Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Tasty Treats di Serbu


__ADS_3

*


*


Keesokan paginya, Siska bangun pagi-pagi sekali, seperti biasa lebih awal dari pada yang lainnya. Begitu bangun, ia mengecek ponsel sebentar dan langsung pergi ke dapur dan mempersiapkan semua bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat adonan, cireng, cirambay, juga tambahan adonan yakni cilok.


Siska mulai memanaskan air di dua kompor, seraya menunggu, ia meninggalkan dapur dan pergi ke kamar, membawa handuk dan baju ganti. Kemudian mandi dengan air dingin. Itu, sangat sejuk, tidak dingin seperti kebanyakan orang, Siska lebih suka mandi pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit.


30 menit berlalu, Siska telah selesai mandi, juga bertepatan dengan ibunya yang sudah nongkrong di dapur. Menunggui air panas, seraya menuangkan tapioka ke 3 wadah besar berbeda dengan takaran berbeda juga. Ada penyedap dan bawang putih yang sudah dihaluskan di atas tapioka putih di dalam wadah, membuat Siska tersenyum dan menyapa ibunya yang masih belum menyadari kehadiran dirinya.


Begitu di sapa, ibunya tentu saja terkejut, karena rumah terdengar sepi, Siska berjalan tanpa menimbulkan suara. Sedikit diomeli, tapi Siska tak ambil hati, karena memang salahnya. Justru ia tertawa melihatnya.


"Biar Siska yang tuangkan airnya, Mama mandilah dulu saja." Ucap Siska seraya menyuruh.


"Tidak, tidak, Mama mandi belakangan saja. Lagipula Mama tidak akan mengantar anak-anak sekolah, jadi santai saja." Ucap ibunya seraya mengibaskan tangannya. Tapi tetap menyerahkan pekerjaan menuang air panas pada Siska.


Siska mengangguk, ia kemudian menuangkan air panas ke 3 baskom berbeda yang telah terisi tapioka. Setelah dituang air, Siska dan ibunya sama-sama mengambil sendok besar yang terbuat dari kayu untuk mengaduknya sebagai awalan. Baskom yang ketiga, segera diaduk juga oleh Santi, yang tiba-tiba datang dan langsung membantu.


Putri pulang ke rumahnya dengan Sapta kemarin, jadi dia tidak ada di rumah kedua orang tuanya. Karena Desi harus bersekolah pagi-pagi, jadi keduanya mau tidak mau harus pulang beda arah dengan yang lainnya.


Setelah diaduk dan air panas mulai berkurang, ketiganya akhirnya menggunakan sarung tangan plastik sekali pakai. Kemudian mengadonnya dengan tangan tersebut sampai teruleni.


Setelah selesai, masing-masing membuat produk yang ditugaskan. Ibunya membuat cirambay, Santi membuat Cireng isi ayam suwir, dan Siska membuat cilok.


Tapi sebelum dibentuk menjadi ketiga produk, 3 baskom adonan di kesampingkan, ketiganya beralih dengan memasak nasi dan lauk pauk untuk sarapan. Tak lama membantu, Siska langsung menyudahi memasaknya, dan beranjak pergi ke kamarnya untuk membangunkan Uqi dan Uni. Memandikan keduanya.


Setelahnya, bangunlah Ergan, dan Geri yang bergiliran mandi. Kemudian Rendra dan Ayahnya. Setelah itu, barulah Santi dan Ibunya yang telah menyelesaikan kegiatan memasaknya.

__ADS_1


Sarapan selesai, dan semuanya sibuk masing-masing lagi. Ergan, Geri dan Uqi pergi ke sekolah bersama. Sedangkan Siska, Santi dan Ibunya kembali membuat ke tiga produk yang akan dijual. Dibantu Rendra dan juga Ayahnya.


1 jam kemudian, semuanya telah selesai, Siska kemudian mengemas semuanya, termasuk Rosella kering yang sudah dimasukan ke dalam toples.


Kali ini, cireng dan cirambay tidak langsung digoreng. Jadi hanya dibentuk, ketika nanti ada yang membeli, barulah semuanya digoreng dan dibumbui, berbeda dengan cilok, itu sudah matang, hanya saja belum dibumbui, begitu ada yang membeli, maka Siska tinggal menggoreng bumbu dan ayam suwir, lalu masukkan cilok bersamaan.


Minyak yang dibelinya sebanyak 5 kompan juga sama-sama dibawa ke kedai. Karena kemarin hanya membeli sekitar 2 kompan saja.


Sesampainya di kedai, waktu sudah menunjukkan pukul 8.30, Siska menghela nafas, karena ia melihat kedai masih kosong, itu artinya ia masih bisa bebas bergerak masuk ke kedai. Hanya ada 3 orang perempuan saja di depan kedainya, yakni para pelayan yang kemarin, juga Rendra dan Putri yang melambaikan tangannya.


Semuanya merasa semangat pagi ini. "Ayo cepat masuk." Ajak Siska setelah membuka gerbang dan menguncinya kembali. Ia menguraikan, para pelanggan akan datang pukul 9 nan mengerumuni kedainya. Jadi dengan cepat masuk dan membereskan semua barang bawaannya.


1 jam berlalu, Rendra berlari masuk dengan wajah panik namun semangat. "Banyak orang yang berkerumun di depan kedai! " Serunya semangat.


"Sial! Tasty Treats diserbu!" Decak Sapta, kagum, tapi lebih ke mengeluh karena setelah ini dirinya pasti bekerja keras.


"SEMUANYA, KEDAI TASTY TREATS AKAN DIBUKA PUKUL 10, MOHON AGAR KONDUSIF! " Teriak Siska mengumumkan. Membuat semua orang menyadari kehadirannya. Bukannya diam, para pelanggan malah berseru senang.


"Itu dia! Ini benar-benar kedai gadis itu."


"Astaga, benaran dia."


"Ah akhirnya aku bisa membeli camilan lagi!"


"Gadis bukalah lebih awal, oke?!"


"Ya, ya, lusa kemarin aku tidak kebagian, kemarin datang lebih awal tapi ternyata tutup kiosmu. Sedihnya, aku!"

__ADS_1


Siska tertawa, "BAIK, BAIK, AKU AKAN BUKA GERBANGNYA. TAPI AYO BERBARIS SEPERTI BIASA YA! YANG BAWA KENDARAAN BISA PARKIRKAN DI SAMPING KANAN KEDAI. JANGAN KHAWATIR, TIDAK ADA BIAYA PARKIR, PUN ADA CCTV YANG MENGAWASI KENDARAAN KALIAN." Teriak Siska lagi, membuat semuanya langsung berbaris, saling menabrak karena ingin berbaris paling depan.


"SLOT PERTAMA YANG MASUK HANYA BISA 600 ORANG SAJA YANG BISA MASUK!" Lagi, Siska berteriak, kedainya setelah direnov bisa menampung sekitar 600 an orang saja termasuk tempat duduk lesehan. "JANGAN BEREBUT! TASTY TREATS AKAN BUKA SAMPAI PUKUL 9 MALAM." Seru Siska lagi.


600 orang? Apa berlebihan? Nyatanya tidak sama sekali, orang yang datang bahkan terlihat lebih banyak dari 600. Apalagi biasanya, pelanggan Siska juga melebihi angka 600 ini. Jadi tidak merasa malu ketika dirinya meneriakkan orang yang masuk pertama hanya 600an.


Setelah dirasa lebih kondusif, Siska kemudian membuka gerbang perlahan, tentu dengan nasihat pada para pelanggan. Ada cukup tempat duduk, jadi tidak perlu berlarian. Setiap orang juga akan dilayani oleh 3 pelayan. Jika tidak ingin menunggu, bisa langsung ke kobter pemesanan.


Para pelanggan pun mengerti, dan berjalan dengan tenang, tidak rusuh seperti ketika di kios. Per dua orang, pelanggan masuk dan berjalan. Ada yang memilih di outdoor dan di indoor. Kebanyakan, para ibu-ibu muda yang memilih di luar, sedangkan yang umurnya sudah mulai lanjut, beserta anak kecil, memilih di dalam. Adapula Bapak-bapak dan beberapa karyawan muda, langsung menuju konter pemesanan.


Yang langsung ke konter pemesanan ini, adalah orang-orang yang tidak makan di tempat, jadi dibungkus dan dibawa pulang ke rumah dan ke tempat kerja. Kebanyakan memesan menu yang biasa seperti cireng isi ayam suwir dan Cirambay.


Untungnya, Santi dan Putri, telah mulai memasak cireng dan cirambay sejak barang-barang selesai dibereskan. Jadi ada banyak yang sudah matang, dan bisa langsung diambil oleh pelanggan-pelanggan ini.


Sisanya, yang dimeja, langsung diberikan menu oleh ketiga gadis pelayan dengan ramah. Beserta dengan kertas dan pulpen untuk pemesanan setiap meja. Sistemnya, Siska ubah, jadi mereka sendiri menulis menu dikertas, dan kertas bisa langsung diberikan pada ke tiga pelayan atau ke konter pemesanan.


Melihat para pelanggan kondusif, Siska mengangguk puas dan pergi ke dapur yang sudah sangat sibuk. Pesanan sudah menumpuk. Terlebih pesanan seblak, cilok ayam suwir, sosis dan bakso bakar. Rata-rata yang duduk di kedai memesan menu baru.


Siska mengambil bagian memasak seblak, tetapi karena pelanggan masih memilih-milih menunya di depan, jadi ia mengambil alih memasak cilok ayam suwir. Santi menggoreng cirambay, Ibunya menggoreng cireng, dan Putri membakar pesanan Sosis juga bakso bakar.


Semuanya sibuk, Terlebih ketiga pelayan yang sedari tadi bolak balik, mengantarkan pesanan dan mengambil kertas pesanan. Pun dengan Sapta yang bolak balik ke dapur untuk menyampaikan kertas pesanan. Sedangkan Rendra melayani pembayaran yang sama-sama sudah berjalan. Hanya Ayahnya yang bersantai, dilantai atas, menonton televisi bersama Uni. Sesekali juga mengintip orang berkerumun di depan kedai melalui balkon. Dengan senyum lebar dan bangga.


"Astaga, Siska! Hebat kau, ya! Aku kelelahan..." Keluh Sapta yang memang sedari tadi bolak balik, ke dapur dan ke depan.


Keempat wanita yang ada di belakang, tertawa saja begitu mendengar keluhan Sapta. Terlebih Putri, biasanya Sapta akan tidur tidak jelas seharian, tapi kali ini, haha, rasakan saja.


*

__ADS_1


*


__ADS_2