Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Darren Siska Moment


__ADS_3

*


*


Manajer berbasa basi sebentar sebelum akhirnya menyerahkan kunci pada Siska. Kemudian ia meninggalkan Siska dan keluarganya setelah menyapa dan pamit pada semuanya.


"Kakak benaran rumahmu!" Pekik Ergan tertahan.


"Tentu saja, jika bukan rumah siapa memangnya ini?Aih, lagipula sejak kapan aku sanggup membohongi kalian." Balas Siska. "Baiklah, ayo, mari masuk. Semuanya sudah ditata juga di dalam. Jadi, tinggal masuk dan istirahat." Ucap Siska.


Hari juga sudah mulai gelap. Jadi keluarganya juga pasti sangat lelah sekarang.


"WOW! Begitu besar, macam istana!" Pekik Geri semangat.


Uqi bahkan sangat senang, ia sudah menggandeng Uni dan berjalan bersamaan masuk ke dalam rumah baru.


Ergan sendiri, masih di luar. Kamera ponselnya sudah on, merekam seberapa luas halaman depan rumah barunya. Bahkan ada air mancur di tengah halaman. Selain itu, Ergan merekam semua tanpa kecuali. Ia juga merekam satu persatu wajah keluarganya yang memang terlihat tampan dan cantik semua.


Dan yang paling penting adalah Darren. Dia adalah daya tarik paling menonjol disini. Ia juga ikut masuk, membuntuti Siska sejak saat turun dari mobil.


Begitu masuk, Ergan langsung ke dalam, ruang tengah, ruang keluarga, dapur, dan kamar-kamar lainnya yang terdiri dari 6 kamar lantai satu dengan kamar mandi di masing-masing kamar, kemudian lantai dua rumah ada 7 kamar dengan tambahan ruang kerja dan ruang belajar yang besar.


Ergan benaran me review rumah barunya kali ini. Siska juga tidak keberatan. Asal semuanya bahagia saja. Lagipula, sebelumnya Ergan memang ada konten review rumah lama ke rumah baru. Juga dua kedai dulu di review Ergan. Tidak masalah tambah satu lagi. Ah, restoran baru juga akan di review besok sebelum pembukaan pukul 9 pagi.


Pukul 7.30, Ergan telah selesai merekam semua bagian rumah. Tapi tidak semua terekam seperti halaman belakang, samping yang ada kolam renang, juga gudang, tidak perlu, kamar juga hanya satu kamar saja yang di review sisanya tidak, Ergan terlalu lelah untuk menunjukkan semuanya. Rumah baru yang dibeli Siska sangat besar meski hanya ada 2 lantai. Setiap lantai sangat luas.


Tanpa di edit, Ergan langsung memposting kontennya. Dengan judul konten Rumah Baru, No edit.


Ergan kemudian menutup ponselnya dan bergabung untuk makan malam dengan yang lainnya. Siska lupa tidak menyiapkan makan, tapi Darren dengan cepat memesan makanan di layanan pesan antar.


Kemudian karena semua kelelahan, Siska pun mengizinkan semua orang memilih kamar masing-masing. Dan segera, semuanya beristirahat.


"Kau tidak pulang?" Tanya Siska pada Darren yang masih duduk di meja makan. Hanya sisa mereka berdua. Bahkan Uni sudah ikut Uqi tidur di kamar barunya.

__ADS_1


"Tidak bolehkah aku menginap juga?" Tanya Darren menatap Siska, "Terlalu lelah untuk pulang, jauh dari sini." Lanjutnya.


Siska menghela nafas. Siska bahkan tidak menyuruhnya untuk ikut kemari bukan? Sudah tahu jauh, kenapa pula malah membuntuti dirinya sejak siang. Seperti pengangguran yang tidak ada kerjaan saja.


"Menginaplah, kalau begitu. Tapi besok acara pembukaan Restoran. Kau tidak bawa baju, bukan?" Tanya Siska.


Darren adalah penanggung jawab pembangunan, tentu saja ia juga akan ikut merayakan. Meski bukan, ia juga pasti akan ikut tanpa diundang.


"Ada Sahni, besok ia akan membawakannya kemari." Ucap Darren enteng.


"Bukankah katamu nona Sahni sudah menikah dan punya anak? Dia pasti sibuk di pagi hari. Apa tidak ada orang lain di perusahaanmu itu yang bisa kau suruh? Jangan merepotkan nona Sahni terus menerus." Omel Siska.


"Tidak apa, jika Sahni tidak bisa, suaminya yang akan menggantikannya datang kemari." Balas Darren.


"Hm? Maksudmu? Kenapa suaminya ikut bertanggung jawab atas dirimu?" Tanya Siska tak paham.


"Asisten pribadiku adalah suaminya, Sahni barulah sekertarisku." Ucap Darren.


Ia masih harus menanyakan tentang koki pada Satria, jadi masih belum beres. Takutnya kokinya memang tidak ketemu. Jadi, besok para kakak bisa membantunya di dapur. Yah, meski Siska ingin keluarganya bersantai saja besok, menikmati menu yang ada.


Sedangkan Darren yang ditinggalkan Siska, diam-diam tersenyum. Siska bicara panjang lebar barusan padanya. Bukankah ia menunjukkan perhatiannya padanya? Haha, mulutnya benaran tidak bisa menahan senyum kali ini.


Tapi segera, ia terbatuk dan mengendalikan kembali ekspresinya seperti semula. Kemudian mengikuti Siska, dan duduk di samping Siska yang sedang menelpon Satria.


"Hm'm, maaf menghubungimu di waktu istirahatmu.", Ucap Siska tak enak. Ia berbicara dan menatap Darren tajam karena ia malah mendudukkan dirinya di samping Siska. "Jadi bagaimana keadaannya? Cukup lancar? Bagaimana dengan koki?" Tanya Siska.


Darren menatap Siska lekat, dan Siska kesal sendiri, jadi tangannya meraup wajah Darren langsung. 'Jangan melihatiku!' Ucap Siska tanpa suara, tak lupa mata tajamnya.


Tapi Darren malah sengaja, ia mendekatkan kepalanya ke wajah Siska membuat Siska memekik terkejut, dan memundurkan kepalanya.


Di sebrang telfon, Satria bertanya keadaan Siska tapi Siska hanya bisa menjawab, "A-ah, tidak apa-apa, ada serangga besar di depan wajahku barusan." Balas Siska. "Tadi apa katamu? Maaf barusan aku tidak mendengarkan." Lanjutnya tidak enak.


Satria menjelaskan keadaan diseberang, dan Siska mengabaikan Darren. Membuat Darren mendengus, "Aku mengantuk." Ucap Darren dengan suara beratnya. Kemudian dengan sengaja menyandarkan kepalanya ke pundak Siska.

__ADS_1


Membuat Siska melotot, "Kau!" Ucap Siska tertahan.


Satria yang mendengar suara Darren, langsung paham, serangga yang dimaksud Siska ternyata bos dari Wistara tersebut. Ia sempat tertawa, kemudian berpamitan dan menutup telfon dengan cepat. Tidak ingin mengganggu dan menunda waktu keduanya.


Siska yang disalah pahami, sedikit memekik pada Satria tapi terlambat, karena telfon sudah mati. Kemudian kekesalannya beralih pada Darren.


"Tidak bisakah kau berperilaku normal?" Tanya Siska, mendengus kasar. Ia memindahkan kepala Darren agar tidak menyenderkan ya lagi di bahunya.


Darren menatap Siska dengan wajah mengantuk, membuat Siska tergelitik, itu sedikit lucu, tapi ia tidak akan kalah. Ia sedang kesal, karena diganggu dalam pekerjaan.


"Pergi ke kamar, oke. Aku bukan kasur!" Dengus Siska, kemudian pergi meninggalkan Darren yang terlanjur malas bergerak, dan membaringkan tubuhnya di sofa. Terlelap.


Siska tidak tahu Darren tidur di ruang tengah sampai ia terbangun pukul 1 dini hari, ia lupa tidak membawa air minum ke kamar, menyebabkan dirinya mau tidak mau harus bangun dan pergi ke dapur.


Ia melewati ruang tengah, tapi memundurkan langkahnya begitu sudut matanya menangkap sesuatu.


Siska kemudian menghela nafas begitu melihat Darren di sofa. Apa dia tidak punya akal? Besok hari yang sibuk, bagaimana jika tubuhnya sakit nanti.


Jadi Siska membangunkannya, dan menyuruhnya pindah ke kamar. "Bangunlah, pindah ke kamar, jika kau tidak mau tubuhmu sakit besok." Ucap Siska, tentu akan sakit, bahkan maki panjang Darren menggelantung, sofa lebih pendek dari tinggi tubuh Darren.


"Hmm." Gumam Darren. Terbangun sebentar, tapi ia menggeleng pelan. Tidak ingin pindah dari sofa, karena terlalu malas. Ia sudah nyaman disana.


Tapi Siska memaksa, jadi ia menarik tangan Darren agar terbangun. Bukannya Darren bangun, tapi Siska yang malah ditarik, dan akhirnya menimpa Darren.


Siska melebarkan matanya, sungguh keadaan canggung macam apa yang dihadapinya saat ini, bahkan jantungnya berdebar gila.


"Lepas, Darren." Bisik Siska tertahan.


Tapi Darren memanfaatkan keadaan dan memeluk Siska. Ia tersenyum samar, "5 menit, tidakkah kau rindu aku?" Ucap Darren pelan. "Meski kau tidak, aku yang rindu." Lanjutnya.


*


*

__ADS_1


__ADS_2