Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Ketakutan Siska


__ADS_3

*


*


Sudah satu Minggu sejak Darren dan Siska pulang bersama tempo hari. Keduanya tidak pernah lagi bertemu muka. Selain karena Uqi sudah sembuh dan bisa kembali ke sekolah, membuat Siska sibuk menjaga Uqi dan Uni. Darren juga tidak pernah datang lagi ke rumahnya. Juga tidak pernah menemui Uqi dan Uni.


Siska juga sudah resmi menjanda kini. Meski begitu, ia bersyukur karena Aldo dan ibu mertuanya tidak mengajukan banding juga tidak datang seminggu ini. Membuat dirinya lebih tenang menjalani hari-hari.


Seraya menunggu Uqi sekolah, Siska datang ke kedai dan melihat-lihat. Tanpa meninggalkan Uni. Jadi, ia hanya benaran melihat-lihat tanpa membantu, karena Uni tidak ada yang menjaga.


Terkadang, ia juga pergi mengunjungi Ayahnya yang setiap hari kembali beraktivitas di kebun. Mencangkul dan menanam, juga menyiram. Sekalian, Siska juga memetik Rosella bersama Uni yang senang-senang saja diajak ke kebun karena bisa bermain tanah. Alhasil setiap pulang, ia akan kotor dengan tanah di tubuhnya.


Siska tidak melarang, tapi senang, karena dengan begini, Uni yang sering bertanya tentang Darren bisa lupa pada pertanyaannya. Siska bahkan tidak tahu bagaimana menjawabnya, ia tidak tahu, jadi hanya bisa mengalihkan perhatian Uni saja.


Sampai akhirnya tiba waktunya ia menjemput Uqi. Pukul 11 ia bahkan sudah sampai di sekolah Uqi, dan menungguinya di warung makan bersama Uni yang saat ini sedang menyemili ciki yang dibeli Siska dari warung tersebut. Sedangkan dirinya, hanya membeli air putih saja.


Siska melihati Uni dengan gemas, tidak tahan untuk merekam kegiatan mengemilnya, karena Uni terlihat kesusahan dengan tangan-tangan kecilnya, membuka bungkus ciki yang sengaja Siska berikan lagi ketika Uni menghabiskan ciki pertamanya.


Uni sekuat tenaga membuka bungkus tersebut, sampai akhirnya bungkus terbuka, tapi cikinya berterbangan. Membuat Siska tertawa. Uni yang ditertawakan menangis, bukan karena Siska, tapi karena makanannya berserakan kemana-mana.


Siska menyimpan ponselnya tanpa mematikan rekaman. Kemudian membujuk Uni dengan ciki baru, dan setelahnya ia berjongkok, membereskan ciki-ciki yang ada di bawah, mengambilnya satu persatu dengan tangan. Jangan sampai pemilik warung menegurnya karena ia membuat berantakan disini.


"Mbuuu, mbuuuu." Uni berseru membuat Siska buru-buru mendongak, melihat apa yang terjadi. Uni hampir jatuh dan Siska dengan cepat beranjak dan menangkapnya.


Siska merasa lega, tapi hatinya kesal, ia menatap Aldo yang mendatanginya di warung makan ini. Uni pasti ketakutan ketika melihatnya, jadi ia menyerukan Siska dan mundur dari tempat duduknya hingga membuat Uni hampir jatuh.


"Mau apa kau?" Tanya Siska datar. Ia menggendong Uni ala koala, jadi Uni tidak melihat Aldo. Siska marah, Uni sampai gemetaran begitu ia memeluknya. Kaitan tangan di lehernya bahkan begitu erat.

__ADS_1


"Aku rindu anakku." Ucap Aldo tersenyum.


"Rindu? Cih, omong kosong!" Desis Siska.


"Tidak, Siska, aku benar-benar merindukan mereka." Ucap Aldo. "Kenapa kau tidak percaya?" Lanjutnya dengan raut sedih.


Tapi Siska tidak tergerak sama sekali. Tidak akan ia percaya lagi pada bajingan di depannya. Cukup di kehidupan pertamanya saja ia bersikap bodoh dengan mempercayainya. Ia tidak lagi bodoh seperti dulu yang rakus akan cinta, sampai mengorbankan Uni dan Uqi.


Kali ini, cukup dengan ia hidup bahagia dengan keluarganya saja. Lebih baik dan lebih baik lagi setiap harinya. Hanya hidup yang seperti ini yang Siska mau sekarang ini. Tanpa gangguan bajingan di depannya.


"Kenapa aku harus percaya pada bajingan sepertimu?" Tanya Siska menahan emosi.


"Siska, biarkan aku membawa Uqi." Pintanya setelah diam beberapa saat.


"Apa? Aku tidak salah dengar?" Tanya Siska seraya tertawa sinis. "Membawa Uqi lantas nanti mau mau menyakitinya lagi?" Tanya Siska, kini tangannya menunjuk wajah Aldo. Emosinya sudah tidak bisa dibendung. "Jangan harap!" Desisnya terakhir. Kemudian membereskan barangnya dan pergi meninggalkan warung makan tersebut.


"Jangan mengikutiku!" Pekik Siska, membuat beberapa pasang mata menatapnya.


"Siska, beri aku kesempatan. Satu hari saja, biarkan aku membawa Uqi, oke? Ibuku membuatku gila, setiap hari menyuruhku membawa cucunya. Dia rindu cucunya." Ucap Aldo, membuat Siska semakin tidak mau menyerahkan Uqi.


Ibunya katanya? Siska bahkan tidak percaya pada Aldo, apalagi pada ibunya? Si jahat yang hanya bisa mencibir, mengomeli, dan memukul cucunya dulu? Dia bahkan tidak segan mendorong Uqi ketika Uqi melakukan kesalahan.


Padahal, dulu Uqi masih sangat kecil, wajar saja melakukan kesalahan ketika ia disuruh melakukan satu hal. Siska tidak tahu, tapi tahu begitu ia datang, Karen ibu mertuanya mendorong Uqi bertepatan dengan Siska yang telah selesai menjemur pakaian.


Siska hanya bisa mindungi Uqi dari pukulan neneknya kala itu. Padahal dirinya sendiri juga habis jatuh karena Aldo menepisnya ketika ia mau pergi dari rumah.


Siska benaran tidak mau lagi mengingat hal itu, tapi malah ingatannya kembali ke masa-masa tersebut. Raut wajahnya, bahkan sudah tidak enak. Matanya sudah berkaca-kaca, emosinya berubah menjadi ketakutan melihat Aldo yang terus maju dan membujuknya.

__ADS_1


"Siska, aku mohon, beri aku kesempatan oke?"


"Siska, aku akan menjaga Uqi dengan baik."


"Siska hanya satu hari."


"Siska"


Siska terus mundur sampai dirinya menabrak gerbang sekolahnya belakangnya. Takut sekali, ia melihat sekeliling dan orang-orang malah menatapinya tanpa membantunya. Kenapa? Kenapa mereka tidak peduli. Apa mereka tidak melihat ketakutan dirinya pada Aldo?


"Tuan, nona ini sudah bilang, dia tidak mau, oke? Hargai perkataan dan pilihannya. Aku tidak tau apa masalah dan hubungan kalian, aku tidak berniat ikut campur, tapi aku rasa tidak baik melakukannya disini. Ini tepat umum, tidakkah kau lihat semua orang menatapi kalian berdua?"


Seorang wanita seumuran Siska akhirnya angkat suara. Ia maju dan membuat Siska berada di belakangnya. Ia menunjuk Aldo dengan wajah geram. Menyadarkan Aldo dan melihat sekelilingnya yang sudah menatap dirinya dengan tatapan aneh.


Mendapati perlakuan seperti itu, Aldo angkat bicara untuk membela diri. "Kami suami istri, hanya sedang bertengkar saja. Mohon dimaklum semuanya." Ucap Aldo.


"T-tidak, bukan, kami sudah berpisah. Dia ingin mengambil anakku." Ucap Siska meski dalam keadaan takut tapi cukup ada seseorang yangdi depannya, ia akan berani bersuara. "Dia selalu memukul kami dulu, jadi aku tidak mau menyerahkan anak-anak." Lanjut Siska.


Aldo akhirnya menjadi sasaran tatapan tajam dan mencibir dari semua orang yang melihatnya barusan. Apalagi Aldo membela diri dengan kebohongan. Semua orang tentu percaya Siska, melihat sikap dan raut Siska.


Aldo akhirnya menyerah. Ia pergi dengan perasaan dongkol di bawah tatapan mencibir orang-orang. Membuat Siska menghela nafas lega. Ia memeluk Uni erat dan menangis pelan.


"Nona, sudah aman, kau baik-baik saja?" Tanya perempuan yang menolongnya.


Siska menganggukkan kepalanya, dan berterimakasih padanya. Lalu Uqi keluar dari sekolah, dan keduanya diajak ke warung makan untuk menenangkan diri.


*

__ADS_1


*


__ADS_2