Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Kembali Berjualan


__ADS_3

*


*


Besoknya, seperti pagi biasanya, Siska mulai menyiapkan bahan untuk mulai membuat adonan cireng dan cirambah secara bersamaan.


Kali ini, ia langsung membuat dua adonan sebab ada tambahan orang dalam proses pembuatannya, Putri lah orangnya.


Proses pembuatan menjadi lebih cepat, Siska membaginya menjadi dua kelompok, Siska dan Ergan membuat Cireng, sedangkan Putri dan Ibunya membuat Cirambay. Kadang Ayahnya juga membantu begitu selesai menata Rosella yang akan dijemur.


Waktu pembuatan pun relatif menjadi lebih cepat, membuat Siska bisa lebih awal membuka kios.


Hari ini, pembuatan cireng hanya sampai 1000 buah saja, dan cirambay 500 bungkus. Sama seperti hari kemarin. Tidak ada pembuatan lebih banyak. Karena menurut perkiraannya, Cireng dan Cirambay akan membuat semua orang perlahan menjadi bosan.


Mempertahankan jumlahnya saat ini, merupakan keuntungan agar penjualan menjadi lebih panjang. Kira-kira seminggu ke depan, Siska masih bisa berjualan dengan aman, tanpa khawatir ada dagangan yang tersisa banyak.


Setelah seminggu, Siska mungkin akan mengurangi jumlah cireng dan cirambay, lalu ia akan membuat produk baru dari tepung tapioka. Masih banyak produk yang bisa dibuat, jadi Siska pun tenang-tenang saja meski nanti cireng menjadi sepi peminat.


Setelah semua selesai dibuat, dan matang. Siska dan Ergan kemudian memasukkan cireng serta cirambay ke dalam box makanan, pun dengan Putri dan Ibunya yang ikut membantu. Jadi pekerjaan dikerjakan lebih cepat dari biasanya.


"Pukul 9 kurang. Kita menjadi semakin pagi membuka kios sekarang." Ucap Ergan begitu melihat jam di dinding rumahnya. Ia tersenyum dan mengangguk semangat.


"Ayo, pergi." Ajak Siska kemudian. " Ibu, kakak ipar, kami pergi dulu." Lanjut Siska berpamitan.


"Hati-hati dijalan." Seru Ibu dan Putri bersamaan, membuat kedua saling berpandangan dan kemudian tertawa kecil.


Siska tersenyum samar melihatnya, berikutnya ia pergi diikuti Ergan yang dengan biasa meminjam sepeda milik tetangganya. Tentu dengan bayaran yang cukup. Karena jika tidak, mungkin tetangganya tidak akan mau meminjamkan sepedanya setiap hari.


Sesampainya di depan kios, Siska langsung memarkir sepedanya dan menguncinya. Bertepatan dengan bos Baron yang baru saja membuka kiosnya.


"Siska, kau menjadi semakin pagi, sekarang. Itu bagus!" Puji Baron seraya mengacungkan jempolnya pada Siska.


"Ya, bos, lebih banyak orang membantuku hari ini. Jadi aku bisa lebih cepat membuat dan menyiapkan semuanya." Balas Siska seraya tersenyum, "Kalau begitu, aku masuk dulu bos. Sebelum para pelangganku datang." Lanjut Siska kemudian pergi setelah mendapat persetujuan Baron.


"Ergan, buka penutup kiosnya. Lihat disana, sudah ada beberapa orang yang akan datang." Ucap Siska seraya menunjuk ke sebrang jalan, membuat Ergan ikut melihat orang-orang tersebut, yang ternyata merupakan langganan dari kios Siska ini.


"Wah, pagi sekali mereka sudah datang. Kalau begitu, ayo cepat, kak. Kau juga bersiaplah." Seru Ergan bersemangat, ia dengan cepat membuka penutup kios dari depan. Meski memang setiap kali agak kesulitan, kali ini bos Baron dengan peka membantu Ergan, jadi dalam hitungan detik, penutup Kios sudah terbuka.


Kemudian Ergan berterimakasih, dan selanjutnya membantu Siska menata daganganyandi dalam Kios. Sampai semuanya telah selesai, para pelanggan pun datang sembari mengobrol bersama teman-temannya yang sama-sama datang untuk membeli dagangan Siska.


"Nona! Kau semakin pagi, baguslah."


"Ya, nona, biasanya kami datang kau belum buka. Tapi sekarang berbeda."


"Ya, ya, benar. Aku senang melihatnya."

__ADS_1


"Aiyo, hari ini banyak orang yang membantuku, jadi persiapannya menjadi lebih cepat." Ucap Siska seraya mengibaskan tangannya dan tersenyum.


"Baguslah, nona, kau cepat, pelangganmu menjadi semakin senang!"


"Ya, betul, betul."


"Aiyo, kalian masih ingin berbicara sampai kapan? Gadis, layani aku dulu saja. Aku mau cireng 30, dan cirambay 10 bungkus. Cepat, cepat, sebelum orang lain menyerobot!" Ucap seorang wanita paruh baya seraya tertawa, menyerobot antrian orang-orang yang ada di depannya, yang masih mengobrol.


"Ah bibi, harusnya aku dulu yang memesan!"


"Aiyo, kalian lanjut mengobrol saja ya. Aku buru-buru, mau pergi piknik, haha."


"Aih, malangnya Aku."


"Astaga gadis satu ini, hanya satu antrian saja. Kau kan menjadi nomor dua. Jangan mengeluh, lihat ke belakangmu, masih ada berapa banyak antrian?"


Keduanya menjadi mengobrol banyak, sampai akrab dan tertawa-tawa Siska dan Ergan melihatinya dengan senyum simpul. Cukup nyaman bagi keduanya melihat pemandangan ini dipagi hari. Daripada melihat orang bertengkar, lebih baik melihat orang bercanda gurau, tawanya mungkin bisa menular, hati dan mood pun menjadi sehat nantinya.


Siska terus melayani pembeli, dan Ergan membantu disampingnya. Kali ini tidak merekam video lagi, karena dirasa tidak perlu juga. Video yang kemarin pun belum selesai di edit jadi belum di posting ke aplikasi burung biru dan tutub.


"Gadis cantik, apakah masih tersisa banyak?" Tanya seorang wanita paruh baya seraya membawa keranjang belanjaan yang kosong.


"Masih, bibi, kau mau beli berapa?" Tanya Siska seraya tersenyum. Ini baru antrian ke 15, tentu saja masih tersisa banyak.


"Aku mau beli 300 buah cireng, untuk karyawa di pabrikku." Balas ibu di depannya seraya tersenyum.


"Astaga dia memborong cirengnya!"


"Nona, siskan untukku."


"Ah tidak, jangan sampai aku kehabisan."


"Bibi, Sisakan untuk kami."


"Ya, benar, tolong sisakan."


Siska tertawa mendengarnya. "Tenang, semuanya, masih banyak cireng yang tersisa. Jangan khawatir, oke? Cireng tidak ada, Cirambay pun masih banyak! Mengantri dengan tenang, oke?" Ucap Siska sedikit berteriak, setelah meminta izin pada ibu di depannya, karena takutnya ia tidak berkenan dengan teriakan Siska.


"Syukurlah, kalau masih banyak."


"Ah untunglah, aku akan kebagian."


"Ya, ya, benar. Bagus kalau begitu."


Siska kembali tersenyum, "Baiklah, dicampur pedas dan original, atau pedas saja bibi?" Tanya Siska.

__ADS_1


"Campur saja, tapi buat lebih banyak untuk yang pedas." Balas ibu di depannya seraya tersenyum.


"Baik, tunggu sebentar ya." Ucap Siska, kemudian Ergan membantu tanpa diperintah. "Bibi, sebanyak ini, apa kau membawa kantong untuk membawanya nanti?" Lanjut Siska bertanya.


"Ah ini, maaf aku lupa. Haduh, maklum ya nak. Aku sudah setua ini, haha." Ucap Ibu di depan Siska seraya tertawa, dan menyodorkan tas belanjanya pada Siska.


Siska ikut tertawa, dan mengobrol ringan setelahnya, seraya membungkus cireng yang dibeli. "Bibi, karna kau membeli banyak, aku beri diskon 10 ribu!" Ucap Siska, yang setelah selesai membungkus dan menerima pembayaran dari ibu di depannya, kemudian ia mengembalikan 10ribu sebagai pemotongan pembelian.


"Wah! Kau begitu baik, tadi sudah kau lebihkan cirengnya, tapi masih dapat potongan harga. Sangat bagus! Aku suka cara jualanmu, nak." Ucapnya memuji Siska dengan semangat.


"Haha, bibi, kau bisa saja." Ucap Siska mengibaskan tangannya dengan malu.


"Kalau begitu, aku pergi dulu, terimakasih ya."


Setelah ibu ini pergi, Siska lanjut melayani pembeli dengan raut ramah dan senang. Membuat oara pelanggan tak henti-hentinya mau mengobrol akrab dengannya. Apalagi pelanggan yang laki-laki, siapa yang akan melewatkan mengobrol dengan perempuan cantik.


Mengesampingkan statusnya yang sudah punya dua anak, para pelanggannya kan tidak tahu tentang statusnya ini.


Satu jam kemudian, semua dagangannya laris tak tersisa. Membuat beberapa yang baru datang menghela kecewa karena tidak kebagian.


"Aku tidak menyangka, kak. Kali ini malah lebih pagi habisnya." Ucap Ergan bersemangat.


"Banyak yang memborong hari ini, jadi habis lebih cepat." Ucap Siska tersenyum, "Aku bahkan kasihan karena beberapa orang tidak kebagian. Aku jadi tidak enak pada mereka." Gumam Siska seraya membereskan barang. Bersiap menghitung uang hasil jualannya.


"Aiyo, kak, tidak perlu merasa tidak enak. Lagipula besok, kan datang berdagang lagi. Mungkin yang tidak kebagian, mereka akan datang lebih pagi." Hibur Ergan, "Sekarang, ayo kita hitung uangnya dulu!" Lanjut Ergan.


Kemudian keduanya fokus pada uang, semuanya dihitung dengan benar, pun dengan recehan, tidak luput dari hitungan keduanya.


"Kak, milikku ada 3juta 100 rb. Berapa yang kau hitung?" Tanya Ergan seraya menyimpan uang didepan Siska.


"Ada 5 juta 230rb." Balas Siska seraya menarik turunkan alisnya. "Jadi totalnya 8juta 330ribu! Kita kaya." Ucap Siska tertawa lebar.


"Huh? Hanya lebih banyak sedikit dari kemarin? Kemarin 8juta 100rb itu juga ada berapa yang tidak dijual, dipakai untuk membuat konten kemarin." Ucap Ergan bingung.


"Tidak usah bingung, tadi kan aku memberi lebih pada 4 orang yang memborong. Jadi tentu saja berkurang, apalagi aku memberi potongan harga juga." Ucap Siska seraya mengetuk kepala Ergan.


"Ah! Aku tidak ingat, haha. Kalau begitu, kak, ini mau kau setorkan ke bank lagi?" Tanya Ergan.


"Tentu, kita sisakan 2juta 500ribu. Aku harus menyetor uang keamanan pada penguasa pasar 500ribu. 2 juta sisanya untuk belanja bahan." Ucap Siska.


"500 ribu? Banyak sekali? Bukankah kau bilang 100 ribu perbulan?" Tanya Ergan.


"Aiyo, mereka menjaga kita dengan baik, tidak ada salahnya kita memberi mereka lebih, 500 ini juga bayaran untuk 3 bulan. Kau tenang saja, aku tahu perhitunganku." Ucap Siska seraya menepuk bahu Ergan.


*

__ADS_1


*


__ADS_2