Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Hari kedua pembukaan Kedai


__ADS_3

*


*


Siska kemudian pergi, tapi sebelum ke kedai, Siska mampir terlebih dahulu ke kiosnya yang dulu, lebih tepatnya mampir ke kios Baron.


Baron mengabarinya, jika ada orang yang mau menyewa kios Siska. Jadi, Siska harus mampir dulu, untuk membicarakan masalah penyewaannya.


Begitu sampai, Baron yang memang sudah menunggunya, langsung menyapanya. Di sampingnya bahkan sudah ada orang yang mau menyewa kiosnya tersebut. Seorang lelaki muda, apakah Siska tidak salah lihat? Itu adalah pemuda terpelajar yang waktu itu ikut keramaian ketika menangkap Rusdi.


"Bos, apa dia yang mau menyewa kios?" Tanya Siska.


"Nona, tidak sangka itu kau." Ucap pemuda tersebut. "Ngomong-ngomong, namaku Ghani." Lanjutnya.


"Ya, dia, kalian sudah saling kenal rupanya?" Tanya Baron tersenyum.


"Bos, aku buru-buru, tolong bantu aku transaksi, ya. Harga sewa kiosnya tetapkan saja 200 sebulan." Ucap Siska.


"Apa tidak terlalu murah?" Tanya Baron terkejut.


"Tidak, bos, lagipula kiosnya bahkan lebih kecil daripada milikmu. Begitu saja, ya, bantu aku transaksi, besok aku kemari lagi saja untuk mengambil uangnya. Aku harus menyiapkan bahan untuk pembukaan kedaiku." Balas Siska.


"Kudengar kedaimu penuh sekali kemarin, kan? Baiklah, aku paham, pergilah, semoga hari ini sama ramainya dengan kemarin, ya." Ucap Baron seraya melambaikan tangannya pada Siska yang pergi setelah mengangguk tersenyum, mengucapkan terimakasih.


Sepeninggal Siska, keduanya melanjutkan transaksi, Baron sudah berpengalaman, jadi banyak tahu perihal sewa menyewa.

__ADS_1


Siska akhirnya sampai di kedai, begitu masuk, ia langsung pergi ke dapur, dan terlihatlah Santi dan Rendra yang sedang mencetak cireng bersamaan.


"Kakak, kakak ipar, ayo sarapan dulu. Mama memberi bekal padaku." Ucap Siska seraya tersenyum, ia langsung duduk di meja yang ada di dapur. Dan membongkar tempat makan yang ada 4 tersebut. Berisi nasi, telur, orek tempe, dan Ayam goreng.


Rendra yang sudah lapar, tanpa mencuci tangannya, langsung menghampiri Siska, membuat Siska tertawa, sedangkan Santi menegurnya, menyuruhnya mencuci tangan lebih dulu. Membuat Rendra tanpa banyak bicara langsung mencuci tangannya. Diikuti Santi.


Keduanya kemarin tidak makan malam, jadilah pagi ini sangat, sangat, lapar, begitu melihat makanan yang dibawa oleh Siska. Ketiganya pun makan dengan lahap, terlebih Rendra. Terlihat cepat, seperti orang yang belum makan selama 3 hari. Yang lagi-lagi ditegur oleh Santi. Lagipula, tidak akan ada yang merebutnya, jadi pelan-pelan saja.


Setelah selesai, Rendra dan Santi kembali membuat cireng, sedangkan Siska mengambil baskom besar lainnya, yang sudah diisi dengan tepung dan bahan-bahan, hanya tinggal disiram air panas saja.


Seraya menambahkan air panas, Sapta dan Putri datang, langsung mengambil alih baskom yang baru saja disirami air panas, membuat Siska mengambil baskom lainnya, dan segera menyiraminya lagi. Tapi, begitu ia mau mengolah adonan, Rendra dan Santi selesai mencetak cireng, berakhirlah dengan mereka mengambil alih baskom tersebut.


Cireng sudah selesai dicetak sebanyak 3000 buah. Sedangkan cirambay masih dalam proses, begitupula dengan cilok, masih dalam tahap adonan.


Setelah selesai, Siska kemudian beralih pada bahan minuman. Menyiapkan cincau dan Rosella dalam kedua wadah, disimpannya dalam meja untuk membuat minuman tersebut. Agar nanti lebih mudah mengambil, tidak perlu bolak balik.


Setelah nya, beralih pada Sosis dan Bakso, juga menatanya dengan baik, di samping pemanggangan. Sebagian juga dipajang di depan, bersama jejeran bahan seblak.


Begitu Siska selesai menata, datang ketiga pekerja perempuan yang di pekerjaannya. Membuat Siska langsung menyuruh ketiganya membereskan meja Seraya melapnya. Karena kemarin semua orang langsung naik ke atas dan istirahat, tidak sempat membereskan meja dan lainnya. Jadilah pagi ini, pekerja ini yang bisa Siska suruh.


Setelah selesai mengoordinasikan pekerja, Siska kembali ke dapur, untuk mencuci peralatan memasak dan peralatan makan yang sebagian masih kotor. Dibantu oleh Putri yang meninggalkan Sapta, mencetak cirambay sendirian. Siska membeli penggilingan mie tepung, jadi Sapta mengerjakannya sendirian pun masih bisa.


Setelah semuanya selesai, Siska memanaskan air untuk merebus cilok dan memanaskan minyak untuk menggoreng cireng, juga cirambay. Ada dua kompor, dengan dua tungku, jadi lebih gampang memasaknya masing-masing.


Jam waktu itu telah menunjukkan waktu pukul 9 kurang 10 menit. Masih ada waktu sebelum ke pembukaan kedai pukul 10 nanti. Jadi, semuanya mempercepat pergerakan, Yang pertama digoreng adalah cirambay, digoreng setengah Matang, agar teksturnya kenyal. Jadi begitu selesai, langsung dibumbui dan dibungkusi sebagian.

__ADS_1


Cilok juga sudah matang, jadi Putri mengangkatnya dan menyimpannya di atas baskom bersih. Kemudian membuang air rebusannya. Cilok akan dimasak ketika ada yang memesan nanti. Sedangkan cireng dan cirambay, sengaja dimasak duluan, karena pelanggan tetap Siska seringkali membeli untuk dibawa pulang/dibawa ke tempat kerja.


Tapi kemudian, Siska berpikir untuk membumbui cilok setengahnya dan membungkusnya sama seperti cirambay, karena kemarin juga ada beberapa orang yang minta dibungkus. Setelah mendengar pemikiran Siska, barulah Putri memasaknya.


Sedangkan Santi menggoreng cireng dibantu Rendra dan Siska membumbui cirambay, seraya membungkusnya, dibantu Sapta.


Semuanya bekerja sama, sampai jam menunjukkan pukul setengah 10, kedua orang tuanya datang bersama Uni. Dengan pemberitahuan, jika diluar sudah sangat ramai oleh pembeli. Keduanya bahkan kesulitan untuk masuk tadi.


Pekerjaan Rendra dan Sapta diambil alih oleh ibunya. Sedangkan kedua laki-laki ini pergi ke depan, menyiapkan bahan di konter. Rendra menyalakan komputer perhitungan, dan Sapta membereskan kertas juga pulpen untuk pemesanan.


"Ayu, sudah pukul 10, buka saja kedainya. Hati-hati, jangan sampai tertabrak oleh keramaian pelanggan." Ucap Siska menyuruh Ayu, marena dirinya masih sibuk membungkus cirambay.


Ayu mengangguk paham, kemudian ke depan dan mulai membuka kunci gerbang. Ayu bahkan sampai berteriak pada para pelanggan untuk tetap kondusif, mengikuti perkataan Siska agar para pelanggan bisa membuat barisan ketika masuk.


Setelahnya, Ayu membuka gerbang, dan pelanggan masuk secara berbaris, meski begitu, tetap saja ada beberapa orang yang suka merusuh, tidak ingin keduluan orang menempati tempat duduk yang ada di luar. Sampai akhirnya, semua meja dan kursi baik di dalam maupun di luar terisi penuh. Membuat sebagian orang yang ada di luar, yang tidak kebagian tempat, mau tidak mau harus menunggu di parkiran, yang memang sudah disiapkan kursi panjang untuk pelanggan yang mau menunggu. Sedangkan beberapa pelanggan lainnya ada yang putar haluan, tidak mau menunggu lama. Juga ada beberapa orang yang lebih baik mengantri di konter pemesanan untuk membawa pulang produk kedai Tasty Treats.


Dengan cekatan, ketiga pekerja langsung membagikan menu, kertas dan pulpen untuk mncatat pesanan. Sapta juga sudah sibuk melayani orang yang ingin membungkus makanan untuk dibawa pulang.


Sesekali, Rendra juga yang melayani beberapa pelanggan, begitu Sapta ke dapur untuk mengambil pesanan yang dipesan pelanggan tersebut.


Kedai terlihat sangat ramai, suara para pelanggan bahkan sudah seperti dipasar, membuat kedua orang ini kelimpungan. Bukan dua saja, tapi mungkin semuanya. Karena hari ini, pelanggan yang datang lebih ramai daripada pelanggan yang pertama kali. Ramai dibagian pemesanan untuk fibawa pulang. Sisanya, yang duduk di meja dan kursi di kedai, sama seperti kemarin.


*


*

__ADS_1


__ADS_2