Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Memperbaiki?


__ADS_3

*


*


Meninggalkan keluarga yang terkejut, Siska kini sudah ada di lantai 2, mencari Satria yang kata orang di dapur lantai 1 sedang mengecek keadaan dapur lantai 2.


Begitu masuk lantai 2, Siska lihat ada beberapa orang ada di sana. Satria, termasuk para koki dan pegawai yang ditetapkan akan ada di lantai 2.


Tiap lantai ada setiap pelayan. Di lantai satu ada sekitar 10 pelayan, di lantai 2 ada sekitar 8 pelayan, dan di lantai 3 ini, diambil dari pelayan lantai 1 dan 2 sebanyak 5 pelayan. Karena ruang lantai 3, hanya orang-orang yang mampu yang pastinya bisa menyewa room pribadi tersebut. Jadi pelayanan akan menjadi lebih diperhatikan sebaik mungkin.


Sistemnya, pelayan di lantai 3 merupakan pelayan khusus dengan pelatihan yang berbeda. 5 pelayan yang sebetulnya menjadi pelayan utama ini, akan pindah membantu pelayan di lantai 1 dan 2 jika di lantai 3 tidak ada yang membuat reservasi.


Jadi para pegawai semua akan terkoorganisir, akan tetap bekerja meski tidak ada pelanggan. Jadi tidak ada yang namanya makan gaji buta disini.


Sedangkan untuk bagian cuci piring di belakang, juga beda lagi. Masing-masing lantai ada sekitar 2 orang yang ditugaskan khusus mencuci piring dan gelas kotor nantinya.


"Nona." Sapa Sahni begitu Siska hendak lewat di depannya dan Darren.


Sahni dan Darren ada di lantai dua. Darren sengaja mencari satu ruang yang terlihat kosong, dan lantai dua adalah tempatnya, untuk mendiskusikan satu masalah. Selain Sahni, ada juga Haris, suami Sahni. Yakni asisten pribadi Darren.


"Ya." Balas Siska alakadarnya, ia tidak ingin berlama-lama disana, jadi ia cepat pergi dan pamit untuk menemui Satria yang ada di sisi dekat konter pembayaran dan pemesanan lantai dua.


Melihat hal tersebut, Sahni dan Haris kemudian menatap Darren, menatap raut yang memang tetap datar meski hatinya kecewa.


"Bos, sepertinya kalian sedang ada masalah?" Tanya Sahni mengerutkan keningnya, menebak.


"Lanjut laporanmu." Jawab Darren, mengalihkan topik. Enggan menjawab pertanyaan yang dilontarkan Sahni.


Sahni mengangguk, kemudian menatap Haris yang malah terdiam. Membuat Sahni menginjak kakinya.

__ADS_1


Haris langsung sadar, tapi ia tidak memekik sama sekali. Hanya terbatuk sedikit kemudian melanjutkan laporannya pada Darren.


"Ah, proyek besar begitu? Lalu dekat turnuksio residence? Kau yakin? Tidak salah baca jalannya?" Tanya Darren ragu. Dahinya bahkan mengerut.


"Tidak, bos. Benaran dekat Turnuksio Residence. Juga, selain Wistara Karsa, ada juga 4 perusahaan kontruksi, desain dan property lainnya yang akan mengambil proyek ini. Pemerintah bekerja sama dengan 5 perusahaan ini, karena pembangunan akan dilakukan besar-besaran dalam 3 bulan sebelum tahun baru datang." Jelas Haris kembali.


"Bos, apa pikiran kita sama? Nona Siska..." Ucap Sahni, menatap Darren, tapi tidak melanjutkan ucapannya.


"Boleh juga dia." Ucap Darren seraya menyunggingkan senyumnya. "Dengar, Sahni, ambil sisa rumah yang ada di Turnuksio. Bergerak cepat sebelum perusahaan lain sadar akan harga dari Turnuksio Residence ini." Lanjut Darren yang langsung disetujui Sahni. Ia bahkan ikut tersenyum, dan dengan semangat ia langsung pergi meninggalkan Darren dan suaminya.


Haris yang tidak tahu apa-apa, menjadi bingung. Apalagi istrinya langsung pergi setelah mengecup pipinya sekilas. Darren pun tidak masalah, karena sudah terbiasa melihatnya. Lagipula, Haris ini temannya di perguruan tinggi. Jadi, Haris memang sedikit kurang ajar padanya jika sedang di luar.


"Apa itu? Kenapa aku bingung sendiri?" Tanya Haris pada Darren.


"Kau bodoh ya? Turnuksio akan menjadi residence terkenal begitu bangunan dibuat. Harga akan melonjak jika kabar pembangunan tersebar. Jika kita membelinya sekarang, apa yang akan kita dapatkan nanti?" Tanya Darren.


"Keuntungan berlipat ganda!" Lanjut Haris, menjawab pertanyaan Darren.


"Tidak akan! Sampai kapanpun aku tidak akan mengizinkannya! Huh, enak saja, masa istriku nanti melayaniku juga?! Asisten pribadi kan sampai menyiapkan baju dan makanan yang akan dimakan nantinya. Tidak, oke? Tidak akan aku biarkan." Gerutu Haris kesal.


Darren menyeringai. "Lagipula, kau tahu kebiasaan ku." Ucap Darren.


"Benar, benar, kau anti pada wanita kecuali, adik cantik di sana, bukan? Jadi, meski kau menaikkan jabatan Sahni, aku yakin, akulah yang akan tetap melayaniku, Tuan muda perfeksionis!" Ejek Haris.


"Potong gaji!" Desis Darren datar.


"Oh tidak, tidak, aku salah oke? Hanya bercanda! Ayolah, jangan sedikit-sedikit potong gajiku. Menyebalkan." Ucap Haris dengan wajah panik.


"Tidak jadi potong gaji, tapi bantu aku dengan satu hal." Ucap Darren serius.

__ADS_1


"Apa itu?" Tanya Haris.


"Beritahu aku cara agar wanita tidak bisa menyangkal perasaannya." Bisik Darren.


Bukanya menjawab, Haris malah tergelak mendengar permintaan Darren. Sangat lucu. Sejak kapan bos sekaligus temannya ini berubah sampai begini?


"Berhenti jika kau tidak mau aku memotong gajimu." Desis Darren kesal.


"Baik, baik, bos! Oke, oke, begini biar aku beritahu caranya." Ucap Haris panik, ia langsung menghentikan tawanya. Kemudian melambaikan tangannya agar Darren mendekat padanya.


Haris kemudian berbisik, menjelaskan cara dan tips yang bisa dilakukan Darren. Haris tahu Darren menanyakan ini adalah alasan ia tentang memperjuangkan Siska. Jadi kurang lebih, Haria juga tahu sifat dan perilakunya dari gambaran Darren ketika ia bercerita padanya.


Darren mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi juga sedikit ragu. "Kau yakin cara ini akan berhasil? Bagaimana jika gagal?" Tanya Darren.


Haris menghela nafas. "Jika gagal, buat rencana lainnya. Kau ini, seperti bukan bos Wistara Karsa saja. Bukankah biasanya kau tegas dalam menjalankan rencana? Kau juga pernah bilang, jangan takut gagal. Coba dulu. Jika benaran gagal, rubah dan buat rencana kedua." Ucap Haria, masih berbisik pada Darren karena Siska lumayan dekat sedang mengobrol dengan Satria.


Disisi lain, Siska sedang berunding tentang kondisi restoran dan cafe. Sesekali ia juga melirik pada Darren yang membelakanginya. Membuatnya kadang tida fokus mendengarkan penjelasan Satria.


Satria hanya menghela nafas, tapi ia tetap menjelaskannya. Dan jika Siska tidak mendengar maka ia hanya bisa menjelaskannya kembali.


Sebetulnya Siska kepikiran kata-kata yang ia lontarkan pada Darren sebelumnya. Ia rasa ia memang keterlaluan saat itu. Siska ingin menarik semua ucapannya tapi, bagaimana mungkin? Dan hal ini, membuat Siska jadi tidak tahu harus bagaimana, jadi ia hanya bisa lebih banyak diam dan memikirkan solusi diam-diam untuk memperbaikinya.


Memperbaiki? Ya, Siska tentu ingin memperbaiki. Darren sudah ada sejak dirinya kesusahan. Ia selalu melindunginya juga keluarganya. Siska menyebutnya orang asing, sangat tidak pantas. Tapi Siska bingung, bagaimana caranya agar ia bisa menjelaskan kesalahpahaman ini?


Siska emosi tadi, ia dalam keadaan tertekan saat itu, dan secara tidak sengaja mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan.


"Nona, sudah waktunya membuka restoran cafe ini. Sudah pukul 08.55. Mari ke bawah dan bersiap menggunting pita." Ucap Satria menyadarkan Siska.


*

__ADS_1


*


__ADS_2