
*
*
Setelah cukup dengan saling menggoda, keduanya langsung tenggelam pada pemeriksaan laporan keuangan dan menghitung uang bersama. Darren membantu Siska, padahal Siska tahu jika dirinya sendiri masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
Tapi biarlah, Darren sendiri yang mau. Siska bahkan berkali-kali menyuruhnya pergi untuk membereskan pekerjaan yang mestinya terbengkalai, tapi Darren enggan, katanya, ada Sahni dan Haris yang akan menghandle pekerjaannya.
Siska sampai kesal sendiri menyuruh Darren. Tapi Darren tetap enggan, membuat Siska pasrah pada akhirnya. Dapat bantuan gratis, juga ia tidak akan menolak. Hanya saja, Darren ini bos macam apa yang meninggalkan pekerjaan demi wanita?
Kalau di saat genting oke, tidak masalah, tapi inikan Siska juga masih bisa mengerjakannya sendiri. Masih belum butuh bantuan banyak orang. Pasti selesai jika hanya dikerjakan olehnya juga.
Membuat Siska menghela nafas lagi, dan lagi. Darren sendiri yang melihat Siska menghela nafas dan kesal, bukannya menurut, tapi malah tersenyum lebar dengan tangan yang sesekali mengusap kepala Siska. Darren menyemangati Siska, karena Darren mengira Siska sedang lelah setelah bekerja seharian, padahal aslinya manusia di depannya lah yang menjadi penyebabnya terus menerus menghela nafas.
Setelah hampir dua jam mengecek dan menghitung, pekerjaan akhirnya beres, kemudian Siska dan Darren pulang dengan mobil yang memang sudah menunggu. Tentu dengan supir yang selalu menunggu juga di dekat mobil.
Ada security di restoran cafe, jadi Siska tidak khawatir meninggalkannya tanpa pengawasan. Lagipula, Satria akan segera datang. Ia sedang dalam perjalanan bersa stok yang akan dipasok ke gudang untuk satu bulan mendatang lagi. Meski yakin, jika stok tersebut, besok pasti akan habis lagi. Tapi tidak apa, justru akan membuat beberapa orang senang terutama pemasok, karena barangnya cepat habis.
Selain itu, Ada juga dua karyawan yang memang ditugaskan sebagai divisi pengadaan barang. Mengecek dan mendata jumlah barang yang tersisa, lalu jika Satria tidak ada, merekalah yang akan menghubungi agen distributornya.
Disisi lain, Siska dan Darren telah sampai di gerbang masuk perumahan Turnuksio. Remang-remang adalah pemandangan yang ada di dalam. Siska jadi banyak berpikir tentang mengubah property perumahan tersebut. Misal dengan menambah lampu, juga menghias sepanjang jalan agar terlihat menyenangkan dan membuat orang nyaman serta betah berlama-lama.
__ADS_1
Untuk orang yang baru pulang kerja seperti dirinya apalagi, ia pasti akan merasa sedikit segar setelah melihat pemandangan sepanjang jalan. Karena setelah lelah dan penat dengan pekerjaan, begitu melihat pemandangan indah yang tampak di depan mata, rasa penat bisa tiba-tiba menguap meski tidak semua.
Disamping Siska yang sedang berpikir banyak hal dalam kepalanya, Darren menatap Siska penuh kelembutan.
"Siska, jika aku bertanya apa kau mau menjawab?" Tanya Darren.
"Bukankah kau sedang bertanya saat ini?" Tanya Siska balik dengan dahi mengkerut.
Darren terkekeh, "Baiklah, ini pertanyaan yang agak privasi sih menurutku. Jadi, tolong jawab, oke?" Ucap Darren lagi. Membuat Siska mengamggukkan kepalanya.
"Kenapa kau membeli banyak rumah di Turnuksio, ketika kau tahu jika residence ini sangat tidak diminati dan terkesan suram?" Tanya Darren. Meski dirinya sudah tahu dari Haris tempo lalu, tapi ia tetap ingin mendengar jawaban langsung dari Siska. Juga, niat aslinya adalah kenapa Siska bisa tahu informasi lebih cepat dari pada dirinya yang seorang pimpinan perusahaan kontruksi yang akan terlibat di dalam pembangunannya.
"Karena aku ingin menjadi kaya?" Jawab Siska seraya tersenyum, padahal aslinya adalah sedang menyembunyikan kegugupannya.
"Aku tahu kau sudah tahu tentang hal ini, bukan?" Tanya Darren membuat Siska mengerjap gugup. Dan Darren kembali tersenyum. "Entah dari mana kau dapat informasi begitu cepat? Aku tidak akan bertanya, itu ranah privasimu, meski sesungguhnya aku memang ingin tahu, sih." Gumam Darren yang masih bisa di dengar Siska. "Lupakan, aku percaya padamu dan akan menunggumu mengatakan hal-hal tersebut di kemudian hari. Tapi, begini saja, lain kali, beritahukan aku tentang hal-hal baik ini, bagikan padaku agar kita kaya bersama-sama, haha. Setuju?" Lanjut Darren seraya tersenyum dengan alis dinaikkan.
Siska merasa nyaman. Darren menghargainya, ia juga tidak memaksakan kehendaknya dan lebih menerima apa yang Siska sembunyikan. Kemudian Siska tersenyum membalas Darren, dan menganggukkan kepalanya setuju. Kelembutannya, mampu membuat Siska luluh. Tunggu saatnya nanti, jika dirinya memang sudah siap, maka dirinya akan dengan senang hati menceritakan semuanya pada Darren. Dengan harapan, semoga Darren dapat menerima semua kenyataan yang terjadi padanya, yakni kenyataan tentang kelahiran kembali.
"Terimakasih, sudah percaya padaku." Ucap Siska setelah mengangguk setuju, membalas semua penjelasan Darren dengan nada lembut. "Lain kali, aku akan langsung memberitahumu jika ada hal-hal baik. Setuju!" Lanjut Siska dengan anggukan semangat.
Darren ikut mengangguk, mengacak rambut Siska pelan, dan membuat Siska menyandarkan kepalanya ke pundaknya. Keduanya kemudian mengobrol banyak hal. Termasuk pikiran Siska yang sebelumnya, perihal merenovasi jalan dan rumah yang telah dibelinya pada Darren.
__ADS_1
Darren dengan senang hati setuju. Karena semakin bagus residence, semakin bagus pula harganya kelak. Lalu ia juga bisa membuat karyawannya yang mengerjakan renovasinya. Siska dan Darren sama-sama bekerja sama. Dan hal ini bukan semata-mata wacana saja. Karena sudah tertanam, bahkan dicatat oleh Siska sendiri. Nantinya akan direalisasikan setelah semuanya membaik, dan terkendali.
"Untuk harga, tolong beri diskon ya Tuan Wistara." Ucap Siska dengan nada bercanda.
"Hmm? Apa maksudmu? Diskon apa? Apa kau menganggap ku orang lain, huh?" Tanya Darren dengan tatapan pura-pura marah.
"Ha? Kau begitu pelit, baiklah, harga biasa saja!" Balas Siska.
"Aish, maksudku tidak perluada diskon karna tidak perlu membayar, dasar! Tunggu aku selesai bicara dulu, lain kali." Ucap Darren seraya menyentil dahi Siska.
"Sakit, tahu! Kau suka sekali berbuat begitu?" Tanya Siska, menggerutu. "Lalu, apa maksudmu dengan tidak membayar? Kau meremehkanku, ya? Kau mengataiku tidak punya uang, kan?"Tanya Siska menuduh.
"Astaga tidak!" Sanggah Darren.
"Huh! Jangan mencampur adukkan pekerjaan dengan hubungan pribadimu. Aku tahu aku seseorang yang penting bagimu, tapi tetap saja aku nantinya memakai jasamu, jadi jangan halangi aku jika aku mau membayar!" Ucap Siska kesal.
Tolong pisahkan dua hal ini, oke. Itu sangat tidak nyaman nantinya jika terus seperti ini ke depannya. Bagaimanapun, Siska ini mau memakai jasa perusahaannya. Jika tidak membayar lalu bagaimana Darren membayar gaji para pekerjanya? Dengan uang pribadinya? Oh tidak. Tidak boleh. Siska tidak mau menjadi parasit seperti itu.
Darren tersenyum setelah mendengar gerutuan Siska. Ia dewasa, meski memakai jasanya ia tetap menghargai kerja kerasnya. Ke depamnya, ia tidak perlu khawatir tentang sifat tamak, karena Siska tidak punya yang satu itu.
*
__ADS_1
*