
*
*
Disisi lain, di pintu masuk yang sedikit terbuka, terlihat 4 orang laki-laki yang mengintip Darren dan Siska dari awal sampai akhir. Ketiga dari laki-laki tersebut, tersenyum lega setelah melihat hubungan keduanya akhirnya menjadi lebih serius.
Sedangkan satu orang lainnya, memasang wajah jelek. Ia tidak suka melihatnya. Malah mendengus sebal ketika Darren berinisiatif mencium Siska. Siapa lagi jika bukan Sapta? Memang paling protektif, Sapta masih kesal jika melihat Darren dekat dengan Siska, meski memang Siska yang awalnya mengecup Darren.
Adapun Rendra, Ergan, dan Suherman, Ayahnya, tersipu dan cekikikan pelan melihat kelakuan Siska. Ergan apalagi, kameranya selalu menyala jika sudah melihat Siska dan Darren.
Di ponselnya sudah ada beberapa file video, yang Siska tidak tahu adalah file tersebut disembunyikan dengan cermat, jadi setiap kali Siska melihat ponselnya, Siska tidak tahu ada videonya dan Darren. Tunggu dan lihat nanti, Ergan akan memperlihatkannya pada keduanya di hari special keduanya!
"Sudah, sudah ayo pergi." Ucap Suherman mengajak ketiga anaknya meninggalkan ruang istirahat yang ditempati Siska. Membuat ketiganya mengikuti Suherman pergi.
Awalnya, Darren bertanya pada Satria yang sedang berkumpul dengan keluarga Siska tentang keberadaan Siska. Kemudian, Ergan inisiatif mengikuti Darren pergi beberapa menit setelah Darren, agar dirinya tidak ketahuan. Tapi, siapa sangka, ternyata Ayah dan kedua kakak laki-lakinya malah mengikutinya pergi dan berakhir mengintip Darren yang meninggalkan pintu dengan sedikit terbuka.
Tasty Treats sudah tutup ketika pukul setengah 5. Jadi, semua orang sedang menganggur, mengakibatkan beberapa orang penasaran dengan kehidupan cinta anak, kakak dan adiknya. Tapi hanya para lelaki, para perempuan menghela nafas, menggelengkan kepala melihat kelakuan keempat laki-laki yang pergi. Kecuali Geri, yang memang cuek pada sekitarnya.
Yang tertinggal memilih untuk diam, mengistirahatkan tubuhnya yang masih lelah, setelah menghadapi begitu banyak manusia. Baik di dapur, di kasir, maupun yang duduk di meja dan memesan pada pelayan.
Stok bulanan yang seharusnya cukup untuk satu bulan, ludes di hari pertama pembukaan. Membuat Satria lebih menghubungi para distributor dan menyuruhnya mengirim kembali stok malam itu juga.
Tidak ada pilihan lain. Lagipula, meski tidak sesuai perjanjian bulanan, para distributor yang mensupply bahan di Tasty Treats tentu senang mendengarnya. Tidak perlu menunggu waktu lama untuk mengumpulkan dan mengirim bahan lagi.
__ADS_1
Stok bahan satu bulan, pembelian mencapai sekitar 700 juta. Karena di ibukota harga relatif lebih mahal, tapi karena membeli langsung di distributornya, Satria mendapat harga terendah yakni 700 juta keseluruhan. Ini adalah harga yang bagus, jika dibandingkan dengan melihat data pengadaan barang restoran lainnya yang bisa mencapai lebih dari 700 juta. Apalagi, restoran ini membeli makanan laut, jadi memang termasuk bagus.
Meski begitu, meski harga barang lebih mahal, satu makanan juga dijual dengan harga yang relatif lebih mahal. Selain itu, harga 25ribu juga sudah mengambil banyak untung sebanyak 10ribu per makanan. Kecuali minuman sekitar 7-8ribu.
Di lantai satu dan dua ada 11 menu yang berbeda termasuk minumannya, sedangkan di lantai 3 ada keistimewaan dengan disediakannya seafood dengan ukuran yang besar.
Disetiap Lantai ada kasir dan pelayannya masing-masing, jadi Satria juga mudah ketika melihat laporan keuangan yang terlihat hari ini. Dari komputer di meja kasir.
Lantai satu mendapat sekitar 500 juta. Lantai dua mendapat sekitar 800 juta, dan lantai tiga, mendapat sekitar 500 juta juga. Karena tidak banyak yang rela makan di lantai atas. Hanya ada sekitar 4 keluarga yang masuk ke lantai 3.
Setiap lantai hanya mendapat setengah dari pendapatan. Karena setiap menu hari ini mendapat diskon sesuai ketentuan. Baik di lantai 1, 2, dan 3.
Jumlah keseluruhan pendapatan adalah sekitar 1.8M. Dikurangi harga stok bahan adalah sekitar 700 juta, tambah 100 juta untuk kebutuhan lainnya. Tersisa 1M hari ini untuk keuntungan.
Satria mendadak kagum pada Siska. Majikannya ini sudah pasti akan menjadi orang kaya di masa depan. Sudah pasti. Dan Satria malah merasa bersyukur bekerja di bawah Siska. Tidak sombong, baik, dan tidak perhitungan sama sekali. Bahkan Satria sering diberi bonus lebih oleh bosnya tersebut.
Setelah selesai melihat, Satria kemudian membereskan semua file dan mengirimnya pada Siska lewat aplikasi pesan. Selain itu, Satria yang sebelumnya telah siap dengan keadaan dan membuatkan buku rekening khusus, mengatakan pada Siska jika sebagian uang ada ditangannya, gepokan. Di rekening ada sekitar 860juta, karena kebanyakan di lantai 2 dan 3 tidak membawa cash dan memilih membayar menggunakan kartu, meski sisanya masih banyak yang membayar cash.
Siska yang saat ini, masih di dalam ruangan, terengah dengan kening saling menempel, tidak terganggu sama sekali dengan dering notifikasi dari ponselnya.
"Kau gila!" Umpat Siska dengan mata melotot, dan nafas terengah. Dirinya kehabisan nafas, tapi Darren tidak kunjung melepasnya. Baru ketika Siska memukul dadanya, Darren melepaskannya.
"Aku, maaf, haha, hanya terlalu terbawa suasana." Balas Darren seraya terkekeh. "Tapi boleh dilanjut tidak?" Lanjutnya bertanya.
__ADS_1
Siska mendorong Darren, membuatnya seketika termundur karena tidak siap menahan diri. "Pergi sana!" Usir Siska kesal.
Bukannya marah, Darren malah tertawa geli. "Kesal? Apa aku salah ingat, ya, ketika kau melenguh pelan menikmatinya?" Gumam Darren pura-pura bertanya pada dirinya sendiri.
"KAU CABUL TUA! BISA DIAM TIDAK?!" Teriak Siska dengan wajah yang memerah. Menatap Darren dengan mata tajamnya. Ia malu, tapi ia juga kesal, oke.
Darren merasakan sinyal bahaya, segera berlari meninggalkan ruangan secepat kilat, dengan tawa yang mengalun.
"MAU PERGI KEMANA KAU?!" Teriak Siska mencoba membuka pintu tapi pintu di tahan Darren yang masih tertawa renyah.
Ah, sudah lama sejak ia tertawa lepas. Kenapa rasanya juga sangat menyenangkan? Ia juga sebetulnya tidak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulutnya barusan.
Ternyata dirinya juga punya sisi yang begitu, menggoda Siska dan membuatnya marah, selain suka melihat ekspresinya, tapi perkataannya padanya tadi memang diluar prediksi dirinya sendiri. Darren tidak ada niatan apapun untuk mengatakan hal tersebut. Itu refleks diri.
"Darren, buka tidak?!" Pekik Siska dari dalam ruang istirahat.
"Tidak mau, nanti kau memukulku, ah! Bahkan sudah terasa sakit sekarang, padahal kau masih di dalam." Ucap Darren seraya bergidik ngeri.
Siska menghela nafas, "Sudahlah, tidak mengejarmu lagi. Buka pintu, aku lapar, sudah tidak ada tenaga untuk memukulmu." Ucap Siska kemudian. Ia meraih ponsel di atas meja dan mengetuk pintu pelan.
Mendengar ucapannya, Darren mengangguk meski ragu, tapi ia percaya, Siska memang belum makan sejak siang, sampai saat ini. Tidak takut dipukul, ia lebih takut Siska sakit. Akhirnya, pintu pun dibuka. Siska keluar dengan senyum kecil, dan Hap! Jeweran langsung mendarat di telinga Darren. Membuat Darren menyesali perbuatannya. Haha.
*
__ADS_1
*