
*
*
Setelah selesai melakukan pendaftaran juga mengantar Uqi ke kelasnya, Siska kemudian pergi dengan Uni yang ada di gendongannya. Siska berniat pergi ke tempat pembuatan papan nama untuk membuat papan nama kedai miliknya.
Siska masuk, dengan Uni yang masih berada dalam gendongannya. Melihat-lihat, ada berbagai macam jenis papan nama di sana. Dengan berbagai bentuk. Ada yang bulat, kotak, dan persegi panjang. Dengan bahan kaca, kayu, dan plakat besi.
Siska berniat membuat papan nama dengan kayu saja. Selain cepat pembuatannya, membawanya pun akan memudahkan dirinya.
"Halo, aku ingin membuat papan nama dari kayu." Ucap Siska menyapa pemuda di konter pembayaran.
"Oh halo, untuk pemesanan, nona bisa langsung masuk dan membicarakannya dengan pemahat. Mari, nona, aku antar ke dalam." Ucapnya membalas dengan ramah. Membuat Siska mengangguk puas. Pelayanannya ramah, jadi ia tidak merasa tidak nyaman kali ini.
"Terimakasih, sebelumnya." Ucap Siska.
"Ya nona, sudah kewajibanku melayani pelanggan." Ucapnya mengangguk.
2 menit berjalan, Siska akhirnya sampai di tempat pemahatan. Lebih tepatnya diluar ruangan tempat pemahatan, ada satu konter pemesanan juga disana.
"Kak Andi, nona ini mau memesan papan nama dari kayu. Kau layanilah, aku ke depan dulu, takutnya ada pelanggan lagi." Ucap pelayan yang di depan kemudian pergi setelah mendapat anggukan dari pelayan satunya yang bernama Ka Andi.
"Halo, nona, selamat pagi. Jenis papan nama apa yang anda inginkan?" Tanya Andi ramah.
"Papan nama untuk kedai, aku kurang mengerti untuk urusan ini, tolong bantu pilihkan saja, bisa?" Tanya Siska.
"Tentu, nona, itu salah satu tugasku." Ucap Andi.
"Baiklah, nama kedai yang aku mau adalah Tasty Treats Kedai. Tolong buat sebagus mungkin, harga tidak masalah. Dan buat dengan kayu yang tahan lama, lalu aku ingin kayunya coklat kegelapan, tapi mengkilap di luarnya, agar terlihat seperti baru setiap harinya." Jelas Siska menjelaskan.
"Oh aku ada satu rekomendasi jenis kayu, ada kayu jati nona. Kayu jati ini banyak digemari dan menjadi jenis kayu yang populer disemua kalangan. Kualitasnya yang sangat bagus membuat kayu ini sering dijadikan pilihan untuk pembuatan furniture. Tidak hanya furniture indoor, kayu jati juga cocok digunakan untuk pembuatan furniture outdoor, termasuk pembuatan papan nama ini sendiri." Jelas Andi
Siska yang mendengar hanya mengangguk-angguk mengerti, karena kayu jati memang beberapa kali juga terdengar kualitasnya olehnya.
" Selain itu, nona, Kayu jati juga memiliki banyak keunggulan, salah satunya tahan air. Ada juga keunggulan lainnya yaitu tahan dari serangan rayap. Ini dikarenakan di dalam serat kayunya terdapat minyak alami yang berguna untuk pertahanan diri yang sangat sempurna. Jadi, papan nama yang anda pesan juga akan sangat awet dan tahan lama." Jelas Andi, kembali melanjutkan.
"Oh tahan air dan serangan rayap? Kalau begitu yang ini saja, tolong ya!" Ucap Siska dengan anggukan dan senyum lebar yang semangat.
"Baik nona, ukurannya mau berapa?" Tanya Andi.
"Untuk kedai ukuran 8x8 cocoknya ukuran berapa?" Tanya Siska. Ia benar-benar menyerahkan segalanya pada Andi. Karena memang kurang mengerti juga perihal pembuatan papan nama ini.
"Oh untuk 8x8 sepertinya cocok dengan ukuran papan sedang ya nona. Aku sarankan ukuran papannya 24x8." Balas Andi. "Nah kira-kira akan menjadi seperti ini nona, lalu untuk jenis font di papan nama, nona bisa melihat jenisnya di kertas ini. Sesuaikan saja dengan yang nona inginkan." Lanjutnya seraya menunjukkan perkiraan ukuran papan nama dan juga jenis font yang akan dipakai kelak.
Lalu Siska menganggukkan kepalanya dan mengambil kertas yang telah dilaminating tersebut untuk melihat jenis font yang akan disesuaikan di papan namanya nanti.
5 menit berlalu, dan pilihan Siska jatuh pada jenis Bold Script font. Yaitu jenis fontdengan skrip tebal, terlihat berani dan menonjolkan nama kedainya, ini akan sangat membantu ketika promosi dilakukan dikedainya, dengan kata lain akan terlihat beda dari kedai kebanyakan.
Font jenis ini juga akan membuat kedainya terlihat hidup, karena selain menonjol, juga terlihat adanya sentuhan modernitas dalam font ini. Dan Siska suka pada font jenis ini.
__ADS_1
"Itu saja, apa bisa selesai hari ini?" Tanya Siska kemudian. Uni sudah diturunkannya sejak pemilihan font, karena Uni mulai berat, ia juga patuh dengan duduk diam di kursi dengan camilan di tangannya.
"Bisa, nona. Tapi hanya bisa diambil sore sekitar pukul 4, kami sedang membuat kursi dan meja pesanan orang lain. Bagaimana, apa tidak apa-apa?" Tanya Andi.
"Ya, tidak apa-apa, nanti aku bawa saja lagi kemari. Kau buatkan kwitansinya dulu sebagai bukti. Agar nanti aku bisa langsung mengambilnya.", Ucap Siska setuju. Kemudian Andi dengan cepat membuat kwitansi untuk Siska.
"Papan nama ukuran ini sekitar 500 ribu, karena bahan materialnya yang bagus, juga pemilihan font nya yang kebetulan adalah premium. Bagaimana, nona? Apa ada yang mau diubah?" Tanya Andi lagi sebelum benar-benar menuliskan harga yang harus dibayar Siska.
"Tidak perlu, begitu saja. Kalau begitu terimakasih, aku pergi dulu." Ucap Siska kemudian, ia mengambil kwitansi dan pergi setelah persetujuan.
Ia tidak langsung membayar, karena disarankan membayar ketika barang sudah jadi. Siska setuju tanpa banyak mengeluh, kemudian berlalu pergi, untuk melihat kondisi kedai.
Disisi lain, ada ibunya, Estika yang saat ini sudah sampai di depan gerbang sekolah menengah Ergan.
Satpam langsung mempersilahkannya masuk begitu ia tiba. Terlebih, satpam juga sudah tahu jika Estika memang akan datang, karena sebelumnya juga Ergan telah memberi amanah padanya. Tentu dengan sebungkus rokok yang diterima olehnya.
Sebelum Ergan benar-benar datang menyambutnya, Estika diperlakukan ramah oleh satpam ini. Tentulah, Ergan datang dengan tampilan yang sangat berbeda, terlihat berada. Apalagi motor baru yang dibelinya, itu adalah motor keluaran terbaru.
Semua orang tentu saja terkejut melihat Ergan, kecuali sahabat baiknya Deri. Ia adalah satu-satunya sahabat kaya yang selalu menemaninya. Deri tidak pernah memandang Ergan sebelah mata. Kebanyakan malah selalu diajak, makanpun seringkali ditraktir.
5 menit kemudian, Ergan datang bersama Deri. Ergan langsung memperkenalkan Deri pada ibunya, yang langsung disambut ramah.
"Ma, ayo, aku akan membawamu ke ruang administrasi." Ajak Ergan seraya mengaitkan lengannya pada Estika.
"Deri, Ergan tidak merepotkan mu kan selama disekolah?" Tanya Estika, menghiraukan Ergan yang mengajak ngobrolnya.
"Tidak, Bu. Ergan banyak membantuku malah. Aku senang ada teman seperti Ergan. Pelajaranku yang selama ini dibawah rata-rata juga menunjukkan kemajuan setelah beberapa kali diajari Ergan." Ucap Deri seraya tersenyum dan mengangguk.
"Ma, aku tidak merepotkanya, tahu! Masa tidak percaya dengan perilaku anakmu sendiri, sih?" Keluh Ergan membuat Deri tertawa.
"Hust! Kau nakal begini, di rumah juga sering bilang tidak mau lanjut sekolah. Apa tidak khawatir selama ini mama?" Tanya Ibunya seraya menepuk bahunya menyadarkan.
"Aiya, Ma, itukan dulu, sebelum kita bisa membuka usaha. Sekarang berbeda, aku akan belajar dengan baik, dan membuat Mama bangga! Terlebih kak Siska yang sudah membiayai kita, benar tidak Ma?" Tanya Ergan menaikkan alisnya.
"Aish, anak ini, sudahlah, sudahlah. Deri, kapan-kapan main ke rumah oke? Ke kedai juga boleh, ajak Deri nanti, jangan sampai lupa! Mama mau mengucapkan terimakasih dengan benar." Ucap Estika tersenyum pada Deri.
Ergan mengangguk senang, Mamanya selama ini tahu bagaimana ia dikucilkan di sekolah karena tidak mampu. Tapi begitu ia tahu ada satu orang yang selalu menemani Ergan, siapa yang tidak senang? Ia harus mengucapkan terimakasih bukan? Setidaknya dengan menjamunya sebaik-baiknya.
"Deri coba ceritakan, bagaimana tadi respon teman-temanmu melihat Ergan datang kali ini? Apa masih sama seperti dulu?" Tanya Estika penasaran.
Deri menatap Ergan, yang kemudian mengangguk mengizinkan. "Bicaralah, mamaku tahu keadaanku selama ini, jangan takut mengucapkan kebenaran." Ucap Ergan tersenyum.
"Begitulah, Ma. Masih banyak yang tidak percaya. Jadi Ergan masih jadi bulan-bulanan orang-orang." Balas Deri seraya menggaruk tengkuknya ia tidak enak mengatakan ini sejujurnya. Tapi apa boleh buat, mau tidak mau harus bicara juga.
"Ah begitu, wajar saja. Semuanya mungkin masih tidak percaya dengan perubahan yang terjadi pada Ergan. Tapi syukurnya, sekarang kami sudah mampu. Jadi, terimakasih banyak ya, Deri, sudah mau menjadi teman baik Ergan. Mama harap, kalian terus berteman." Ucap Estika penuh rasa syukur. "Ergan jangan lupa bawa Deri nanti ke rumah atau ke kedai, ya? Mengerti?" Lanjut Estika, beralih pada Ergan.
"Baik, Ma! Mengerti, mengerti, sudah sana masuk saja ke dalam. Kartu sppku masih ada di wali kelasku, aku sudah bilang sebelumnya jadi mungkin beliau juga sudah ada didalam menunggumu, Ma." Ucap Ergan.
"Baiklah, kalian kembalilah ke kelas dan belajarlah baik-baik, mengerti? Jangan bolos, Deri, jika Ergan bolos, hubungi Mama, ini nomor ponsel Mama." Ucap Estika seraya menyodorkan sebuah kertas yang di atasnya ada nomor ponselnya.
__ADS_1
Setelahnya, Estika pun masuk dan langsung di arahkan ke arah pembayaran oleh wali kelas Ergan yang benar saja sudah menunggunya disana.
Estika berterimakasih, kemudian ia duduk di kursi dan mendengarkan, berapa tunggakan yang harus Ergan bayar. Jumlah semuanya adalah 7juta 500 ribu.
Etika yang sudah tahu hal ini, langsung mengeluarkan semua uangnya. Uang 5 juta dari Siska, dan sisanya, sebetulnya adalah tabungannya yang sengaja dikumpulkan untuk membayar uang sekolah Ergan.
Sengaja dirinya tidak meminta sebanyak 7 juta 500 pada Siska, karena tidak perlu, dirinya punya sisanya, jadi ia hanya meminta uang yang kurangnya saja.
Sebetulnya, kenapa Ergan bisa masuk ke sekolah yang lumayan elit begini, karena awalnya ia dapat beasiswa. Tapi kemudian ada satu teman beasiswanya yang iri padanya karena Ergan selalu lebih unggul, bahkan dapat teman seperti Deri. Ia mencelakai Ergan dan berakhirlah beasiswa Ergan dicabut.
Jadi, sebetulnya 2 semester di kelas 10 Dengan tidak perlu membayar, 2 semster di kelas 11 inilah yang mengharuskan Ergan membayar uang sekolahnya sendiri gara-gara masalah tersebut.
Estika, tidak mau melihat Ergan berhenti sekolah, jadi ia terus memaksa Ergan pergi setiap harinya, dan menasihatinya agar tidak terlalu memikirkan biaya juga teman-teman yang mengejeknya.
Sampai akhirnya, kini, Siska mampu membiayai bahkan melunasi uang tunggakan sekolah Ergan. Betapa bersyukurnya Estika kali ini.
"Untuk semster 1 di kelas 12, kami akan membayar setiap bulannya lewat Ergan." Ucap Estika.
Dan selesai. Uang tunggakan Ergan telah beres, beban yang selama ini dirasakannya, menghilang, pundaknya terasa lebih ringan, kini. Ini berkat Siska, anak perempuan satu-satunya. Betapa bersyukurnya karena ia akhirnya mau lepas dan kembali ke keluarga yang menyayangi dirinya sepenuh hati.
Meninggalkan Estika yang berada dalam perjalanan pulang, Di kedai ada Siska yang baru saja datang. Tatapan matanya terlihat terkagum-kagum melihat pemandangan kedai yang menurutnya sangat indah.
Halaman depan kedai juga sudah disulap. Sebagian kursi memenuhi halaman kedai, jadi ada outdoor dan indoor. Diuat bahkan sudah dipasangi lampu warna warni yang di padu padankan dengan beberapa payung yang ditempel sebagai hiasan. Tanaman juga memenuhi halaman, jadi terlihat sangat Asri, tidak panas sama sekali. Apalagi bagian atasnya dihalangi oleh kaca transparan, jadi tidak akan terkena hujan meski makan diluar.
Takjub dengan halaman, Siska kemudian masuk ke dalam kedai dan lebih takjub lagi. Hiasan kedai sudah lebih banyak dan lebih aesthetic. Tempat lesehan juga dibenarkan kembali jadi ada satu penutup yang akan menghalangi pandangan orang-orang. Seperti ruang vip kecil.
Di setiap sudut kipas angin kini telah terganti, menjadi dua AC yang ada di dinding kiri dan kanan. Jadi begitu masuk, kedai akan terasa sejuk.
"Kakak pertama, ini benaran mewah sekali, uang 3 juta apa cukup untuk semua renovasian?" Tanya Siska tak percaya.
"Tentu cukup, kakak punya beberapa kenalan, jadi mereka memberi harga murah. Bagaimana? Apa kau suka?" Tanya Rendra seraya tersenyum, mengelus kepala adiknya.
"Eum! sangat suka! Lebih dari suka, aku sangat puas!" Ucap Siska semangat. "Tapi, bagaimana dengan tempat parkir?" Tanya Siska.
"Tenang saja, di samping kedai ini ada lahan kosong, kau lupa? Aku menyewanya, 350 ribu perbulan. Sudah aku bayar juga. Jadi nanti bisa langsung dipakai. "Tapi uangnya tidak ada sisa, jadi untuk papan nama, aku harus merepotkanmu." Lanjutnya seraya tertawa kecil.
"Oh! Jangan khawatir, aku sudah memesannya sendiri." Seru Siska puas. "Juga, kakak ini 1 juta lagi. Apa cukup untuk membeli 4 cctv? Tanya Siska. Ia berencana memasangnya di parkiran, di kedai dalam dan luar, juga di bagian dapur. Karena nanti bisa saja bukan dirinya dan para kakak yang bekerja. Ada waktunya orang lain yang menggantikan.
"Tentu, tentu, sangat cukup. Aku akan menawar harganya jika tidak cukup. Lagipula, kita ini membeli banyak cctv. Pastilah ada potongan juga." Ucap Rendra seraya tertawa.
"Baiklah, kak, aku serahkan padamu lagi, ya!" Ucap Siska makin semangat.
"Kau tenang saja, semuanya beres di tanganku, haha. Istirahatlah ke atas, Uni sepertinya mengantuk. Ada kakak keduamu dan juga Bapak yang sedang istirahat juga. " Ucap Rendra kemudian, menyuruh Siska ke atas, sedangkan dirinya langsung pergi untuk membeli cctv, agar kedainya secepatnya dibereskan.
Sepeninggal kakaknya, Siska terus berdecak kagum. Ini sudah seperti kafe kafe modern di tahun 2020 an, darimana kakaknya punya ide seperti ini, ya? Ah hebatnya kakak pertamanya ini. Sungguh membuat orang kagum.
Ah siapa yang tidak akan kagum dengan pemandangan kedai yang sebegini menakjubkannya,? Besok pasti akan membuat semua orang yang datang senang dan nyaman berada disini. Pasti akan penuh dengan pelanggan. Terlebih, di pikirannya, Siska akan mempromosikan kedainya melalui Ergan si seleb tutub yang mulai populer. Pasti akan menjadi semakin ramai, terlebih harga jajanan terjangkau, dan kedainya juga sangat amat nyaman dikunjungi. Dijadikan tempat berfoto juga sangat bagus. Ini sangat direkomendasikan.
"Uni sayang, ayo mita ke atas dan tidur, oke?" Ucapnya semangat.
__ADS_1
*
*