
*
*
Setelah pamit pada Satria, Siska langsung membawa Uni yang sedang bermain dengan para pegawai dengan hati senang.
Uni si kecil ceria ini, beradaptasi dengan cepat, tidak seperti kakaknya yang lebih menutup diri sampai sekarang. Meski dulu, Uni sama menutup dirinya, tapi perlahan berubah ketika semakin hari semakin pintar bicara.
Uni menjadi punya sifat yang berkebalikan dengan Uqi, sang kakak. Meski begitu, Siska senang, setidaknya Uni akan membantu kakaknya lebih banyak bersosialisasi kelak. Dan Siska tidak akan khawatir Uni diganggu karena Uqi sendiri adalah anak yang pintar menilai situasi, keadaan, dan orang.
Uqi tetap terbuka padanya meski ia menutup diri dari dunia luar. Ada juga beberapa yang bebal seperti Zen, Uqi akhirnya mau-mau saja berteman dengannya. Apalagi, Zen juga memang sudah lihat sifat manjanya pada Siska. Jadi Uqi juga membiarkannya, meski Zen tidak pernah tahu masalah yang sedang menimpa Uqi.
Keduanya memang berteman, Uqi juga cukup ramah pada Zen dan membiarkannya melihat kemanjaan dirinya. Tapi Uqi tidak pernah terbuka perihal masalah dan keadaan pada Zen. Ia membatasi dirinya sendiri.
Begitu adanya, Siska sedikit khawatir pada Uqi, apalagi sejak ia terluka dikepala, sifatnya semakin tertutup. Menutup diri dari dunia luar. Tidak dengan keluarga, tapi ya, dengan dunia luar. Tapi, ada Uni yang bisa mengajak Uqi berbaur, perlahan mengembalikan keramahannya, meski tidak banyak. Sudah cukup bagi Siska.
Sore nanti, selain kedua orangtua, kedua kakak dan kakak ipar, ada Desi, Geri juga Ergan dan yang paling penting adalah Uqi. Anak sulung kesayangannya.
Siska jadi rindu, apalagi anaknya itu selalu menolak jika Siska melakukan panggilan video. Ia hanya mau telfon, jadi hanya suara saja yang Siska dengar akhir-akhir ini.
Tapi tidak apa, Siska masih sering mendapat foto candid Uqi dari Ergan, Geri, dan Ibunya. Jadi, kerinduannya cukup teratasi meski tidak semua.
"Uni sayang, ayo, pamit dengan kakak-kakak.", Ucap Siska setelah menggendong Uni, yang memakai gaun biru muda membuatnya terlihat cantik dan lucu.
__ADS_1
"Dadah kakak-kakak, besok kita main lagi oke? Hali ini Uni halus pelgi. Lindukan Uni oke?" Ucap Uni dengan suara cadelnya. Membuat ketiga pegawai yang bermain bersamanya memekik gemas.
Kemudian Uni melambaikan tangannya setelah mendapat seruan gemas dan ketidak relaan dari pegawai karena Uni pergi dengan cepat.
"Mbu mau kemana kita hali ini?" Tanya Uni ketika keduanya sudah naik ke mobil dan mobil sudah melaju.
"Kita akan membeli rumah baru! Agar kita tidak tinggal di hotel lagi." Ucap Siska seraya mencium pipi Uni.
"Eng lumah? Kita akan tinggal disini telus ya mbu? Tapi Uni tidak mau, mbuu, Uni mau pulang saja. Uni Lindu kakak dan semuanya di lumah sana." Ucap Uni dengan raut wajah yang sudah akan menangis.
Pikiran sederhananya mengatakan jika keduanya akan tinggal diibukota terus menerus, tapi Uni enggan. Ia tidak suka ibukota. Ibunya bahkan sedikit ada waktu dengannya. Ia juga tidak punya teman disini. Hanya kakak-kakak saja yang ada menemaninya. Terlebih, ia udah sangat merindukan kakak dan kakek serta neneknya.
Siska tertawa melihat gemasnya wajah Uni. "Utututu, rindu kakak Uqi ya sayangnya ibu?" Ucap Siska seraya mengusap air mata Uni yang mulai menetes.
"Tenang saja, sayang. Ibu tidak akan tinggal diibukota sebelum kakak Uqi masuk sekolah menengah atas. Itu artinya, Uni juga sudah masuk ke sekolah menengah pertama nanti. Kakak Uqi dan Uni sudah besar nanti, baru ibu akan membawa kalian menetap di ibukota." Ucap Siska seraya tersenyum. "Lalu untuk rumah ini, ibu membelinya karena ibu sudah tidak betah tinggal di hotel. Juga, nanti sore kakak Uqi, kakek, nenek, dan paman-paman akan datang kesini mengunjungi kita. Jadi, ibu membeli rumah agar mereka bisa tidur dengan nyaman selama disini. Paham sayang?" Lanjut Siska menjelaskan dengan rinci.
"Whoa! Kakak akan datang? Nenek dan Kakek juga?! Yea! Uni sudah tidak sabal! Kalau begitu, ayo, ayo, kita beli lumah baluu!" Seru Uni seketika, raut wajahnya langsung berubah menjadi ceria lagi.
Ia bahkan tidak sadar tentang kelak ia akan menetap diibukota jika sudah lebih besar. Haih, anak kecil memang anak kecil. Hal yang membuatnya senang adalah hal yang paling utama yang difokuskan. Maklum saja.
Siska tertawa dan mengangguk, ia mengusap kepala Uni kemudian mencium keningnya. "Mau makan siang dulu atau langsung beli rumah, hmm?" Tanya Siska.
"Ah? Makan siang, makan siang! Halus ada tenaga sebelum membeli lumah! Supaya bisa memilih lumah yang besal dan bagus! Benalkan, mbu?" Tanya Uni senang.
__ADS_1
Siska lagi-lagi tertawa, selain ceria, Uni ini memang penggemar nomor satu makan. Pipinya juga semakin bulat dari hari ke hari. Lihat nanti keluarganya, pasti akan terkejut melihat perubahan Uni. Uni tidak gemuk, hanya berisi. Itupun tidak terlihat, karena Uni sendiri memang tinggi. Hanya saja, pipinya terlihat sangat bulat. Tapi hidung mancungnya yang mungil, malah membuatnya terlihat sangat lucu.
"Baiklah, mari kita cari tempat makan!" Seru Siska seraya tertawa.
Kemudian tanpa diperintah, Sopir langsung membelokkan mobilnya ke tempat makan yang biasa keduanya kunjungi. Memang melewati tempatnya, jadi begitu Siska berseru, sopir sudah hafal dan langsung berbelok.
"Ayo, ikut masuk." Ajak Siska pada sopirnya. Tapi lagi-lagi sopirnya menolak. Membuat Siska tidak berdaya, jadi ia tidak akan memaksanya. Setiap kali makan siang, ia hanya akan makan di pinggir jalan saja,.mencari gerobak bakso, soto, atau gado-gado. Kadang ada juga sopirnya mencari warteg atau rumah makan Padang.
Jadi Siska juga tidak melarang, hanya saja, kadang Siska juga membungkus kan makanan di tempat makan. Agar ia dapat merasakan makanan yang sama dengan yang dimakan olehnya.
"Baiklah, kami masuk dulu." Ucap Siska, kali ini Uni tidak mau digendong, jadi Uni berjalan di samping Siska dengan tangan yang dipegang, dituntun Siska.
Setelah masuk dan duduk, pelayan yang biasa melayani Siska, langsung menghampiri ibu dan anak ini. Menyapa ramah dan sedikit bercanda dengan Uni, pelayan ini adalah yang paling Siska sukai.
"Uni mau makan apa hari ini?" Tanya Siska.
"Apa saja, tapi sepelti biasa, Uni mau makan esklim! Boleh, mbuu? Sudah 3 hali mbuu, Uni sudah boleh makan esklim kan?" Tanya Uni.
Uni memang suka Eskrim di tempat ini, tapi karena sering makan disini, Uni jadi ingin memakannya setiap hari. Siska tidak mau Uni pilek, batuk, atau sakit perut. Jadi ia membatasi jatah makan eskrimnya. Atas bantuan bujukan Darren, akhirnya Uni mau menurut.
*
*
__ADS_1