
Tapi sebelum itu, Siska menghampiri kios sebelah, dan menemui Baron. "Bos! Apa kabar?" Tanya Siska basa basi.
"Oh kau, baik, tentu Saja. Ngomong-ngomong daganganmu sudah habis lagi?" Tanya Baron berikut senyum yang terbit di bibirnya.
"Begitulah, bos, hehe." Balas Siska dengan wajah malu. Sebetulnya lumayan tidak enak pada Baron, karena sering membuat keberisikan yang tidak perlu, tapi ya, apa boleh buat, kios keduanya memang bersampingan, jadi mungkin Baron juga hanya bisa memaklumi dirinya. "Apa kau merasa terganggu, bos? Aku minta maaf sebelumnya." Lanjut Siska tak enak.
"Tidak, tidak, aku senang-senang saja, terlebih daganganku juga jadi lebih banyak yang beli. Justru aku berterimakasih atas ini. Jika kau tidak ada, daganganku mungkin seperti biasa, pembeli hanya datang 3 hari sekali." Ucap Baron dengan bibir berkedut, sedikit malu mengakui kenyataan jarang ada pembeli.
"Syukurlah kalau begitu bos, hehe." Ucap Siska kembali tersenyum. "Oh ya, bos, aku ada rencana pindah ke tempat yang lebih besar, yang bisa menyediakan tempat duduk banyak. Sejenis dengan kedai kedai yang ada. Tapi lebih sederhana. Aku ingin membuat para pelanggan ku nyaman dan tidak berbaris memanjang lagi. Kasihan yang mengantri berjam-jam, kepanasan. Juga, agar aku bisa lebih santai melayani pelanggan, dan kedua anakku juga bisa aku bawa. Apa kau punya kenalan yang bisa membuatku mendapatkan tempat tersebut, bos?" Jelas Siska dengan bibir mengkerut. Bertanya dengan perasaan tidak enak, karena baru berapa hari sejak dirinya membeli kios kecil saat ini, ia malah sudah mau pindah lagi.
"Oh, begitu, memang benar sih, pelangganmu terlalu banyak sebetulnya. Pemikiranmu bagus, kenyamanan pelanggan dan penjual memang no satu." Ucap Baron seraya menganggukkan kepalanya. "Tapi, kenapa sangat kebetulan sekali, ya? Kedai makanan yang ada di seberang sana, kau lihat itu, di samping kedai makan yang kau tahu pelayannya sangat tidak bagus itu." Lanjut Baron seraya menunjuk ke arah kanan, lumayan jauh dari tempat keduanya tapi masih terlihat jelas.
"Oh aku tahu, bos." Ucap Siska tersenyum. Itu adalah di samping kedai makanan yang melayani Siska dan Santi dengan tidak baik tempo hari, mana mungkin kan dirinya tidak ingat.
"Ya, itu, kedai makanan disebelahnya sebetulnya lebih lama berdiri, tapi kehadiran kedai makan yang pelayannya tidak ramah itu membuat kedai makan ini sepi pembeli. Dalam sebulan pelanggan tidak ada yang kunjung datang. Pemiliknya akhirnya berniat menutup kedainya dalam 3 hari, hari ini adalah hari terakhir mereka buka." Jelas Baron pada Siska yang mengangguk-angguk.
Siska sebetulnya juga merasa tidak enak, padahal ada kedai makan di samping kedai yang waktu itu Siska kunjungi, tapi bahkan Siska juga tidak sadar akan keberadaan kedai makan sepi tersebut. Mungkin karena faktor sepi pengunjung juga.
"Kau bisa datang kesana hari ini, kemudian tanyakan saja pada pemilik kedai tentang pembeliannya. Setauku, pemilik kedai masih ada di dalamnya, juga berniat menjual kedai tersebut." Ucap Baron lagi.
Kedua mata Siska berbinar. "Kau sungguh-sungguh, bos?" Tanyanya dengan semangat dan antusiasme tinggi.
__ADS_1
"Ya, kau bisa mengeceknya sendiri dulu." Balas Baron seraya terkekeh kecil.
"Ah, baiklah, kalau begitu aku akan mengeceknya dulu nanti. Sekarang aku harus mengantarkan pesanan penguasa pasar dulu, bos. Terimakasih banyak atas informasinya. Ini, untukmu nyemil. Sampai jumpa bos!" Seru Siska seraya menyimpan satu pak berisi 10 cireng di depan Baron, kemudian tanpa menunggu jawaban Baron, ia langsung pergi dengan senyum lebar.
Membuat Baron yang ditinggalkan dalam sekejap, menghela nafas seraya tersenyum dengan kepala menggeleng maklum. Kemudian mengambil satu pack cireng tersebut, dan membukanya, mulai memakannya. "Ah, orang tua sepertiku sedikit sulit membuat makanan seperti ini." Gumamnya.
Meninggalkan Baron, beralih pada Siska yang kini berjalan riang menuju tempat penguasa pasar yang sebetulnya sudah menunggui dirinya. Lebih tepatnya menunggu pesanan yang dipesannya.
Setelah sampai, Siska menyapa penguasa pasar dengan senyum lebar. "Halo, bos! Aku datang mengantar pesananmu." Sapa Siska, seraya mengangkat box makanan sedang yang dibawanya ke atas.
"Oh, sudah datang." Ucap penguasa pasar datar.
Siska menganggukkan kepalanya, "Eum! Ini, pesananmu, ambillah." Ucap Siska seraya menyodorkan box makanannya.
"Aiya, tidak perlu bos!" Ucap Siska seraya mengibaskan tangannya.
"Tidak, aku memesan banyak, harud dibayar. Sebut saja harganya, aku masih mampu membayarnya." Balas penguasa datar, tanpa melihat Siska seperti biasanya.
Ini, membuat bibir Siska berkedut. Sebetulnya ia hanya menahan diri saja, aslinya sedikit takut juga, apalagi mengobrol begini, bos ini selalu datar dan dingin. Tapi, yah, karena bos ini tampan dan putih, jadi Siska nyaman-yaman saja mengobrol dengannya. Meski masiha da takut-takutnya.
"Baiklah, bos, untuk cirambay 100 bungkus, harga satuannya 10.000, tapi karena bos memborong banyak jadi aku diskon saja, harga satuannya 8000! Lalu untuk cireng 200 buah, dihitung persepuluh dengan harga 17000, tapi karena bos beli banyak jadi aku diskon juga, harga persepuluhnya menjadi 15.000 saja! Bagaimana, mau tidak?" Tanya Siska tersenyum.
__ADS_1
Penguasa pasar terdiam, terlihat dahinya mengerut, membuat Siska dengan cepat berbicara lagi.
"Bos, jangan salah paham. Aku tidak memberimu diskon karena kau berbeda. Ini hanya metode berjualanku seperti biasa kok. Memang begini adanya, pelanggan pertama kali membeli langsung banyak, selalu aku kasih diskon. Jika tidak percaya, kau bisa bertanya pada anak buahmu." Jelas Siska membuat kerutan di dahi penguasa pasar berangsur hilang. Kemudian ia mendongak dan menatap salah satu anak buahnya yang memang dikhususkan menjaga kios Siska.
Melihat anak buahnya menganggukkan kepala, ia kemudian menghela nafas, kemudian menguarkan dompetnya. "Kau tidak rugi, kah, berjualan dengan cara seperti ini?" Tanya penguasa, seraya menghitung uang dari dompetnya.
"Tidak, bos, aku malah untung banyak, karena pelanggan merasa puas dan kembali lagi besoknya dengan membawa pelanggan lain. Kau tahu, awalnya mungkin iya, tapi lama kelamaan tidak juga. Apalagi, sebetulnya pertama kali, aku memang tidak ada mengeluarkan uang untuk modal. Hanya memakai bahan yang ada saja di rumah." Jelas Siska tersenyum.
Penguasa pasar tidak menjawab lagi, ia hanya menganggukkan kepala mengerti. "Ini, 1 juta 100 ribu, kan? Benar tidak?" Tanya penguasa.
"Cirambay 100 dikalikan 8000, menjadi 800 ribu. Kemudian Cireng persepuluh dikalikan 15000, menjadi 300 ribu. Kau benar, itu 1juta 100 ribu." Ucap Siska mengangguk.
"Ambillah, kau bisa pergi." Ucap penguasa, seraya menyodorkan uangnya, lagi-lagi tidak menatap Siska. Mmbuat Siska bsrtanya-tanya, apa dirinya jelek? Kenapa penguasa ini selalu tidak mau menatap dirinya? pikirnya.
Siska menepis pikirannya, mungkin sudah wataknya saja begitu, ia enggan menanyakan, padahal penasaran, terlebih penguasa tadi mampu menatap anak buahnya, tapi kenapa dengan dirinya.
"Baiklah, aku terima, kalau begitu aku pergi dulu. Terimakasih, bos. Senang bisa menjualnya padamu." Ucap Siska kemudian pergi setelah mendapat jawaban yang gi-lagi berupa anggukan. Penguasa tidak banyak bicara. Jika tidak penting, ia tidak akan capek-capek mengeluarkan suara nya.
Tapi setelah Siska berbalik, penguasa ini menatap Siska dalam diam. Menatap punggungnya yang mulai menjauh. "Tidakkah kau ingat siapa aku?" Gumamnya pelan.
*
__ADS_1
*