Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Lagi-lagi Keluarga Imanuel


__ADS_3

*


*


Meninggalkan Kathrin dan keadaan kapal yang kembali tenang selepas Kathrin di bawa pergi, di sisi lain ada Siska dan Darren yang sedang pesta makan daging dan ikan panggang berdua. Selain itu, ada sosis dan yang lainnya seperti minuman kaleng soda.


Keduanya masih betah di pulau kecil tersebut, anteng bermesraan tanpa tahu jika di kapal ada keributan yang membuat awak kapal kewalahan.


Awak kapal diharuskan membersihkan area kolam yang telah dipakai Kathrin, karena Darren pasti akan tahu jika kolam tersebut telah dipakai seseorang. Penglihatan dan penciumannya tajam. Bau sekecil apapun ia temukan jika bukan bekas dirinya atau Siska.


Hal itulah yang membuat awak kapal begitu marah pada Kathrin. Karena ia baru saja membersihkan area kolam. Kolam ditinggal beberapa menit olehnya karena ia harus menyimpan peralatan bekas pembersihan. Tapi siapa yang akan menyangka jika begitu kembali sudah ada orang yang memakainya? Lelah dua kali dirinya karena harus kembali membersihkan area kolam tersebut.


Tapi untungnya, awak kapal lain bersedia membantunya, alhasil pekerjaannya lebih ringan dari sebelumnya yang harus membersihkan kolam sendirian.


"Kau suka sayang?" Tanya Darren menatap Siska yang sedang memakan ikan yang telah dipanggang oleh Darren.


Siska menganggukkan kepalanya, "Eum! Sangat enak. Terimakasih banyak, suami!" Balas Siska, sengaja memanggil suami. Membuat Darren terbatuk kecil mendengarnya. "Ada apa, suami?" tanya Siska seraya tersenyum menggoda.


"Kau nakal!" Desis Darren seraya membuang muka, enggan memperlihatkan wajah bersemunya pada Siska.


Siska tergelak melihat respon malu-malu dari Darren. Pertama kali melihatnya begini dalam jarak sedekat ini, benar-benar membuat orang merasa gemas.


"Makanlah." Ucap Siska, seraya menyodorkan cuitan daging ikan pada Darren. Begitu Darren menatapnya, ia tersenyum, dan langsung menerima sodoran suapan dari Siska. "Enak?" Tanya Siska.


Darren menganggukkan kepalanya, "Enak!" Balas Darren. Ia kemudian pindah posisi, dari yang awalnya berhadapan dengan Siska, menjadi bersampingan. Tak lupa tangannya merangkul pinggang Siska, kepalanya juga ia sandarkan ke bahu Siska.


"Perasaan nyaman ini, sayang... Terimakasih sudah menerimaku. Aku bahagia." Ucap Darren seraya memejamkan mata, menikmati semilir angin kecil di pulau tersebut.


"Apa maksudmu? Bukankah harusnya aku yang berterimakasih, hmm? Aku yang janda anak dua ini mendapatkan lajang perjaka sepertimu, haha. Betapa beruntungnya aku?" Ucap Siska dengan nada geli.


Keduanya saling berterima kasih karena merasa beruntung dapat memiliki satu sama lain. Tapi disini, Siska lah yang paling merasa beruntung. Selain Darren yang baik, keluarganya juga sangat memperlakukan Siska dengan baik.


Daripada itu, keduanya memang sama-sama beruntung. Baik Darren maupun Siska. Keduanya sama-sama diterima oleh kedua keluarga. Terlepas dari kekurangan setiap pasangan, keduanya bisa saling menerima dengan membuatnya menjadi kelebihan tersendiri.


Dan yang paling penting adalah keduanya sama-sama bersyukur. Karena saling memiliki satu sama lain.


"Sayang mau melakukannya disini tidak?" Tanya Darren, karena tangannya sejak tadi sudah meraba-raba perut Siska.


"Kau maniak! Tidak mau, tidak ada tempat tertutup disini! Tenda saja transparan begitu, jika sampai ada orang yang melihat bagaimana?!" Tanya Siska mendelik.


"Astaga, tidak akan ada orang. Kau lupa? Aku yang mengatur semuanya disini." Balas Darren genit.


"Tapi ini alam bebas, alam terbuka, Darren... Mari lakukan saat di kamar saja nanti, oke?" Tanya Siska membujuk.

__ADS_1


Darren menggelengkan kepalanya. "Alam bebas tapi akan, aku sudah mengatur segalanya sayang. Tidak ada alasan lagi, aku tidak menerima penolakan." Ucap Darren, seraya menyimpan ikan yang masih ada di tangan Siska, kemudian menggendongnya ala bridal style, menuju tenda transparan yang sudah dilapisi karpet tebal, jadi terlihat nyaman dan empuk.


Darren menurunkan Siska dibatas karpet tebal, Darren sendiri berada di atas Siska yang terbaring. Matanya terlihat berkabut, penuh gairah. Siska sendiri meringis dalam hati, menghadapi Darren yang tidak ada habisnya, tidak lelah selalu meminta jatah dimanapun keduanya berada.


*


Pukul 5 sore, Darren dan Siska kembali dengan menggunakan speed boat. Tapi sebelum kembali ke kapal, keduanya berputar-putar dulu di sekitarnya, atas perintah Siska.


Di atas speed boat, terlihat anak muda di kapal pesiar sedang berfoto di ujung kapal dengan latar belakang matahari terbenam.


Siska tersenyum melihatnya. Anak muda, ia jadi ingat ketika dirinya muda. Ah tidak ada yang bagus, karena dirinya menikah satu tahun setelah ia lulus sekolah menengah dulu. Lalu, kehidupan selanjutnya adalah hanya ada kesengsaraan.


Sama hal nya seperti Siska yang melihat para anak muda tersebut, para anak muda dari keluarga Imanuel juga melihat Siska dan Darren yang ada di atas speed boat. Ada dua orang yang memekik pelan dengan heboh, karena penggemar Darren dan Siska di sosial medianya.


Tak ayal, keduanya juga sempat merekam kegiatan Darren dan Siska tersebut. Tapi sebelum mempostingnya ke sosial media, keduanya tahu aturan, dengan mengirim pesan pada Siska bertanya perihal apakah ia boleh mempostingnya atau tidak.


Tidak bisa sembarangan, karena ada Darren yang terekam. Bukan orang biasa yang bisa diganggu oleh mereka. Jadi, keduanya bertindak dengan hati-hati meski keduanya sangat senang melihat Siska dan Darren yang terlihat keren dan romantis dalam satu waktu.


"Ah aku jadi iri, ingin mendapatkan suami spek tuan muda Wistara jadinya."


"Haha, apa hayalanmu tidak terlalu tinggi?!"


"Ada-ada saja kau ini."


"Meski nona Siska janda dengan dua anak, tapi ia sangat berbakat dan kaya raya! Termasuk setara dengan tuan muda Wistara."


"Tuan muda dingin, mengejar nona Siska! Aaaa aku tidak bisa membayangkannya!"


"Setelah aku lihat-lihat, mereka berdua memang sangat cocok dan serasi! Itu terlihat bagus, tampan dan cantik!"


"Cih! Apanya yang serasi?!" Desis Kathrin yang ternyata sudah keluar, ia sedikit lebih jauh dari keberadaan kakak dan adik sepupunya yang lain. Tapi obrolan kakak dan adik sepupunya terdengar jelas olehnya yang menyendiri di bagian kanan.


Tapi ternyata desisannya terdengar oleh adik sepupu yang sangat anti dengan Kathrin, membuatnya menjadi bahan ejekan dan olokan lagi.


"Aduh, ada yang iri. Gagal mendapatkan, berujung membenci ya. Haih, anak muda, memang anak muda."


"Apa yang kau bicarakan? Bukankah kau juga anak muda? Haha, kau ini."


"Sudahlah, jangan mencari gara-gara. Nanti terlapor ke ke paman dan bibi Hartono, mampuslah kita."


"Aku terlihat takut? Tidak, tuh! Lagipula dia yang salah, kan? Aku hanya mengatakan beberapa fakta saja."


Kathrin menjadi emosi, ia berjalan mendekat dan langsung menjambak rambut adik sepupunya sekuat tenaga. Membuat keributan, saling berteriak karena terkejut melihat ulah Kathrin.

__ADS_1


Adik sepupunya tidak mau kalah, alhasil kini keduanya saling menjambak dan mengumpati satu sama lain. Membuat Siska dan Darren yang mendengar teriakan tersebut menatap ke arah mereka.


Siska terkejut, menajamkan kedua matanya agar terlihat jelas orang-orang yang sedang bertengkar saling menjambak tersebut. Dahi dan mulutnya mengerut.


"Sayang, bukankah itu wanita yang mengejarmu dulu di ibukota?" Tanya Siska, dengan nada yang jelas sekali tidak suka.


"Ha? Dia dari keluarga Hartono, ingat? Yang di kapal itu kan keluarga Imanuel, oh! Aku lupa, mereka bersaudara. Sayang, tenang saja, aku akan mengaturnya. Jangan buat moodmu jelek oke?" Bujuk Darren, menghentikan laju speed boat nya dan membujuk Siska yang berwajah masam.


Bagaimana tidak? Setiap kali, wanita itu selalu ada di manapun keduanya berada. Membuatnya kesal saja. Apalagi sebelumnya Kathrin sering kali membuat hubungan keduanya menjauh dan renggang.


Jika bukan karena Darren tangguh dan mengerjar Siska untuk meyakinkannya, Siska yang punya issue menjalin hubungan, tidak akan berakhir di jenjang pernikahan dengan Darren bukan?


Siska benar-benar tidak suka melihatnya. Meski di luar ia tampak ramah dan menyambut setiap kali Kathrin ada, juga tampak dewasa dan tenang. Tetap saja, di dalam hati ia adalah seorang wanita yang punya issue terhadap sebuah hubungan.


Perasaan cemas dan takut selalu ada saja. Kesal dan tidak suka juga tentu saja tidak ketinggalan. Wanita, paling baik dalam menyembunyikan perasaan. Di permukaan pura-pura senang, di belakang aslinya rapuh.


"Sayang, aku hubungi Steve sekarang juga." Bujuk Darren, seraya bergerak, membuka kotak di speed boat dan mengambil walkie talkie di dalamnya. Langsung menghubungi Steve yang memang sama-sama memegangnya untuk keadaan darurat.


"STEVE! Kau lihat ada pertengkaran di atas kapal. Aku tidak suka! Bereskan sekarang! Kalau sampai mempengaruhi mood istriku, lihat saja, kau yang akan kena getahnya!" Desis Darren dengan suara tegas dan dingin. Dan mematikan sambungan walkie talkie setelahnya secara sepihak.


Siska menatap Darren yang marah pada Seteve, "Kau tidak perlu memarahi Steve. Lagipula bukan kehendaknya melarang orang dari keluarga Imanuel ikut serta dalam liburan tersebut, bukan? Jangan salahkan dia, dia tidak tahu apa-apa." Ucap Siska.


"Tapi, sayang, kau jadi tidak senang. Aku tidak suka, aku mengajakmu bulan madu untuk senang-senang, tapi lihat sekarang. Ada saja cobaan sebelum membuatmu senang." Ucap Darren dengan raut sedih.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Asal Kathrin tidak mengganggu kita, tidak mendekati kita, aku akan baik-baik saja. Lagipula, bukankah tempatnya dibagi dua dan dibatasi? Kathrin tidak akan berani masuk ke wilayah mu, bukan?" Tanya Siska seraya tersenyum, menenangkan Darren.


Darren akhirnya menghela nafas. "Baiklah, maaf atas ketidaknyamanannya ya? Aku janji, aku akan memberimu hari-hari yang menyenangkan selama bulan madu ini." Ucap Darren seraya tersenyum lebar.


Siska akhirnya menganggukkan kepalanya dengan senyum dan tatapan penuh sayang. Membuat Darren tidak tahan dan mengecup bibirnya dengan cepat.


Di sisi lain, Steve langsung gemetar hebat setelah dimarahi oleh Darren. Emosi nya menjadi naik karena pertengkaran yang dimaksud Darren, ternyata adalah keluarga Imanuel.


Lagi-lagi keluarga satu itu. Tidak ada habisnya membuat kekacauan. Lagi-lagi para awak kapal yang kena getahnya , padahal awak kapal tidak tahu menahu perihal pertengkaran tersebut.


Menghela nafas, Steve mendekati anak muda yang masih bertengkar. Ada beberapa yang memisahkan keduanya tapi malah tercakar, dan berakhir mundur tidak lagi memisahkan keduanya.


Steve menatap tajam keduanya, ia melihat sisi kanan dan kiri. Ketika melihat satu ember penuh air, ia membawanya dan berjalan cepat.


BYUR!


Steve menyiram Kathrin dan adik sepupunya. Airnya bahkan mengenai kakak dan adik sepupu Kathrin yang lain, membuat teriakan-teriakan yang melengking.


"Lagi-lagi kalian, keluarga Imanuel! Tidak ada habisnya?! Kalian sengaja mencari masalah dengan awak kapal ya?! Tahu tidak, karena pertengkaran ini aku dimarahi tuan mudaku?! Kalian sengaja mau membuat kami celaka ya?!" Pekik Steve dengan raut menyeramkan. Tatapan matanya tajam, dan nada bicaranya penuh intimidasi.

__ADS_1


*


*


__ADS_2