
*
*
Besoknya, keduanya telah turun dari kapal pesiar, di dermaga negara tetangga. Perpisahan dengan awak kapal secara sederhana juga dilakukan oleh Siska yang ditonton oleh Darren.
Meski sifat posesifnya tidak dapat dihalangi, tapi Siska kekeh mau mengucapkan selamat tinggal dengan para awak kapal yang selama satu Minggu di repotkan oleh keduanya. Terlebih adalah Steve, yang seringkali mendapat amukan dan emosi Darren.
Siska lantas tidak bisa pergi begitu saja, setelah meminta maaf dan berpamitan, akhirnya keduanya langsung pergi menuju hotel yang sudah di pesan, dengan orang yang sudah disiapkan Darren sebagai tour guide nya.
Sampai di hotel, tentu saja makan dan langsung istirahat. Tidak ada kegiatan apapun karena keduanya merasa lelah meski di kapal tidak berbuat apa-apa. Mungkin karena kapal, berbeda dengan di darat.
Besoknya barulah, Darren mengajak Siska jalan-jalan. Rencana date ia adakan lagi selama satu Minggu penuh.
Hari pertama adalah pergi ke aquarium besar, Hari kedua pergi ke planetarium besar, hari ketiga keduanya pergi ke pameran lukisan, hari ke empat Siska di ajak menonton konser boy grup di sana, hari kelima selain pergi taman hiburan besar yang terkenal di negara tersebut, malamnya Darren juga menyiapkan dinner romantis untuk Siska.
Alhasil, hari ke enam, Darren membiarkan Siska, yakni hari bebas, karena Darren membiarkan Siska berbelanja semuanya, sepuasnya di negara tersebut sebagai oleh-oleh yang akan di bawa pulang ke rumah.
Beberapa video dan foto diambil oleh keduanya sebagai kenang-kenangan. Beberapa juga ada di posting oleh Siska sebagai konten untuk memenuhi isi tutubnya yang sudah lama sejak ia tidak posting lagi.
Sampai Siska kelelahan, lalu keduanya pulang kembali ke hotel dengan belanjaan yang sangat banyak. Dan akhirnya Darren mngide dengan menyuruh orang agar mengirimkan oleh-oleh secara paket, mengingat banyaknya barang, pesawat yang akan di tumpangi keduanya nanti tidak akan masuk karena bebannya terlalu banyak. Tentu dengan seizin Siska juga.
"Aku pijat kakimu, bagaimana?" Tanya Darren, tidak tega melihat Siska yang meringis kesakitan seraya memegangi dua kakinya yang terasa ngilu. Bahkan lecet sedikit, Siska tidak sadar dengan itu.
Darren telah mengobatinya, tapi rasa ngilu di kakinya tetap ada, apalagi daerah betisnya. "Tidak, kau juga lelah. Istirahat saja." Balas Siska seraya tersenyum.
"Jangan menolak lagi, kemarikan kakimu." Titah Darren, membuat Siska sedikit ragu, tapi akhirnya Darren memijatnya karena ia yang menarik kedua kaki Siska sampai kedua kakinya ada di atas paha Darren. "Nanti malam kita flight, jadi kakimu harus sudah enakan." Ucap Darren lagi.
Siska menatap Darren penuh sayang, ia senang dihadirkan Darren disisinya. Ia beruntung, ia sangat-sangat beruntung. "Maaf merepotkan mu, dan terimakasih." Ucap Siska, mengecup pipi Darren sekilas.
Darren tersenyum. "Hubungi bapak, sayang. Kabari kita pulang malam ini dengan pesawat Nareksa 76." Ucap Darren.
"Ah sekalian saja aku lakukan panggilan video, Hitung-hitung menunggu malam. Boleh kan?" Tanya Siska.
"Tentu, satu Minggu ini kita juga tidak ada menghubungi orang rumah. Aku juga rindu anak-anak, jadi lakukan saja." Ucap Darren mengangguk setuju.
__ADS_1
Kemudian Siska membuat Darren menyudahi memijat kakinya, dan ia duduk bersampingan dengan Darren, bersandar pada sofa yang di duduki keduanya di kamar hotel.
"Ibuuu! Uni dan kakak rindu!" Pekikan pembuka dari panggilan video yang baru saja terhubung, adalah suara Uni yang terdengar menggemaskan.
"Sayang, papa dan ibu juga rindu! Bagaimana kabar kalian? Uni sudah mulai sekolah, kan? Kakak Uqi juga bagaimana? Sekolah barunya, senang tidak? Nyaman tidak?" Tanya Siska dengan senyum ceria di wajahnya.
"Uni dapat dua teman baru, Bu! Ada anaknya Tante Sahni juga satu teman bernama Rasyi!" Jawab Uni dengan semangat.
"Uqi juga senang dengan sekolah barunya, nyaman. Di sana tidak berisik dan orang-orangnya tidak suka ikut campur urusan orang. Jadi Uqi suka." Balas Uqi dengan senyum.
Siska senang mendengar keduanya suka dengan sekolah baru, tapi mengingat perkataan Uqi, rasanya ada beberapa yang terdengar tidak benar? Anak sekolah dasar memang pendiam seperti Uqi, ah tapi pasti Uqi lah yang mengasingkan diri, bukan?
"Bagaimana dengan teman, sayang?" Tanya Siska akhirnya.
"Ada, satu ibu! Kakak membawa pulang temannya dua hari yang lalu! Namanya Kakak Ruli? Ya sepertinya itu!" Celetuk Uni, menjawab pertanyaan Siska, membantu Uqi menjawabnya.
Siska dan Darren tertawa mendengarnya. Uni sangat bersemangat, Uqi sendiri terlihat lebih dewasa dan pendiam. Tapi jika semuanya berkumpul, Uqi juga pasti menunjukkan sifat kekanakannya pada Siska, apalagi jika sudah rebutan dirinya dengan Darren.
"Malam ini, kami pulang, tunggu besok kita bertemu, oke sayang-sayangnya ibu?" Ucap Siska dengan semangat. Ia juga jadi tidak sabar ingin pulang.
"Ya!" "Tidak!"
Darren Banaran menebak dengan benar kali ini. Umi d Uqi menjawab secara bersamaan. Tapi akhirnya Uqi menjawab tidak. Ia merasa lucu dengannya.
"Bilang rindu, kalau tidak papa tidak akan memberi Uqi hadiah? Hmm hmm? Ayo cepat?" Pinta Darren dengan senyum menggoda.
Uqi menatap layar dengan kesal, "ugh baiklah aku rindu padamu." Balasnya kemudian membuang muka, memperlihat telinganya yang memerah, lantas Siska dan Darren pun tertawa bersamaan.
"Anak baik, Uqi akan mendapat hadiah besar dari papa! Uni juga, tunggu saja kami datang, oke?!" Ucap Darren seraya tersenyum lebar.
"Sayang, berikan dulu ponselnya pada kakek ya?" Pinta Siska kemudian Uni menganggukkan kepalanya, terdengar Uni memanggil kakek, dan kini terpampang lah wajah Suherman di layar. "Bapak, Siska dan Darren pulang malam ini dengan pesawat Nareksa 76. Sekitar pukul 8 malam. Jadi, besok pagi seharusnya sudah sampai." Ucap Siska.
Setelah puas mengobrol sampai pukul 7 malam, akhirnya keduanya pun bersiap dan pergi dengan menggunakan mobil ke bandara.
Setelah serangkaian pemeriksaan, kini Darren dan Siska sudah duduk bersampingan di pesawat dengan kelas penerbangan bisnis agar Keduanya bisa lebih leluasa bergerak.
__ADS_1
"Tidur saja, seharian ini belum tidur kan?" Tanya Darren.
Siska menggelengkan kepalanya. "Pegang tanganku, boleh?" Tanya Siska.
Darren menatap Siska dengan senyum kecil, ia tidak banyak bertanya dan langsung memegang kedua tangan Siska setelah ia menyelimuti Siska sampai perut.
*
Di sisi lain, di ibukota sekarang.
"Bersiap, pasang alarm. Besok pagi-pagi sekali mari jemput kakakmu di bandara." Ucap Suherman pada Ergan. Membuat Ergan mengangguk dengan semangat.
Bukan hanya Siska dan Darren yang tidak sabar bertemu keluarga, keluarga juga sama tidak sabarnya ingin bertemu dengan keduanya lagi.
Setelah serangkaian alarm di pasang, semuanya pun tidur dengan keadaan tidak sabar dan bersemangat.
Sampai 3 jam berlalu sejak semuanya tertidur. Kegaduhan terjadi di rumah, di ibukota.
DRRT! DRRRT!
TING NONG! TING NONG!
TOK! TOK! TOK!
Suara dering ponsel semua orang menyala, bel pintu juga bersuara, gedoran di pintu juga tidak ketinggalan. Semua orang langsung terbangun oleh kegaduhan tersebut. Termasuk Suherman dan Estika yang tidur di satu kamar.
Semuanya berlari ke depan dengan perasaan cemas dan kebingungan yang sangat jelas.
Setelah melihat orang yang membuat kegaduhan tampak terengah, Suherman langsung bertanya pada Haris.
"PESAWAT YANG DITUMPANGI SISKA DAN DARREN MENGALAMI KECELAKAAN! HILANG KONTAK DAN DIPERKIRAKAN JATUH DI KETINGGIAN 2800ft!"
*
*
__ADS_1
Halo, maaf karena gak up kemarin, aku lagi kurang sehat, jadi maaf banget, harap dimaklumi ya. Makasih udah dukung aku sampai sejauh ini. ❤️