
*
*
Setelah insiden malu di dalam mobil, sampai saat Chika turun dan dititipkan pada Satria agar memasukkannya sebagai pekerja, Siska masih tetap merajuk pada Darren. Ia tidak lagi mengeluarkan suara apapun, bahkan tidak menjawab pertanyaan dan pertanyaan yang keluar dari mulut Darren yang ditujukan padanya.
Sampai saat ini, Darren terus mengikuti kemanapun Siska pergi. Uni yang bahkan sudah turun dari gendongannya dan meminta dituntun karena ingin jalan kaki saja pun, diabaikan Siska.
Kesal, dan malu bercampur. Kira-kira, sudah tahu bukan bagaimana rasanya jika hal ini terjadi pada yang lainnya. Tentu saja akan menghindar bahkan bersembunyi.
Tapi Siska mana punya kesempatan menghindar dan bersembunyi lagi saat ini? Darren bahkan menempeli dirinya terus sejak siang. Sampai saat ini, pukul 4 sore, dirinya sedang memebereskan barang di kamar hotelnya karena ia akan segera keluar dari hotel dan pindah ke perumahan Turnuksio di ujung ibukota.
Butuh waktu 1 setengah jam untuk sampai ke sana. Tapi ia juga tidak khawatir Keluarga akan menunggunya, sebab mereka juga sudah di arahkan ke perumahan tersebut. Sampai saatnya tiba mungkin mereka hanya akan diam menunggu di luar gerbang rumah baru, karena tidak yakin dengan tempat yang ada di lokasi yang dikirimkan oleh Siska.
Karena selain megah bangunannya, di perumahan Turnuksio hanya ada beberapa keluarga, dan itu tidak sampai 10 keluarga yang tinggal di sana. Jadi perumahan tentu sangat sepi saat ini.
Setelah selesai membereskan barang, Siska tidak perlu repot-repot membawa koper, karena nyatanya Darren langsung bertindak mengambil alih. Dengan memanggil orang yang entah sejak kapan ada di luar kamar hotel Siska. Bahkan untuk keluar, prosedurnya pun Darren yang mengurus.
Alhasil, Siska hanya duduk diam menunggu Darren. Dia tidak bisa langsung pergi, oke. Kartu tanda pengenalnya disita oleh Darren. Jadi, mau tidak mau ia hanya bisa menurut dengan duduk diam dan patuh bersama Uni di sampingnya.
Uni bahkan tidak mengajak ibunya bicara sedari siang, karena tahu suasana hati ibunya masih terlihat buruk. Ia mengerti itu, jadi tidak mengganggunya, karena ia juga tidak ingin kena marah olehnya.
Setelah menyelesaikan prosedur, Darren, Siska dan Uni pun berangkat ke perumahan Turnuksio dan sampai satu setengah jam kemudian di sana.
Benar saja, terlihat dua mobil di depan gerbang. Di luar mobil juga terlihat keluarganya yang masih melihat-lihat rumah yang megah tersebut. Suasana hati Siska membaik begitu saja. Bahkan Darren yang sejak tadi didiamkan, tiba-tiba ditepuk bahunya oleh Siska.
__ADS_1
"Mereka pasti kaget, bukan?" Ucap Siska seraya tertawa kecil. Senang melihat wajah terkejut orang-orang dari dalam mobil yang masih melaju pelan ke arah keluarganya berdiam diri.
Darren menghela nafas, dan menganggukkan kepalanya. Akhirnya ia tidak didiamkan lagi. Meski alasan utama kesenangannya adalah keluarganya, tapi tidak apa, yang terpenting adalah Siska sudah lebih baik perasaannya.
"Mbuu! Mbuu! Kakak Uqi!" Seru Uni senang. "Cepat, cepat, Uni tidak sabal ingin memeluk kakak!" Lanjutnya makin semangat. Ia bahkan berdiri dari pangkuan Darren saat ini.
"Ya, ya, sebentar lagi sampai, tahan sedikit oke? Nanti Uni bisa memeluk kakak sepuasnya!" Balas Siska seraya tertawa, atmosfer senang Uni menular padanya. Bahkan supir Siska juga tersenyum kecil melihatnya. Majikannya tidak lagi mengeluarkan taring, siapa yang tidak senang?
Mobil berhenti, Siska dan Uni dengan cepat keluar dari mobil.
"Bapak! Mama!" Seru Siska seraya melambaikan tangannya.
Semua keluarga menoleh, dan akhirnya tersenyum dengan lebar, lebih ke perasaan lega karena akhirnya Siska datang menemui mereka setelah berkali-kali dihubungi tapi ponselnya tidak aktif.
"Kau kemana saja astaga! Sudah 20 menit kami disini, ponselmu juga tidak aktif. Kami khawatir, ini tempat yang salah bukan? Kau menyusul kami untuk memberitahu kami? Ayo, ayo, cepat masuk mobil lagi, kita masih harus ke tempat yang benar." Ucap ibunya.
"Tidak salah, memang ini tempatnya. Ayo masuk mobil, ke dalam masih ada jarak lumayan jauh. Halamannya sangat luas." Ucap Siska.
Tapi keluarganya malah terbengong mendengar perkataan Siska. Bahkan Ibunya tertawa canggung. "Aduh, jangan begitu, baru 1 bulan sejak kau disini, nak." Ucapnya canggung.
"Kakak, jangan bercanda lagi, kasihan Bapak dan Mama sudah lelah di perjalanan. Ayo kita ke tempatmu, baik?" Ucap Ergan angkat bicara.
"Ini memang rumahnya. Aku baru membelinya, kalian tidak percaya padaku?" Tanya Siska cemberut.
Darren yang masih belum keluar mobil, melihat Siska, dan tersenyum kecil. Kemudian ia keluar dari mobil dan berjalan menghampiri semuanya.
__ADS_1
Ayah Siska bahkan berseru melihat kedatangannya. Apalagi ia keluar dari mobil Siska. Lebih ke penasaran, sudah sejauh apa hubungan keduanya berkembang, haha.
"Bapak, Mama, ini memang rumah yang dibeli Siska siang ini. Dokumennya ada di dalam koper, aku saksi pembeliannya. Ayo, masuk saja ke dalam mobil lebih dulu dan ikuti kami masuk. Akan ada orang di dalam yang menyambut." Jelas Darren tersenyum, menyapa semua orang.
Semua orang senang, kecuali kakak kedua Siska, Sapta. Tidak terlalu bersahabat dengan Darren. Sejak saat Siska berpisah dengan Aldo, meski kelihatannya tidak peduli, Sapta adalah yang paling peduli dan memerhatikan detail kecil yang dihadapi Siska.
Sapta tahu Darren mau mendekati adiknya, jadi Sapta tidak akan semudah itu melepaskan adik yang selama ini sudah sangat menderita. Karena dulu, ia melepaskannya menikahi seorang bajingan. Kali ini, ia hanya belajar dari pengalaman.
Meski Darren sudah beberapa kali membuktikan diri, Ayah, ibu, kakak pertama, dan adiknya juga sepertinya sudah merestui, tapi Siska masih belum menunjukkan respon apapun, jadi Sapta akan tetap menjaganya jauh dari Darren.
"Ah! Benar-benar luas. Geri! mari membuat konten nanti!" Seru Ergan semangat. Ia sangat antusias melihat pemandangan betapa luasnya rumah yang dibeli kakak ketiganya ini.
"Mari! Aku juga ingin membuatnya!" Balas Geri tak kalah semangat.
Jumlah ada 3 mobil dengan mobil yang Siska pakai. Satu mobil diisi oleh Supir, Ayah, ibu, Ergan, Geri dan Uqi. Sedangkan satu mobil lagi diisi dua kakak dan dua kakak ipar Siska, serta Desi, keponakan perempuan Siska.
"Uqi ikut!" Pekiknya tak mau kalah.
"Baik, baik, mari masukkan semua orang ke dalam konten, haha." Balas Ergan tertawa senang.
Rumah ini bahkan lebih besar dari rumah milik orang tuanya di desa yang baru selesai dibangun 1 bulan yang lalu. Orang tuanya juga bahkan takjub dengan rumah megah di depannya.
Sampai ketiga mobil berhenti, semua keluar, dan benar saja ada orang yang menunggu. Itu manajer yang melayani Siska hari ini. Juga ada satu mobil pribadi dan 1 mobil pick up tersisa di depan rumah.
*
__ADS_1
*