
*
*
Begitu Baron dan adiknya datang, Siska langsung menyerahkan pekerjaan membuat minuman pada Ergan, karena Ergan sendiri sudah sangat familiar dengan pembuatannya. Mudah dan tidak ribet.
Setelah menyerahkan pekerjaan, kemudian Siska, mengajak Baron dan Adiknya yang bernama Satria ke meja yang ada di dapur. Kemudian ketiganya mengobrol.
Tapi, sebelum benaran duduk, Baron pamit undur diri, karena kiosnya tidak bisa ditinggal lama. Jadilah Siska mengobrol berdua dengan Satria.
Tenang, masih di area dapur, jadi Santi, Putri, dan Ergan masih tetap mengawasi diam-diam.
Keduanya mengobrol dengan lancar, membicarakan perihal pengadaan barang sebagai stok satu bulan, berikut dengan gaji yang sebelumnya telah dibicarakan dengan Baron tadi.
Setelah mencapai kesepakatan, dan keduanya sama-sama setuju, Siska kemudian menyerahkan daftar Barang yang diperlukan oleh kedainya satu hari besok.
Sebagai permulaan, dan pengujian, Siska menyuruh Satria untuk berbelanja sekarang juga. Jadi, hanya untuk stok esok hari saja. Karena freezer juga belum ada.
Lagipula, uangnya belum terkumpul, meski ada, itu merupakan uang Ergan, jadi, perlu pembicaraan lebih lanjut jika dirinya ingin meminjam uangnya, dengan pemiliknya.
Setelah menyerahkan daftar barang yang dibutuhkan, Siska menyerahkan 15 juta pada Satria. Uang yang memang disimpannya, disiapkan untuk belanja bahan, sebetulnya uang keuntungan hari ini, Siska memintanya pada Rendra yang bertugas sebagai kasir ketika siang tadi.
Satria pergi dengan tugasnya, dan Siska mengangguk, sedikit lega. Itu artinya, satu pekerjaan berkurang ditangannya. Jadi dirinya dan kedua kakak, besok tidak perlu bangun dan pergi ke pasar pukul 4 subuh.
Paling-paling pukul setengah 6 sudah ada di kedai untuk membuat adonan dan membentuk produk yang bahannya dari tapioka.
__ADS_1
Setelah itu, Siska kembali mengambil alih pekerjaannya. Dan Ergan kembali melayani pelanggan di depan, seraya membawa nampan yang berisi 6 gelas cappuccino cincau yang telah dibuatnya. Ia memberikannya pada pelanggan yang memesan dengan lancar.
Sampai waktu menunjukkan pukul setengah 7, kedai akhirnya tutup. Karena semua bahan sudah habis tak bersisa. Setengah jam lebih awal lagi daripada kemarin.
Semuanya bersorak senang begitu kedai ditutup. Tapi kali ini, teman-teman Ergan langsung membereskan meja dan kursi, agar besok, hanya langsung fokus pada bahan-bahan utama saja.
5 menit kedai ditutup, Satria datang dengan pick up. Mengangkut bahan-bahan yang dipesan oleh Siska untuk besok. Semuanya bergegas ke depan dan menurunkan barang. Sebagian juga mengangkut barang ke dalam, dan mendistribusikannya sekalian. Seperti mengisi ulangbahan dasar seblak, juga mengisi ulang setiap botol yang kosong, seperti penyedap, garam, dan lainnya.
Selain membeli barang untuk kedai, Satria juga diperintahkan membeli makanan untuk makan malam semua orang. Jadi, setelah semuanya diangkut dan dibereskan, semuanya langsung makan malam bersama-sama. Berikut Ayah, Ibu, Uqi dan Uni yang segera dipanggil ke bawah oleh Ergan.
Makan Malam telah selesai, Siska kemudian mengobrol dengan Satria, ia puas dengan kinerja Satria. Selain harga bahan menjadi lebih murah, ia juga dapat dengan cepat mendapatkan semua bahannya. Jadilah, besok, Siska menjanjikan tanda tangan kontrak pekerja dengan Satria.
Sedangkan Rendra, dan Sapta, Siska tugaskan menghitung uang, hasil penjualan hari ini. Juga ada Ergan yang dasarnya selalu ingin ikut menghitung uang bersama para kakak.
Juga ada Baron yang keluar dari kursi penumpang di samping pengemudi di mobil pick up. Baron dan pengemudi saling menyapa dengan Siska. Pengemudi yang ternyata penjual freezer, langsung melakukan transaksi dengan Siska.
Siska mengambil uang dari Rendra yang telah setengah selesai menghitung keuntungan kedai hari ini. Siska tidak ada uang pegangan, jadi ia mau tak mau mengambil 12 juta dari keuntungan hari ini. Jadi uang uang yang telah diambil Siska hari ini adalah sekitar 27 jutaan.
Setelah menuliskannya di kertas, Siska pun kembali dan memberikan uang tersebut pada penjual freezer. Setelah dihitung ulang, penjual akhirnya melepaskan freezer baru milik Siska. Baron dan penjual sama-sama mengangkut freezer tersebut, langsung memasukkannya ke dalam dapur.
Dapur kedai luas, ada sebagian kosong yang bisa dijadikan sebagai tempat freezer dan penumpukan bahan lainnya yang tidak butuh diawetkan seperti tepung, minyak dan lainnya.
Jadi, begitu nanti memasak bahan, ada yang habis atau kurang, Siska dan yang lainnya tinggal mengambilnya di sudut kanan dapur. Disimpan di sudut kanan, karena itu juga dekat dengan colokan listrik. Freezer harus tetap dingin, jadi colokan listrik adalah kebutuhan utamanya.
Kemudian karena Freezer sudah datang, akhirnya bahan-bahan yang perlu awet dengan didinginkan, kembali dipindahkan ke freezer ini. Jadi lemari pendingin yang berada di balik konter pemesanan menjadi lebih kosong. Yang nantinya akan dipenuhi oleh air mineral dingin, juga mungkin Siska akan menambahkan beberapa minuman botol yang sudah punya nama di kedainya.
__ADS_1
Setelah selesai mengatur semuanya, Siska pun bergabung dengan para kakak yang sedang menghitung uang. Siska menanyakan keuntungan hari ini yang ternyata dapat lebih banyak lagi dari hari kemarin.
Sekitar 80 juta 709 ribu, karena lagi-lagi ketika berbelanja, Siska menambahkan setiap bahan masing-masing 500 ribu, mengingat hari sebelumnya bahan habis lebih cepat. Dikurangi 12 juta yang diambil untuk pembayaran freezer, juga dikurangi harga bahan, yakni modal 15 juta. Keuntungan hari ini, bersihnya adalah 53 juta 709 ribu. Lebih kecil keuntungan bersih hari ini daripada kemarin yang sebanyak 57 jutaan, karena dipakai membeli barang yang nantinya sebagai inventaris kedai.
Siska puas, saldo rekeningnya akan kembali bertambah besok. Oh apalagi hari ini uang belanjaan ditambahkan lagi olehnya mengingat bahan yang disediakan makin cepat habisnya. Yang asalnya 10 jutaan, menjadi 15 jutaan. Ah jangan lupakan harga barang yang menjadi lebih murah di tangan Satria. Jadi barang yang dibeli juga menjadi lebih banyak lagi.
Siska jadi tidak sabar untuk membuka kedai besok. Keuntungannya, pasti akan menjadi ratusan juta, kan besok? Jika semua bahan habis lagi dalam satu hari.
"Kak Siska, karena sudah tidak ada pekerjaan, kami pulang dulu." Ucap ketiga teman Ergan, berpamitan, yang dikepalai oleh Farhan.
Oh, Siska hampir melupakan tiga pegawai mudanya ini. "Tidak akan menginap saja?" Tanya Siska, sedikit khawatir sebetulnya, karena jam juga sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Apalagi untuk teman perempuan Erga, yakni Reni.
"Tidak, kak, masih belum pukul 10. Jalan masih ramai jam segini. Aku juga akan diantarkan oleh Farhan, kami searah." Ucap Reni menimpali.
"Yasudah, kalau begitu hati-hati. Oh ya, ambil ini, masing-masing satu, oke?" Ucap Siska, seraya mengambil tiga kresek berisikan Ayam bakar yang memang sudah dibagi tiga sebelumnya.
"Ah, kak? Kami kan sudah makan malam." Tolak Seno, diangguki kedua orang lainnya.
"Ambil saja, beli kelebihan, tidak akan kami makan lagi sepertinya. Bawa dan berikanlah pada Ibu, atau adik kalian, oke? Jangan sungkan..." Ucap Siska seraya tersenyum tulus.
Kemudian ketiganya mengambil kresek dengan perasaan senang. Selain baik, Siska juga sangat royal pada pegawainya. Tidak hanya pada ketiga teman Ergan saja, tapi kepada 3 pelayan lainnya juga sama, yakni Ayu, Sismi dan Sri. Ketiganya juga seringkali Siska beri buah tangan untuk dibawa pulang.
*
*
__ADS_1