Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Bujukan Uqi dan Uni


__ADS_3

*


*


"Kak, kalian berangkat pukul berapa nanti? Tidakkah kau mau melihat hasil ujian masuk universitasku dulu?" Tanya Ergan seraya tersenyum. Ia duduk di samping Siska yang sedang mengecek kembali barang bawaannya di koper.


Karena ada perubahan rencana, tentang kapal pesiar pribadi keluarga Wistara, ada beberapa kendala yang membuat kedua pasangan ini tidak bisa menguasai penuh kapal tersebut. Sebab ternyata ada beberapa orang yang sudah menyewa kapal pesiar tersebut, rekan kerja sama lama Wistara.


Tapi meski tidak bisa dibatalkan, keduanya masih bisa memakai sebagian kapal pesiar. Hanya bersinggungan di satu tempat yakni tempat makan di kapal pesiar tersebut. Alhasil, barang bawaan harus ditata ulang lagi. Karena koper awalnya adalah Darren yang mengatur, di dalam koper hanya ada baju seksi saja.


Untung ketahuan oleh Siska pagi ini, jika tidak, entah apa yang akan Siska lakukan nanti di kapal pesiar? Siska tidak bisa keluar dari kamar di kapal tersebut bukan, mengingat ada orang lain di atas kapal? Lantas jika begitu, untuk apa pergi liburan kalau tetap diam di kamar?


Sebelumnya, Darren memang membeli dua tiket kapal pesiar umum, tapi Ayah dan Ibu mertuanya tidak setuju dan lebih baik membuat keduanya tetap di kapal pesiar milik Wistara saja meski ada orang lain yang menyewa. Katanya, setidaknya keamanan terjaga, jadi keduanya tidak akan terlalu khawatir pada keduanya.


Alhasil, Darren dan Siska hanya bisa mengiyakan keduanya. Kapal pesiar milik keluarga Darren besar dan mewah, cukup jika menampung banyak orang, dengan maksimal jumlahnya sekitar 500 orang, dan awak kapal di hitung berbeda. Jadi meski nanti ada orang lain, karena Darren menempati bagian paling cantik pemandangan dan tempatnya.


Layanan luxury yang dipilih, berada di tengah-tengah, dengan pemandangan air laut dan ikan-ikan kecil yang mungkin akan terlihat di sekitarnya ketika kapal pesiar dihentikan. Berbeda dengan pilihan keluarga rekan kerja sama Wistara, mereka yang awalnya memilih layanan luxury hanya bisa dipindahkan ke kamar dan tempat VIP saja.


Maksudnya, sebelumnya rekan Wistara tersebut memilih layanan luxury. Tapi karena kedua orang tua Darren tahu jika Darren membeli tiket umum kapal pesiar, keduanya dengan cepat mengatur agar rekan tersebut mau dipindahkan ke layanan VIP.


Karena rekan tersebut tidak mau acara liburannya gagal, akhirnya mereka lebih menurut pada pemindahan tersebut, alhasil Darren dan Siska yang mendapat tempat khusus tersebut. Meninggalkan sedikit kekesalan pada rekan kerja sama lama keluarga Wistara.


Padahal, dua tiket kapal pesiar umum awalnya hanyala kamuflase Darren saja. Tiket tersebut dimaksudkan agar Siska tidak keberatan dengan perjalanan kali ini, karena aslinya Darren menyewa satu kapal pesiar pribadi, tidak umum seperti yang dikatakan.

__ADS_1


Tapi sebelum ia bertindak, kedua orang tuanya malah lebih dulu bertindak. Membuat rencananya gagal, dan hanya bisa menurut. Apalagi, Siska juga malah ikut mendukung saran kedua orang tuanya, Darren pun kalah telak.


Tapi Darren tidak ambil pusing juga. Bagaimanapun, liburan yang akan dijalankan keduanya tetap berjalan sebagaimana mestinya. Jadi, meski tidak menempati seluruh kapal pesiar, kebahagiaan di masa depan tetap akan datang padanya.


"Bukankah katamu dalam tiga hari? Ini baru dua hari, kan?" Tanya Siska bingung, menatap Ergan yang tersenyum, Siska bahkan menghentikan kegiatan mengecek barang bawaannya tersebut.


"Ah, itu, aku salah ingat tanggalnya, jadinya hari ini, pukul 12 siang nanti." Balas Ergan dengan tangan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Pukul 12? Hmm bisa, kami berangkat pukul 3 nanti, mengejar sunset di laut." Balas Siska menganggukkan kepalanya. Membuat Ergan bersorak senang, karena keluarganya bisa menemani dirinya melihat hasil ujian masuk universitas. Maksud Ergan adalah dalam formasi yang sedikit lengkap. Karena kedua kakaknya yang lain tidak ada.


"Baiklah, siapkan saja dulu laptopmu. Charger juga, jangan sampai kehabisan baterai ketika waktunya tiba." Ucap Siska, mengusir Ergan, karena ia akan melanjutkan kegiatan mengecek barangnya.


"Baik, tenang saja kak! Semuanya pasti aman. Kalau begitu, aku pergi dulu! Sampai jumpa di ruang keluarga pukul 12 siang! Jangan tidur, ingat ya!" Pekik Ergan, seraya berjalan meninggalkan Siska di kamarnya. Berjalan dengan langkah ringan dan riang. Siska tersenyum melihat tingkahnya.


"Ibu haruskah pergi?" Tanya Uqi dengan raut sedih, begitupula Uni. Keduanya merasa sangat enggan ditinggalkan kali ini. Sudah pertanyaan kesekian kali yang ditanyakan keduanya dengan kata-kata sama persis.


"Haruskah ibu membatalkannya?" Tanya Siska lembut. "Nanti ibu bicarakan dengan papa, bagaimana kalau begini?" Lanjut Siska.


Tapi Uqi dan Uni menggelengkan kepalanya, dengan helaan nafas berat.


"Ada apa? Apa yang mengganggu kalian sebetulnya, hmm?" Tanya Siska lagi.


"Hanya tidak ingin ibu pergi. Tidak tahu, tapi aku dan Uni merasa tidak nyaman." Balas Uqi seraya menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Mungkin karena kita baru beberapa hari ini menjadi keluarga lengkap?" Tanya Siska menebak. "Tidak apa, sayang, ibu bicarakan saja dengan papa Darren, boleh?" Tanya Siska kemudian.


"Tidak ibu, papa terlihat senang sekali akan pergi denganmu. Kami tidak tega menghancurkan harapan papa. Tapi, jika membiarkan kalian pergi juga rasanya sangat tidak nyaman." Ucap Uqi lagi, membuat Uni ikut menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, jadi ibu harus bagaimana hmm?" Tanya Siska.


"Temani kami tidur sebelum kalian pergi." Pinta Uni, dan Uqi menganggukkan kepalanya setuju, keduanya memang sudah berdiskusi secara pribadi sebelumnya. Jadi apapun yang dikatakan oleh Uqi dan Uni, ada hubungannya, satu sama lain, bisa dibilang ucapan keduanya saling mutlak dan memiliki hak suara masing-masing.


"Baiklah, tapi ini baru pukul 9, pukul setengah 11 ibu ke kamar kalian untuk tidur siang bersama, bagaimana jika begini? Setuju tidak?" Tanya Siska dengan sabar, lembut dan senyum hangat.


Uqi dan Uni akhirnya setuju, kemudian keduanya pergi tidak menganggu Siska lagi, membuat Siska menghela nafas dan melanjutkan kegiatannya.


Tapi kegiatannya kembali berhenti, ketika tidak lama sepeninggal Uqi dan Uni, kini giliran Darren, sang papa yang masuk dan menganggu Siska. Membuat Siska masih menghela nafas menyandarkan dirinya dengan baik.


"Apa yang kau mau? Aku sudah memberikannya padamu tadi pagi, oke? Sekarang jangan ganggu aku dulu, aku sedang membereskan ini, lihatlah, semuanya tidak beres-beres." Keluh Siska.


Darren tersenyum kecil, lalu tanpa banyak bicara ia mendekati Siska dan ikut membereskan baju keduanya yang dikerjakan Siska sendirian. "Kau bisa meminta bantuan ku, tahu!" Ucap Darren seraya memukul hidungnya dengan jari telunjuk yang dilipat. Lebih ke nasihat baik yang disampaikan Darren lada keduanya.


*


*


Nb: Ini aku up dari kemarin, tapi masih review sampe skrg, gataudeh apa yg salah 🙂

__ADS_1


__ADS_2