Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Berangsur Pulih


__ADS_3

*


*


2 hari berlalu, Siska yang selama 2 hari di rawat tidak kunjung membuka mata setelah demam tinggi di malam hari, kini akhirnya berangsur-angsur mulai meulihkan kesadarannya. Meski selama dua hari ini Siska bergantung pada suntikan obat penurun demam, dan infus yang menopangnya.


Suhu tubuh juga sudah menurun menjadi 37 derajat. Meski masih sedikit tinggi, tapi lebih baik daripada 2 hari ke belakang. Siska membuka mata meski dirinya masih sangat lemah.


Satu hal yang pertama kali ia lihat adalah keberadaan Darren. Yang tertidur di samping tempat tidurnya, dengan tangan menggenggam tangannya.


Siska menggerakkan jarinya, tidak berbicara karena ia benar-benar merasa lemah, merasa sangat tidak nyaman saat ini. Tangan yang digerakkan juga terlihat bergerak kecil. Tapi karena Darren menggenggamnya, gerakan sekecil itupun masih sangat terasa.


Darren bangun, membuka mata dengan refleks ketika merasakan gerakan. "Siska, sudah bangun? Akhirnya...", Ucap Darren dengan perasaan lega.


Ia dengan cepat memberi Siska minum, dan kemudian memeluknya pelan. Senyumnya tidak pernah pudar sejak Siska membuka mata. Berbeda dengan Siska yang mengangkat bibir untuk tersenyum pun rasanya sulit.


"Sebentar, aku panggil Dokter untuk memeriksa mu dulu." Ucap Darren, ia mengecup punggung tangan Siska sebelum akhirnya keluar dari ruang rawat.


Ia sendirian, Bu Arum Darren suruh pulang untuk membawa baju ganti untuk Darren yang selama dua hari ini enggan pergi kemana-mana. Bahkan untuk makan pun Bu Arum yang bawakan ke dalam. Kadang juga tidak dimakan karena katanya tidak nafsu makan.


Darren meninggalkan Siska hanya untuk ke kamar mandi, lainnya tidak ia lakukan. Bu Arum bahkan memaksanya untuk mandi tapi katanya terlalu lama, takut Siska demam lagi. Padahal Siska ada Bu Arum yang menunggui.


Susah payah Bu Arum membujuk, tapi Darren tidak pernah mengindahkannya sama sekali. Akhirnya Bu Arum lah yang pulang untuk mengambil peralatan yang sekiranya akan dibutuhkan Darren.


Urusan perusahaan, bahkan ia abaikan. Ponsel ia matikan, Sahni sampai memarahinya karena perusahaan butuh dirinya, apalagi Haris masih ada di luar negeri untuk menghandle pekerjaan Darren.


Tapi lagi-lagi semua orang hanya bisa menghela nafas melihat ke keras kepalaan Darren.


Dokter datang dan memeriksa Siska, senyum terbit di bibirnya begitu selesai memeriksa Siska. "Keadaannya sudah lebih baik dan stabil. Nona Siska sudah melewati hari-hari sulitnya melawan demam. Jika perkembangannya baik, dalam 7 hari nona Siska sudah bisa pulang." Ucap Dokter.

__ADS_1


Darren tersenyum dan berterimakasih. Rasa syukur yang paling ia lantunkan dalam hati karena akhirnya Siska mulai sembuh.


"Tuan, maaf, tolong beri makan dan obat untuk Nona Siska." Ucap Suster yang masuk dengan mendorong troli makanan setelah Dokter pergi tidak lama.


"Baik, serahkan padaku." Ucap Darren.


Sepeninggal Suster, ruang rawat kembali kosong, meninggalkan keheningan dan senyum lebar Darren. Ia beralih menatap Siska dengan tatapan sendu dan lembut.


Tangannya terangkat mengelus pipi Siska. Siska terpejam merasakan elusan Darren. Hatinya menghangat.


"Aku naikkan sedikit tempat tidurnya, mari makan dulu." Ucap Darren lembut. Kemudian mengatur agar tempat tidur yang ditempati Siska naik, membuat Siska terlihat bersandar.


Darren menyuapi Siska, sendok persendok masuk meski Siska beberapa kali merasa enggan makan. Darren membujuknya agar menghabiskan makanannya karena sudah beberapa hari ia tidak mengisi perut, hanya mengandalkan infus untuk kesehatannya.


Siska menurut, dan bubur yang dibawa Suster akhirnya habis. Kemudian Darren membantu Siska minum obat, dan Siska kembali istirahat.


Tapi Siska diam, ia hanya menggeleng dengan sangat pelan. Senyum kecil terbit dibibirnya.


"Tidurlah lagi, aku akan menemanimu disini. Sampai kau sembuh. Selalu." Ucap Darren lembut.


Tak lama kemudian, Siska kembali tidur. Dan Darren menghela nafas lega. Ia kemudian menyalakan ponselnya. Ratusan notif datang, membuat sedikit kebisingan, tapi Darren langsung menjauhkan ponsel dan membuatnya dalam mode silent agar tidak mengganggu Siska.


Hal yang pertama ia lihat adalah motif dari Ayah Siska. Tiba-tiba ia menjadi gugup melihat pesan beruntun dan panggilan tak terjawab yang banyak.


Ia lupa mengabari mereka.


Tapi Darren langsung mendial nomornya, menelfon Suherman untuk mengabari.


"Halo?" Sapa Darren dengan nada pelan, takut dan merasa bersalah.

__ADS_1


"Darren! Astaga, akhirnya! Mau kemana saja?! Kenapa ponselmu dan ponsel Siska sama-sama mati? Aku khawatir!" Omel Suherman dari seberang telfon.


"Maaf, pak. Darren lupa menyalakan ponsel begitu aku turun dari pesawat." Ringis Darren.


"Baiklah, baiklah, lalu bagaimana dengan Siska? Bapak tanyakan pada Satria ia malah berkata tidak tahu, sebenarnya apa yang terjadi? Perasaan bapak beberapa hari ini sangat tidak nyaman. Siska baik-baik saja, kan?" Tanya Suherman, jelas sekali nada suaranya sangat khawatir. Membuat rasa bersalah kembali muncul di hati Darren.


"Pak, Maafkan Darren, Siska masuk rumah sakit. Terkena demam berdarah, itulah alasan aku lupa menyalakan ponsel beberapa hari ini. Aku terlalu fokus menjaga Siska selama ini karena kesadarannya menurun." Balas Darren. "Tapi bapak tenang saja, hari ini aku menyalakan ponsel, keadaan Siska sudah menjadi lebih baik. Lihat ini, aku akan fotokan pada Bapak. Siska baru saja makan dan minum obat. Dia tidur lagi." Lanjut Darren sebelum Suherman menyela perkataannya.


"Kenapa tidak mengabari lebih awal!" Pekik Suherman, terdengar marah juga cemas.


"Maaf, pak, aku benar-benar lupa." Ringis Darren.


Suherman terdengar menghela nafas kasar. "Yasudahlah, jaga Siska, tunggu sampai Bapak datang ke sana. Hari ini juga Bapak akan berangkat." Ucap Suherman.


"Baik, pak, hati-hati dijalan. Ah, jangan bilang pada anak-anak, pak. Tunggu sampai Siska lebih sehat saja. Cukup Bapak dan Mama, juga kakak-kakak saja yang tahu." Ucap Darren yangangsung disetujui oleh Suherman. Karena jika sampai anak-anak tahu, sudah pasti mereka akan khawatir, dan meminta ikut. Uqi dan Ergan terlebih, tapi keduanya tidak bisa, masih harus sekolah. Jadi cukup orang dewasa saja yang tahu.


"Titip Siska. Bapak tidak mau melihat Siska menderita lagi." Ucap Suherman sendu. Sebelum akhirnya mematikan sambungan telfonnya.


Darren menghela nafas, menatap Siska dengan sendu sebelum akhirnya datang Bu Arum, membawa baju ganti dan masakan untuk dimakan oleh Darren.


"Tuan makan dan bersihkan dirimu. Kau terlihat seperti mayat hidup." Ucap Bu Arum dengan ekspresi meringis. Mata Darren apalagi, ia tidak tidur nyenyak selama beberapa hari, terlihat sangat kuyu saat ini. Bulu janggut dan kumis bahkan terlihat karena Darren benar-benar tidak mengurus dirinya sendiri.


"Bu Arum terlihat seperti mengejekku." Ucap Darren seraya memicingkan mata.


"Tidak berani! Tidak berani!" Ucap Bu Arum seraya mengibaskan tangannya dan tersenyum.


*


*

__ADS_1


__ADS_2