
*
*
Siska dibuat tertawa oleh perilaku Darren dan Haris, berbeda dengan Sahni yang hanya menggelengkan kepalanya, karena sudah tidak asing dengan adegan yang baru saja terjadi.
Sepeninggal Haris dan Sahni, Darren yang mendengar suara tawa Siska, langsung kembali dan menghampiri Siska yang kini telah menyelesaikan kegiatan makannya.
Siska membawa piring dan sendok yang habis dipakai ke dapur, beserta gelas yang sudah tandas, tanpa adanya air minum, karena sudah diminum olehnya.
Setelah membersihkan peralatan yang telah dipakai untuk makan, Siska kembali ke meja sebelumnya. Di sana, Darren sedang mengangkat telfon dengan wajah serius. Tapi Siska lihat lebih ke arah kesal. Karena selain rahangnya yang terlihat mengeras, tatapan matanya juga tajam.
"Ada apa?" Tanya Siska melihat Darren, bertanya tanpa mengeluarkan suara.
Darren menggeleng dengan tatapan lembut, ia langsung mematikan panggilan telfonnya, dengan tangan yang menggenggam tangan Siska.
"Kenapa dimatikan?" Tanya Siska kemudian, karena berduaan, kali ini Siska tidak keberatan dengan tangannya yang digenggam Darren.
"Tidak penting." Balas Darren malas.
"Tapi aku ingin tahu, apa kau ke keberatan jika aku tahu?" Tanya Siska seraya tersenyum.
Darren menatap Siska tak berdaya, "Tapi benaran tidak penting." Balasnya.
Tapi Siska kekeh, membuat Darren menatapnya ragu sejenak sebelum akhirnya memberikan ponselnya, biar Siska sendiri yang melihat log panggilan di ponselnya. Sebelum benar-benar diberikan, Darren berkata, "janji jangan kesal setelah melihatnya?" Ucap Darren.
"Ada apasih? Serius sekali. Kemarikan saja, aku ingin lihat." Ucap Siska santai, kemudian mengambil ponsel Darren dan melihat log panggilan.
Siska mengernyit bingung, "Pak Hartono? Apa yang membuatmu marah?" Tanya Siska.
"Itu Kathrin, ia memakai ponsel Ayahnya untuk mengangguku. Selain selalu menelfonku, ia juga suka mengirimiku pesan." Ucap Darren lelah.
__ADS_1
Siska menganggukkan kepalanya. "Kenapa dia tidak pakai nomornya sendiri?" Tanya Siska masih santai.
"Selalu aku blokir, setiap kali ia menghubungi atau mengirimiku pesan." Ucap Darren.
"Ah, begitu." Ucap Siska seraya menganggukkan kepalanya mengerti.
"Kau marah?" Tanya Darren takut-takut. Menatap Siska yang masih memasang wajah santainya.
"Dari mananya aku marah? Kau lihat wajahku, apa aku terlihat marah?" Tanya Siska, ia melepaskan tangannya yang digenggam Darren kemudian menunjuk wajahnya sendiri.
"Siska..." Panggil Darren dengan wajah sendu. Siska marah, kan? Benar, kan? Ia bahkan menepis tangan Darren barusan, meski tidak terlihat menepis, tapi Darren merasa ditolak.
"Darren, dengar, aku ingin bertanya. Kenapa kau memilihku, dan bukan Kathrin? Dia cantik, dari keluarga kaya dan terpandang, sangat lumayan untuk ukuran gadis yang masih sekolah. Sifatnya, uh, masih bisa kau ubah sedikit demi sedikit." Ucap Siska seraya tersenyum santai.
"Siska, jangan bahas orang lain." Ucap Darren dengan nada yang mulai berubah. Seolah memperingati Siska jika ia memang tidak suka Siska membahas yang lain yang akan membuat keduanya bertengkar.
"Lalu, orang tuanya juga sepertinya mendukung. Kalian pasti bahagia kan?" Tanya Siska.
Rahang Darren mengeras, ia menahan kesal saat ini, tapi Siska malah terus berbicara tentang Kathrin. Demi apapun, Darren sangat tidak suka.
Tapi keterkejutannya semakin bertambah, ketika Darren langsung menggenggam kedua tangan Siska, ia bahkan turun ke lantai dan berlutut agar dirinya berhadapan dengan Siska.
"Tidak mau! Tidak suka! Tidak akan pernah! Aku hanya menyukaimu, hanya menyukaimu. Tidak ada yang lain, tidak pernah, selamanya hanya ingin kamu!" Ucap Darren dengan nada merengek.
Siska menatap Darren tak percaya, bibirnya bahkan terbuka, saking tidak percayanya, sampai melongo menatap Darren yang merengek di bawah.
Darren memeluk Siska dan membuat kepalanya ada di perut Siska. Menenggelamkannya disana sambil terus mengatakan jika ia hanya suka pada Siska tidak dengan Kathrin ataupun orang lain.
"Masih tidak percaya aku, ya? Kau masih meragukanmu, bukan? Aku harus apa agar kau percaya? Siska, bilang saja oke? Tidak mau begini, kau mencurigaiku!" Keluh Darren.
Siska menahan tawanya, Darren masih melingkarkan tangannya diperut Siska, pun dengan kepalanya yang masih menempel diperutnya.
__ADS_1
"Ada apa denganmu, pftt hahahaha." Akhirnya, Siska tidak bisa tidak menahan tawanya lagi. Tawanya menyembur dengan suara kencang, membuat Darren melepaskan pelukannya dan menatap Siska yang tergelak.
"Siska?" Beo Darren bingung.
Siska kira, Darren akan marah karena tadi Darren memekik dengan tatapan mata tajam mengarah padanya. Tapi, lihat, apa yang terjadi di depannya sekarang ini? Tolong, siapa manusia yang ada di depannya? Benar Darren atau orang lain? Kenapa berbeda sekali?
Siska sampai kebingungan sendiri melihat perubahan sikap Darren yang drastis begini. Ia menjadi manja? Dan tegas di waktu bersamaan, seperti orang yang mempunyai kepribadian ganda. Tapi, tidak, Darren tidak mungkin.
"Aku sudah bilang aku tidak marah. Kau ini, kenapa sih? Lagipula aku hanya bercanda saja." Ucap Siska seraya membawa Darren kembali ke kursinya, agar duduk di atas kembali karena lantai terasa sangat dingin.
"Bercanda?" Tanya Darren.
Siska menganggukkan kepalanya. "Ya, aku bercanda. Aku berkata begitu, sebetulnya mau menanyakan satu hal. Tapi aku rasa aku tidak bisa langsung ke poin utama, jadi mencari alasan yang bagus dulu."Jelas Siska tersenyum malu.
"Siska! Jangan mempermainkan ku. Kau bisa langsung menanyakannya padaku, aku akan menjawabnya dengan jujur." Balas Darren, menghela nafas lega.
"Baik, aku tanyakan langsung. Itu, perihal foto yang dikirim Chika waktu itu. Apa yang kau lakukan dengan Kathrin sampai kalian bisa makan siang bersama?" Tanya Siska dam satu tarikan nafas, kemudian setelah mengatakannya, ia langsung memalingkan wajahnya, karena sebetulnya ia malu.
Darren menahan senyumnya agar tidak melebar, ingin tertawa, tapi tidak, Siska pasti menjadi kesal jika ia tergelak sekarang. "Foto itu? Aku makan siang sendiri karena aku ada pertemuan penting setelahnya. Aku juga makan siang lebih awal waktu itu. Tidak tahu datang darimana, Kathrin tiba-tiba datang menghampiriku." Jelas Darren menatap Siska.
"Lalu tangan, dan tissue?" Tanya Siska setelah ia mendengar Darren, dan lebih berani mengutarakan pertanyaan dengan menatap Darren. Keduanya bertatapan kini. Siska mencari kebohongan disana, tapi Darren terlihat jujur. Membuat Siska mengangguk diam-diam.
"Astaga, jadi itu poin utamanya?" Tanya Darren tersenyum, seraya melepaskan genggaman tangan Siska, dan beralih pada dua pipi, Darren tersenyum dengan mencubit dua pipi Siska dengan gemas.
"Jawab saja!" Balas Siska melotot.
"Haha, baik, baik. Aku mau mengambil tissue karena aku telah selesai makan. Dia sengaja menyentuhkan tangannya pada tanganku. Kalau tidak percaya kau bisa tanyakan Sahni, dia bersamaku waktu itu meski berbeda meja." Ucap Darren, meyakinkan Siska.
Siska menganggukkan kepalanya. Setelah nama Sahni dibawa, Siska menjadi lebih yakin, dan memilih sepenuhnya percaya.
"Kau mengabaikanku waktu itu, ternyata karena cemburu?" Goda Darren. Membuat Siska melebarkan matanya dan menggeleng keras.
__ADS_1
*
*