Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Kehangatan Keluarga


__ADS_3

*


*


Setelah selesai mengobrol dengan keluarga Siska, kini giliran Siska yang diajak Darren ke rumah kedua orang tuanya. Tentu untuk meminta izin juga. Meski Darren merasa tidak perlu karena setiap bepergian dirinya tidak selalu izin. Tapi Siska yang menyangkal semuanya, alhasil Darren mau tidak mau datang ke rumah orang tuanya pada siang hari pukul 2. Meninggalkan kediaman orang tua Siska yang semuanya sedang membereskan barang, kecuali Keluarga Sapta.


Sisanya membereskan barang masing-masing dengan sangat baik. Kepergian pun di undur menjadi keesokan harinya untuk ke ibukota. Sedangkan pergi bulan madu menjadi lusa.


Santai membantu Geri, begitupun Rendra yang meski sedikit tidak setuju, tapi karena Santi membujuknya lama, akhirnya Rendra menyerah dan membiarkan anak laki-lakinya pergi. Lagipula ada kakek neneknya, nantipun ada Siska dan Darren yang akan menjaga anaknya.


Membuatnya lebih tenang, meski tidak benar-benar tenang karena Geri disini saja sudah sedikit nakal, ia takut di ibukota pergaulannya menjadi lebih bebas, tapi ia percaya adiknya. Siska pasti akan menjaga Geri dengan baik, terlebih ada Ergan dan Darren juga nantinya.


Kembali pada Siska dan Darren, yang sudah sampai sejak satu jam yang lalu. Keduanya membawa serta Uqi dan Uni atas permintaan ibu Darren yang tahu jika Siska akan berkunjung. Keempatnya kini sudah berhadapan dengan dua orang tua yang terlihat senang menyambung keempatnya.


Uqi dan Uni bahkan langsung direbut dan diajak main, juga jangan lupakan tentang barang-barang yang sudah disiapkan keduanya. Lebih ke hadiah untuk Uqi dan Uni. Hadiahnya juga bukan main, harganya mahal menurut Siska yang sering membelikan kedua anaknya mainan di bawah seratus ribu.


Tapi meski tidak enak, Siska sendiri tidak dapat menolak. Apalagi dua anaknya sangat antusias dan suka sekali dengan hadiah dari kakek dan nenek barunya. Sikap keduanya juga sangat hangat dan menerima keduanya. Jadi, Siska juga hanya bisa ikut senang atas situasi tersebut.


Lalu, setelah memberi hadiah, akhirnya Uqi dan Uni dibiarkan main berdua. Sedangkan keempat orang dewasa langsung mengobrol perihal kepindahannya ke ibukota dan jadwal perjalanan bulan madu selama dua Minggu.

__ADS_1


Keduanya tidak ada pendapat berlebih, setuju-setuju saja, membiarkan Darren dan Siska pindah. Lagipula keduanya juga ada kediaman di ibukota, jadi jika ingin menetap agar lebih dekat juga bukan masalah besar.


Lalu perihal bulan madu, tentu keduanya, terlebih Bu Wasilah mendukungnya dengan antusias. Apalagi perjalanan tersebut yang akan membuat kedua pasangan baru itu lebih dekat. Ah yang lebih diharapkan tentu saja adalah cucu dari Darren. Keduanya sudah tua, sudah sepantasnya mengharapkan cucu dari anaknya bukan?


Setelah obrolan persetujuan, yang memakan waktu sampai petang karena juga sekalian mengobrol santai, keempatnya dilarang pulang dan menginap saja. Membuat Siska dan Darren akhirnya menginap.


Makan malam pun terasa jauh lebih hangat dan ramai di kediaman Wistara tersebut. Apalagi ada Uni dan Uqi. Meski Uqi tidak banyak bicara, tapi celotehan Uni yang riang dan banyak membuat semuanya sesekali tertawa. Suasana sangat hangat, Uqi bahkan suka diganggu Uni membuat ia bersuara lebih banyak hari ini.


Siska tentu senang melihat Uqi lebih aktif hari ini, meski penyebabnya adalah adiknya yang mengganggunya, tapi itu merupakan kemajuan yang bagus juga. Siska mendukung kejahilan Uni pada kakaknya. Meski Uqi mengadu dan menyuruh Siska mengomeli Uni, Siska tidak menggubris dan malah ikut menyatu, berkubu dengan Uni menjahili Uqi.


Uqi yang kesal, hanya bisa mengusap dada dan menghembuskan nafasnya saja. Membuat Tuan Edden tertawa kecil melihat perilaku anak kecil yang terlihat dewasa tersebut.


Tuan Edden suka sifat Uqi, ia tenang, sabar, dan dewasa. Terlihat bijak di usianya yang masih terbilang kecil. Membuat Tuan Edden menaruh lebih banyak perhatian pada bocah tersebut.


Selesai makan malam, semuanya berkumpul di ruang keluarga dan menonton serial keluarga bersama. Kondisi dan situasi yang sudah tidak pernah terjadi, kini terjadi lagi, membuat Bu Wasilah diam-diam terharu. Ia rindu suasana hangat keluarga seperti ini.


Meski ia sering berduaan dengan suaminya, Tuan Edden. Tapi suasana keluarga kecil seperti ini sudah tidak pernah terjadi sejak Darren masuk ke sekolah menengah atas. Ia lebih memilih hidup mandiri dan jarang ada waktu bersama ayah dan ibunya.


Setiap kali Ibunya merindukannya, malah ibunyalah yang pergi menemui Darren ke apartemen pribadinya. Membuat Tuan Edden sedikit geram, tapi tidak bisa berbuat apa-apa juga karena bocah itu dilindungi istirnya, Bu Wasilah.

__ADS_1


Tuan Edden ini budak cinta Bu Wasilah. Pecinta istri, penyayang istri, jadi setiap kali ia melakukan hal yang tidak disukai istrinya, tentu dengan segenap hati ia akan langsung membujuk istrinya agar tidak marah dan tetap harmonis setiap harinya. Tidak ada seharipun, Tuan Edden betah dimusuhi istrinya. Jadi keduanya jarang sekali bertengkar.


Darren sendiri merasa muak melihat keromantisan kedua orang tuanya setiap hari kala itu, jadi ia pergi dari rumah. Karena selain alasan tersebut, yang paling diinginkan Darren adalah hidup mandiri. Hidup di rumah dengan ibunya, membuatnya manja dan semakin manja setiap harinya. Bu Wasilah hobi memanjakan Darren. Dan Darren tidak suka, apalagi setelah dipicu oleh tindakan penindasan di sekolah menengahnya.


Hidup mandiri pun menjadi keinginan menggebu. Karena ia ingin mulai berani melawan orang-orang yang menindasnya. Terlebih, ia juga sudah bertemu Siska kala itu.


"Uqi dan Uni sudah mengantuk, Siska duluan saja ya?" Tanya Siska pada Darren dan dua mertuanya yang masih fokus menatap layar, menikmati serialnya.


Sudah satu jam setengah berlalu, Uqi sudah berkali-kali menguap, dan Uni bahkan sudah tidur di pangkuannya. Jadi, Siska kasihan melihatnya, dan inisiatif ingin membawanya tidur lebih dulu.


"Darren, bantu angkat Uni Siska kesulitan. Siska papah Uqi saja. Tapi nanti balik lagi kesini oke? Ayah dan Ibu masih ada hal yang mau dibicarakan." Ucap Tuan Edden.


Bukan semata-mata ada obrolan, tapi Tuan Edden melihat, Bu Wasilah masih ingin bersama anak dan menantunya. Alhasil, itu adalah alibi yang bagus.


"Hmm? Obrolan apa?" Tanya Bu Wasilah setelah Siska dan Darren pergi dengan masing-masing membawa satu anak di tangannya.


"Suut, bukankah istriku masih mau bersama anak dan menantu? Diam saja, oke?" Ucap Tuan Edden, meski sering menyebalkan, tapi ia memang sangat peka pada perasaan istrinya.


Bu Wasilah tersenyum, dan menganggukkan kepalanya. Ia berterimakasih dengan mengecup pipi suaminya tersebut.

__ADS_1


*


*


__ADS_2