Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Kejutan(?)


__ADS_3

*


*


Siska menatap Darren yang saat ini sedang berdiri di depan semua orang. Di sampingnya ada Bu Wasilah juga yang sama-sama sedang berdiri dengan senyum lebar. Di sampingnya pula ada seorang lelaki paruh baya yang memimpin acara pembukaan toko milik Bu wasilah.


Selain itu, Siska mengedarkan pandangannya ke semua orang yang ada di depannya. Ya, Siska juga sama-sama berdiri di hadapan semua orang. Bedanya, ia duduk dengan Uni bersampingan. Tepat disebelah Darren. Jadi Siska menoleh ke sampingnya tadi.


Tapi, hei, apa yang terjadi sebenarnya? Maksudnya, kenapa pula dirinya disuruh duduk di depan semua orang? Siapa dirinya ini? Siska kebingungan sendiri saat ini. Tapi ia hanya bisa bertanya-tanya terus dalam pikirannya, tanpa bersuara. Ia hanya memasang wajah ramah dengan senyum kecil terpatri di wajahnya.


Diibaratkan, berbeda dengan hatinya, yang meringis tak karuan. 'Siapa aku? Dimana ini? Apa aku salah dikenali?' Ucap Siska dalam hatinya.


Tapi begitu ia menoleh dan melihat kembali wajah datar Darren, hatinya kesal bukan main. Kenapa dirinya diseret naik ke atas sini, padahal ia hanya tamu yang kelak akan bekerja sama, sama seperti kolega Bu Wasilah lainnya. Jadi, setidaknya, Siska harusnya ada di jajaran tamu yang duduk di bawah bukan di atas di depan pintu toko, kan?


Tapi entahlah, Siska tidak mengerti. Mari tanyakan hal itu nanti, untuk ke depannya mari tetap diam dan ikuti acara sampai selesai dulu saja.


Siska beralih melihat Uni, ia terlihat anteng sekali, memakan permen loli yang diberikan oleh Darren tadi. Sangat patuh, dan lagi, patuh pada ucapan Darren bukan dirinya. Padahal, siapa disini yang orang tua Uni? Tolong!


Tapi, lagi-lagi Siska menghela nafas, sudahlah, oke, terima saja nasibnya. Lagipula, tidak membuat Uni terluka, jadi biarkan saja pikirnya.


"Selanjutnya, mari ke acara inti! Pemotongan Pita! Kepada Tuan Muda, yang memang memprakarsai pembangunan toko dikabupaten ini, dipersilahkan." Ucap pembawa acara dengan semangat. Membuat Siska mengalihkan perhatiannya ke samping.


Ada seorang wanita yang membawa nampan berisikan gunting berpita di atasnya. Kemudian Darren membawa gunting tersebut, dan tanpa mengucap apapun ia langsung menggunting pita yang terpasang panjang. Sebab sebelumnya memang sudah berbadan basi.


Begitu pita terpotong semuanya bersorak dan bertepuk tangan, kemeriahan sangat terasa disana. Apalagi, ketika Bu Wasilah mengatakan jika orang yang berbelanja hari ini akan mendapat potongan sebanyak 10 persen. Juga ada beberapa buah tangan yang disiapkan olehnya untuk 1000 orang pertama.

__ADS_1


Alhasil, sorak Sorai semakin ramai. Dan semua orang menjadi bersemangat, beranjak dan bersiap memasuki toko besar milik Bu Wasilah. Lebih ke toserba, tapi dalam bentuk Giant.


Setelah dipersilahkan, semua orang pun masuk ke dalam. Dan beberapa ada yang langsung menghampiri Darren juga Bu Wasilah. Yakni para kolega yang mengobrol ringan sekedar basa basi.


Sedangkan Siska, akhirnya bisa menghela nafas lega. Karena pandangan mata orang-orang sudah tidak tertuju padanya lagi sebagian besar. Meski tadi memang tertuju pada Darren, tapi banyak pula yang menatap Siska. Membuatnya gugup sendiri.


"Uni sayang, ayo kita pulang. Kakak Uqi mungkin sudah menunggu." Ucap Siska, mengajak Uni dengan lembut. Ia bahkan sedikit berlutut menyamakan tingginya dengan Uni.


Siska tidak ada niatan berbelanja. Niatnya hanya menyelesaikan transaksi dan juga perjanjian kerja sama yang baru. Karena memang dirinya juga tidak bisa lama-lama meninggalkan rumah. Masih ada Uqi yang belum sembuh benar. Khawatir sendiri jika meninggalkannya terlalu lama.


"Kemana? Tunggu dulu." Ucap Darren yang sadar Siska sudah beranjak dengan menggendong Uni.


"Ada apa?", Tanya Siska dengan perasaan dongkol. Dirinya masih kesal, oke, dengan kejadian ia ditarik dan disuruh duduk di depan. Kini ia mau pulang, tapi masih disuruh menunggu? Mau apa lagi sebetulnya Darren ini.


"Aku antar." Ucapnya, kemudian memanggil orang, berbisik sebentar padanya dan kemudian orang tersebut pergi. Meninggalkan Darren dan Siska yang saling berhadapan kembali.


"Sudah aku suruh pergi." Balas Darren. Membuat Siska melebarkan kedua matanya.


"Kenapa kau suruh pergi, sih? Aku masih belum memperhitungkan masalah barusan oke? Tapi kau sudah menambah masalah baru? Apa maumu?!" Tanya Siska kesal, suaranya dipelankan karena ada beberapa kolega Bu Wasilah disana.


"Diam, patuh." Ucap Darren, tangannya tidak tahan, dan meraup wajah Siska yang menunjukkan kekesalan.


"Kau!" Geram Siska pelan. Tapi Darren menghiraukannya, ia berbalik memunggungi Siska, dan menyapa Bu Wasilah, yakni ibunya.


"Ma, aku antar Siska pulang dulu, selanjutnya Mama yang aturkan, boleh?" Ucap Darren, dengan nada lembut. Berbicara pada Bu Wasilah.

__ADS_1


Siska terbatuk kecil. Memang harus selembut itu? Betapa terkejutnya Siska, Si wajah datar yang kini membelakanginya sebaik ini pada orang tua? Siska kira, sifatnya akan sama saja dengan menghadapi orang lain.


"Antarlah, tadi mobil yang datang bersamanya sudah kau suruh pergi, bukan?" Ucap Bu Wasilah dengan nada yang membuat Siska ingin mendengarnya lagi.


Nada menggoda? Serius? Apa maksudnya?


"Siska, maaf ya, kami tidak sempat menjamumu dengan baik. Lain waktu, ayo makan bersama, oke?" Ucap Bu Wasilah beralih pada Siska yang masih menajamkan pendengarannya. .


"Ha? Oh, ya, t-tidak apa-apa. Masih banyak waktu, ke depannya juga akan ada kerja sama, pasti ada kesempatan bertemu lagi meski tidak sering." Balas Siska seraya tertawa kecil menanggapi Bu Wasilah.


"Baiklah, aku ingat ini sebagai janji ya. Kalau begitu, pulanglah dengan Darren, hati-hati dijalan." Ucap Bu Wasilah seraya mengusap bahu Siska lembut. Kemudian beralih pada Uni dan mencubitnya gemas. "Nenek punya sesuatu untuk Uni. Ini dia, nanti bagikan dengan kakakmu, oke, anak baik?" Lanjutnya seraya menyodorkan satu paper bag dengan berbagai macam camilan.


Siska lagi-lagi terkejut. Nenek? Oh, ayolah, apa yang terjadi? Siska meringis dalam hatinya. Juga, kakakmu? Maksudnya, Uqi kan? Sejak kapan Bu Wasilah tahu dirinya punya dua anak? Ah apa di restoran Adamas tempo hari Bu Wasilah melihat dirinya dengan anak-anak? Tapi, bukankah meja keduanya berjauhan, dan Siska juga tidak pernah menyinggung anak-anaknya pada bu Wasilah?


Siska menelan semua pertanyaan yang bersarang di otaknya. Ia bahkan sempat melirik Darren, untuk bertanya, tapi tidak jadi begitu melihat wajah datar andalannya.


"Baik, anggap saja begitu. Takut merepotkan, bukankah juga masih harus mengurusi pembukaan toko ini, Bu? Aku pulang dengan taxi saja, tidak apa-apa." Balas Siska dengan senyum lebar yang dipaksakan ramah. Padahal sesungguhnya tidak enak hati.


Siska menolak sekuat tenaga untuk berduaan saja dengan Darren, oke? Tidak baik untuk dirinya. Tapi, lagi-lagi gagal.


"Tidak, aku khawatir karena kau membawa Uni dan banyak uang, biar Darren saja yang antar. Nah, kebetulan mobilnya sudah datang. Kalian pergilah sekarang, hati-hati dijalan ya." Ucap Bu Wasilah dengan senyum ramah, merangkul Siska menuruni tangga dan mendekati mobil yang baru saja terparkir.


Siska diantar naik ke mobil. Sedangkan Darren berbicara dengan orang yang membawa mobil, kemudian memberikan kunci mobil pada Darren.


"Oh tidak, ini bahaya." Gumam Siska frustasi, begitu Darren menerima kunci mobil dan berpamitan pada bu Wasilah sebentar.

__ADS_1


*


*


__ADS_2