Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Ingin tahu satu rahasiaku?


__ADS_3

*


*


Malam tahun baru dilewati dengan suasana hangat setelah acara lamaran Darren pada Siska. Semuanya diselimuti suasana kegembiraan yang lekat. Dan semuanya bercengkrama dengan akrab. Bahkan Uqi, mengikuti Uni bermain kembang api, dan bersama-sama berlarian ketika kembang api mulai menyala.


Tawa dan obrolan malam tahun baru tersebut terasa benar-benar nyata. Siska sampai takut untuk tidur, karena takut yang di alaminya malam ini hanya mimpi belaka. Ia masih tidak percaya diri setelah terlahir kembali dan mengalami kebahagiaan berlipat ganda seperti ini.


Apa mungkin Tuhan sebaik itu padanya? Apa mungkin tidak ada kesulitan setelah kebahagiaan? Itu yang selalu Siska pikirkan setiap malam karena hari-harinya terasa senang.


Ia bahkan tidak sadar, jika semuanya merupakan balasan dari kehidupan sebelumnya yang membuatnya sengsara seumur hidup. Kebahagiaan hari ini adalah bayaran atas kesulitannya di masa lalu.


Karena tidak bisa tidur, Siska akhirnya berjalan keluar kamar dengan pelan. Uni dan Uqi, di sampingnya sudah terlelap. Semua orang masuk ke kamar pada pukul 2 pagi dan istirahat di kamar masing-masing.


Begitupula Darren, ia digiring ke kamar tamu oleh Sapta dan Rendra sesaat sebelum ia mau ikut masuk ke kamar Siska, haha.


Siska berjalan ke dapur, untuk menyeduh susu hangat agar dirinya bisa tidur lebih cepat jika sudah meminumnya. Tapi pikirannya berubah, setelah menyeduh susu, Siska berjalan ke halaman depan dan duduk di kursi, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


Merasakan heningnya malam, dengan menikmati segelas susu hangat. Ia merasa tenang, semilir angin menerpa tubuhnya, tapi tidak membuat Siska menyerah karena kedinginan. Ada gelas hangat di tangannya, jadi rasa dingin tidak terlalu terasa.


"Kenapa tidak tidur? Malah nongkrong disini?" Tanya Darren yang tiba-tiba datang, dan langsung menyampaikan selimut ke bahu Siska.


Siska tentu saja terkejut. Dia tiba-tiba datang, bahkan suaranya tidak terdengar sebelum ia berucap dan menyampaikan selimut.


"Kau membuatku terkejut!" Desis Siska mendelik.

__ADS_1


"Salahmu, yang melamun. Aku tadi bahkan menutup pintu sedikit kencang, masa tidak terdengar?" Tanya Darren tertawa.


Siska hanya mendengus, dan Darren akhirnya berjalan ke depan lalu mendudukkan dirinya sendiri di samping Siska. Kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Siska dan berbagi selimut dengannya.


"Aku senang. Terimakasih, sayang, sudah menerimaku.", Ucap Darren tiba-tiba, Dengan lirih dan lembut.


"Tidak, aku yang terimakasih, karena kau sudah mengeluarkanku dari kegelapan." Balas Siska.


"Apa maksudmu?" Tanya Darren bingung. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Siska lamat-lamat.


"Ingin tahu satu rahasiaku?" Tanya Siska seraya tersenyum penuh misteri.


*


Siska membongkar semua rahasianya pada Darren, ia juga tidak lupa menceritakan bagaimana dirinya sangat sengsara dulu di tahun sebelum ia terlahir kembali, sebelum ia diberi kesempatan kedua.


Ia bahkan bercerita, jika ia dan dua anaknya sempat mati kelaparan di tempat pembuangan sampah. Sesengsara itu Siska dulu.


Darren bahkan tidak bisa membayangkannya sama sekali. Siska menanggung beban sendiri, tanpa mau menghubungi orang tuanya karena sebelumnya sudah diperingati jika ia tidak boleh kembali kalau ia masih berhubungan dengan Aldo.


Siska bodoh. Dan Darren marah mendengarnya. Tapi, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa bukan? Ia juga tidak tahu dulu Siska setersiksa itu. Kaku dimana Darren pada saat itu? Entahlah ia sendiri juga tidak tahu.


Sekarang, ia hanya ingin menjaga dan melindungi wanita kuat yang saat ini sedang tidur di atas pangkuannya. Darren menatap dan mengusapi kepala Siska dengan lembut. Pikirannya penuh dengan pertanyaan dimana dirinya saat Siska sengsara dulu. Meski pada akhirnya tidak ada jawaban yang ia temukan.


Darren merasa bersalah, tapi Siska bilang bukan salahnya. Meski begitu, rasa tidak berdaya tetap ada pada dirinya. Jadi, Darren pun hanya bisa ikut merasakan kesedihan Siska waktu itu. Dan hatinya menjadi sangat sesak.

__ADS_1


"Kau sudah berusaha keras sampai saat ini, ke depannya, tolong percayakan semuanya padaku, ya? Aku akan menjadi penopang yang akan selalu mendukung, menjaga, dan melindungimu. Aku akan menjadi orang yang bisa kamu andalkan ke depannya. Aku akan menjadi orang yang selalu ada di sisimu, baik suka maupun duka. Jadi, ke depannya, berbahagialah Siska." Gumam Darren lirih, ia kemudian menunduk dan mengecup kening Siska lama, dengan tulus.


Di sisi lain, Ergan, lagi-lagi mengintip dan mendengarkan keduanya sejak awal. Ia bahkan lebih terkejut. Perasaan menggebu yang tadi ia rasakan berubah menjadi sendu dan sesak.


Rekaman video bahkan menjadi saksi jika Siska, memang benar-benar telah terlahir kembali, semua percakapannya terekam, karena sejak awal Ergan tidak menghentikan perekaman videonya ketika ia tertegun mendengar cerita Siska dari mulut Siska sendiri.


Ia terduduk di balik pintu. Dan menangis tanpa suara. Merasa tidak berguna karena telah membiarkan kakaknya hidup sengsara dulu, meski ia tahu jika keluarganya juga sangat kesulitan. Tapi, tidak ada yang lebih kesulitan jika semua berkumpul dengan sehat, bukan?


Jika dihadapi bersama-sama, semua kesulitan pun akan terasa tidak terlalu sulit pada akhirnya. Kenapa kakaknya bodoh sekali? Menjadi budak cinta Aldo si bajingan bahkan sampai membiarkan dua keponakannya dulu mati kelaparan, turut kakaknya juga ikut mati.


Harusnya, ia pulang saja. Kenapa ia tidak percaya pada keluarganya sendiri? Meski sudah diperingati, tapi apa kakaknya tidak mengerti maksud perkataan ibunya? Ergan pikir setelah mendengar perkataan Siska, ibunya berkata pergi pada Aldo bukan pada Siska semata. Siska masih bisa kembali tapi tanpa Aldo.


Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Sekarang sudah ada masa depan gemilang di dalam diri kakaknya, dan keluarganya. Semua orang hidup berkecukupan dan bersampingan, saling mendukung satu sama lain, saling menopang, menjaga dan menyayangi dengan tulus.


Tetangga bahkan semakin iri dan lebih banyak yang menjilat ayah ibunya kini. Tetangga menjadi ramah pada mereka semua, meski masih ada saja yang mencibir dan mengatasi keluarganya dari belakang karena iri dan ketidak mampuan mereka.


Ergan, menyudahi tangisnya. Ia kemudian bangkit dan berjalan gontai memasuki kamarnya, melewati Rendra yang baru saja keluar dari dapur, bingung sendiri melihat adik keempatnya terlihat sedih, matanya juga terlihat sembab.


Alhasil, Rendra mengikutinya sampai ke kamarnya. Dan ikut masuk menanyakan hal apa yang mengganggunya padahal tadi ia senang-senang saja. Ergan sendiri tidak sanggup menanggung rahasia sendirian, jadi ia memberikan rekaman video pada kakak pertamanya tersebut.


Respon yang pertama kali di perlihatkan Rendra adalah mengepalkan tangannya, menahan emosi yang mulai menyeruak dari dada. Matanya juga ikut berkaca-kaca, tapi Rendra lebih kuat dari Ergan. Ia bisa menahan tangisnya.


*


*

__ADS_1


__ADS_2