Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Bukan Nona Wistara


__ADS_3

*


*


"Kau mau membawaku kemana?! Aku masih belum selesai, Darren!" Pekik Siska kesal, ia menatap Darren dari samping. Tangannya di genggam, dan Darren berjalan dengan langkah besarnya, membuat Siska mau tidak mau harus bisa mengikuti langkah besarnya. Sedangkan Uni ada di gendongan tangan Darren satunya.


Jadi, ibu dan anak ini sebetulnya ditarik Darren keluar dari toko furniture yang Siska kunjungi ini. Meninggalkan Satria yang meringis, meratapi nasibnya. Baru saja dirinya menunggu Siska sangat lama, sekarang setelah Siska bersama dirinya, Siskanya malah ditatik bos Wistara Karsa.


Satria sedikit tahu jika Siska ada hubungan dengan Darren. Tapi, apa tidak bisa tidak menganggu pekerjaannya saja? Ayolah, Satria bingung jika harus melakukannya sendirian tanpa pemilik restorannya nanti. Bagaimana jika ada kesalahan, dan bagaimana jika property yang dipilihnya tidak bagus, tidak sesuai selera, tidak sesuai tema? Sebab Satria tidak begitu pandai dalam hal ini.


Tapi Satria lupa, di sampingnya, ada Sahni. Sahni ditugaskan Darren untuk menggantikan Siska memilihkan barang dan Darren percaya pada penglihatan ibu 3 anak tersebut.


Sahni menepuk bahu Satria yang malah melamun sedari tadi. Kemudian setelah Satria sadar, Sahni langsung mengajak Satria langsung memilih beberapa properti sesuai barang yang di data. Satria sedikit canggung, tapi ia harus tetap profesional saat ini. Jadi, ia pun mengikuti Sahni dan menyebutkan apa-apa saja yang belum dibeli Siska.


Disisi lain, Siska, Darren dan Uni sudahada di sebuah tempat makan yang dekat dengan toko furniture tersebut. Dan Siska baru saja menyadarinya. Sudah pukul 1 lebih 15 mnit. Darren menariknya karena Siska dan Uni belum makan siang.


Siska senang, tapi tidak bisakah ia bicara baik-baik? Darren bahkan tidak mengatakan apapun dan malah langsung menarik tangannya juga mengambil Uni dari gendongannya. Membuat Siska sebal.


Tapi, yasudahlah, Siska juga sebetulnya sudah lapar, pun dengan Uni. Tapi mungkin Uni tidak selapar Siska yang memang belum makan sedari pagi karena tidur sampai siang, berbeda dengan Uni yang memakan camilan yang disiapkan Siska kemarin.


Darren memesan Bebek Betutu khas Mataram, Rawon, soto, dan sup ayam, ditambah nasi. Darren tahu, Siska belum makan sejak pagi. Alhasil memesan sedikit banyak siang ini. Siska juga belum tahu menu yang ada di tempat ini, jadi sekalian saja Darren pesankan. Sekalian memberikan Siska cita rasa makanan baru yang ada di ibukota.


Sedangkan, untuk minum, Darren tetap memesan air putih untuk ketiganya. Meski banyak menu lain, tapi Darren memang pecinta air putih. Untuk air lainnya, di lain kesempatan saja. Oh, ada ice cream juga sebagai menu penutup nanti. Uni yang ingin jadi sekalian Darren pesankan. Hanya dua porsi. Satu Siska dan satu Uni. Darren tidak memakan ice cream, jika ingin biar nanti saja ia mencicip pada milik Uni.


"Oh, kalian makan siang disini juga? Kebetulan sekali, ya?" Seru seorang wanita yang tiba-tiba saja datang, memecah kehangatan yang ada di meja yang ditempati Siska, Uni, dan Darren.

__ADS_1


Ketiganya menatap Kathrin dengan tatapan tak berselera. Darren apalagi, ia datar seperti biasa, tapi makin datar melihatnya datang. Uni menatap lekat pipi Kathrin, dan Siska malah teringat ucapan Uni di mobil Darren kemarin. Diam-diam menahan tawa mengingatnya.


"Kita belum berkenalan kemarin, Nona Wistara. Aku Kathrin, anak dari pimpinan Hartono, dari Perusahaan tambang." Ucap Kathrin seraya mengulurkan tangan pada Siska.


Ia bahkan tidak memedulikan tatapan tajam Darren padanya, karena sudah mengganggu waktu berdua dengan Siska. Darren bahkan diam-diam berdecak kesal melihat kedatangan wanita di samping meja yang ditempatinya ini. Kenapa wanita ini so akrab sekali dengan dirinya?


"Oh, hai. Aku Siska, dan aku bukan nona dari Wistara.", Ucap Siska menyambut salaman tangan dari Kathrin.


Siska sudah melihat wajah Kathrin. Ia tahu, Kathrin suka pada Darren, tapi melihat raut Darren, entah kenapa ia malah merasa sedikit tenang. Darren tidak tertarik sama sekali, bahkan cenderung kesal pada wanita di hadapannya.


"Oh bukan? Maaf, berarti kau hanya temannya saja? Tidak apa, mari berteman ke depannya." Ucap Kathrin ramah, ditambah dengan senyum yang mengembang.


Siska tersenyum tak kalah ramah. Sika tahu, ia sengaja menekankan kata hanya. "Ya, hanya teman." Balas Siska.


"Tidak ada ruang lagi, silahkan mencari tempat duduk lain." Ucap Darren dingin. Membuat Kathrin meneguk ludah merasa sedikit gemetar, dan malu.


"Ah baik, maaf aku sudah menganggu kalian. Kalau begitu senang berkenalan denganmu. Semoga ke depannya kita bisa menjadi teman juga. Sampai jumpa, lagi." Ucap Kathrin kemudian pergi meninggalkan meja Darren.


Barulah, sepeninggal Kathrin, Siska menyemburkan tawanya yang sejak tadi ditahan. Apalagi ketika melihat Uni yang terus saja menatap pipi Kathrin, lekat. Darren juga merilekskan dirinya ketika melihat Siska tertawa renyah di hadapannya.


"Senang, hmm?" Tanya Darren.


"Dia, astaga. Benar-benar seperti kata Uni." Ucap Siska seraya menghentikan tawanya menjadi lebih anggun.


"Tapi aku tidak senang. Kenapa kau menjawab bukan tadi? Aku kesal." Ucap Darren, kesal tapi rautnya tetap datar. Serius, Siska sulit membedakannya. Tapi setelah beberapa lama bersama, Darren seringkali mencebikkan bibirnya meski tidak kentara.

__ADS_1


"Kan memang bukan? Lagipula sejak kapan aku menjadi nona Wistara?" Tanya Siska.


Darren menghela nafas, kemudian memalingkan wajahnya kesal. Membuat Siska tertawa kecil. Sejak kapan sih, Darren jadi suka merajuk seperti ini. 'Membuatnya gemas sa-- tidak! apa yang kau pikirkan Siska?!' ucapnya dalam hati. Menolak apapun yang berhubungan dengan memuji orang datar di depannya.


"Uni, Uni, kau lihat tadi. Benar-benar seperti tomat." Ucap Siska beralih. Mengalihkan pikirannya.


"Kan memang benal mbuu. Uni tidak mungkin salah lihat ah. Tapi Uni gatal sekali, ingin menyebut tomat pada Tante tadi." Ucap Uni dengan suara anak kecilnya.


Siska kembali terkekeh. "Sayang, kau ini ada-ada saja. Ah, ibu lelah tertawa." Ucap Siska.


"Mbuu cantik sekali kalau teltawa, paman Dalen saja suka melihatnya. Matanya tidak belkedip melihat mbuu, tuh." Ucap Uni membuat Siska seketika menatap Darren yang saat ini juga menatapnya.


Kedua netranya bertemu dengan kedua netra milik Darren. Membuat Siska terbatuk kecil, dan langsung mengalihkan pandangannya, menatap ke sembarang arah demi menghindari tatapan Darren yang bisa dibilang lekat?


"Mbuu? Pipi mbuu kenapa memelah juga? Balusan sepeltinya tidak deh?" Tanya Uni membuat pipi Siska semakin memerah saja, karena malu.


Astaga, punya anak pintar memang bagus, tapi jika di kondisi seperti ini, ah tolonglah. Ia bisa mati karena rasa malu!


Darren menahan senyumnya. "Uni, ibumu kepanasan." Celetuk Darren membuat Uni menertawakan Siska.


"Paman, disini sangat sejuk , mana mungkin kepanasan?" Balas Uni dengan raut polos. Membuat Darren tidak sadar tertawa kecil, dengan mengeluarkan suara. Siska terdiam melihatnya. 'Indah sekali.' Pikirnya.


*


*

__ADS_1


__ADS_2