Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Ketakutan Darren


__ADS_3

*


*


"Bu Arum, ikut aku sebentar." Titah Darren setelah ia dengan tidak sengaja membangunkannya.


Darren kemudian keluar ruangan rawat diikuti Bu Arum. Keduanya kemudian mengobrol ringan tentang keadaan Siska.


"Keadaan Nyonya sudah lebih baik. Demamnya sudah lumayan turun. Tadi pukul 4 sore sempat bangun dan tidur lagi setelah makan dan minum obat, Tuan." Jelas Bu Arum.


"Apa kata dokter sebelumnya?" Tanya Darren.


"Nyonya kelelahan, dan tidak ada asupan makan sehari kemarin. Lalu malam sebelumnya terlalu lama di luar ruangan, juga tidak sadar ada nyamuk yang menghampiri nyonya." Jelasnya lagi. Bu Arum sebetulnya ragu menjelaskan hal ini, tapi ia tidak bisa menutupi semuanya dari Tuannya.


Bu Arum sudah bekerja dengannya sedari Darren remaja. Tahu betul sifat dan kepribadiannya. Kini ia dipindah tugaskan dari rumah ke rumah Siska olehnya sendiri. Takut juga sebetulnya karena Siska tidak diperhatikan lebih baik olehnya kemarin.


Darren tertegun setelah mendengar penjelasan Bu Arum. Demam berdarah, bukan karena Siska tidak makan tapi salahnya yang mengajak Siska keluar malam-malam bukan?


Kini, ia menyalahkan dirinya sendiri. Selain malam itu, Siska juga tidak mengisi perutnya seharian? Kelelahan? Itu salahnya juga, kan, karena lupa memberitahu Siska.


"Tuan, Dokter juga mengatakan, hati-hati terhadap kondisi nyonya, malam nanti bisa saja nyonya Demam tinggi lagi." Ucap Bu Arum, yang langsung diangguki Darren. Ia akan menjaganya malam ini.


Keduanya masuk lagi ke dalam ruang rawat. Tapi Bu Arum tidur di atas kasur lipat yang dibawanya, sekarang, karena Sofa pastinya akan dipakai Darren.

__ADS_1


Tapi Darren enggan jauh dari Siska, ia tertidur dengan duduk di samping tempat tidur Siska, seraya memegang tangan Siska. Menggenggamnya semalaman.


Pukul 1 malam, sesuai dugaan Dokter, Siska kembali mengalami demam tinggi. Tubuhnya menggigil, membuat tempat tidur bergetar. Darren yang tidur duduk di samping dan menggenggam tangan Siska, seketika bangun karena merasakan pergerakan.


Tangan Siska yang digenggam Darren, berbalik menggenggam dengan erat. Membuat Darren merapatkan bibirnya, berusaha untuk tenang. Meski aslinya hatinya cemas.


Akhirnya, Darren membangunkan Bu Arum karena dirinya bingung sendiri harus melakukan apa. Rintihan kecil juga keluar dari mulut Siska, badannya juga tidak berhenti menggigil.


Bu Arum yang sudah siap, menuangkan air panas dari termos, dan mengompres dahi Siska. Juga menambahkan beberapa selimut ke tubuhnya. Sedangkan Darren hanya sibuk melihati Siska dengan tatapan khawatir, dan menenangkannya meski tidak begitu berguna.


"Bu Arum, kenapa masih menggigil?" Tanya Darren dengan raut cemas. Kedua tangannya menggenggam tangan Siska erat. "Panggil Dokter atau Suster yang jaga saja Bu." Ucap Darren yang langsung diangguki Bu Arum, kemudian keluar meninggalkan Darren.


"Sakit sekali melihatmu begini... Maafkan aku." Ucap Darren penuh sesal. Seharusnya ia tidak mengajak Siska dial di luar malam hari lama-lama. Seharusnya, Darren juga tidak lupa mengabari Siska meski hanya pesan teks di ponsel. Seharusnya, ia tidak meninggalkannya dinas.


"Shhh, Uqi... Uni... jangan tinggalkan ibu, tidak, ibu tidak mau sendirian lagi, hiks." Gumam Siska lirih, dan sedikit terisak. Membuat Darren memegang pipi Siska refleks, makin khawatir karena Siska sudah dalam tahap mengigau. Sangat tidak baik.


"Tahan sebentar lagi, sebentar lagi... Dokter segera datang." Ucap Darren makin khawatir. Matanya menatap Siska berkaca-kaca.


"Jangan tinggalkan... tidak mau sendiri..." Gumam Siska lagi membuat Darren menjawab gumamannya. "Disini, disini, aku tidak meninggalkanmu. Aku disini,.kau tidak sendirian." Ucap Darren, sudah berdiri dan mendekatkan telinganya pada Siska. Berbisik menenangkan, seraya mengusapi kepalanya.


"Datang! Tuan!" Ucap Bu Arum seraya membuka pintu, ia tampak teremgah begitu kembali.


Darren dengan cepat menyingkir dan membiarkan dokter jaga memeriksa kondisi Siska. "Tolong, dokter, kekasihku tampak tersiksa, bantu dia tenang." Pinta Darren, Siska mengigau dan menangis dalam tidurnya, Darren mau tak mau juga ikut merasa sedih, dan sesak. Matanya mulai berkaca-kaca, meminta pada Dokter sepenuh hati.

__ADS_1


"41 derajat!" Gumam Dokter terkejut. "Tenang, Tuan, aku akan memberinya obat lebih dulu. Tidak apa-apa, jangan khawatir, jika dia bisa melewati malam ini, besok dia akan baik-baik saja." Ucap Dokter, seraya menyuntikkan obat pada infus di tangan Siska.


"Kenapa begitu?" Tanya Darren panik.


"Fase kritis demam berdarah bisa dimulai antara 3–7 hari sejak fase demam dan berlangsung selama 24–48 jam. Tapi yang terjadi pada nona Siska lebih cepat satu hari karena imun tubuhnya lemah. Tapi untung di bawa periksa tepat waktu. Jadi, bisa ditangani dengan baik." Jelas Dokter. "Sudah disuntikkan obat pereda demam, meski lambat membantu, tapi nona Siska tidak akan semenggigil barusan. Demamnya akan turun 1 sampai 2 derajat malam ini. Terus awasi saja." Lanjutnya kemudian pamit pergi setelah berbicara pada Darren tentang panggil dirinya jika demamnya kembali tinggi.


Setelah berterimakasih, Darren kemudian menumpahkan tangisnya. Meski tidak bersuara, tapi air matanya tumpah, tepat di tangan Siska yang digenggam oleh Darren.


Bu Arum merasa ikut sedih melihat Darren. Tapi ia hanya bisa menenangkan tuannya, tentang dirinya harus kuat agar dirinya bisa menjaga Siska selama Siska di rawat.


Darren sendiri bukannya tidak tahu tentang demam berdarah. Justru ia tahu betul penyakit ini. Demam berdarah parah terjadi ketika pembuluh darah rusak dan bocor, serta jumlah sel pembentuk gumpalan (trombosit) di aliran darah turun. Hal ini dapat menyebabkan penurunan tekanan darah secara tiba-tiba (syok), pendarahan internal, kegagalan organ, dan bahkan kematian jika terlambat atau tidak ditangani dengan baik.


"Tuan, nyonya pasti sembuh. Tuan harus yakin, nyonya pasti kuat." Ucap Bu Arum seraya memeluk pundak Darren beberapa kali. "Kemari, Tuan, tenangkan dirimu, minum air hangat dulu." Ucap Bu Arum kemudian, ia menyodorkan gelas berisi air hangat untuk Darren.


Darren mengangguk dan menerima air tersebut. Dengan air mata yang masih mengucur, ia minum, dan berangsur-angsur menjadi lebih tenang setelahnya.


"Maaf, Bu Arum. Aku merepotkanmu lagi." Ucap Darren.


"Sudah tugas saya, Tuan. Istirahatlah, Tuan, biar Bu Arum yang menjaga nyonya sekarang." Ucap Bu Arum tapi Darren menolak. Dan berakhir bu Arum mengalah, membiarkan Darren tetap duduk di samping Siska sepanjang malam.


Darren tidak pernah mengalihkan pandangannya dari Siska. Ia terus mengawasinya, tidak berani bahkan untuk sekedar memejamkan matanya yang sudah terlihat kuyu, membutuhkan istirahat. Darren hanya takut, jika ia mengalihkan perhatiannya sebentar saja, Siska akan kembali kesakitan seperti tadi.


*

__ADS_1


*


__ADS_2