Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Menghabiskan Waktu Bersama


__ADS_3

*


*


Setelah pembicaraan malam itu, dua hari kemudian Siska mengantar semua keluarganya kembali ke desa. Siska tinggal sendiri di ibukota, Uni bahkan ingin ikut pulang ke rumah nenek kakeknya, membuat Siska sendirian.


Siska memasang wajah sedih saat itu, tapi tidak berguna, Uni bahkan tidak meliriknya, membuat Siska mau tidak mau melepaskan Uni dengan kakek neneknya kembali ke kampung halaman.


Keadaan kedai sudah lebih stabil dan lebih dapat dipegang oleh Siska kini. Keuntungan selama dua hari juga sama banyaknya, bahkan dalam satu hari keuntungannya dua kali lipat dari keuntungan pembukaan pertama kali ketika adanya pemotongan harga.


Untuk dua hari, keuntungannya tentu menjadi 4 kali lebih banyak. Siska senang, ia bisa dengan mudah melunasi hutangnya pada agen real estate nantinya. Apalagi kini di rekeningnya sudah ada sekitar 7M, penghasilan bersih dari kedai baru saja. Belum penghasilan dari dua kedai didesa dan kabupaten sana.


Siska rasa, tidak perlu menunggu 5 bulan untuk melunasinya. Dalam satu bulan, ia akan langsung membayar semua cicilannya tersebut. Kurang sedikit masih bisa pinjam pada Ergan, lagipula Ergan sendiriemang mau punya rumah sendiri di ibukota. Mari berikan 5 buah rumah masing-masing untuk Ergan dan Geri, tidak gratis, tentu saja bayar, karena nantinya akan jadi investasi masa depan keduanya.


Jadi untuk bayaran, sudah sangat aman. Hasil dari penjualan rumah juga nanti bisa dikembalikan pada rekening restoran cafe ibukota, bisa digunakan untuk pembangunan lagi, bisa juga digunakan untuk menambah menu. Intinya adalah untuk memperbesar restoran cafe tersebut.


Sepeninggal semua orang, kini tersisa Siska dan Darren di rumah besar tersebut. Siska terlihat sedih, Darren langsung merangkulnya. Membuat Siska mendongak menatapnya.


"Jadwal penerbanganmu kapan?" Tanya Siska, masih tidak menyembunyikan kesedihannya. Keluarganya pulang, Darren juga akan pergi selama seminggu.


"Besok, aku tidak bisa menunda lagi. Kemarin sudah ditunda dua hari." Ucap Darren dengan perasaan tidak enak. Ugh Siska memasang wajah sedih begini, hatinya jelas merasa sangat tidak nyaman saat ini. "Aku ambil penerbangan malam, jadi mari habiskan waktu bersama besok." Ucap Darren tersenyum.


"Baik." Balas Siska tanpa semangat. "Kau pulanglah. Tidak enak berduaan begini." Ucap Siska.


Tapi siapa Darren ini? Memangnya akan dengan mudah menuruti keinginan dan titah Siska? Tentu tidak. Ia menolak dengan keras, dan tetap tinggal di rumah Siska.


Tidak tega.


Meninggalkan Siska sendirian di rumah sebesar itu, meski ada asisten rumah tangga yang baru dipekerjakan, tetap saja Siska akan merasa kesepian di malam hari, karena asisten rumah tangga akan otomatis masuk ke dalam kamar untuk istirahat.


Khawatir keamanan.


Meski ada beberapa security dan cctv yang dipasang, Darren tetap khawatir akan keamanan Siska jika ditinggalkan sendiri. Siska ini perempuan, oke. Mana bisa ditinggal sendiri.


Siska menghela nafas, terserah Darren saja. Tinggal jujur katakan ingin berduaan dengannya sulit sekali? Pakai segala macam alasan untuk menolak pergi dari rumahnya. Siska memang wanita, tapi apa dia lupa jika Siska ini seorang wanita dewasa yang sudah bisa menjaga dirinya sendiri. Lagipula ada asisten rumah tangga dan security.


Cctv-nya juga menyala, jika memang ada penyusup, Siska bisa langsung menelfon keamanan residence juga. Meski residence tidak banyak yang mau, alasan diabaikan, keamanan tetap ada. Jadi Siska rasa cukup aman jika diam di rumah tersebut meski tanpa Darren sekalipun.


Tapi yasudahlah. Siska juga tidak akan se kesepian itu jika Darren ada. Dia bisa menghabiskan waktu bersama, misal mengobrol dan menonton bersama di ruang keluarga sampai ia tertidur.

__ADS_1


Selain Darren, ada juga keluarga kecil Sahni, sengaja Siska pinta agar Darren mengundang mereka menginap di rumahnya agar suasananya menjadi lebih hangat. Jadi malam itu, menghabiskan waktu bersama dengan menonton film keluarga di ruang keluarga. Dan Darren memasang wajah tertekuk sepanjang malam, karena gagal bermanja-manja dengan Siska.


Rencananya, Darren ingin menghabiskan waktu malam ini dan besok, untuk menebus kerinduan yang akan datang dimasa depan ketika ia melakukan perjalanan ke negara tetangga. Tapi, Siska tidak peka sama sekali dengan niatnya. Ia malah memaksa dirinya mengundang Sahni dan keluarga kecilnya, membuat rencana Darren tidak berjalan baik.


Darren mau tidak mau menuruti keinginan Siska yang satu itu setelah Siska terlihat marah. Darren mengalah, dan lihatlah, Siska mengabaikannya sekarang. Siska sibuk dengan anak laki-laki Sahni, membuat Darren menatap tajam anak tersebut.


Sahni hanya membawa anak bungsunya, dan anaknya masih berusia 5 tahun. Dan Sahni yang sadar akan situasi anaknya yang ditatap penuh permusuhan oleh Darren pun, langsung menepuk suaminya, Haris. Menunjukkan pemandangan yang membuatnya bergidik ngeri.


Karena Haris peka akan keadaan, Haris kemudian beralasan pada Siska dengan jam tidur anaknya di kisaran waktu yang masih cukup siang, pukul 7.30 malam. Setelahnya Sahni membawa anaknya pergi ke kamar tamu yang ditempatinya, diikuti oleh Haris, yang sudah mengedipkan matanya pada Darren.


Darren terbatuk kecil, ia senang karena Haris tahu niatnya. Berbeda dengan Siska yang menghela nafas sedih ketika anak Sahni dibawa oleh kedua orang tuanya masuk ke kamar.


Siska menatap Darren sendu. Darren yang tidak tahan pun langsung menangkap wajah Siska dan menguwel-nguwel pipinya, seraya tertawa kecil.


"Mau jalan-jalan malam? Di sekitar residence, ada taman bukan? Meski tidak bagus seperti yang lainnya, tapi masih ada yang bisa dilihat." Ucap Darren menawarkan, agar Siska tidak terus sedih.


Siska belum mengantuk, dan ia sangat bosan saat ini karena tidak ada pekerjaan dan tidak ada kegiatan yang bisa ia lakukan. Alhasil, Siska pun mengangguk dan menyetujui ajakan Darren untuk jalan-jalan malam di sekitar residence, lebih tepatnya di taman residence tersebut.


Keduanya kemudian berpakaian lebih tebal karena di malam hari akan terasa lebih dingin, apalagi di residence ini, meski banyak rumah, masih banyak pohon dan tumbuhan di sepanjang jalanya.


"Jalan kaki, kan? Apa aku kuat? Halaman rumah ini saja sudah sangat jauh untuk keluar dari gerbang rumah." Keluh Siska.


Siska senang, begini lebih baik. Tidak perlu jalan jauh, juga masih bisa menenangkan hati dan pikiran. Jika mengantuk tinggal masuk ke dalam rumah dan istirahat, tidur. Tidak perlu kelelahan dulu bolak balik ke taman dan ke rumah. Akan membuat lelah, apalagi jaraknya memang jauh.


"Tidak ada bintang." Keluh Siska.


"Diibukota sini sudah jarang terlihat, tapi masih ada bulan, lihat sana, masih cantik meski tidak terlihat bintang satupun." Ucap Darren, keduanya sudah berbaring menatap langit, bersampingan.


"Kau benar. Bulan bisa berdiri sendiri meski tidak ada bintang di sekitarnya. Tapi, bulan terlihat kesepian, kan? " Tanya Siska.


Darren jadi mengerti arah pembicaraan Siska. Dia mengibaratkan dirinya sendiri bukan?


"Saat ini memang terlihat kesepian, tapi hanya disini saja, hanya kelihatannya saja. Aslinya, di Sudung pandang yang berbeda, Bulan masih dikelilingi bintang. Kau tahu? Diibukota tidak terlihat, tapi di kampung halaman pasti terlihat banyak." Balas Darren seraya tersenyum.


"Kau benar. Ini hanya satu sudut pandang saja. Juga hanya sementara." Timpal Siska.


"Benar, jadi jangan pernah berkecil hati. Hanya beberapa hari saja, lagipula masih ada ponsel kita bisa saling menghubungi." Ucap Darren lagi. Membuat Siska terbatuk kecil. Malu sendiri karena ternyata, Darren tahu maksud dari perkataannya sebelumnya.


"Ada apa?" Tanya Darren senyum penuh arti.

__ADS_1


"Kau menyebalkan!" Dengus Siska.


Kenapa ia tidak mengatakannya saja langsung jika ia mengerti maksud perkataannya, jadikan Siska tidak malu begini. Tapi, Darren tetaplah Darren, si menyebalkan, tidak pernah berubah.


"Aku hanya bercanda saja, wajahmu terlihat lucu." Balas Darren tertawa kecil. Tidak lagi melihat langit, Darren merubah posisinya menjadi menyamping dan memeluk Siska dari samping.


Siska tidak bergerak, ia malas meladeni Darren jadi di telentang meski di sampingnya Darren memeluknya. "Kau tidak kedinginan?" Tanya Darren.


"Tentu dingin, tapi sebelumnya. Sekarang sudah tidak." Balas Siska membuat Darren melebarkan senyumnya.


"Ah aku jadi enggan pergi besok. Kita baru bersama beberapa hari tapi aku sudah harus berpisah denganmu? Itu menyebalkan. Aku tidak suka." Ucap Darren, lebih ke mengeluhkan keadaan pada Siska.


"Justru bagus, jadi aku tidak akan selalu ditempeli olehmu! Kau mengganggu, tidak tahu waktu bergelayut manja setiap saat. Aku jadi kesulitan bekerja." Balas Siska.


"Kau tidak suka aku begitu?" Tanya Darren.


"Bukan tidak suka, tapi, kau harus tahu waktu dan tempat jika ingin bersikap begitu. Jangan, aku sedang bekerja, sedang ditempat umum, kau malah begitu." Omel Siska.


"Baik, baik, aku akan ingat ini di masa depan." Ucap Darren.


"Hmm, aku penasaran, kenapa bisa sikapmu menjadi begini sih?" Tanya Siska.


Darren tidak menjawab, ia juga tidak tahu. Tapi begitu dekat dengan Siska, ia selalu ingin bersikap manja. Perilakunya akan otomatis berubah jika sedang dekat dengannya.


"Darren?" Panggil Siska karena tidak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Aku juga tidak tahu." Balas Darren dengan bingung. "Mungkin karena aku sudah menantikannya selama bertahun-tahun?" Ucapnya ragu.


"Hmm? Apa maksudmu dengan bertahun-tahun?" Tanya Siska bingung. Ia belum tahu apapun, Ayahnyalah yang tahu.


"Kau tidak ingat aku, aku sedih sekali." Ucap Darren kemudian setelah mendengar pertanyaan Siska. Siska berbalik bertanya, itu artinya Siska hanya tahu jika dirinya adalah bos pasar dan bos dari Wistara.


"Apa? Apa yang kau maksud dengan aku tidak ingat? Apa aku melupakan sesuatu tentangmu?" Tanya Siska bingung.


Darren menghela nafas, Siska merubah posisi menyamping karena Darren melepaskan pelukannya dan duduk membelakangi Siska.


"Aku akan menceritakannya, kalau begitu, dengarkan baik-baik." Ucap Darren seraya berbalik dan menepuk kepala Siska. Tak lupa senyum lembut ia sembahkan pada Siska.


*

__ADS_1


*


__ADS_2