
*
*
Dua hari berlalu, Siska sudah merasa sangat cukup dengan istirahatnya, meski sulit melarang Darren. Tapi, karena Siska lebih banyak berpura-pura kesakitan, akhirnya Darren mengalah sendiri selama dua hari ini.
Di hari ketiga ini, Siska mengajak Darren pulang ke rumah kedua orang tuanya, untuk menyapa sekalian mengambil baju. Keduanya akan pindah ke rumah baru. Bersama Uqi dan Uni, tentunya.
Tapi, karena Uqi dan Uni masih belum tahu akan kepindahan rumahnya, alhasil nanti akan diadakan diskusi dadakan dengan semua orang. Karena kepindahan akan langsung ke ibukota. Keduanya sudah punya niat pindah ke ibukota, menempati rumah yang ada di Turnuksio Residence.
Siska mempercepat perpindahan, rencana awal yang akan menunggu Uqi dan Uni mencapai usia sekolah menengah atas dan pertama, dibatalkan. Keduanya akan ikut pada saat ini juga. Karena, fasilitas di dekat Turnuksio lebih lengkap, juga sekolah dijamin sangat bagus.
Apalagi, sekolah tersebut juga merupakan sekolah internasional. Baik sekolah dasar, sekolah menengah pertama, maupun sekolah menengah atas. Sedangkan Universitas, masih dalam tahap pembangunan, dan taman kanak-kanak masih belum ada dalam rencana pembangunan.
Karena Universitas internasional sendiri, sebelumnya mengalami banyak pro dan kontra. Di ibukota sendiri sudah berdiri universitas ternama, ada sekitar 3 universitas. Jika di tambah satu universitas, terlebih universitas tersebut berbasis internasional, maka ke tiga universitas lain, akan mengalami penurunan.
Dan semua orang yang bersangkutan dengan ke tiga universitas tersebut banyak yang menolak. Meski ada juga yang setuju, karena basis internasional akan membuat negara sendiri lebih maju. Terlebih, pertukaran pelajar akan lebih mudah di kembangkan nantinya.
Tapi Siska sendiri tidak menyarankan universitas internasional tersebut. Karena, di kehidupan pertama, banyak petinggi di universitas tersebut yang berbuat culas. Menjatuhkan universitas dan membuat para mahasiswa dan mahasiswinya melakukan perlawanan, berujung demo.
Berbeda sekali dengan 3 sekolah internasional lainnya. Karena 3 yang lain, langsung berada di bawah pengawasan menteri pendidikan juga perusahaan-perusahaan besar. Jadi, setiap lulusan setiap tahunnya akan mengalami kenaikan dan keunggulan tersendiri.
Banyak dari lulusannya bahkan masuk beberapa universitas ternama dunia lewat jalur undangan. Jadi, sekolah menengah atasnya adalah yang terbaik yang diperkirakan oleh banyak orang, termasuk Siska.
"Kita bicarakan perihal perpindahan, tapi Uqi dan Uni, biar nanti saja pindahnya, setelah satu bulan, setelah kita selesai cuti." Ucap Darren, ia sedang jongkok di samping Siska yang sedang membereskan baju ke dalam kopernya.
__ADS_1
"Kenapa tidak sekarang?" Tanya Siska bingung.
"Karena, lihat ini! Aku sudah memesan tiket perjalanan dengan kapal pesiar. Bukankah kau sangat ingin menaiki kapal pesiar sebelumnya?" Tanya Darren seraya tersenyum lebar. "Ah, anggap saja bulan madu kita berdua, jadi Uqi dan Uni di larang ikut." Lanjut Darren seraya menarik turunkan alisnya, terlihat tengil di mata Siska.
"Kau sudah merencanakannya? Kenapa tidak bertanya dulu padaku? Aku tidak mau meninggalkan Uqi dan Uni..." Ucap Siska dengan raut sedih. Ia memang senang ketika keinginannya dipenuhi, tapi Uqi dan Uni lagi-lagi tidak dibawa, perasaannya pun berubah sedih.
"Sayang, kalau kita membawa mereka, aku tidak akan bebas berduaan denganmu. Jadi, berdua saja, ya? ya? Aku mohon..." Bujuk Darren dengan raut memelas, menatap Siska dengan tatapan penuh harap. Tangannya bahkan sudah memegang kedua tangan Siska.
"Tapi--" Ucapan Siska terhenti kala menatap kedua mata Darren yang penuh binar harap. Membuat Siska menghela nafas, memejamkan kedua mata, dan menganggukkan kepalanya, setuju. "Aku setuju, tapi hanya satu Minggu saja, bagaimana?" Tanya Siska, menawar.
"Singkat sekali?! Dua Minggu! Tidak ada penolakan. Aku yang akan meminta izin pada Uqi dan Uni, dijamin mereka akan setuju padaku. Oke?!" Ucap Darren, dengan terburu menolak usul Siska yang hanya ingin satu Minggu saja. Padahal tiket perjalanannya sudah ia pesankan 2 Minggu lebih.
1 Minggu, di kapal pesiar, 1 Minggu di pulau wisata, dan 1 Minggu lagi adalah hari bebas, yang akan Darren ajukan pada Siska, memenuhi keinginan Siska selama 1 Minggu tersebut.
Tapi tidak jadi, sebab waktunya menjadi 2 Minggu. Alhasil, Darren akan menjadwal ulang kegiatannya lagi nanti, setelah diskusi dengan orang tua dan kedua anaknya.
Darren yang tidak tahan godaan, langsung menganggukkan kepalanya tanpa menolak. Kapan lagi melihat Siska bersikap manis tanpa diminta? Hal langka, patut diapresiasi, alhasil permintaan Siska langsung Darren setujui tanpa perdebatan.
"Baiklah, bantu bereskan. Nanti aku juga akan membantumu membereskan baju di rumahmu." Ucap Siska menawarkan timbal balik yang sama untungnya.
10 menit berlalu, keduanya telah selesai membereskan baju. Setelahnya, keduanya berjalan menuju ruang keluarga, dimana semuanya sedang berkumpul dan bersantai.
Siska dan Darren, langsung saja mengutarakan pikirannya perihal perpindahan. Juga, perihal bulan madu keduanya, sekalian membujuk Uqi dan Uni yang kebetulan ada di sana, dengan kakek dan neneknya, sedang menonton kartun.
"Bapak izinkan, lagipula Siska sudah menjadi tanggung jawabmu. Jadi, bapak juga tidak bisa melarang. Tapi, ingat baik-baik, jaga Siska jangan sampai kenapa-napa." Ucap Suherman langsung setuju.
__ADS_1
"Mama juga, jika Siska setuju untuk ikut silahkan. Kalau tidak, jangan dipaksakan. Cari jalan keluar yang baik bagi kedua belah pihak." Timpal Estika.
"Siska setuju untuk ikut, Ma." Balas Siska seraya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Semua sudah setuju, begitupun dengan Uqi dan Uni yang akan selalu mengikuti Siska kemanapun ia pergi, meski harus jauh dari kakek dan neneknya. Tapi, Siska lebih penting dari apapun untuk dua anak kecil tersebut. Alhasil, keduanya juga setuju untuk ikut pindah ke ibukota.
Hanya saja, Uqi sedikit cemberut ketika Darren dan Siska izin untuk berbulan madu berdua, Uqi tahunya keduanya akan pergi berlibur tanpa mengajak dirinya dan Uni. Pikiran Uqi adalah, Darren akan selalu berduaan dengan Siska, dan oh jangan sampai kasih sayang Siska berkurang nanti. Tidak, tidak mau. Pikir otak kecil Uqi.
"Uqi sayang, baik-baik saja? Apa yang kau pikirkan hmm?" Tanya Siska seraya tersenyum lembut.
"Bisakah ibu tidak pergi? Uqi merasa tidak nyaman." Balas Uqi dengan raut sendu.
"Apanya yang tidak nyaman? Apa karena Uqi tidak diajak?" Tanya Siska lembut.
"Tidak tahu. Hanya tidak nyaman saja." Balas Uqi bingung sendiri.
"Uqi takut Ibu direbut papa, kan? Hayo, ketahuan!" Goda Darren seraya tergelak. "Uqi sayang, tenang saja, kami hanya berlibur selama 14 hari. Sebagai hadiah untuk pernikahan kami berdua. Uqi mau beri hadiah pada kami tidak? Papa tawar, hadiahnya izinkan kami pergi, hmm?" Lanjut Darren membujuk Uqi pelan-pelan.
"Tapi--" Ucap Uqi ragu.
"Papa belikan Lego! Mau yang terbaru? Ah mau yang musim kemarin juga? Papa belikan semua, deh. Bagaimana?" Tanya Darren menggoda Uqi dengan kesukaannya.
Uqi meringis, kemudian menjawab, "Baik, Uqi izinkan." Balasnya, setengah-setengah. Godaan Lego membuatnya goyah, apalagi bukan hanya satu seri, tapi dua seri yang akan dibelikannya. Maaf, ibu, Lego sangat menggoda, pikir otak kecil Uqi.
*
__ADS_1
*