
*
*
Siska tersenyum lembut, menatap Uqi yang kini sudah sadar. Saat ini, Uqi sedang diperiksa oleh Dokter. Karena begitu Uqi sadar, Darren inisiatif memanggilkan dokter.
Setelah dokter pergi, barulah Siska yang saat ini memegang tangan Uqi dengan kedua tangannya, langsung mengajaknya berbicara. Menanyakan kondisinya langsung pada anaknya tersebut. Apakah sakit sekali, lalu apakah lapar, haus, dan lainnya.
Siska pelan-pelan bertanya, takut membuat kepalanya sakit. Tapi begitu Siska mau bertanya perihal kejadian yang sesungguhnya pada Uqi, Darren melarangnya. Ia menepuk bahu Siska dan menggelengkan kepalanya begitu Siska menatapnya.
Uqi masih butuh istirahat, jadi Siska juga tidak melanjutkan pertanyaannya. Karena begitu bangun, suster juga bilang, beri Uqi minum dan makan, setelahnya minum obat, tak lama kemudian Uqi kembali tidur dengan tangan yang digenggam oleh Siska.
Uqi tidak mau melepaskan tangan Siska, diwajahnya jelas tersirat ketakutan. Membuat Siska merasa sangat bersalah. Apalagi dirinya barusan bukannya menenangkan tapi malah bertanya banyak hal.
Siska menghela nafas, kemudian duduk diam, menatap Uqi yang sudah pulas tertidur. Darren di belakangnya, masih dengan menggendong Uni. Begitu pegal, Darren akan mendudukkan dirinya di kursi kosong yang ada di bangsal kosong lainnya.
Sampai Ayah Siska, Suherman datang lagi dengan beberapa kebutuhan. Ia juga membawa satu karpet bulu kecil milik Uni. Jadi Uni bisa ditidurkan di atas karpet bulu kecil tersebut setelah karpet dihmparkan di lantai.
"Bapak, bagaimana keadaan kedai?" Tanya Siska pada Suherman.
"Baik-baik saja, Bapak juga hanya bilang pada Rendra tadi, tidak bilang pada Mamamu, takutnya menjadi panik, jadi nanti setelah kedai tutup, Rendra akan mengabari semuanya." Ucap Suherman menjelaskan. "Rendra juga sudah mengurus masalah stok yang akan dibeli untuk satu bulan. Dia pakai uang yang akan disetorkan kemarin, sisanya memakai uang yang ada di rekeningnya, uang milik Geri, karena Rendra tidak bisa menarik uang dari rekeningmu ketika kamu tidak ada." Lanjutnya.
Siska mengangguk mengerti, Rendra memang kakak pertama. Ia dewasa dan tahu situasi, bisa beradaptasi dengan keadaan dengan cepat. Jadi kekhawatirannya pun menghilang perlahan.
__ADS_1
"Ini tasmu, ponsel juga rekening dan kartunya ada didalam. Hanya diambil uangnya saja." Ucap Suherman lagi, seraya menyodorkan tas Siska.
"Terimakasih, Bapak, maaf merepotkan." Ucap Siska dengan wajah sedih.
"Sudahlah, jangan begitu. Bapak tidak rasa direpotkan. Meski bapak sudah tua, bapak masih cukup mampu melakukan semuanya. Bapak senang bisa ada disampingmu di saat-saat seperti ini." Ucap Suherman kemudian mengelus kepala Siska lembut.
Siska memang sudah besar, tapi ia tetap saja seorang anak dimata ayahnya, kan? Jadi, meskipun ayahnya sudah tua, tidak sama sekali ada keberatan dalam hatinya. Justru senang bisa mendampingi anak-anaknya disaat susah. Karena bagaimanapun, anak adalah harta berharga orangtua.
Siska mengangguk dan tersenyum, bersyukur sekali mempunya orang tua yang sayang padanya. Bahkan masih mau mengurusinya meski dirinya sudah besar dan sudah punya anak.
"Oh ya, nak Darren. Aku sudah disini, kau sibuklah dengan urusanmu. Tadi aku juga mendapat pesan dari anak buahmu, mendesak ibu negara turun tangan, katanya begitu." Ucap Suherman, beralih pada Darren.
Darren mengerutkan keningnya. Rautnya datar jadi Siska maupun Suherman tidak paham dengan keadaan yang sedang dialaminya. "Baik, terimakasih pak. Kalau begitu aku pergi dulu." Ucap Darren kemudian, ia berdiri. Tapi sebelum pergi, Darren menatap Siska. "Jaga diri.", Ucapnya singkat. Kemudian benaran pergi meninggalkan ruangan yang didiami Uqi.
Suherman berdehem saja, tapi ia tidak menanggapi pertanyaan Siska, menghindar dengan berdiri dan melihat keadaan Uqi yang masih terlelap dalam tidurnya. Membuat Siska meninggalkan tanda tanya besar di benaknya.
Sebenarnya, situasi apa barusan? Pikir Siska.
Meninggalkan rumah sakit, di sisi lain, ada kedai Tasty Treats yang semakin ramai setiap harinya. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Rendra, dan Sapta masih sama sibuknya melayani pelanggan yang lagi-lagi datang dengan gerombolan.
Ergan dan Geri juga seperti biasa sudah datang dan mulai turun tangan membantu. Sementara Geri melayani, Ergan memasang kamera ponselnya lebih dulu untuk merekam kegiatannya. Ia menyimpan ponselnya di ujung dekat konter pemesanan. Jadi ketika ia menjauhpun, dirinya akan terlihat jelas di kemera.
Saudah lama sejak ia memposting konten di akun tutubnya. Kali ini, ia akan membagikan konten bertajuk a day in my life. Mulai dari dirinya bangun tidur sampai dirinya tidur lagi nanti. Jadi kegiatan di rumah, sekolah, bahkan kedai, juga akan direkamnya.
__ADS_1
Meninggalkan bagian depan, di bagian dapur Santi, Putri dan Estika, ibu Siska. Tetap sibuk memasak meski ketiganya bertanya-tanya karena Siska tidak kunjung kembali.
Terlebih Estika, kekhawatiran jelas tercetak di raut wajahnya. Tapi meski bertanya pada orang-orang di kedai, ia tidak dapat menemukan jawaban. Jadi hanya bisa diam saja dan lanjut membuat minuman, juga sesekali membantu Putri dan Santi memasak menu lainnya.
Rendra juga sama khawatirnya dengan Estika, apalagi, dia yang tahu tentang kejadian yang menimpa Uqi, keponakanya, yang membuat Siska tidak kembali lagi ke kedai. Meski khawatir, Rendra tidak bisa apa-apa, karena ia harus tetap menjaga mulutnya agar semuanya tidak panik. Dan inilah yang paling berat. Ia paling banyak tahu informasi, tapi ia juga diharuskan tetap diam.
Membuat Rendra sebetulnya beberapa kali tidak fokus, seperti ada banyak beban dipundaknya. Sapta adalah orang pertama yang menyadari gelagat aneh Rendra. Membuat Sapta memaksa Rendra mengatakan yang sebenarnya. Tapi Rendra gigih dengan pendiriannya. Jadi Sapta hanya bisa menyerah dengan kakaknya. Meski begitu, Sapta senantiasa mengingatkan dan menyadarkan kakaknya tersebut ketika Rendra tidak fokus.
Dan kedatangan Satria membuatnya melupakan masalah yang sedang menimpa adiknya. Satria berhasil datang dengan beberapa barang. Ia membawa sosis dan bakso dalam jumlah yang besar. Juga beberapa kebutuhan bahan dasar seblak. Untuk sisanya, ia masih sedang mencari koneksi.
Tapi tak lama, karena malamnya pukul 7 Satria sudah langsung bisa membawa semua bahan yang lainnya yang belum ditemukan sebelumnya.
Rendra mengangguk puas menerima hasilnya. Satria sangat mampu bekerja pada kedainya. Juga mempermudah pekerjaannya yang kini tidak perlu lagi berkeliling pasar untuk membeli bahan.
Sekarang, cukup mengambil dari dapur dan langsung memakai bahan. Waktu tidurnya juga bertambah, istirahatnya juga akan lebih cukup dari biasanya.
Satria diberi uang sesuai dengan perjanjian upah yang Siska terapkan sebelumnya setelah ia memenuhi stok barang untuk satu bulan. Setelah menerima uang, Satria berterimakasih dan pergi meninggalkan kedai.
Barang-barang tidak langsung diangkat, karena menunggu semua pelanggan pulang lebih dulu. Agar tidak bertabrakan dengan pelanggan saat mengangkut barangnya.
Begitu saja, sampai pelanggan pulang dan barang diangkat, kedaipun tutup, kemudian Rendra dan lainnya menghitung uang bersamaan. Seraya makan malam, barulah Rendra mengatakan hal yang sebenarnya pada semua orang, perihal Uqi yang masuk rumah sakit.
*
__ADS_1
*