
*
*
Acara syukuran telah selesai pukul 2 siang. Dan Siska berangkat pukul 4 sore, karena setelah acara selesai, Siska masih harus menyiapkan baju yang akan dibawanya. Juga keperluan lain yang dirasa akan dibutuhkan sehari-hari. Termasuk barang Uni.
Semalam tidak sempat beberes, sebab ia langsung berbaring di atas kasur bersama kedua anaknya, dan mengobrol panjang. Sampai Uqi dan Uni sendiri tertidur.
Alhasil, hanya bisa dilakukan setelah acara selesai. Juga, karena seharian Uqi lengket padanya, jadi Siska juga kesulitan melakukan apa-apa. Meski begitu, Siska memaklum, malah jatuhnya ia gemas pada Uqi. Sebetulnya ia tidak mau ditinggalkan, terlihat dari sikap dan perilakunya seharian ini, tapi ia harus rela tidak ikut karena sekolahnya.
Hingga kini, Uqi masih memeluk lengan Siska, enggan melepasnya, padahal Siska sudah siap dengan koper yang sudah dimasukkan ke bagasi mobil. Siska akan membawa mobil ke ibukota. Agar nantinya ia lebih mudah kemana-mana, tidak perlu memanggil taksi dan segala macamnya.
Siska juga sudah mempekerjakan sopir kini, jadi ia lebih fleksibel nantinya. Tidak perlu mengendarai mobil sendiri, meski kini ia sudah bisa dan sudah punya SIM sendiri. Ia hanya tidak mau waktu bersama Uni nanti berkurang hanya untuk mengemudi di jalanan ibukota yang padat. Apalagi, perjalanan dari kabupaten ke ibukota mencapai 4 jam an, bisa lebih jika mecet. Jadi, lebih baik mempekerjakan sopir, agar tidak kelelahan dijalan.
"Uqi sayang, nanti ibu hubungi ponsel nenek, oke? Nanti ibu telfon jika sudah sampai dan senggang. Patuh, ya, sayang?" Bujuk Siska, ia berlutut, menyamakan tingginya dengan Uqi. Menatap Uqi yang berkaca-kaca dengan tatapan lembut.
"Hanya satu bulan, ibu janji. Tidak akan lebih. Satu bulan akan terasa seperti satu Minggu saja nanti jika Uqi sibuk belajar." Ucap Siska lagi.
Uqi akhirnya melepaskan lengan Siska dengan tidak rela. Meski berkaca-kaca ia tetap menganggukkan kepalanya, dan tersenyum kecil.
__ADS_1
"Baiklah, pergilah. Serahkan Uqi pada kami." Ucap Ibunya seraya mengibaskan tangannya. Menyuruh Siska cepat-cepat, agar Uqi tidak semakin sedih ditinggalkan Siska kerja sebulan di kota orang.
Siska kemudian pergi bersama Uni, di kursi penumpang di tengah-tengah. Membuka jendela mobil dan melambaikan tangannya pada Uqi. Tak lupa senyum lembutnya ia pancarkan. Uqi tidak membalas, ia malah langsung berbalik dan memeluk kaki neneknya.
Siska tertawa kecil, betapa gemasnya anak sulungnya tersebut. Ah tapi, ia juga merasa bersalah. Hanya saja, bagaimana lagi, lagipula memang sudah keharusannya begini.
Selama perjalanan, Siska hanya memainkan ponselnya dengan Uni. Uni menonton video dari tutub begitupun Siska yang menemani Uni.
Alhasil, Uni ketiduran. Siska pun ikut tidur ketika Uni tidur. Sampailah 4 jam berlalu, dan mobilnya mulai memasuki kawasan ibukota. Siska tidak tahu, karena Siska tertidur. Jadi ia belum sempat melihat beberapa gedung pencakar langit. Menjulang tinggi dari beberapa gedung yang ada di kabupaten, dan daerah kota yang ditinggalinya.
Sopir sudah tahu arah tujuannya, jadi ia tidak membangunkan Siska, karena memang masih belum sampai. Siska mengarahkan sopir ke salah satu hotel di ibukota, yang jaraknya lumayan dekat dengan tempat dimana kedai cabang sedang dibangun. Masih ada sekitar 30 menit, baru akan benaran sampai ke tempat tujuan. Tapi, perjalanan 30 menit ini akan menjadi lebih lama sebab jalanan menuju hotel sangat macet. Ditambah jam menunjukkan pukul 8. Meski bukan jam sibuk, tapi namanya ibukota, harus dimaklum saja.
20 menit kemudian, Uni terbangun, dan ia segera membangunkan Siska karena tenggorokan kecilnya terasa kering. Siska yang memang semalam kurang tidur, dalam mobil tidur pulas meski banyak goncangan. Dan akhirnya bangun ketika Uni membangunkannya.
Tak lama Siska bertanya, mobil pun sampai di sebuah tempat makan. Siska sengaja menyuruh sopir mencari satu tempat makan, agar ia bisa makan malam. Sebab ia melihat jam di ponselnya, sudah menunjukkan akan 8 lebih 30 menit.
Sopir memarkirkan mobil, Siska dan Uni kemudian turun. Sopir pun ikut, sebab Siska mengajaknya. Tidak baik membiarkan sopir dengan perut kosong. Jadi, agar lebih cepat, ia menyruhnya ikut saja. Lagipula, tempat makannya meski tidak mewah, juga tidak kecil. Masih bisa dikunjungi oleh kalangan pas-pasan.
Uni yang berjalan di sebelahnya, dengan tangan dituntun tiba-tiba menarik lengan ibunya membuat Siska menatap ke samping dan membungkukkan badannya. Rupanya Uni ingin digendong. Alhasil Siska menggendong Uni, membuatnya tidak memerhatikan sekitar. Tanpa tahu, jika ia baru saja berpapasan dengan orang yang dikenalnya.
__ADS_1
Dengan menggendong Uni, Siska mencari meja dan dapat satu meja kosong dekat dengan jendela. Seraya menunggu pesanan yang dipesan oleh sopirnya, Siska menguruh Uni berpose dan mengarahkan ponselnya memfoto Uni.
Di kamera ponsel, terlihat satu sosok familiar yang membuat Siska terkejut. Ia dengan cepat menurunkan ponselnya dan menatap ke luar jendela, laki-laki dengan jas formal.
"Apa aku salah lihat?" Tanya Siska pada dirinya sendiri. Kemudian ia menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pikirannya yang dirasa tidak masuk akal saja. Gila saja, kenapa pula ia bisa mengira dia ada di kota ini tiba-tiba? Ah otaknya hampir rusak sepertinya.
"Mbuuu, cuda belum?" Tanya Uni kesal, ia lama sekali berpose tapi ibunya malah asik melihat ke luar jendela.
"Ataga, sayang, maafkan ibu oke? Ayo, ayo coba pose lagi. Kali ini ibu akan memotretmu dengan baik." Ucap Siska zeraya tersenyum lebar. Membujuk anak bungsu satu ini agar tidak merajuk padanya.
Uni kemudian kembali berpose dengan dua jari dan peletan lidahnya. Terlihat sangat manis dan cantik. Begitu makanan datang, Uni meminta ibunya agar berhenti memotret, dan ketiganya langsung makan.
Makan selesai. Dan akhirnya Siska sampai di hotel. Sopir ia pesankan juga kamar, hanya saja kamar biasa. Berbeda dengan milik Siska yang lebih bagus. Tapi di atas Kebagusan miliknya, masih ada kamar yang sangat bagus, bahkan bagus sekali.
"Hmm?" Gumamnya, lagi-lagi, ia mengernyit. Kenapa ia selalu merasa ia melihat seseorang? Seperti berpapasan lagi, untuk kedua kalinya. Tapi, ketika ia melihatnua lebih jelas, yang dilihat juga sangat jelas bukan orang yang Siska maksud.
Siska mengedikkan bahunya, kemudian melanjutkan perjalanan, menaiki lift untuk ke lantai 3.
"Bersih-bersih dulu, oke? Habis ini kita telfon kakak Uqi!" Seru Siska seraya tersenyum. Mendudukkan Uni di atas kasur dan membuka bajunya, menggantinya dengan piyama. Begitupun, sama hal nya dengan Siska.
__ADS_1
*
*