
*
*
Setelah dibantu Darren, Siska akhirnya selesai lebih cepat. Darren yang ingin memanfaatkan waktu, mengurungkan niatnya karena Siska pergi ke kamar Uqi dan Uni. Sedangkan Darren hanya bisa pasrah dan bergabung dengan Ergan dan Geri yang sedang memainkan game di ponsel masing-masing di ruang keluarga.
Darren menatap permainan keduanya, dilihat-lihat semakin seru, alhasil ia ikut mengunduh game di ponselnya, dan langsung bermain dengan keduanya. Tapi karena perbedaan level, Darren dibantu lebih dulu untuk menaikkan levelnya dengan cepat dari awal.
Ketiganya anteng memainkan ponsel dengan pekikan dari Ergan dan Geri yang mengarahkan Darren agar bermain dengan baik.
Di sisi lain, Siska dan kedua anaknya, kini sudah tiduran bersama di atas kasur. Kedua anaknya meminta Siska membacakan sebuah cerita, alhasil Siska menurutinya dengan membaca satu buku cerita milik Uni. Karena kebetulan, kamar yang dipakai adalah kamar Uni.
Ketiganya juga sama-sama anteng, Siska terus membaca dengan intonasi yang membuat keduanya merasa nyaman, sampai akhirnya keduanya tertidur tak lama kemudian. Padahal waktu masih terbilang pagi, sekitar pukul 10.
Melihat kedua anaknya tidur dengan lelap, Siska yang posisinya ada di tengah, mengeluarkan ponselnya dan mengangkatnya tinggi, lalu sebuah foto terpotret di ponsel setelahnya.
Siska tersenyum melihat hasilnya, lalu mengirimnya pada ponsel kakek dan nenek Uqi, Uni. Yakni kedua orang tua Siska, Suherman dan Estika. Karena keduanya masih belum punya ponsel, jadi setiap kali Siska berfoto bersama, ia suka mengirim fotonya pada pasangan tua tersebut. Jadi, nanti keduanya bisa menunjukkannya pada Uqi dan Uni.
Setelah mengecup kening Uqi dan Uni, Siska kemudian keluar kamar, berjalan menghampiri tiga orang laki-laki yang asyik bermain ponsel. Siska datang saja tidak digubris, dehemannya bahkan tidak berguna pada ketiganya. Benar-benar memiliki dunia sendiri.
Tapi, yasudahlah. Siska juga tidak menganggu lebih jauh. Jadi, ia pergi ke halaman belakang dan menemui kedua orang tuanya yang sedang menyirami kebun bunga, dengan perbincangan hangat di pagi hari.
"Mama, aku bantu." Ucap Siska seraya mengambil alih alat penyiram yang dipegang Estika.
Estike tersenyum, kemudian memberikannya pada Siska, ia tidak pergi dan menunjuk beberapa tanaman yang belum disiram. Selain itu, ia juga mengatakan beberapa hal tentang bunga yang ditanam, karena ternyata perawatannya bagus, bunga-bunga tumbuh dengan baik.
Suherman melihat keduanya akur, sudah lama sekali. Ia juga dengan sadar langsung memotret keduanya dengan senyum lembut. Setelah melihat foto hasil jepretannya beberapa kali, Suherman pun akhirnya berdiri, dan mengajak keduanya berfoto bertiga.
__ADS_1
Siska membuat ponsel Suherman bersandar di dinding, dan menyalakan mode waktu agar ketiganya bisa berfoto dengan baik, seraya berdiri. Lalu Siska berpose tersenyum, dengan merangkul pinggang kedua orang tuanya. Suherman dan Estika tidak mau kalah, akhirnya keduanya mencium pipi Siska, dan foto pun terambil dengan pose keluarga bahagia tersebut.
Siska berlari kecil dan mengambil ponselnya, kemudian memperlihatkan hasil foto, yang terlihat sangat cantik, apalagi latar belakang foto adalah hamparan bunga yang sudah tumbuh. Terlebih, bunganya bermacam-macam, ada mawar, Daisy, Lily, anggrek, dan tulip.
Siska lah yang membelikan bibit-bibit bunganya, meski sedikit mahal dari bibit bunga lainnya, tapi ia puas melihat hasilnya. Ayah dan ibunya sangat mahir mengurus tanaman. Jika tidak, maka bunga-bunga tersebut tidak akan tumbuh tinggi seperti sekarang.
"Mama ayo pose dengan Bapak, aku akan memotret kalian." Ucap Siska seraya mendorong pelan Estika agar bersampingan dengan Suherman. Membuat keduanya tertawa kecil, tidak ada pilihan dan mengangguk menurut.
"Ayo, ganti pose, lebih romantis!" Pekik Siska dengan raut senang.
Setelah beberapa kali jepretan, akhirnya tiba giliran Siska yang dipaksa berpose sendiri di tengah hamparan bunga. Suherman lah yang memotret, dan hasilnya tentu saja bagus. Bunga dan kecantikan, hasilnya tentu memuaskan.
"Sudah, sudah jam berapa ini? Ayo ke dapur nak, bantu mama masak." Ucap Estika seraya menepuk pelan lengan Siska, dengan senyum lembut.
Siska menganggukkan kepalanya, lalu menggandeng lengan Estika. Sebelum benar-benar pergi, Siska menatap Suherman, "Bapak, jangan lupa kirim padaku ya!" Ucapnya, kemudian pergi setelah mendapat jawaban persetujuan dari Suherman.
Sapta, Putri, dan Desi pergi ke rumah orang tua Putri, karena adanya acar syukuran di sana. Sedangkan Rendra dan Santi masing-masing pergi ke kedai, yang ada di kabupaten dan yang ada di desa.
Siska tidak menyuruh keduanya bekerja, tapi keduanya yang bersikeras, karena katanya tidak ada yang mengawasi. Siska pun hanya bisa mengiyakan kekeras kepalaan keduanya saja. Tapi dengan syarat, keduanya harus pulang ke rumah di desa ketika pukul 6 tiba. Jadi, rumah di desa tidak kosong dan keduanya bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama.
Siska tidak mau, karena Geri tidak ada dan keduanya di desa sibuk oleh pekerjaan, hubungan keduanya menjadi tidak baik. Jadi syarat itulah yang bisa Siska berikan pada keduanya agar keduanya hisa menjaga hubungan satu sama lain.
Selesai makan, tepat pukul 12, laptop yang memang sudah Ergan bawa ke ruang keluarga dan sudah dinyalakan sebelum pergi makan bersama, sudah siap untuk melihat hasil ujian masuk universitas.
Jadi, kini semuanya berpindah ke ruang keluarga. Untuk melihat hasilnya. Uqi dan Uni yang tidak mengerti, diberi tontonan kartun di televisi, sedangkan sisanya duduk di sofa belakang Ergan yang lesehan di atas karpet kain di bawah dengan meja di hadapannya.
"Aku tidak berani! Geri, bantu aku men-tap lamannya." Ucap Ergan, karena Geri yang paling dekat, ia ada di sisi kanan Ergan.
__ADS_1
"Idih! Laki-laki bukan?" Ejek Geri.
Darren dan Siska, serta kedua orangtuanya yang berada di belakangnya, yang sudah tidak sabar melihat hasilnya, akhirnya mengomeli Ergan, menyuruhnya cepat-cepat membuka hasil ujian.
Akhirnya Ergan pun pasrah, ia menggeser kursor, dan men-tap lamannya. Menunggu beberapa detik karena loading. Sampai akhirnya hasilnya terbuka.
Ergan menutup mata selama loading tersebut, sedangkan yang lain dengan jentung berdebar menatap laptopnya dengan fokus.
"OH! Sayang sekali!" Ucap Geri, tersenyum jahil, ia tahu Ergan menutup mata alhasil mengerjainya sedikit juga seru, pikirnya.
"Ah? Aku tidak lulus? Aku terlalu percaya diri ya selama beberapa hari in---HEI! KAU MENGERJAIKU?!" Ucap Ergan dengan nada lesu, sampai akhirnya kedua matanya terbuka dan menatap hasil ujiannya.
Berwarna hijau, artinya ia lulus. Jadi ia memekik menatap Geri dengan kesal karen ucapannya sebelumnya. Membuat Geri terbahak, diikuti keempat orang dewasa di belakangnya. "Sayang sekali, paman kecil lolos disana." Lanjut Geri stelah menyelesaikan tawanya.
"Apa maksudmu dengan kata sayang sekali, ha? Aku tidak layak, kah? Oh minta diberi pelajaran ya?! Kemari, kau! Jangan lari!" Pekik Ergan dengan tangan menunjuk Geri yang sudah berlari menjauhi Ergan.
"Astaga dua anak ini! Tidak ada habisnya." Keluh Estika menghela nafas.
"Tidak apa ramai." Balas Suherman.
"Syukurlah bocah itu benaran masuk, aku lega. Tidak perlu khawatir lagi. Aku bisa pergi dengan tenang nanti." Ucap Siska seraya tersenyum menatap ketiga orang yang menatapnya dengan tatapan sulit di artikan.
*
*
Nb: Ini yang eps baru hari ini ya. Takutnya lebih dulu yang ini ke up nya, padahal eps kmrn masih di review gtu ;( Bingung ah, biasanya cepet padahal.
__ADS_1