
*
*
Awalnya, Siska berpikir untuk menaikkan dulu ekonomi keluarga, baru balas dendam pada Aldo. Sampai ia berniat melupakan masalahnya dengan Aldo saja ketika keluarganya terasa harmonis dan bahagia bersama.
Tapi keputusan yang baru diniatkan itu tidak ada gunanya kan? Aldo yang Siska kira tidak akan mengganggunya setelah keduanya berpisah, ternyata salah. Perkiraannya meleset. Jika hanya Aldo yang hidup sendiri, mungkin benar ia tidak akan menganggu kepada yang bukan miliknya.
Tapi ibunya, ya, ibu mertua yang sebentar lagi akan menjadi mantan. Siska melupakan eksistensinya. Harusnya Siska ingat, sikap dan perilaku ibu mertuanya dulu yang selalu memanasi dan mengkompori Aldo. Perihal harta, anak, kecantikan, semuanya selalu terlihat salah di mata ibu mertuanya dulu.
Banyaknya Aldo memukul Siska, karena ibu mertuanya juga seringkali mengadu domba sepasang suami istri ini. Aldo memang pemalas, tidak mau bekerja dan selalu berkata kasar, tapi tidak pernah memukulnya sebelum ibu mertuanya mengadu domba dirinya. Sifatnya langsung berubah drastis kala itu.
Itulah yang membuat Siska bertahan dulu, karena Aldo dikompori membuat Siska dipukuli. Jika, tidak, maka tentram tentram saja, meski harus Siska yang mencari uang.
Tapi sungguh, keputusannya sangat ia sesali dulu. Selain mati kelaparan, Aldo mengambil satu-satunya harta yang Siska punya. Gerobak jualannya, Aldo menjualnya atas suruhan ibunya. Lagi.
Mengingat hal dulu-dulu, sekarang ini, Aldo datang padanya dan berniat mengambil Uqi, jika bukan karena ibu mertuanya yang tamak, maka mustahil ia bergerak.
Apalagi, Darren juga bilang padanya tadi, jika Aldo datang dengan seorang wanita seumuran ibu Siska. Dia tidak ikut campur, dan hanya menonton, tapi mulutnya terus mendorong Aldo merebut dan menarik Uqi. Setelah melihat Uqi celaka, barulah keduanya pergi, tanpa mau bertanggung jawab.
Siska perkirakan, keduanya pasti akan datang lagi nanti. Alasannya sudah pasti menjenguk cucu dan anak. Alasan basi, yang membuat Siska tentunya marah besar.
Cucu? Anak?
Apa setelah dibuang dirinya masih mau mempersilahkan keduanya terus berhubungan dengan keluarganya? Setelah semua kesakitan, di kehidupan pertama, dikehudupan kedua, mereka belum cukup.
Keserakahan selalu menutupi mata dan hati manusia. Bahkan seorang anak kecil juga tidak mereka lepaskan. Betapa egoisnya?
"Bapak, sepertinya Siska butuh bantuan Bapak." Ucap Siska seraya menatap Bapaknya yang kini mengangguk, ia juga tidak akan diam saja. Jadi, kali ini, tidak akan diam, ayo lawan untuk menjaga keharmonisan.
__ADS_1
"Nanti Bapak hubungi teman-teman Bapak, ya? Sekarang kita tunggu Uqi sadar dulu, oke?" Ucap Ayahnya membujuk.
Siska menganggukkan kepalanya. Ia menurut, karena dokter juga telah mengatakan jika Uqi akan sadar dalam waktu dekat.
Uqi yang malang... Bahkan Ayahnya tidak melepaskan anak sekecil dirinya. Nenek yang orang tua Ayahnya malah membuat Ayahnya berbuat jahat.
"Mbuu, minum." Ucap Uni yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Uqi. Masih digendongan Darren, ia menyodorkan sebotol minum pada Siska. "Janan nangis lagi, mbuu." Lanjut Uni seraya tersenyum.
Siska mendongak, kemudian tersenyum lembut. Mengambil alih Uni dari Darren dan mendudukkannya di pangkuannya. "Terimakasih, Uni sayang." Balas Siska lembut, kemudian membuka air yang diberikan Uni.
"Mbuu, kak cakit?" Tanya Uni mendongakkan kepalanya, begitu melihat Uqi berbaring dengan mata terpejam. Apalagi di kepalanya ada perban.
"Hm'm, Uni yang patuh ya? Kita jaga kakak sama-sama sampai sembuh, oke?" Ucap Siska setelah meminum air.
Uni menganggukkan kepalanya, ia tidak bicara lagi, tapi langsung memegang tangan Uqi yang ada di depan badannya. "Kak cepat cembuuu otee, kita main baleng lagi..." Ucapnya dengan mata polos.
Siska tahu, karena Uni sering melihat dirinya dipukuli juga, ia seperti sudah hafal jika Ayahnya ada, ia akan otomatis ketakutan. Tapi syukurnya tidak membuatnya trauma. Uni masih bisa terbuka, hanya saja lebih pendiam dari biasanya.
"Uni pintar, sekarang tidur ya? Sudah waktunya tidur siang, eh sudah makan siang belum sayang?" Tanya Siska kemudian.
"Cudah! Belcama paman Dalen balucan." Balasnya. Membuat Siska mengangguk. Setelahnya, ia menguap, karena memang jam tidur siangnya juga sudah terlewat sebetulnya.
Jadi tidak butuh usaha banyak, Siska membalikkan posisi Uni, jadi Uni bisa memeluknya. Setelah posisinya nyaman, tidak butuh waktu lama, Uni pun terlelap.
"Darren, terimakasih untuk hari ini." Ucap Siska.
"Oh? Tidak masalah." Balasnya.
"Nak, Darren. Tolong temani Siska disini. Bapak harus pulang mengabari orang rumah." Ucap Ayahnya menepuk pundak Darren.
__ADS_1
Darren mengangguk saja, sedangkan Siska meski tidak enak tapi diam saja. Karena memang ia yang teledor tidak membawa ponsel. Bahkan uang yang mau ia setorkan ke bank juga tidak terbawa, masih ada di kedai.
Lalu, masalah stok makanan, juga, Satria pastilah sudah ada di kedai saat ini. Tapi, biarlah, semua urusan bisa dilakukan setelah Uqi membaik. Lagipula ada Rendra, kurang lebihnya, Rendra sudah banyak tahu tentang kedai dan stok. Jadi ia tidak terlalu khawatir meninggalkan kedai padanya.
"Bos, kau bisa melakukan urusanmu. Aku sendiri, bisa menjaga Uqi. Tidak apa-apa." Ucap Siska, karena dipikir-pikir, Darren juga pasti ada urusannya sendiri. Jika ia tetap diam dan membuatnya disini, hatinya juga jadi tidak enak.
"Panggil aku Darren." Ucap Darren mengingatkna Siska. "Aku tidak sibuk." Lanjutnya kemudian, setelah diam beberapa saat.
"O-oh ya, Darren. Baik, kalau begitu. Maaf merepotkanmu." Ucap Siska canggung.
"Uni, berikan padaku." Ucap Darren lagi. Tapi tangannya menyodorkan bungkusan yang berisikan nasi Padang.
Siska terdiam. Mencerna maksud dari Darren. Beberapa detik kemudian, ia mengangguk kecil. Maksudnya Darren menyuruhnya makan, dan selagi Siska makan, Uni biarkan padanya, begitu kira-kira mungkin.
"Baiklah, terimakasih sebelumnya." Ucap Siska kemudian memindahkan Uni pada Darren dengan hati-hati, takut Uni terbangun. Setelah dirasa aman, Siska menghela nafas lega, kemudian mengambil bungkusan dari Darren dan mulai membukanya.
Kamar rawat inap yang didiami Uqi memang ada beberapa bangsal. Tapi syukurnya, ketiga bangsal lain kosong. Jadi Siska bisa lebih leluasa disini. Darren bahkan duduk dilantai, agar Uni bisa lebih nyaman bersandar padanya.
Melihat Darren duduk dilantai, Siska mengikuti. Ia duduk dilantai, dengan kursi tunggu yang disimpan tepat dihadapannya. Kursi dijadikan meja dadakan oleh Siska yang akan makan, karena nasi Padang hanya dibungkus kertas nasi saja. Tapi untungnya, disini, ada sendok tambahan, tidak seperti nasi Padang lainnya yang tidak ada sendoknya.
Menunya cukup lengkap, dan Siska suka. Ia makan dengan lahap, dengan dilihati Darren dari samping.
"Eh, kau mau?" Tanya Siska yang sadar jika dirinya dilihati.
Darren menggeleng tanpa mengatakan apapun, kemudian memalingkan wajah ke sembarang arah. Membuat Siska mengernyit heran, tapi tak lama, karena ia kembali melanjutkan makannya.
*
*
__ADS_1