
*
*
"Astaga! Bukankah ini set perhiasan safir dengan harga 800 jutaan itu?!" Pekik Bu Wasilah terkejut.
Set perhiasan yang Siska beli adalah set safir berwarna biru. Safir biru sendiri merupakan kelompok corundum stone, yakni batu mineral dengan ketahanan luar biasa. Safir biru kerap disematkan pada perhiasan berlian istimewa yang menjadi simbol kekekalan cinta. Selain itu, safir biru menjadi simbol kemuliaan, kejujuran, ketulusan, dan kesetiaan.
Siska memilih satu hadiah yang sangat cocok untuk calon ibu mertuanya. Apalagi harganya, jangan ditanya. Desainnya set perhiasan juga dibuat oleh pengrajin ternama dari luar negeri.
"Uhuk! I-ini juga kunci motor Harley Davidson?!" Ucap Tuan Edden sama-sama terkejut.
Satu lagi, Siska ternyata jadinya membeli motor gede untuk calon Ayah mertuanya. Karena Siska tahunya calon Ayah mertuanya tersebut suka touring dengan motor gede, alhasil, ia memilih motor Harley Davidson ini. Jenis CVO Street Glide.
Harga Harley Davidson CVO Street Glide dimulai dari Rp 1,45 Milyar. Tersedia dalam 3 pilihan warna dan Siska membelikan yang warna hitam. CVO Street Glide digerakkan oleh mesin 1923 cc dengan transmisi 6-Kecepatan. Harley Davidson CVO Street Glide memiliki tinggi jok 695 mm dengan bobot 400 kg. Rem depan menggunakan Disc, sedangkan di belakang Disc.
Motor ini keluaran terbaru di tahun 2010, Tuan Edden sendiri memang berencana membelinya tahun 2011 ini karena harganya akan relatif turun. Tapi lihatlah, ia belum membeli tapi calon menantunya sudah membelikannya. Sungguh sangat terimakasih.
"Ayah, maksudmu ini motor yang akan kau beli dengan harga 1.4M itu?!" Tanya Bu Wasilah dengan raut terkejut. Kemudian melebarkan matanya lagi, ketika Melihat suaminya mengangguk dengan ringisan. "Siska, nak, ini terlalu mahal. Ibu dan Ayah sepertinya tidak bisa menerimanya." Ucap Bu Wasilah dengan tatapan tidak enak, ia menatap Siska yang masih tersenyum. Begitupula tuan Edden, mengangguk setuju dengan istrinya.
Darren tertawa melihat raut keduanya. "Bu, Yah, terima saja. Siska sengaja membelikannya dengan tulus untuk kalian. Jangan sampai Siska kecewa karena ditolak oleh kalian, hmm?" Ucap Darren kemudian, setelah berhasil mengontrol raut wajahnya.
"Tapi, ini terlalu mahal. Siska 2 M lebih menghabiskan uangnya untuk kami. Bagaimana kami nanti menghadapi orang tuanya?" Tanya Bu Wasilah memelototi Darren.
__ADS_1
"Tidak, Bu, orang tuaku akan mengerti. Lagipula, selama ini Darren sudah banyak membantu kami. Menghabiskan uang tidak masalah. Terlebih untuk hadiah pertemuan dengan calon mertua sendiri." Ucap Siska seraya menyampaikan rambutnya, ia sedikit malu dengan perkataannya sendiri yang menyebut calon mertua.
"Tapi, Siska..." Bantah Bu Wasilah dengan memegangi kedua tangan Siska, menatapnya dengan tatapan sendu.
"Bu, jangan menyusahkan Siska. Bagaimana dengan ini? Aku akan memberikan hadiah yang sama untuk mertuaku, jadi masing-masing kalian akan punya satu set perhiasan dan satu motor. Ayah bisa touring bersama Bapak nantinya. Bagaimana?" Tanya Darren memberi ide dengan binar matanya.
"Ah? Tidak baik, tidak baik, bukankah nantinya malah kau membelikan orang tuamu sendiri dan aku membelikan orang tuaku sendiri?" Tanya Siska menggeleng kerasa, dengan raut bingung. "Lagipula aku sudah membelikan set perhiasan juga untuk Mamaku. Tidak perlu lagi, oke?" Lanjut Siska menatap Darren melarang dengan keras.
"Bagus juga, begitu saja." Ucap Tuan Edden setuju. Membuat Siska langsung menatapnya dengan raut terkejut.
"Tapi..." Ucap Siska, dengan ragu, tidak melanjutkan ucapannya.
"Siska, dengar, kami tidak akan menerimanya jika kau tidak setuju. Jadi, setujui saja oke? Lagipula berbeda. Darren membeli untuk besan kami, dan kau membeli untuk kami. Hanya bertukar saja. Tapi tetap beda dengan orang yang memberinya kan?" Ucap Bu Wasilah membujuk Siska, dengan senyum lembut.
Siska menatap Darren, dan Darren tersenyum seraya menganggukkan kepala seolah menyuruh Siska menyetujuinya. Membuat Siska akhirnya hanya bisa mengangguk dengan pasrah.
"Tidak, nanti mainlah saja ke rumah kami. Mari temani ibu, masak bersama saja. Aku dengar kau pintar masak, bukan? Begitu saja ya?" Ucap Bu Wasilah.
Siska tersenyum lebar, matanya berbinar, kemudian menganggukkan kepalanya setuju dengan idenya. Lagipula ia juga belum pernah main ke rumah Bu Wasilah karena sebelumnya selain Siska menolak, keduanya juga sibuk satu sama lain.
"Baiklah, ayo, sekarang kita makan. Setelah ini, mari pulang, lusa Ibu dan Ayah akan datang ke rumahmu untuk melamarmu secara resmi. Oke tidak?" Tanya Bu Wasilah tersenyum senang.
Siska menganggukkan kepalanya, "Oke." Ucap Siska balas tersenyum.
__ADS_1
Kemudian keempatnya makan dengan khidmat, sampai 30 menit berlalu, acara selesai, keempatnya memutuskan untuk pulang. Siska pulang diantar Darren. Sedangkan Bu Wasilah pulang dengan Tuan Edden, yang langsung menggunakan motor baru pemberian calon menantunya.
Sebelum pulang, keempatnya sempat berfoto, apalagi Tuan Edden, yang berfoto dengan latar motor barunya, dan memamerkannya di sosial media miliknya. Membuat teman-temannya langsung mengomentari postingannya.
Darren bahkan menggeleng melihat perilaku Ayahnya yang terlewat menyebalkan di matanya. Sampai motor saja ia pamerkan. Tapi untunglah sudah beralih pada motor. Karena dulu, malah dirinya sendiri yang sering dipamerkan. Maksudnya, Darren dipamerkan, bahkan di promosikan untuk di Carikan jodoh olehnya.
Bayangkan betapa tersiksanya Darren saat itu, karena selain ponselnya menjadi banyak yang menghubungi, ia juga sering didatangi beberapa perempuan di kantornya. Darren geram, akhirnya ia mengadu pada Bu Wasilah, membuat Tuan Edden kapok, karena dicueki Bu Wasilah selama satu bulan penuh.
Makanya, ketika tahu Darren mengejar Siska, Bu Wasilah bukan hanya mendukung, tapi mendorong Darren agar bergerak cepat. Awalnya juga tidak tahu jika Siska seorang janda anak dua. Tapi begitu tahu dan tidak setuju, setelah melihat kegigihan, usaha, dan kasih sayang terhadap keluarganya, juga cerita kelam yang dialami Siska dari Darren, keduanya akhirnya setuju. Lagipula, Siska jauh dari kata baik, dan sangat mampu bersanding dengan Darren.
Siska mampu mengimbangi Darren yang pintar berbisnis, Siska mampu mengimbangi Darren yang gila kerja, Siska mampu membuat Darren menjadi sedikit bekerja, Siska juga sangat mampu merubah sifat datar dan kehidupan lurus Darren. Salah satunya adalah kerelaan Darren yang menyamar menjadi preman, penguasa pasar.
Siapa yang akan menyangka, Darren sampai mau turun begitu. Bahkan Ayah dan ibunya saja terkejut, apalagi orang lain yang dekat, seperti Haris dan Sahni. Benar-benar langka dan luar biasa.
"Kau senang? Sudah tidak gugup? Bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah lega?" Tanya Darren di dalam mobil. Keduanya masih di dalam mobil yang terparkir di parkiran restoran Adamas, Darren belum melajukan mobilnya.
Siska menganggukkan kepalanya, "Um! Sangat senang. Ayah dan Ibumu sangat baik. Mereka tidak mengusir dan mengejekku, juga tidak menghinaku yang berasal dari desa ini." Ucap Siska seraya tertawa. "Aku tidak gugup lagi, dan aku merasa sangat lega. Perasaanku sangat baik, menyenangkan." Lanjut Siska seraya tersenyum lebar.
Darren menatap Siska dengan tatapan sendu. "Ayah dan ibuku bukan orang tua kolot, kau tenang saja. Mereka bahkan terlampau gaul, terlebih ayahku yang menyebalkan itu." Ucap Darren sedikit kesal ketika mengungkit Ayahnya. "Baguslah kau lega. Terimakasih sudah mau bertemu orang tuaku, juga terimakasih atas hadiahmu." Lanjut Darren tersenyum lembut seraya mengusap kepala Siska lembut.
"Haha, Ayahmu seru. Aku tidak canggung setelahnya." Balas Siska tertawa kecil.
"Baiklah, sekarang ayo kita pulang. Uqi dan Uni mungkin sudah menunggumu." Ucap Darren, mengacak rambut Siska dan memakaikan seatbelt padanya.
__ADS_1
*
*