
*
*
Ergan yang sedari awal ikut mendengarkan, setelah terdiam dan memikirkannya dengan sangat lama, langsung mengangkat tangan, menatap semua orang yang kini mengalihkan tatapan padanya dengan bingung dan heran.
"Kenapa kau?" Tanya Sapta mendelik, adik bungsunya ikut-ikutan angkat tangan, jangan bilang ia mau ikut juga ke ibukota?
"Aku ikut ke ibukota boleh? Ujianku sudah selesai, kok. Sedang menunggu hasil tes masuk ke universitas, kebetulan lokasinya di ibukota, universitas negeri yang dekat dengan restoran kakak ketiga, hehe." Ucap Ergan dengan menampilkan deretan giginya.
Oh benar, Siska tidak sadar Ergan bahkan sudah lulus sekolah menengah. Tentu saja nilainya memuaskan, karena sejak awal Ergan ini merupakan penyandang beasiswa di sekolahnya, meski ketika ia mampu ia langsung mengalihkan beasiswanya ke yang lain, tetapi nilainya tetap tinggi.
"Memangnya sudah pasti di terima?! Kau ini, tidakkah diam disini saja dulu menemani bapak dan mama?" Tanya Sapta seraya memukul pelan kepalanya.
"Itu hanya sekitar 3 hari lagi, loh. Dan aku yakin, aku pasti Lulus. Kakak jangan meragukanku begitu! Dasar, aku ini pintar tahu!" Ucap Ergan dengan nada jengkel, karena Sapta secara tidak langsung membuat dirinya yang penuh harapan berubah menjadi tidak semangat.
Tapi untung ini Ergan, orang lain sudah tentu akan menurun semangatnya. Ergan? Sudah kenal betul kakak keduanya, jadi ia tidak akan memasukkan kata-kata menyebalkan kakak keduanya ke dalam hati dan pikirannya. Itu sangat tidak bagus.
"Aih sudah, sangat bagus semangat adikmu ini. Bapak juga yakin Ergan bisa masuk. Sudahlah, Bapak akan mendukung anak-anak bapak. Juga, jangan pikirkan bapak, disini ada mama, kami berdua bisa saling menjaga. Lagipula, ada kakak kedua dan kakak pertamamu disini. Mereka lebih dari cukup." Jelas Suherman, menyela perdebatan Sapta dan Ergan, yang sudah jelas tidak akan berhenti dalam waktu dekat jika tidak di lerai.
"Tuh, dengarkan bapak." Timpal Ergan congkak, mentang-mentang dibela Suherman.
"Oh berani, ya?! Kemari kau!" Desis Sapta seraya melebarkan kedua matanya memelototi Ergan yang langsung beranjak dan bersembunyi di belakang Suherman.
Siska tersenyum hangat melihatnya. Perdebatan kecil, sudah pasti adalah bentuk hubungan yang mengeratkan keluarga.
"Biar Uqi ada teman, biarkan paman kecil menemani Uqi, boleh kakek?" Tanya Uqi, membujuk kakeknya, karena Uqi pikir, nanti Darren bekerja, begitupun Siska. Meski Uqi tetap bisa menemuinya dengan datang ke restoran cafe miliknya, tapi tetap saja tidak nyaman menganggu Siska bekerja nantinya.
"Boleh, tentu saja boleh. Apa sih yang tidak buat cucu kakek? Sekarang kakek suruh paman kecilmu bersiap ya? Sekalian sana dengan Uqi, bereskan saja sekarang." Ucap Suherman seraya mengelus kepala Uqi.
"Hmm? Kenapa sekarang, kakek? Bukankah masih bulan depan?" Tanya Uqi bingung.
__ADS_1
"Karena ada paman kecilmu, juga semester baru akan dimulai dalam dua hari kan? Sekalian saja ikut ke sana, eum? Kakek dan nenek akan menemani kalian juga selama Ibu dan papamu pergi. Bolehkah?" Tanya Suherman seraya tersenyum.
Uqi pun menganggukkan kepalanya dengan semangat. Ia setuju tanpa banyak menolak. Kemudian pergi dengan Ergan ke kamar, untuk membereskan baju, memasukkannya ke koper.
Sepeninggal Ergan dan Uqi, di ruang tengah masih ada Siska, Darren, Uni, Sapta, Putri, Santi, Desi dan Geri. Rendra tidak ada, entah kemana perginya. Siska juga tidak tahu, dan ia juga belum bertanya pada Suherman.
"Ah, Geri sudah lulus sekolah menengah pertama juga, bukan? Mau melanjutkan kemana? Sudah daftar belum? Mau sekolah di ibukota juga, tidak?" Tanya Siska pada Geri yang menunduk, memainkan ponselnya.
Seketika Geri mendongak dengan binar di matanya. Tapi, kembali meredup dan menatap ibunya yang ada di sebelahnya. Menatapnya penuh harapan, agar ia mengijinkannya sekolah di ibukota.
"Bu? Boleh kan?" Tanya Geri dengan raut memelas, tangannya sudah mengayunkan lengan Santi, membujuk.
"Tidak tahu, tanya pada Ayah saja nanti. Memangnya ibu kepala keluarga? Kan masih ada Ayahmu, loh... Kalau ibu sih boleh boleh saja, lagipula pendidikan di ibukota lebih terjamin juga, maksudnya bukan meremehkan pendidikan disini, tapi guru di ibukota lebih tegas dan disiplin." Balas Santi. "Begini saja, pulang nanti ibu obrolkan dengan Ayah, hmm? Kau siapkan saja barang dan kebutuhan yang diperlukan untuk mendaftar nanti." Lanjut Santi seraya mengelus kepala Geri.
"Yes! Terimakasih, ibu! Aku sayang padamu, muach!" Ucap Geri dengan semangat, kemudian memeluk ibunya dan terakhir mencium pipi Santi. Membuat Santi sedikit terkejut, tapi setelahnya tertawa. Sudah lama sejak Geri berlaku begitu dekat dengannya, astaga. Membuat Santi senang saja.
"Sudah, pergi sana." Titah Santi, kemudian Geri bergegas pergi meninggalkan semuanya.
"Tidak! Tidak boleh, tidak akan aku izinkan. Ia masih kecil, ck, astaga. Jangan semua diambil ke ibukota loh. Nanti disini sepi, kan menyebalkan." Gerutu Sapta kesal. "Desi baru mau masuk sekolah menengah pertama. Ia perempuan, oh tidak aku tidak akan mengizinkannya." Lanjut Sapta, si posesif pada anak semata wayangnya. Ah, bukan pada anaknya saja, tapi pada Siska juga begitu bukan?
"Ayah, aku juga mau ke ibukota." Rajuk Desi mengerucutkan bibirnya.
"Tuh, kan! Adik ketiga, gara-gara pengaruhmu tuh!" Ucap Sapta frustasi. "Sayang, Ayah tidak bisa melepasmu ke sana, meski di sana ada bibi ketigamu tapi, tidak akan tenang, di sana ia sudah mengurus tiga sepupu dan pamanmu. Kau juga masih belum bisa mengurus dirimu sendiri, jadi disini saja dengan Ayah dan Bundamu, oke sayang?" Bujuk Sapta seraya tersenyum manis, mengusap kepala Desi dengan lembut.
Tapi Desi bukannya mengiyakan, malah mendengus sebal, dan berbalik membelakangi Sapta, beralih memeluk Putri dan merengek-rengek di pelukannya.
"Sayang, Ayahmu benar loh. Bunda tidak ingin melepasmu karena kau sendiri masih kecil, masih belum bisa mengurus dirimu sendiri." Timpal Putri ikut membujuk, tangannya mengelus punggung Desi dengan lembut.
Sapta menghela nafas, otaknya berpikir kerasa membujuk anak perempuan satu-satunya yang ia jaga dengan sangat baik dan ketat. "Baiklah, begini saja. Nanti kita ikut ke ibukota mengantar semuanya, bagaimana? Tapi masalah masuk sekolah, Ayah beri kesempatan. Jika dalam kurun waktu tiga tahun di sekolah menengah pertama ini kau bisa menjadi juara sekolah, maka Ayah akan mengijinkan mu melanjutkan sekolah menengah atas di ibukota." Ucap Sapta akhirnya memutuskan.
Putri juga tersenyum dan mengangguk setuju. Desi sudah pintar, ia bahkan masuk tiga besar terus menerus di sekolah Dasar, terkadang juga ranking kelas, sekali pernah menjadi juara umum juga. Untuk mencapai juara sekolah di tingkat pertama, semuanya yakin Desi bisa.
__ADS_1
Karena tanpa belajar pun ia pintar, apalagi dengan belajar nanti. Sudah pasti ia bisa mencapainya dalam 3 tahun ini. Apalagi itu keinginannya, sudah pasti ia akan mengejarnya.
"Benaran?! Baik! Aku akan bekerja keras dan membuktikannya pada Ayah, kalau aku bisa! Tapi jika waktunya tiba, jangan ingkar janji ya! Lihat disini banyak saksi mata. Jadi, jangan coba-coba menipuku!" Balas Desi dengan mata serius.
"Ayah tidak akan ingkar janji, astaga. Baik, ayah akan menunggunya. Tapi jika nilaimu turun sekali saja, maka jangan salahkan Ayah tidak menepati janji, hmm?" Ucap Sapta lagi.
"Ya! Sepakat." Balas Desi semangat.
Membuat semuanya tertawa, termasuk Siska dan Darren. Meskipun keluarganya adalah petani kecil, bahkan tidak bisa disebut petani kan? Sebab hanya ada kebun kecil dan Siska juga mulai mengembangkan bisnis.
Tapi, semangat dan tekad keluarganya tidak perlu diragukan jika soal pendidikan. Semuanya menurun pada kakeknya, Suherman. Karena sifatnya yang tidak pernah menyerah dan memperjuangkan pendidikan dulu, ternyata menurun pada semua anak dan cucunya.
Siska senang bisa lahir di keluarganya. Selain pendidikan, meski dulu kesulitan, tapi kasih sayang sesama keluarga begitu besar, tidak pernah kurang sedikitpun. Semuanya bahkan memanjakan Siska si anak perempuan satu-satunya dalam keluarga.
Setiap hari hanya ada kehangatan, dan kasih sayang. Di saat sulit pun, kedua orang tua dan adiknya, Ergan selalu mengedepankan Siska. Semuanya selalu bahu membahu saling membantu.
"Bapak, Mama, Terimakasih." Ucap Siska tiba-tiba, membuat semuanya beralih padanya dengan tatapan bingung. Pasalnya, Siska tiba-tiba mengucapkan terimakasih dengan nada lembut dan mata berkaca-kaca, pada Suherman dan Estika. Padahal sebelumnya semuanya sedang tertawa-tawa termasuk Siska.
"Terimakasih apa nak?" Tanya Estika bingung. Suherman juga menatap Siska dengan tatapan sedikit khawatir.
"Karena Siska dilahirkan di keluarga ini. Siska senang, dan bangga, selain kasih sayang kalian, semuanya sangat berharga untuk Siska. Semua yang ada di keluarga, sangat Siska hargai." Ucap Siska seraya tersenyum. Darren di sampingnya sudah merangkul bahu Siska, menguatkan Siska agar tangisnya tidak pecah.
Darren paham posisi dan kondisi Siska. Sebagai orang luar, ia bahkan iri pada hubungan kekeluargaan yang ada di keluarga Siska. Dirinya memang dekat dengan kedua orang tuanya, tapi tidak dengan setiap hari makan bersama, mengobrol, dan bercanda gurau seperti ini.
Jadi, Siska berterimakasih adalah hal yang wajar, karena perasaannya begitu dalam. Karena jika Darren yang mengalami hal tersebut pun, Darren sudah pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Siska saat ini.
Darren mendukung penuh perbuatan Siska. Siska juga sangat menghargai perasaan yang diterimanya dari keluarga. Ia hanya mengungkapkan rasa syukurnya. Apalagi, ia sudah dua kali hidup di dunia ini. Ia diberikan kesempatan untuk baik-baik dengan keluarga, dan menjaga keluarganya.
Jika itu orang lain, Darren yakin orang lain juga akan melakukan hal yang sama seperti Siska.
*
__ADS_1
*