Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Belanja Bahan


__ADS_3

*


*


Begitu sampai di kedai, terlihat jika ibunya sudah datang dan sedang menata makanan di atas lantai di lantai dua. Uni juga sudah bangun, pun dengan Ayah, dan kakak keduanya yang sudah duduk dengan patuh. Sedangkan kakak pertama dan Santi tidak terlihat di tempat.


"Mama, kau pulang memasak tadi?" Tanya Siska seraya mendudukkan dirinya di samping ibunya.


"Benar, Mama pulang pukul 10, langsung ke rumah untuk membereskan rumah, dan memasak untuk makan siang. Santi dan Rendra juga ada di rumah tadi, keduanya sudah makan siang lebih dulu. Hanya saja, Rendra akan pergi lagi ke tempat temannya untuk mengambil cctv pesanannya pukul 2 nanti. Sengaja Mama suruh diam di rumah untuk istirahat dulu. Kalau pergi kemari lagi, pastilah dia tidak akan diam melihat kedai belum beres." Ucap Ibunya, menjelaskan secara rinci.


Siska menganggukkan kepalanya mengerti, pantas saja tadi ibunya tidak terlihat, padahal ke sekolah Ergan juga tidak terlalu lama jika membayar uang tunggakan saja. Jika begini, semua pertanyaan dibenaknya sudah lebih jelas.


Santi sendiri, sengaja di rumah karena Siska menyuruhnya untuk bertanya pada 3 gadis pengangguran lulusan sekolah menengah pertama yang kini umurnya sudah 19 tahunan. Menanyakan pada ketiganya apakah mau bekerja sebagai pelayan di kedainya atau tidak.


"Bagus juga, Ma. Kak Rendra memang belum istirahat dari kemarin. Bapak suruh pun malah tidak didengar, jadilah aku juga mau tak mau harus bekerja bersama kakak pertama yang keras kepala itu." Keluh Sapta, yang masih mengantuk. Ia kini sudah memegang piring berisi nasi. Sedangkan lauk pauknya masih belum ada, karena masih dituangkan oleh ibunya ke atas piring.


"Benar, benar, kakak pertamamu itu, Siska. Memang sulit dikasih tahu, dia tidak mendengarkan Bapak, betapa geramnya Bapak semalam? Tapi, ya, Bapak juga senang, karena dia berdedikasi pada kerjaannya, terlebih ini adalah milikmu." Ucap Ayahnya seraya tersenyum, lebih ke bangga pada kedua anaknya. Sedangkan Sapta hanya mendengus saja karena memang dirinya tidak melakukan apa-apa yang bisa membanggakan.

__ADS_1


Meski begitu, ia tak ambil pusing, juga biasa saja menghadapinya. Lagipula keluarga sendiri, apa sih yang perlu di iri dengkikan? Keluarga harmonis, baru diiri dengkikan oleh orang lain. Tidak ada tekanan dalam dirinya, selalu santai dan senang-senang saja.


Siska mengangguk dengan senyum lebar, senang dengan perilaku kedua kakaknya yang akur dan harmonis. Terlebih, keduanya menyayangi dirinya. Memang, dari dulu juga sudah begini. Tapi, semenjak keduanya menikah dan dirinya sendiri juga menikah, interikasi ketiganya menjadi semakin berkurang. Di kehidupan pertamanya, kondisi seperti inilah yang paling dirindukan oleh Siska. Keharmonisan keluarganya.


Semuanya langsung memakan makan siang masing-masing. Sesekali mengobrol, bercanda ria dan tertawa bersama. Sampai 20 menit berlalu, acara makan siang pun telah selesai.


Waktu menunjukkan pukul 1 siang. Jadi Siska bergegas pergi untuk mengambil uang di bank. Setelahnya Siska harus berbelanja untuk memenuhi kebutuhan dapur untuk esok hari. Pasti akan banyak sekali belanjaannya nanti.


Setelah berpamitan dan menitipkan Uqi juga Uni di tangan ibunya, yakni nenek keduanya. Siska kemudian pergi ditemani Sapta yang malas-malasan berjalan, karena memang dirinya masih sangat mengantuk, tapi malah disuruh mengikuti Siska untuk berbelanja di pasar oleh kedua orang tuanya.


Setelah menarik uang sebanyak 6 jutaan, Siska kemudian pergi ke pasar dengan berjalan kaki. Karena jaraknya juga dekat. Kedai ke bank butuh waktu sekitar 5 menit. Dari kedai ke pasar butuh waktu sekitar 3 menit sedangkan dari bank ke pasar butuh waktu lebih lama, yakni sekitar 7 sampai 8 menit.


Pertama-tama, Siska membeli bahan untuk pembuatan cappuccino cincau, menghabiskan uang sekitar 500 ribu, itupun dari dua kios. Memborong cincau dari setiap kios masing-masing 150 ribu. Sisanya 200 ribu adalah membeli kopi instan.


Yang kedua, Siska membeli bahan untuk pembuatan Sosis dan bakso bakar, menghabiskan lebih banyak uang, yakni sekitar 1 juta. Karena produk ini bisa tahan paling lama 3 hari, jadi Siska membeli banyak sekaligus, masing-masing produk berharga 500 ribu. Sekaligus berpuluh-puluh bungkus/pack.


Yang ketiga Siska membeli bahan-bahan untuk membuat Seblak, mulai dari berbagai macam perkerupukan, mie, tulang, ceker, sampai ke produk seperti cikhua dan dumpling yang dibeli sama-sama lebih banyak, untuk 3 hari. Lalu ia juga menambahkan beberapa produk laut seperti kerang dan gurita. Menghabiskan uang sebanyak 1 juta 500 ribu, karena produk laut lebih mahal harganya.

__ADS_1


Sedangkan bahan pertapiokaan, Siska hanya menambahkan masing-masing 10kg saja. Sebab dua hari kemarin ia sudah membeli bahan-bahan dan belum diolah. Jadi tinggal menambahkan saja sisanya. Sedangkan untuk macam-macam bumbu, Siska sengaja membeli masing-masing sebanyak 5kg. Seperti micin, garam, penyedap, bawang, dan lainnya. Hanya gula dan cabai saja yang dibeli lebih banyak yakni masing-masing 20kg. Karena kebutuhan keduanya lebih banyak, di beberapa produk yang dijualnya. Semuanya menghabiskan 1 juta 300 ribu.


Lalu untuk air putih, ia akan membeli beberapa galon sekaligus, dan untuk teh Rosella, ia hanya tinggal mengambilnya di rumah besok dan menyetoknya di kedai. Ia pikir, tidak perlu dijual di online lagi jika sudah ada kedai, tapi mungkin juga akan tetap mencobanya nanti jika sudah tidak sibuk.


Semua belanjaan menghabiskan uang sebanyak 4 juta 500 ribu, dihitung dengan membeli galon sebanyak 200 ribu. Sisa uang disakunya adalah 1 juta 500 ribu. Siska kemudian menyewa mobil pick up sebanyak 50 ribu saja karena memang kedainya sangat dekat. Untuk membayar papan nama sebanyak 500 ribu. Jadi sisa keseluruhannya adalah 950 ribu.


"Ah, menghabiskan uang memang sangat mudah." Keluh Siska setelah selesai berbelanja. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 kurang 15 menit. Keduanya juga sudah sampai di kedai dengan selamat.


"Kau gila, belanja gila-gilaan begitu, astaga. Aku tidak habis pikir, ah, tolong, aku ingin istirahat di atas." Ucap kakak keduanya seraya melambaikan tangannya.


Tapi Siska menarik tangannya, karena pekerjaan masih belum beres. Mobil pick up sudah datang, jadi ia masih harus membereskan belanjaannya ke dalam, memasuk-masukkan bahan yang harus ada di kulkas ke dalam kulkas, dan menata perkerupukan di atas wadah-wadah yang telah ia susun sebelumnya.


Sapta mengeluh, hampir menangis karena dipaksa kerja rodi oleh adiknya sendiri. Sedangkan Siska hanya bisa tertawa saja melihat kakak keduanya tersebut. Padahal saat ini Ayah dan ibunya juga membantu, bahkan Uqi dan Uni membantu mengangkat yang ringan-ringan. Jadi pekerjaan lebih ringan juga untuk kakak keduanya tersebut. Tapi tetap saja ia mengeluh.


*


*

__ADS_1


__ADS_2