Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Ketidak nyamanan Siska


__ADS_3

*


*


"Tunggu, nona Siska. Kenapa tidak bergabung dengan kami? Kebetulan kami ada beberapa yang mau ditanyakan pada pemilik baru tentang ide brilian yang membuat konsep baru di dunia kuliner ini." Ucap seorang laki-laki yang seumuran dirinya. Dia memang tidak setampan Darren, tapi cukup tampan dan manis.


Siska terkejut, tapi ia tidak ada pilihan lain jika memang diminta begitu. Akhirnya Siska setuju. "Kalau begitu aku tidak akan sungkan." Ucapnya.


Siska duduk di samping Sahni yang kursinya memang kosong setelah memanggil pelayan untuk membawa nampan roda yang dibawanya barusan.


"Kalian bisa memanggilku Siska, aku pemilik restoran. Jika ada yang mau ditanyakan, silahkan. Terutama?" Ucap Siska kemudian bertanya pada orang yang tadi menyuruhnya untuk bergabung.


"Noah, aku Noah Anderson dari perusahaan SY." Ucap Noah seraya tersenyum.


"Ah, ya, Tuan Noah, silahkan. Kita anggap saja ini diskusi. Semuanya juga bisa menanyakan hal-hal yang mau ditanyakan padaku." Ucap Siska menatap satu persatu orang yang ada di meja dengan senyum ramah tidak lupa.


Darren menatap Siska dengan wajah datar andalannya, sedangan pada laki-laki yang mengobrol dengan Siska, Darren menatap Noah dengan tatapan yang sedikit tajam. Pun dengan Kathrin mendelik ketika Siska menyapanya dengan ramah. Berbeda dengan yang lain yang membalas sapaan Siska sama ramahnya.


"Aku sudah tahu tentang nona juga tentang restoran cafe ini. Tempat ini bahkan sudah populer sebelum dibuka. Menjadi trending di ibukota dan kota-kota besar lain. Sangat hebat." Puji salah satu kolega Darren.


"Ya, benar, benar, aku juga antusias ketika melihat tempat ini. Lalu Tuan Darren mengundang aku kemari, alhasil aku tidak sungkan menerima undangannya Haha." Timpal satu kolega lainnya.


Yang lainnya mengangguk setuju dengan pendapat dua orang yang berbicara. Membuat yang lain memuji kecil Siska dengan restoran cafe yang mempunyai konsep dan gaya baru di ibukota.

__ADS_1


"Memang hebat sekali. Wanita desa seperti nona Siska mampu membuat usaha yang bagus. Aku dengar, nona juga hanya lulusan sekolah menengah atas saja bukan? Tapi ide dan ke kreatifan nona melebihi orang yang berpendidikan tinggi, sangat bagus!" Kathrin ikut menimpali. Ia memang tahu seluk beluk dari pemilik restoran ini dari Ayahnya, tapi tidak dengan foto dan orangnya.


Tapi begitu Kathrin tahu Siska inilah yang punya usaha, ia langsung berkeinginan mencari masalah. Lihat, dengan cara cantik ia bahkan berani menghina Siska di hadapan semua orang. Ayah Kathrin merasa tidak ada yang salah dengan ucapan anaknya, tapi yang lain menjadi hening.


Terlebih Siska, ia tahu ia sedang direndahkan disini. Ada perasaan tidak nyaman, tapi ia dengan berani membalas Kathrin. "Tidak apa, meskipun aku hanya wanita desa, pada akhirnya aku mampu membuat usahaku berkembang tanpa dukungan dan bantuan orang lain." Balas Siska, yang jelas membalas sindiran Kathrin, tersirat di dalamnya adalah Kathrin hanya bisa meminta bantuan orang tuanya dengan bisnisnya. "Aku mampu menunjukkan diriku, dan bersaing sehat dengan yang lainnya, meski tanpa finansial orang tua." Lanjut Siska seraya tersenyum ramah pada Kathrin.


Kathrin jelas tahu maksud Siska. Ia mengepalkan tangannya yang berada di bawah meja, menahan emosi. Ayah Kathrin juga jelas sekali dengan maksud Siska. Membuatnya membela anaknya tentu saja. "Memang benar sangat hebat, bahkan kemampuan bicaramu juga sangat bagus." Timpal Hartono.


"Ah, Tuan Hartono, kemampuan bicara memang hal utama dalam berbisnis, kan? Tidak perlu memuji berlebih, aku merasa malu." Balas Siska seraya terkekeh.


Jelas, raut wajah Hartono menjadi tidak enak dilihat. Siska mampu membalikkan ucapannya, membuat emosinya menjadi lebih terlihat.


Yang lain yang sedari tadi diam, mendadak menegang melihat hal ini. Kecuali Darren yang diam- diam tersenyum kecil mendengar pembicaraan tersebut, meski ia hanya menunduk memainkan ponselnya.


Noah, yang mengajak Siska bergabung, akhirnya angkat bicara. "Aduh, aduh, apakah kalian tidak lapar? Ayo, Yao makan, kita coba cicipi hidangannya juga. Pasti hidangannya juga sangat enak." Ucap Noah mencairkan suasana. Ia menepukkan kedua tangannya, membuat yang lainnya akhirnya bersuara dan langsung suasana pun kembali mencari, meski masih ada saja beberapa ketegangan.


"Kalau begitu silahkan dinikmati. Karena aku rasa mungkin tidak ada lagi yang mau didiskusikan, aku pamit mengurus hal lainnya lebih dulu." Ucap Siska membungkuk sopan dengan senyum ramah. Kemudian pergi meninggalkan meja no 5.


Kathrin dan Ayahnya mendelik sinis ketika Siska pergi. Ayah dan anak ini sama-sama tidak suka pada Siska.


"Jangan cari masalah jika tidak ingin mendapat masalah." Ucap Darren kemudian. Ia tidak mihat siapapun, ia memakan hidangan dengan tenang. Tapi semua orang tahu persis, Darren menunjukan ucapan tersebut pada Ayah Anak dari keluarga Hartono. Membuat Ayah dan Anak seketika mengatupkan bibir rapat-rapat.


Disisi lain, Siska kembali dengan wajah kesal. Ia mengutuk Kathrin dalam hatinya. Mengatainya gadis desa dan memberitahu orang jika dirinya hanya lulusan sekolah menengah. Memangnya ada yang salah? Benar-benar deh manusia yang satu itu, membuat orang emosi saja bisanya.

__ADS_1


Tidak apa-apa sekolah menengah, ia masih bisa bertindak sopan dan santun. Tapi lihat si menyebalkan Kathrin, berpendidikan tapi tidak tahu cara menjaga mulut. Apa dia tidak tahu tentang kata-kata mulutmu harimaumu? Ah Siska rasa dia tahu, tapi memang sengaja ingin menghina dirinya.


Siska akhirnya diam di lantai dua, di satu meja khusus yang disediakan untuk dua orang. Ada Satria di depannya. Siska menyuruh Satria menemaninya di sana. Sekalian menyuruh Satria melaporkan situasi dan kondisi Tasty Treats padanya.


Tapi Satria bingung, apa yang harus dilaporkan, situasi dan kondisi tempat, Siska sendiri sudah melihatnya dari awal. Ia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana. Padahal Siska sendiri hanya mencari alibi saja agar ia bisa mengawasi Darren, ah tidak, maksudnya wanita menyebalkan Kathrin.


Tapi dua jam kemudian, meja no 5 telah menyelesaikan makanan di mejanya. Juga sesekali masih tetap berdiskusi. Kemudian pergi membubarkan diri. Siska awalnya mau pergi juga, tapi Darren membuat ulah.


Kathrin merangkul lengannya, tapi Darren membiarkannya! Keduanya bahkan berjalan beriringan meninggalkan lantai dua. Menuju tangga.


Tangga di setiap lantai tidak melewati lantai di bawahnya, jadi orang orang di lantai satu jelas tidak akan melihatnya.


Siska menatap keduanya dengan perasaan tidak nyaman. Tangannya tanpa sadar mengepal. Darren bahkan mengabaikannya seharian ini. Dan apa itu barusan? Bolehkah jika Siska merasa sedih melihat pemandangan di depannya?


Siska terus melihati Darren sampai Darren hilang, tapi dari jendela di sampingnya, ia masih bisa melihat, Darren mengantar Kathrin sampai ke mobil, bahkan membukakan pintu dan menghalangi kepala Kathrin dengan tangan agar tidak terpentok dengan atap mobil.


Siska tertawa sumbang. Benar-benar sangat tidak nyaman. "Satria, aku merasa tidak nyaman. Aku akan ke ruang istirahat. Kau ambil alih semuanya." Ucap Siska kemudian pergi.


Dadanya sesak.


*


*

__ADS_1


__ADS_2