Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Darren Marah


__ADS_3

*


*


Siska kemudian dengan cepat kembali dan memasuki lantai dua di kedai, setelah ia izin pada ayahnya, dan agar ayahnya menemani Uqi dulu sementara dirinya menghubungi Darren.


Tapi Siska juga mengatakan, jika makan sudah selesai, Uqi diperbolehkan ke atas, mungkin dengan adanya Uqi nanti Darren yang diperkirakan Siska pasti marah, akan sedikit melunak. Sayangnya tidak ada Uni, karena ibunya yang membawanya, pergi dengan ibu-ibu tetangga, jalan-jalan bersama katanya. Kalau ada Uni, bukan sedikit membaik lagi, tapi bisa sangat membaik Darren ini. Karena dia paling menyukai Uni.


Perbedaan dengan Uqi, adalah karena Uqi sedikit berbicara, berbeda dengan Uni yang banyak bicara jika sudah dengan Darren. Tapi Darren memang sayang keduanya. Sayangnya pada Uqi dan Uni sama-sama dalam, hanya saja Uqi yang masih terasa membatasi diri dengan Darren.


Siska membuka ponsel dan melihat banyak sekali notif pesan juga panggilan tak terjawab dari Darren. Siska tiba-tiba menjadi gugup, jantungnya pun berdegup. Melihat banyak notif tersebut, Darren sudah pasti amat sangat marah padanya.


Siska pertama-tama membuka pesan di aplikasi chatting. Membuka roomchat Darren dan seketika muncul banyak pesan beruntun, tapi sebelum Siska membaca lebih lanjut, ponselnya bergetar, panggilan video dari Darren, langsung masuk sesaat setelah Siska membuka roomchat.


Siska dengan takut-takut mengangkatnya, ia menghela nafas, kemudian tersenyum setelah menerima panggilan tersebut. "Dari mana saja?! Kau sengaja mengabaikan ku?! Mau membuatku gila?!" Tanya Darren langsung bertanya dengan nada menusuk. Rautnya bebar-benar, tidak bagus, jelek, masam, dan seram. Matanya tajam, menatap Siska dari layar ponsel.


"A-aku tidak!" Pekik Siska gugup.


"Tidak apa? Tidak mau berhubungan denganku? Begitu?!" Tanya Darren tajam.


"Bukan itu maksudku, kau dengarkanlah aku dulu, ya? Aku mau menj---" Ucapan Siska terpotong.


"Huh, memang sepertinya aku saja kan yang mengkhawatirkan mu? Kau tidak peduli padaku, kan? Jika tidak mau, seharusnya kau bilang saja dari awal, jadi aku tidak akan berharap banyak." Ucap Darren dengan nada sendu. "Sudahlah, kau lanjut saja dengan kesibukanmu disana. Aku pergi dulu."Ucap Darren kemudian mematikan panggilan, tidak memberikan Siska kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Siska menghela nafas, ia gugup, dan cemas. Darren benaran marah. Memikirkan nada bicara dan rautnya, ah sial! Semuanya gara-gara kakak keduanya yang menyebalkan! Pikir Siska kesal.


Kalau saja ia tidak lupa pada ponselnya, Sapta tidak akan mengambil dan menyembunyikannya bukan? Memang Siska sangat ceroboh.


Sekarang, ia kebingungan sendiri karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini untuk membujuk Darren yang marah. Terlebih, Darren sekarang diibukota dan dirinya di desa. Apa yang bisa dilakukan? Tidak mungkin kan dirinya harus menyusul Darren ke ibukota untuk meminta maaf?


Siska menjadi uring-uringan sendiri. Tapi ia tetap menelfon Darren lagi meski tidak diangkat setelah 5 kali panggilan. Lalu Siska juga mengirim pesan, dan langsung menjelaskannya pada Darren disana, jika ponselnya sedari pagi hilang dan disembunyikan oleh Sapta.

__ADS_1


Tapi Darren tidak kunjung membalas pesannya, membuat Siska menghela nafas sedih. Tidak tahu menahu jika saat ini, diibukota, Darren sendiri kembali menjalani rapat.


Suasana di ruang rapat sangat mencekam,.berbeda sekali dengan tadi pagi yang terlihat sangat cerah, karena Darren sendiri sedikit tersenyum menatap bawahannya tadi pagi.


Lihatlah, sekarang malah ruangan rapat seperti sedang diselimuti oleh awan hitam. Sahni sendiri yang ditatap oleh para karyawan hanya bisa menggeleng lemah. Tidak bisa juga ia menjelaskan disaat Darren sedang ada di depannya.


Cari mati namanya jika ia berani membicarakan Darren di depan orangnya sendiri pada semua orang. Dan Sahni tidak akan pernah melakukannya, meski ia tahu penyebab Darren terlihat suram adalah sudah pasti ada hubungannya dengan Siska.


Karena sekeluar Darren dari ruang istirahatnya, Darren sudah sangat gelap. Auranya hitam, dan disekitarnya terasa dingin. Tidak lebay, Sahni mengatakan yang sebenarnya. Haris yang menjadi saksi pun, menyetujui pendapat Sahni.


Kembali pada Siska, ia kini turun ke bawah lagi, membuat Suherman bertanya-tanya. Tapi setelah berpikir sebentar, ia langsung tahu jawabannya. Darren marah, pastinya. Tapi ia tidak banyak bicara, hanya memerhatikan raut putrinya yang ditekuk.


"Bapak, bantu aku bujuk Darren, ya? Aku tidak salah, kan kakak kedua yang menyembunyikan ponselku." Ucap Siska mengeluh.


"Kalau lupa ya lupa saja. Mana mungkin juga ponsel hilang tapi tidak sadar? Itu artinya kau juga lupa pada Darren. Sudahlah, jujur saja." Ucap Suherman, malah menambah pikiran negatif di kepala Siska.


Tapi memang benar ucapan Suherman ini, Siska setelah melupakan ponsel dan diomeli Sapta sebelumnya di lagi hari, ia memang lupa pada semuanya dan fokus melayani orang-orang yang mampir ke kedai. Karena tidak diizinkan ke dapur jadi ia memilih membantu para pegawai yang melayani, dan menjaga kasir sesekali. Alhasil, ia memang lupa, ditambah ia juga pergi menjemput Uqi pada pukul 12 siang. Jam pulang Uqi menjadi setengah jam lebih lama dari awal masuk.


Suherman mengedikkan bahunya cuek, tidak mau ikut campur pada urusan janda anak dua tersebut. Haha. Aslinya putrinya sendiri.


"Bapak, nanti Siska belikan papan catur! Bukankah bapak mau papan catur baru?" Tanya Siska, membujuk.


"Deal!" Balas Suherman langsung, tanpa ada jeda setelah Siska menyebutkan papan catur baru.


Uqi menghela nafas, sebenarnya ia atau dua orang di depannya yang anak-anak? Pikir Uqi. Tapi ia tetap diam dengan patuh, memakan makanannya. Sudah tahu betul jika ibunya memang manja, sama seperti dirinya jika sedang bersama Siska di rumah. Tidak heran, itu adalah turunan dari ibunya bukan?


"Tunggu bapak selesai." Ucap Suherman, memakan makanan dengan tempo lambat.


Siska yang melihatnya, menjadi tidak sabaran. "Hubungi dulu sekarang, bapak. Nanti makannya dilanjutkan. Bapak, ayolah, tidak mau menunggu, aku tidak tenang." Keluh Siska.


Suherman menghela nafas, "Darren itu orang sibuk, jam makan siang sudah lewat, ia sedang rapat saat ini." Ucap Suherman.

__ADS_1


"Darimana bapak tahu? aku saja tidak tahu!" Ucap Siska mendelik.


"Bapak punya jadwal kerjanya, memangnya kau? Sangat tidak peduli pada calon sendiri. Hmp, jika saja Darren tidak suka padamu, Bapak juga tidak akan setuju tuh untuk membiarkan kalian bersama." Balas Suherman.


"Astaga bapak! Kalau Darren tidak suka, aku juga tidak akan suka, tahu! Kan Darren duluan yang mendekatiku! Bagaimana sih?" Tanya Siska, heran sendiri.


"Darren kenapa bisa suka padamu, ya?" Tanya Suherman menatap Siska.


"Aku cantik, bapak!" Geram Siska.


"Selain cantik, kau tidak pedulian, gengsian, keras kepala, dan paling parah adalah suka menggerutu." Ucap Suherman, membuat Siska menatapnya kesal.


"Bapak menyebalkan sekali?!" Pekik Siska, kemudian pergi meninggalkan meja Uqi dan Suherman. Meninggalkan Suherman yang tertawa renyah melihat raut merajuk putri satu-satunya tersebut.


"Kakek, jangan keterlaluan." Ucap Uqi tiba-tiba.


"Astaga, kakek hanya bercanda saja. Dasar ibumu perasa, nanti kakek bujuk. Lanjut makan saja dulu." Ucap Suherman seraya tersenyum. Uqi terlihat dewasa sebelum waktunya. Tapi senang juga, kasih sayangnya untuk ibunya sangat besar jika begini.


"Nanti mainlah dengan teman-teman di rumah ya? Jangan mengurung diri di kamar terus." Nasihat Suherman pada Uqi.


Sejak Uqi ditinggalkan Siska, ia jadi sering diam di kamar sendirian. Ketika di ajak main, malah tidak mau, ketika dilihat, Uqi malah sedang belajar di kamar, membaca buku setiap saat. Berhenti hanya ketika dipanggil untuk makan saja. Kalau ke air, ada kamar mandi didalam kamar, jadi Uqi jarang terlihat di rumah.


Begitu Siska datang, barulah ia jadi sering mau keluar dari kamarnya. Siska juga yang telah mendengar cerita ayah dan ibunya tentang Uqi, jadi sering mengajaknya main, entah ke kedai atau ke taman bermain, atau berenang di rumah. Asal Uqi bisa menunjukkan sisi anak-anaknya, Siska senang. Begitupun yang lainnya, turut senang.


Jika Siska tidak ada, entah apa yang akan dilakukan Uqi? Memikirkan nya saja, sudah membuat Suherman, dan Estika sangat khawatir.


"Mengerti, kakek." Balas Uqi, ia menganggukkan kepalanya dengan patuh. Kemudian melanjutkan kegiatan makannya.


Suherman menghela nafas, sudahlah, meski diiyakan, Suherman jamin, Uqi akan lupa, dan lebih memilih mengurung diri di kamar jika Siska tidak ada. Tapi apa boleh buat, ia juga tidak bisa memaksanya keluar. Tapi Suherman mungkin jadi punya ide, ia akan mengajak Uqi keluar setiap Minggu. Tidak apa-apa untuk menghabiskan uang, lagipula Siska yang mencari uang, dan dirinya hanya menikmatinya saja, haha.


*

__ADS_1


*


__ADS_2