
*
*
Besoknya Darren pun pulang, dan Siska secara khusus menyiapkan diri. Juga secara khusus mempersiapkan banyak makanan yang dimasaknya sendiri, agar ketika Darren datang, ia bisa langsung mengisi perutnya, sebelum akhirnya ia suruh istirahat dan tidur.
Siska tahu jam keberangkatan Darren, jadi Siska tahu betul jam pulang Darren ketika nanti sampai ke rumah. Dan saat ini, sudah waktunya Darren datang, di meja makan, semua jenis makanan sudah Siska masak dan hidangkan.
Ada beberapa kesukaan Darren, dan sisanya adalah jenis makanan kesukaan semua orang di rumah. Karena selain untuk Darren yang ternyata pulang pagi jadinya, semua orang di rumah juga sekalian akan makan siang bersama nantinya.
Alhasil, Siska masak pun sebetulnya ditemani oleh ibunya. Hanya saja, makanan Darren tetap Siska yang memasaknya, secara khusus. Estika juga tidak banyak komentar, anggap saja latihan Siska sebelum menikah nanti. Jadi, selain mendukung, Estika juga seringnya menggoda Siska ketika di dapur.
Sampai akhirnya Darren tiba, begitu sampai, yang langsung dilakukannya adalah mencari Siska, dan memeluknya erat-erat, menumpahkan kerinduannya yang menggunung.
Siska sendiri tertawa melihat perilaku calon suaminya tersebut. Tangannya hanya menepuk-nepuk punggung Darren, dan setelah 5 menit, akhirnya ia mau melepaskannya. Karena Estika, menyuruh Darren masuk dan langsung digiring ke meja makan.
Apalagi ketika Estika menyebut Siska menyiapkan khusus masakannya, Darren dengan semangat menggandeng calon ibu mertuanya tersebut. Membuat Estika tertawa geli.
Makan dengan lahap, sampai akhirnya kenyang. Setelah duduk menunggu semua makanan yang dimakannya dicerna, Darren kemudian di suruh Siska untuk masuk ke kamar khusus Darren, dan menyuruhnya istirahat.
Tapi begitu Siska berbalik setelah mengantarkan Darren, Darren malah menariknya ke dalam kamar, dan langsung menutup pintu. Seketika, Siska berada dalam Kungkungan Darren, dengan ekspresi terkejut setelah ditarik sekaligus olehnya.
Siska melebarkan kedua matanya, "Kau mau apa?" Bisik Siska dengan nada dalam. "Jangan macam-macam, mama ada di luar." Ucap Siska lagi memperingati Darren.
Darren tersenyum, kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Siska. "Tidak, hanya satu macam saja." Ucapnya berbisik. Membuat Siska merinding.
__ADS_1
Darren kemudian mengecup bibir Siska. Hanya kecupan, dan setelah itu, Darren melepaskan Siska yang terlampau terkejut.
Siska tertegun, 'apa-apan barusan? Darren mengurungnya Hany untuk mengecupnya saja? Ah, maksudnya untuk apa berbuat begitu, memangnya Siska akan senang? Memang senang, sih.' Pikir Siska dengan wajah memerah, bahkan pikirannya sudah tidak terkontrol. Pikirannya sudah kacau, apa maksud dari hanya? Dia tidak menginginkan lebih, oke.
"K-kau!" Desis Siska geram. Akhirnya hanya satu kata yang bisa keluar dari mulutnya, dengan gugup juga.
"Hehe, aku salah. Harusnya aku meminta izin dulu padamu, kan?" Tanya Darren seraya tersenyum hingga menampilkan deretan giginya.
Siska mendengus, kemudian membuang muka, tidak mau melihat Darren. "Sudahlah, istirahat. Aku harus menjemput Uqi." Ucap Siska. Setelahnya ia langsung pergi dengan cepat, tidak mau refleks nya kalah lagi dengan tarikan Darren seperti sebelumnya.
Darren tertawa kecil, sudah begitu lama, tapi Siska masih terlihat malu-malu di hadapannya, di depan kedua matanya. Aih, Siska terdengar kesal, tapi reaksinya sangat berbanding terbalik. Memangnya Darren tidak tahu? Ia tahu, jelas sekali pipi Siska memerah tadi. Ia juga memejamkan matanya setelah Darren mengecupnya sekilas, itu Siska menunggu dirinya melanjutkan, bukan?
Tapi tidak akan. Darren sedang menahan diri. Godaan mau menikah besar dan keras. Lengah sedikit saja, ia pasti kalah oleh nafsunya sendiri. Jadi sebisa mungkin, Darren juga tidak mau cari masalah untuk dirinya sendiri.
Uni bahkan ia ajak, karena bisa saja pulangnya nanti, sekalian akan melakukan perjalanan, misal jalan-jalan dan menonton bersama di bioskop. Sudah lama juga, tidak pergi berempat. Juga sudah lama sekali sejak Uqi dijemput oleh Siska dan Darren.
"Eh kau mau apa?" Tanya Siska bingung. "Aku menyuruhmu istirahat, kenapa kau keluar dengan pakaian rapi dan harum?" Tanyanya lagi, melanjutkan pertanyaan awal.
"Ingin ikut, aku juga ingin menjemput Uqi. Bukankah sudah lama kita berdua tidak menjemputnya bersama? Kau tidak lupa kan, waktu itu Uqi juga sangat senang melihat kita berdua menjemputnya bersama?" Tanya Darren seraya tersenyum.
Siska menghela nafas, memang benar apa yang dikatakan Darren. Jadi, mau tidak mau, akhirnya Siska pun mengizinkan Darren pergi bersamanya, menjemput Uqi dengan membawa Uni.
"Hore! Paman Darren, pulang menjemput kakak Uqi, ayo jalan-jalan?" Tanya Uji, sekaligus mengajak. Tidak lagi cadel seperti beberapa bulan lalu. Uni sudah lebih fasih berbicara.
"Boleh! Bagaimana dengan menonton televisi besar di pusat perbelanjaan?" Tanya Darren dengan raut senang.
__ADS_1
"Tidak. Selesai menjemput, harus langsung pulang. Kau masih butuh istirahat, jangan menawar lagi. Aku tidak akan setuju." Bantah Siska, menolak permintaan Uni sekaligus Darren.
"Sayang, hanya menonton saja. Lagipula.hanya duduk." Ucap Darren membujuk.
"Ibu sayang, paman Darren juga sudah setuju, mengapa ibu tidak?" Tanya Uni dengan bibir maju, cemberut, sedih karena keinginannya tidak dituruti kali ini.
"Paman Darren baru saja pulang, butuh istirahat. Uni sayang, patuh ya? Jika paman tidak istirahat, nanti paman bisa jatuh sakit. Kalau paman sakit, nanti Uni malah tidak bisa bermain dalam waktu yang lama dengan paman. Uni tidak kasihan juga karena paman sakit nanti?" Tanya Siska, menjelaskan perlahan, dan membujuk Uni pelan agar ia mengerti. "Uni mau melihat paman Darren sakit? Jika ya, maka ibu bolehkan saja kalian jalan-jalan nanti, bagaimana?" Tanya Siska lagi.
Tapi Uni menggelengkan kepalanya. Ia akhirnya mengerti, meski perasaannya masih sedih.
"Baiklah, mari turuti ibu dulu hari ini. Besok, janji, paman akan mengajak Uni menonton. Paman akan menemani Uni seharian!" Ucap Darren seraya mengacak rambut Uni pelan.
"Besok? Baiklah, besok! Janji tidak?" Tanya Uni seraya mengacungkan kelingking kecilnya, membuat Darren tertawa kecil dan ikut mengacungkan jari kelingkingnya, lalu menautkan kedua kelingking yang kontras ukurannya tersebut. "Paman juga harus sehat, jadi cepat kita pergi menjenguk kakak, agar paman bisa cepat istirahat.", Lanjut Uni seraya menepuk bahu Darren.
Kemudian ketiganya memasuki mobil. Ada supir di dalam, dan Darren tidak diizinkan mengemudi meski ia jago. Karena ia baru saja pulang dan bahkan belum sempat beristirahat. Siska hanya berjaga-jaga saja karena takut dirinya dan anaknya terluka jika Darren tidak sengaja menabrak dan lain-lainnya.
Sampai akhirnya ketiganya sampai di depan gerbang sekolah Uqi, Siska berdiri di samping Darren yang menggendong Uqi di tangannya. Masih ada waktu sebelum bunyi lonceng berbunyi. Siska bahkan sudah menyuruhnya menunggu di warung Mie, tapi intinya ia bisa datang adalah rasa syukur yang dirasakan para pekerja.
"Oh, kau datang lebih awal Siska?" Tanya seorang laki-laki, tiba-tiba datang dari belakang. Siska dan Darren refleks melihatnya, seketika membuat rahang Darren mengeras.
Randu.
*
*
__ADS_1