ayam, dibuat sebanyak 2000 an cireng, menghasilkan jumlah keuntungan sebanyak 2 juta 50 ribu, Cirambay dibuat sebanyak 800 bungkus, menghasilkan keuntungan 8 jutaan. Lalu cilok ayam suwir menghasilkan keuntungan 5 jutaan, harga 1 porsi 10.000.
Sisanya adalah Seblak. Keuntungan inilah yang paling besar. Karena kebanyakan yang membeli seblak, rata-ratanya mencapai 20.000 per mangkuk. Yang terjual adalah sekitar 550 an mangkuk. Ditempat 20.000, dibawa pulang tambah 1000. 500 mangkuk ditempat, 50 bungkus dibawa pulang. Kalikan 500 dengan 20.000, jadi 10 juta. Lalu 50 kalikan 21.000 jadi 1 juta 50 ribu. Jumlah seluruhnya 11 juta 50 ribu. Sudah dihitung tanpa bakso, karena jika dihitung dengan bakso harga permangkuk bisa 23000 an.
Sedangkan menu air putih, dijadikan gratis untuk hari pertama, karena kedainya hanya menyiapkan air galon, bukan air botolan. Untuk ke depannya, akan disiapkan air botolan dengan harga perbotol 4000.
__ADS_1
Jadi, keseluruhan keuntungan hari ini sebanyak 37 juta 561 ribu. Keuntungan sebesar ini, jika orang lain tahu, siapa yang tidak akan berbondong-bondong membuka kedai yang sama?
"Astaga, adik ketiga aku benaran pusing." Ucap Rendra seraya memegang kepalanya. Memang berdenyut, selain karena kelelahan, ia juga shock melihat uang sebanyak ini dalam satu hari.
"Kakak, hahaha, kau ini. Sudahlah, nikmati saja keuntungan besar ini. Aku perkirakan akan berlanjut selama satu mingguan, setelah satu mingguan, mungkin keuntungan perlahan juga akan berkurang, paling-paling kita hanya akan untung 5 sampai 8 jutaan saja nanti." Ucap Siska tersenyum.
"Siska, itu uang yang banyak oke?!" Ringis Rendra.
"Haha, baik, baik, sudah lupakan. Kita lanjut hitung uangnya dulu. Setelah dikurangi modal, yang tersisa mungkin tidak banyak, bukan?" Ucap Siska tersenyum.
37 juta 561 ribu ini, dikurangi uang bahan 6 juta 50 ribu, uang papan nama 500 ribu, uang renov dan uang cctv 4 juta. Sisa uang adalah 27 juta 11 ribu. Dikurangi uang muka kedai 20 juta. Untung bersih hanya sekitar 7 jutaan saja. Tapi, uang yang keluar untuk kedai, semua telah kembali, bahkan memberikan untungan banyak.
Siska makin tersenyum lebar setelah menghitung semuanya. "Kakak, masih ada 7 juta! Haha, kita masih bisa menambahkan uang untuk memperbanyak bahan besok! Semua pengeluaran telah tertutupi!" Seru Siska senang.
Sedangkan untuk uang sekolah, dan motor, itu Siska anggap adalah pengeluaran pribadi, jadi tidak ia hitung.
"Ya, baiklah, kau cepat simpan uangnya, besok baru setorkan ke bank. Jangan ceroboh menyimpannya." Ucap Rendra memperingatkan.
"Baik!" Ucap Siska mengangguk. Kemudian semuanya beristirahat di kedai, karena lantai atas ada 3 kamar, jadi semua orang bisa menginap. Termasuk teman-teman Ergan. Hanya saja, para perempuan tidur di kamar dan yang tidak kebagian kamar, yakni laki-laki, kebagian tertidur di ruang tengah lantai dua tersebut.
*
*
__ADS_1