
*
*
Siska tersenyum mendengar jawaban Uqi. Ia senang, tapi ia juga merasa tidak senang di waktu yang bersamaan. Uqi mengizinkannya, tapi tetap saja dirinya merasa bersalah. Setiap saat, Uqi adalah orang yang paling sering ia tinggal dengan kedua orang tuanya, yakni nenek dan kakeknya.
Uqi lebih banyak menghabiskan waktu dengan keduanya daripada dirinya sendiri. Meski 2 bulan ini ia menebusnya, tetap saja rasanya sangat kurang. Hanya dua bulan saja. Apasih yang diharapkan Siska? Kini bahkan dirinya harus meninggalkan Uqi lagi. Terlebih, satu bulan, bahkan mungkin lebih.
Jika saja, Uqi tidak sekolah, maka ia pasti akan membawanya pergi. Tapi, sekolahnya masihlah awal sekali. Siska tidak mau membuat Uqi membolos terus. Tidak baik untuk ke depannya, nanti bisa-bisa Uqi kebiasaan membolos karena sering Siska ajak kemana-mana.
"Baiklah, sayang, ibu pergi besok sore. Malam ini tidur dengan ibu, boleh?" Ucap Siska pada akhirnya. Hanya bisa mengganti satu malam ini dengan menemani Uqi tidur.
Uqi menganggukkan kepalanya dengan semangat. Senyumnya bahkan melebar. Hanya satu bulan saja, ia masih bisa tahan. Tapi jika satu atau dua tahun, barulah ia akan memaksa Siska membawanya.
"Bertiga dengan Uni, ya, Bu? Sudah lama tidak tidur bersama." Pinta Uqi, karena sejak rumah dibangun ulang, semuanya tinggal di kedai. Dan Uqi hanya bisa tidur di luar dengan kakek dan dua pamannya. Sebab hanya ada satu kamar di kedai, dan itu diisi oleh Siska, Estika, dan Uni.
3 hari lalu, rumah telah selesai, tapi Uqi sudah punya kamar sendiri, alhasil belum bisa tidur bersama lagi dengan Siska dan Uni. Sedangkan Uni masih tidur dengan Siska, karena anak ini masih terbilang balita di usianya yang menginjak 2 tahunan.
Setelah semua makan malam, kemudian Siska, Uni dan Uqi pamit lebih dulu masuk ke kamar untuk tidur bersama. Sedangkan yang lainnya sibuk menyiapkan beberapa barang yang dibutuhkan besok untuk acara syukuran rumah.
__ADS_1
Ada juga beberapa tetangga ibu-ibu yang menginap, karena butuh bantuan dan tenaga dalam hal memasak. Apalagi, Siska dikecualikan oleh ayah dan ibunya karena besok ia sudah mau pergi. Siska pun setuju. Ia ingin lebih menemani anaknya, daripada membantu memasak.
Lalu besoknya, Siska bangun pagi-pagi sekali dan tersenyum melihat Uqi dan Uni yang tidur berpelukan. Siska mengabadikan momen tersebut lewat ponselnya, dan menyimpannya di galeri.
Setelahnya, ia turun dan masuk ke kamar mandi yang memang ada di setiap kamar. Setelah selesai, ia pun turun ke lantai pertama, sudah banyak orang di sana, terlebih di area dapur, yang sedang memasak dengan skala besar-besaran.
Acara syukuran akan dimulai pukul 10 pagi, tapi hidangan sudah harus siap pukul 9 pagi. Saat ini pukul 5, dan Siska mengecek dapur yang memang luas. Ada beberapa ibu-ibu yang menggoreng kentang dan daging. Sedangkan Ibunya memotong wortel, disebelahnya ada Putri dan Santi yang kemarin malam pulang dengan Rendra, membantu mengipasi bawang merah.
Siska tertawa kecil, melihat dua kakak ipar tersebut. Mengupas bawang merah sampai mengeluarkan air mata. Memang, sih, bawang merah sifatnya perih untuk mata. Tapi, tetap saja ini hal lucu.
Siska menghampiri ketiga orang ini, dan langsung bergabung, membantu ibunya memotong wortel yang sepertinya akan ada hidangan sup. Ya, selain camilan, syukuran kali ini akan ada beberapa hidangan berat seperti nasi dan lauk pauknya. Jadi jangan heran, jika ibunya memotong wortel dan sayur lainnya.
Siska menggeleng, dan tersenyum kecil. "Masa aku tidak bantu apapun? Lagipula hanya memotong ini saja, Uqi juga masih tidur di atas. Jangan khawatir Bu, kami mengobrol lama semalam. Uqi tidur larut, bangunnya akan sedikit siang dari biasanya. Paling pukul 7 atau 8 pagi." Jelas Siska seraya tersenyum.
Ibunya pun mengangguk saja, tapi Siska disuruh membantu Putri dan Santi, ya g keduanya kini menatapnya dengan tatapan yang seolah bicara ',Welcome to the hell, adik ipar.' Membuat Siska tersenyum tapi bergidik secara bersamaan. Apalagi air mata keduanya sudah semakin banyak.
Semuanya beraktivitas, meninggalkan dapur, adapula anak laki-laki yang membungkus camilan dan menyiapkan tempat. Mengangkat meja satu dan meja lainnya.
Begitu seterusnya, sampai waktu syukuran telah tiba. Siska sudah rapi, cantik dan bersih, begitupula Uqi dan Uni. Keduanya sudah memakai baju baru.
__ADS_1
Beberapa orang pun berangsur angsur datang. Lebih banyak dari perkiraan. Siska rasa ada beberapa orang yang datang tanpa diundang, tetapi Siska maklum saja. Mungkin karena rumah barunya merupakan rumah pertama di desanya, jadi semuanya ingin datang untuk melihat. Termasuk desa sebelah, desa tempat kakak keduanya tinggal.
Selama syukuran, ada yang membawa beberapa hadiah untuk tuan rumah. Berupa furniture dan alat masak yang memang kebetulan masih kurang. Juga ada beberapa yang membelikan sabun cuci piring dalam kemasan besar.
Siska dan dua orang tua menerima semuanya dengan senang. Tanpa membawa apapun, semuanya sudah senang, apalagi dengan membawa barang? Merepotkan, tapi ini jiat baik semua orang, jadi harys diterima untuk menghargai.
Lalu datang sebuah paket besar pada pukul 11 siang. Siska dan dua orang tua segera menyuruh orang membawanya masuk, dan atas permintaan semua tamu, akhirnya mau tak mau paket dibuka.
Isinya adalah sepeda gunung! Sebanyak dua!embuat Siska dan dua orang tua tercengang. Siapa yang mengirim hadiah sebesar ini. Tapi setelah dilihat, di dalamnya ada kartu ucapan. Alhasil Siska mendengus begitu tahu jika orang yang mengirimnya adalah Darren.
"Tidak datang ya tidak datang saja, untuk apa repot-repot mengirim hadiah mahal begini?" Gerutu Siska pelan. Tapi masih bisa didengar oleh Ayahnya.
"Hust! Tidak baik menggerutu pada rezeki yang sudah datang. Darren malah sopan sekali, karena tidak datang jadi menggantikan kehadirannya dengan hadiah." Ucap Ayahnya seraya menepuk pundak Siska. "Ah, apa jangan-jangan anak bapak ini, maunya Darren saja yang datang, hmm? Rindu padanya kah?", Lanjut Suherman menggoda Siska.
Siska melebarkan kedua matanya. Tidak disangka Ayahnya akan berucap hal yang diluar nalar pikirannya. "Bapak ini apa-apaan sih? Tidak pernah, dan tidak akan pernah Siska begitu." Sangkal Siska kesal. Kemudian pergi dari hadapan Ayahnya, berniat menghampiri Ergan yang sedang merekam untuk kontennya.
Tapi, satu yang dilihat Ayah Siska. Pipi Siska memerah, telinganya juga, Siska lupa satu hal. Jika sedang bohong, telinganya akan memerah sampai ke pipi. Dan Suherman menyadari hal tersebut. Membuat senyum kecil terbit di wajah tuanya.
*
__ADS_1
*