
*
*
Siska termangu mendengarnya, ia tahu persaingan itu sengit, tapi kenyataannya lebih sengit dari yang ia pikirkan, pesaing bahkan sampai rela membayar pelayan yang bekerja disini dua kali lipat, hanya agar para pelanggan tidak tahan membeli disini.
"Licik sekali, mereka." Gumam Siska pelan, sebetulnya tidak sadar dengan ucapan yang keluar dari mulutnya.
"Memang, nona, jadi kau harus sangat berhati-hati kelak. Jangan sampai kau menjadi korban selanjutnya. Kau harus lebih pintar dari pemilik kedai sebelah." Ucap pemilik kedai yang masih bisa mendengar gumamanya.
Siska terkejut, dan sadar dengan gumamannya. Jadi sedikit malu ketika mendengarnya. Tapi tak begitu lama, karena orang yang dikatakan pemilik kedai, yang membawa dokumen perjanjian sudah tiba.
Siska menghela nafas lega, kemudian keduanya melakukan perjanjian, dengan menambah beberapa syarat dan akhirnya berhasil di tandatangani. Sudah sah menjadi pemilik kedai yang baru, dan Siska harus melunasi uang pembayaran dalam satu bulan.
Siska kemudian memberikan uang 20 jutanya pada pemilik kedai. Setelahnya, pemilik kedai memberikan kunci kedai sebagai balasan uang yang diberikan. Keduanya bersalaman dan Siska pun ditinggal sendirian di kedai.
Sepeninggal pemilik kedai, Siska segera menghubungi kakak pertamanya, menyuruhnya menghampirinya. Membuat kakak pertama yang memang sudah ada di rumah sejak makan siang berlangsung, langsung mengangkat sambung telfon yang masuk.
Setelah tahu apa yang Siska inginkan, iapun datang ke kedai, dengan semua orang. Bahkan Ergan, Geri dan Santi yang baru sampai rumah dengan belanjaan yang diantarkan, langsung ditarik lagi agar ikut pergi ke kedai.
Ketiganya bingung, karena tidak tahu menahu masalah pembelian kedai, jadi begitu di tarik awalnya bertanya-tanya tentang akan kemana mereka semua pergi kali ini. Tapi, begitu sampai di kedai, kebingungan ketiganya langsung berubah dengan perasaan takjub.
__ADS_1
Baru berpisah berapa lama, Siska sudah punya kedai sendiri Saja. Betapa hebatnya. Pikir ketiganya.
"Aku membeli kedai ini barusan, tapi dekorasi dan tata letak kursinya kurang menarik. Kakak pertama, apa kau punya referensi yang bagus? Apa aku bisa meyerahkan pekerjaan ini padamu?" Tanya Siska menatap Rendra dengan tatapan percaya.
"Aku memang bisa, tapi apa kau yakin ingin menyerahkannya padaku? Meski aku bekerja di perusahaan property, tapi aku ada di divisi marketing, adik ketiga." Ucap Rendra tak yakin.
"Aku tahu, tapi bukankah sebelum masuk perusahaan, kau sudah melayani orang-orang yang mau mendesain rumah? Aku ingat, itu sekitar 1 tahun yang lalu, bukan? Kau akhirnya berhenti karena pekerjaanmu disana sangat sibuk." Ucap Siska lagi, seraya menganggukkan kepalanya. "Aku percaya padamu, kakak pertama." Lanjut Siska tersenyum.
Meski satu tahun yang lalu, ia yakin dengan bakat sang kakak. Dia memang gemar pada bidang ini sebelumnya, sampai menggelutinya selama beberapa tahun. Tidak ada kuliah, kakaknya hanya lulusan sekolah menengah, tapi bakatnya benaran tidak membuat dirinya menyerah meski hanya lulusan sekolah menengah.
"Baik, serahkan padaku." Ucap Rendra mengangguk dengan yakin.
"Tapi, kakak pertama, apa dalam satu hari besok bisa dibereskan?" Tanya Siska lagi. "Kebetulan besok aku mau libur berjualan, harus mengantar Uqi ke sekolah dasar untuk mendaftarkannya." Lanjut Siska seraya tersenyum.
"Oh ya, aku butuh 4 meja persegi panjang dan wadah sejenis baskom, beli 50 an dulu saja untuk itu, jadi jika sewaktu-waktu butuh bisa dipakai, aku ada ide jualan baru. Lalu, beli juga.satu set alat panggang." Jelas Siska, seraya menuliskan kebutuhannya apa-apa saja. "Itu saja dulu, kak. Untuk lainnya mungkin menyusul saja kelak. Oh ya, ini uangnya peganglah dulu. 3 juta ini, apakah cukup kak?" Lanjut Siska bertanya.
"Sepertinya kelebihan, adik pertama." Ucap Rendra.
"Tidak apa-apa, jika lebih pegang saja dulu. Untuk berjaga-jaga takutnya ada kekurangan. Begitu saja, aku haru ke bank dulu." Ucap Siska tersenyum, kemudian dibalas anggukkan oleh Ergan. "Pak, Ma, Siska titip Uqi lagi, ya? Hehe. Aku harus ke bank dulu mengambil uang, Dan Ergan aku bawa, ya Pak, Ma." Ucap Siska beralih pada Ayah dan Ibunya.
"Ya, pergilah sibuk dulu, Uqi dan Uni akan sangat senang main di tempat baru ini." Ucap Ayah dan Ibunya.
__ADS_1
Siska menganggukkan kepala, "Uqi, Uni sayang... Ibu pergi dulu oke? Kalian bermainlah disini dengan kakek dan nenek. Yang patuh, ya, turuti apa kata kakek dan nenek." Ucap Siska seraya mengelus kepala Uqi dan uni.
Uqi dan Uni tersenyum, Uqi mengangguk patuh, sedangkan Uni awalnya tidak ingin ditinggal, tapi setelah Siska memberitahu jika di lantai atas akan menyenangkan, jadilah keduanya pergi dengan kakek dan neneknya, tidak lagi mengobrol dengan Siska.
Siska tersenyum melihat kedua anaknya yang patuh, "Kalau begitu kakak pertama, kakak ipar, Geri, kami pergi dulu. Aku percayakan kedainya pada kalian ya. Juga, Ergan, ayo pergi." Ucap Siska, mengajak Ergan yang langsung menganggukkan kepalanya menurut.
Keduanya pun pergi dan langsung ke bank, setelah selesai menarik uang sebanyak 15 juta, Siska tidak langsung pulang ke kedai, tapi mengajak Ergan ke dealer motor. Membuat Ergan bertanya-tanya tentangnya.
"Kak?" Panggil Ergan lebih ke bertanya satu hal.
"Betul, aku akan membeli motor. Untuk kita, tapi nanti kita juga akan membuat SIM untukmu. Kau bawa ktpmu kan?" Tanya Siska tersenyum.
"Kak, tidak perlu, jangan buang-buang uang." Ucap Ergan menolak mentah-mentah ide dari kakaknya ini.
"Aiyoo, aku beli ini karena butuh juga, tahu. Sementara motor dulu, jika sudah cukup uangnya, kita beli mobil agar sekeluarga bisa naik semua. Lagipula, motor ini, agar kau bisa mengantar jemput Uqi sementara aku sibuk di kedai, sewaktu-waktu, kedai juga pasti ada kalanya butuh bahan darurat yang habis di dapur. Jika ada motor ini, maka akan lebih mudah bukan?" Ucap Siska tersenyum.
"Kalau begitu, atas nama kakak saja. SIM nya juga, aku kan pulang pukul 3 sore kak, Uqi paling-paling pulang pukul 12 siang." Ucap Ergan bingung.
"Aiyo, tidak apa-apa, jam 12 siang, aku bisa mnejemputnya. Lagipula itu sudah waktunya istirahat, jadi bisa saja." Ucap Siska tersenyum. "Sudah, ayo jangan bicara lagi. Waktu terus berjalan. Kita masih harus membuat SIM, setelahnya masih harus membuat papan nama untuk kedai." Lanjut Siska.
"Kalau begitu, buat SIM dulu saja, kak. Jadi kita bisa langsung memakai motornya begitu SIM sudah jadi." Ucap Ergan membuat Siska membetulkan idenya. Setelahnya, keduanyapun berbalik dan pergi ke tempat pembuatan SIM menggunakan angkutan umum.
__ADS_1
*
*