Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Mimpi Buruk


__ADS_3

*


*


"AHHH!"


Teriakan nyaring yang berasal dari orang di sebelahnya langsung membuat Darren terbangun. Genggaman tangannya juga terlepas, kini, terlihat wanita di sampingnya gemetar sekujur badan.


"S-sayang? Kau baik-baik saja? Ada apa? Kau mimpi buruk?" Tanya Darren langsung menatap Siska, yang selain gemetar, ia juga berkeringat. Tangan kanannya langsung merangkul pundak Siska sedangkan tangan kirinya memegang pipi Siska, membuat Siska langsung menatap Darren.


Siska menangis, dan memeluk Darren dengan erat. Darren memeluk Siska balik dan menenangkannya, meski sedikit sulit karena kursi keduanya, tapi tidak membuat keduanya fokus pada kesulitan tersebut. "T-takut, huhuhu, aku mimpi buruk. Aku, aku, kita pesawat yang kita naiki huhuhu." Ucap Siska yang akhirnya mengeluarkan suara. Tapi Darren hanya mendengarkan, ia sedikit paham setelah mendengar gumaman Siska. Jadi tidak perlu bertanya lagi.


Selama beberapa menit saling berpelukan, Siska yang gemetar dengan nafas terengah dan tangisan diamnya, berangsur-angsur menjadi tenang. Darren juga tidak bertanya apapun, hanya ingin membuat Siska tenang lebih dulu. Masalah ada apa dengan istrinya tersebut, masih banyak waktu untuk bertanya nanti.


Pengumuman pesawat lepas landas dan sampai di bandara di ibukota, akhirnya membuat keduanya melepaskan pelukannya. Siska enggan sekali, tapi Darren kembali menenangkannya.


Darren menatap Siska dengan lembut. Tangannya terulur membenarkan rambut Siska, dan menyampaikannya ke telinga. "Tidak apa-apa, kita sudah sampai, semuanya baik-baik saja hum? Ada aku, jangan khawatir." Ucapnya dengan nada lembut.


Siska tidak menjawab, tapi menatap Darren dengan wajah sembabnya. Kemudian mengangguk setelah beberapa detik.


Sampai akhirnya, keduanya turun dari pesawat dengan Darren yang merangkul Siska posesif. Darren tidak melepaskan Siska meski keduanya sedang menunggu turunnya koper. Ia benar-benar menjaga Siska, apalagi Siska terlihat masih takut meski lebih tenang dari sebelumnya.


Keduanya keluar dari gate kedatangan. Dan lambaian tangan Ergan, kedua orang tua, Geri, juga Uqi dan Uni adalah hal pertama yang Siska lihat dengan fokus.


Melihat semuanya melambai dan meneriakkan namanya dengan senyum lebar, Siska menangis lagi. Tapi kini, ia berlari dan langsung memeluk dua anaknya dengan erat. Darren tertegun karena dirinya ditinggalkan, tapi setelahnya ia juga berjalan cepat menghampiri semuanya.

__ADS_1


Berbeda dengan Siska yang langsung memeluk dua anaknya, Darren memeluk sekilas kedua mertuanya, bergiliran dan melakukan high five dengan Ergan juga Geri.


Setelahnya, semuanya langsung sadar dengan Siska. Ia masih memeluk Uqi dan Uni dengan erat, apalagi suara Isak tangisnya juga mulai terdengar. Membuat empat orang di belakang Uqi dan Uni menatap Darren dengan tatapan penuh tanya.


"Siska merindukan mereka, selama di sana, yang paling dipikirkannya adalah Uqi dan Uni. Ugh, aku bahkan sering diabaikannya jika ia sedang menelfon kalian." Keluh Darren dengan wajah sedih. Membuat semuanya tertawa.


Mendengar tawa semua orang dan godaan yang langsung terlontar setelahnya pada Siska, membuat Siska langsung melepaskan pelukannya. Mencium kening Uqi dan Uni, menatapnya dengan lembut.


"Kalian baik-baik saja? Bagaimana ibukota? Sekolahnya menyenangkan, hmm?" Tanya Siska lembut, tapi ia berdiri kemudian, membuat Uqi dan Uni mendongak ketika menjawab semua pertanyaan Siska.


Selain bertanya pada dua anaknya, Siska juga menanyakan keadaan orang tua, adik, dan keponakannya, lalu menanyakan perihal kedai.


Kedelapannya mengobrol sepanjang jalan pulang menuju rumahnya. Dengan hangat, dan ceria. Siska bahkan sedikit lupa dengan situasi buruk yang menimpanya ketika ia berkumpul dengan semuanya.


"Ya, itu ada sejak satu Minggu yang lalu. Dan selalu ramai, aku dan Geri ke sana 3 hari yang lalu, selain padat, makanannya sangat enak! Aku bahkan membelikan Uqi dan Uni beberapa camilan. Tebak besoknya apa yang mereka minta dariku? Mereka berdua mau camilannya lagi, haha! Padahal Uqi dan Uni biasanya paling anti meminta makanan padaku, loh! Ini hebat." Ucap Ergan dengan antusias, menceritakan pengalamannya mengunjungi tempat kuliner yang terlihat seperti di alun-alun di kabupaten.


"Seenak itu? Ah! Aku jadi penasaran, bagaimana jika besok kita mengunjunginya bersama?" Tanya Siska, dengan raut senang meminta pendapat semua orang.


"Tidak, tidak, kau harus istirahat. Lusa saja, oke?" Pinta Darren.


"Ah aku baik-baik saja! Lihat, aku sehat, dan aku yakin aku tidak akan jatuh sakit besok! Jadi, besok aku mau kesana, jika kau tidak mau tidak apa-apa, aku akan membawa Bapak dan Mama!" Pekik Siska senang.


"Bawa aku juga!" Pekik Ergan dan Geri. Tidak mau ketinggalan tentu saja, jika ada Siska maka keduanya bisa puas mencoba semua kuliner di sana dengan gratis. Tentu saja, bos Siska yang akan mengeluarkan uang untuk mentraktir. Karena biasanya jika semuanya keluar, Siska lah yang akan membayar untuk semua orang. Tapi jika ada Darren, tentu Darren yang mengambil alih semua pembayaran.


"Setuju!" Pekik Uqi dan Uni bersemangat.

__ADS_1


Melihat semua orang yang setuju, akhirnya Darren hanya bisa menghela nafas dan mengiyakan keinginan Siska. Untuk Suherman dan Estika, keduanya berada di mobil yang berbeda, alhasil meski tidakda suara dari keduanya, Darren yang kalah suara tetap harus menyetujuinya.


Tapi besoknya, Siska jatuh sakit.


Ia Demam, dan terus muntah-muntah ketika pagi tiba. Padahal, semua orang hendak mengambil libur sekolah, tapi karena melihat keadaan Siska yang tidak baik-baik saja, akhirnya semuanya terpaksa menjalankan hari-hari seperti biasanya atas perintah Darren.


Kecuali Ergan, karena ia masih belum masuk. Masih ada sekitar dua Minggu, nantinya untuk masuk dan mengikuti orientasi sebelum menjadi mahasiswa.


Sejak pukul 4 pagi, Siska bangun dan pergi ke kamar mandi hanya untuk muntah. Demam juga ia rasakan, membuat Darren tidak tega melihat wajah pucatnya. Akhirnya ia bergegas pergi ke rumah sakit untuk memeriksakannya pada pukul 6 pagi, meninggalkan semua orang yang sedang sarapan dengan cemas, tidak nyaman melihat Siska yang sakit, terlebih Uqi dan Uni.


Semuanya bahkan ingin ikut, tapi pada akhirnya hanya Darren saja yang membawa Siska ke rumah sakit. Dan tambahan orang adalah Ergan yang bersikeras mengikuti Darren dengan langsung memasuki mobil di kursi belakang.


Sampai akhirnya Siska telah selesai di periksa, Darren dan Ergan yang menunggu langsung menghampiri dokternya.


"Adalah hal yang biasa untuk ibu hamil mengalami morning sickness. Untuk demam, tidakkah kau tahu jika kandungan dengan usia dini tidak boleh bepergian dengan pesawat?! Aihh biarkan ia bed rest, tinggal di rumah sakit selama 2 hari untuk pemulihan total."


Setelah Dokter pergi, Darren dan Ergan tertegun. Keduanya diomeli padahal keduanya juga tidak tahu jika Siska sedang mengandung.


"Huh, kau tidak memperhatikan kakakku dengan baik! Awas, aku akan menjaga kakak dan calon keponakan baruku." Dengus Ergan kemudian, ia menubruk bahu Darren agar membuatnya sadar, dan langsung masuk ke ruang dimana Siska diperiksa sebelum ia dipindahkan ke ruang rawat.


"Ah? Tapi baru dua Minggu, sejak? Ah astaga bibirku sangat bagus, bukan? Hahaha, aku akan jadi ayah!" Pekiknya tertahan, tidak peduli pada perkataan Ergan dan langsung ikut masuk.


*


*

__ADS_1


__ADS_2