Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Memutar balikkan Fakta


__ADS_3

*


*


Uqi sudah lebih tenang, tapi ia tak tega meninggalkannya sendirian di ruang keluarga dengan Uni. Apalagi Ayahnya dan Darren masih di depan, entah apa yang mereka lakukan, tapi suara teriakan ibu mertuanya masih terdengar nyaring sampai ke dalam rumah.


Alhasil, Siska membawa Uqi dan Uni ke dapur, dengan begini, suara pekikan dari luar tidak terlalu terdengar karena dapur berada di paling ujung rumahnya.


Siska mendudukkan Uqi di lantai dengan Uni, dengan masing-masing camilan. Keduanya bermain dengan senang, meski Uqi masih belum bisa bergerak banyak karena kepalanya yang akan terasa sakit.


Uni juga, seolah mengerti keadaan kakaknya, ia sesekali selalu memerhatikan kepala kakaknya yang diperban. Juga memerhatikan raut kakaknya, takutnya meringis kesakitan.


Tapi begitu melihat baik-baik saja, keduanya melanjutkan bermain dengan senang. Sudah lama sejak main berdua, Uni dan Uqi juga rindu momen-momen ini. Apalagi Uqi, disibukkan dengan sekolahnya. Dan Uni yang selama ini main sendirian.


Melihat kedua anaknya anteng, Siska kemudian kembali melanjutkan masakannya. Tadi ia sedang menggoreng ayam. Ayam belum matang, kompor sudah dimatikan, alhasil, kini ia kembali menyalakan kompor. Ayam sudah masuk jadi Siska tak ambil pusing melanjutkannya saja.


Meski minyak mentah, tapi nanti juga panas. Lagipula, ayam digoreng lebih dulu sebelum akhirnya akan dibumbu kecap. Jadi minyak mentah tadi tidak akan terlalu tercium dan terasa.


Selain ayam, Siska juga memotong 2 jenis bawang, yakni bawang putih dan bawang merah. Tak lupa tomat juga cabai. Sekalian membuat sambal, untuk teman makan tumis kangkung yang dimasaknya. Juga ada tahu dan tempe goreng.


Masakan sederhana, cukup empat macam saja, karena Siska tidak bisa berlama-lama membiarkan Uqi duduk. Ditakutkan rasa pusingnya kembali jika dibiarkan duduk terlalu lama. Karena memang belum sembuh benar.


Meninggalkan Siska dan kedua anaknya, beralih pada Suherman dan Darren yang saat ini masih bersitegang dengan Aldo juga ibunya.


"Jangan tidak tahu malu, aku kemari mau mengunjungi cucuku. Niat baik ini, kalian malah melarangnya? Apa kalian manusia? Cucu sendiri bahkan dilarang bertemu neneknya?" Tanya Ibu Aldo kesal, mengedikkan dagunya naik, menambah kesan songong.


Selain keempatnya, ada beberapa tetangga yang melihat kejadian tersebut. Seperti biasa, karena penasaran mereka berkumpul untuk melihat keramaian di rumah Siska.


"Bagaimanapun, hubungan darah tidak bisa diputuskan. Darah lebih kental dari air, ingat?" Timpal Aldo, setelah ibunya menyenggol dirinya agar ikut bersuara.

__ADS_1


"Ya, ya, darah lebih kental dari air! Jadi kalian tidak bisa seenaknya mengusir kami!" Lanjut ibu Aldo kembali menimpali ucapannya anaknya.


Darren tersenyum sinis, begitupula Ayah Siska yang sudah sangat jengah mendengar suara menyebalkan di depannya.


Apa katanya tadi? Darah lebih kental dari air? Cih! Mereka bahkan berani membuat Uqi terluka, dan membuat Uqi ketakutan. Tapi berani-beraninya mereka bilang seperti itu pada keduanya?


"Kau orangtua busuk! Keluarga Siska sudah sukses baru mau mengakui hubungan darah?!"


"Dia pikir dia siapa? Bodoh sekali berbicara begitu."


"Tidak tahu malu!"


"Haha, benar-benar deh!"


Ucap beberapa tetangga mencibir, membuat Ibu Aldo geram mendengarnya.


"Cepat, biarkan kami masuk!" Titah ibu Aldo pada Suherman, Ayah Siska. Tidak memedulikan ucapan tetangga yang mencibirnya.


"A-apa? Kau yang tikus! Seluruh keluargamu tikus!" Pekik ibu Aldo tidak terima dikatai tikus.


"Baik, kalian manusia mulia tidak pantas bertemu dengan kami tikus-tikus kecil. Jadi silahkan pergi, jangan biarkan tikus tua ini menggigitmu, oke?" Ucap Suherman dengan senyum dipaksakan.


"Kau orang tua bau tanah!Sudah berumur bukannya bersikap dewasa! Jangan keterlaluan, kami berniat baik, cepat pertemukan aku dengan cucuku!" Kekeh ibu Aldo, malah beralih menghina Suherman setelah kalah telak dipembicaraan sebelumnya.


"Hei, orangtua, apa kau butuh cermin? Mau aku ambilkan?" Tanya Darren, mulai angkat bicara.


Mengatai Ayah Siska bau tanah, astaga, dia tidak berkaca. Wajahnya bahkan terlihat lebih tua dari Ayah Siska. Apalagi dandanan menornya, ini. Sudah macam badut yang berkeliling meminta saweran di jalan.


"Diam, kau! Orang asing juga berani menggangguku bicara?!" Sinis ibu Aldo. "Eh benar, kau ini siapa? Jangan-jangan selingkuhan Siska?!" Lanjutnya menuduh dengan raut menyebalkan.

__ADS_1


"Jaga ucapanmu, orang tua bau! Jangan asal menuduh! Yang berselingkuh bukankah anakmu? Dengan siapa? Ah, anak kepala desa yang KAYA RAYA." Sindir Suherman menekankan kata kaya di depan wajah Ibu Aldo. Membuat wajah Aldo mulai memerah, malu. "Oh ya, jika kau mau menyangkal boleh saja, kami punya buktinya, jadi kami tidak akan takut!" Lanjut Suherman berdesis tajam.


"Apanya yang selingkuh?! Lagipula, mereka kan sudah bercerai, jadi wajar saja anakku memiliki yang baru, kan?!" Pekik ibu Aldo lagi.


Suherman tertawa, jelas sekali orang di depannya ini bodoh. Terlampau bodoh. Malas meladeninya lama-lama bukan? Perdebatan tidak akan pernah selesai. Apalagi ibu Aldo selalu saja memutar balikkan fakta tanla tahu malu dengan ucapannya yang sebelumnya.


Aldo sendiri sudah sangat malu mendengar perkataan ibunya. Ingin sekali menariknya pergi dari rumah Siska, tapi apa daya, kekuatan ibunya termasuk kuat dengan tubuh besarnya tersebut.


Menuduh selingkuh, padahal anaknya sendiri yang selingkuh. Ketika Suherman membalikkan perkataannya, ia mengelak dengan keduanya sudah berpisah. Lalu, kenapa tadi ia menuduh Siska berselingkuh? Benaran bodoh, bukan?


"Keamanan di desa kemana? Tidak lihat ada dua orang yang mengganggu ketertiban disini? Seret saja keduanya, usir." Pekik Suherman membuat beberapa warga langsung bertatapan, kemudian muncul dua keamanan yang hari itu berjaga dan sudah ada di tempat untuk berjaga-jaga Pun dengan pak kepala desa yang sedari tadi menonton seraya mengawasi keadaan.


Begitu Suherman berteriak, kepala desa yang sebelumnya sudah diberitahui tentang kekacauan dan berdiam di sana menonton seraya mengawasi, langsung menyuruh dua keamanam disampingnya bergerak.


Keduanya menuju halaman rumah Siska. Dan langsung menangkap Aldo juga Ibunya.


"Brengsek! Jangan pegang aku! Aku bisa pergi sendiri!" Teriak Ibu Aldo meronta, minta dilepaskan. Pun dengan Aldo.


Membuat dua keamanan melepaskannya dengan terpaksa, karena jika tidak, keduanyalah yang akan terluka karena jatuh.


"CIH! Ini semua belum selesai!" Desis Ibu Aldo kemudian pergi meninggalkan halaman rumah Siska dengan diikuti Aldo di belakangnya yang tidak banyak bicara.


Suherman menggelengkan kepalanya, kenapa bisa ia mempunyai besan yang tidak tahu malu dan bodoh sepertinya? Benar-benar sial sekali. Selain tidak tahu malu dan bodoh, ia juga terlihat seperti badut. Memuakkan!


"Kepala desa, maaf merepotkan mu. Terimakasih sudah mengawasi kami. Juga para tetangga, semuanya sudah selesai, terimakasih, silahkan membubarkan diri." Ucap Suherman seraya menyapa semua orang yang menonton.


Setelahnya ia menghela nafas, dan menepuk lengan Darren untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah.


Keduanya tidak bisa asal memberi pelajaran, di tahun 2010 ini, hukum sudah sangat berlaku dengan baik. Jadi, harus berhati-hati dan memikirkan rencana dengan baik. Tidak bisa dilakukan seperti barusan.

__ADS_1


*


*


__ADS_2