Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Jangan panggil aku bos, Panggil Darren.


__ADS_3

*


*


Rendra dan Sapta kelimpungan, keduanya benar-benar sibuk melayani orang yang tidak ada habisnya. Orang-orang ini membeli cireng, cirambay, dan juga cilok ayam suwir yang mulai populer hari ini, karena cilok tidak luput dibeli oleh orang yang mengantri, mengantri untuk dibawa pulang/dibawa ke tempat kerja masing-masing.


Terlebih Rendra yang terus menerus menghitung, kecepatannya agak lambat karena tangannya hanya dua, sedangkan pelanggan lebih dari 70 an. Jadi mau tak mau, pelanggan harus mengantre dengan sabar. Apalagi ketika ada pelanggan yang memesan banyak, perhitungannya bisa sampai jutaan.


Melihat hal ini, jantung Rendra berdebar bukan main. Siapa yang pernah melayani pelanggan yang belanja begitu banyak, hanya dikedai makanan? Bukan satu, tapi hampir 10 orang banyaknya. Sisanya, pelanggan membeli di kisaran ratusan ribu, jadi Rendra juga masih berdebar, takut-takut salah memberikan kembalian.


Rendra tahu, mungkin itu adalah pemilik usaha disekitaran sini, mungkin mereka membeli banyak untuk para karyawan yang ketika istirahat nanti, bisa langsung makan camilan yang membuat perut kenyang. Mungkin juga tidak ada yang memasak dikantin. Jadi membeli banyak adalah pilihan satu-satunya.


Apalagi, di depan konternya ada tempat pemilihan untuk seblak-seblakan, jadi mau tak mau itu terlihat sangat penuh saat ini, sesak dengan manusia yang silih bergantian mengambil bahan yang mau mereka makan untuk mangkuk seblaknya.


Setelah melayani 70 an lebih pelanggan yang berbaris berdiri, kini Rendra menjadi lebih santai. Karena pelanggan yang duduk di kedai, selalu membayar terakhiran. Jadi giliran bagian dapurlah yang kelimpungan membuat pesanan. Sedangkan Sapta dan ketiga pelayan, tentu saja mereka selalu sibuk dari awal sampai akhir. Jadi, Rendra juga membantu keempatnya selagi dirinya senggang.


Meninggalkan Rendra yang sibuk di depan, beralih pada keempat wanita sibuk yang ada di dapur. Memasak gila-gilaan dalam porsi besar. Kecuali Siska, karena khusus bagian memasak Seblak. Seblak ini, dibuat permangkuk dan setiap mangkuk memiliki isian berbeda. Jadi mau tidak mau, Siska memakai kompor dua tungku sendirian, agar memasaknya lebih cepat.


Sedangkan Putri memasak bagiannya, cilok ayam suwir yang masih tersedia dan dipesan oleh pelanggan yang duduk. Santi dengan pembakaran Sosis dan Bakso bakarnya, meski sedikit berasap, tak membuat keduanya mengeluh, apalagi setelah mendengar keuntungan dari kedai yang sampai puluhan juta. Siapa yang akan mengeluh mendengar uang banyak?


Haha, bisa cepat kaya adalah keinginan setiap orang bukan? Apalagi keduanya dijanjikan gaji yang lumayan setiap bulannya. Ya, meski keluarga, Siska tetap akan membayar jerih payah keduanya. Tentu saja, tidak ada yang gratis meski keluarga sendiri, bukan? Mereka juga bekerja sampai kelelahan. Pun sama halnya dengan ibunya, tapi berbeda dengan Ayahnya.


Ayahnya yang punya Rosella, dan Siska memakainya, di akhir bulan, Ayahnya juga akan dapat bagian dari penjualan minuman ini. Jadi semuanya dapat bagiannya masing-masing akhir bulan nanti.

__ADS_1


"Ma, Mama bisa istirahat dulu, kak Putri sudah selesai memasak cilok ayam suwir, serahkan sisanya padanya." Ucap Siska, setelah mendapat laporan jika cilok sudah ludes terjual.


Bukan hanya cilok, tapi juga cireng, dan cirambay, yang memang sudah populer sejak awal Siska berjualan. Cilok juga banyak dibeli secara dibungkus. Jadi yang dikedai hanya kebagian 20 an mangkuk saja. Malah untuk cireng dan cirambay, tidak ada yang kebagian pelanggan yang ada di kedai. Semuanya habis dibeli oleh 70 an lebih orang yang mengantre.


Padahal, tadi ke 5 orang, pagi-pagi sekali mencetak banyak ketiga produk ini. Cireng sampai ditambah 1000 an buah. Asalnya kemarin 2000, hari ini jadi 3000, pun dengan cirambay, dibungkusan tadi mencapai 1700 bungkus, cilok 1000 an bungkus yang terjual, sisanya 20 an mangkuk yang terjual di kedai. Langsung ludes saat itu juga.


Siska kelimpungan melihat antusiasme pelanggan di hari kedua ini. Baru pukul 11 dan tiga produk sudah habis. Tidak pernah terpikirkan jika dihari kedua, gelombang pelanggan ini bahkan lebih banyak yang datangnya. Meski begitu, Siska semangat dan bersyukur melihat keadaan saat ini. Itu artinya, makanan dikedainya sesuai selera bukan?


"Tidak, tidak, Mama masih kuat membuatnya. Lagipula ini minuman saja, tidak terlalu rumit." Balas ibunya, Estika dengan melambaikan tangannya pada Siska dan Putri.


"Baiklah, kalau begitu, Putri akan ambil pemanggangan satu lagi, bantu kak Santi saja." Balas Putri seraya tersenyum, ia tidak bisa diam saja sementara yang lain sibuk memasak. Maka dari itu, membantu Santi adalah pilihannya, karena selain banyak yang memesan, panggangan tidak sebesar wajan yang bisa sekaligus banyak dipasak.


Sebetulnya, panggangan hanya muat 5-8 buah saja yang bisa dipanggang diatasnya. Dan hal itu, membuat pesanan jadi lebih menumpuk. Apalagi, kini Sosis bakar lebih laris dari Bakso bakar, karena kebanyakan mereka mengambil bakso dimasukkan ke mangkuk seblak, sama seperti kemarin.


Kembali ke bagian depan, ketiga pelayan tak kalah lelah, apalagi harus berjalan bolak-balik menghadapi pelanggan dan dapur secara bergantian. Apalagi ketika mendengar tiga produk habis, pelayan juga harus kembali dan memberi tahu pelanggan tentang habisnya produk tersebut.


Beberapa pelanggan menerima, tapi ada juga yang mengeluh kecewa, karena produk ini selalu habis. Ia ingin sekali merasakan produk yang bernama cirambay. Tapi selalu tidak kebagian dua hari ini.


Meski begitu, pelanggan tidak langsung pergi, ia memesan menu seperti kemarin, yakni seblak juga sosis dan bakso bakar, ditambah minumnya tentu saja teh Rosella. Apalagi setelah tahu jika ternyata teh ini bisa membantu diet. Dengan senang hati ia akan membelinya tiap kali kesini. Ah tidak, tiap 3 kali sehari kesini. Karena kedai menyarankan konsumsi 3 hari sekali.


Teh Rosella menjadi populer, dan yang memesan rata-rata adalah para wanita, baik muda maupun setengah baya. Punya tubuh langsing, tapi makan banyak selalu jalan, adalah impian setiap wanita, bukan?


Kesibukan terus berlanjut sampai jam menunjukkan pukul setengah dua belas, dan Alarm ponsel Siska berdering, membuat dirinya harus menyerahkan bagian masaknya pada Putri.

__ADS_1


Siska melepas celemeknya dan mengambil tas diatas, lalu pergi keluar kedai. Ia akan menjemput Uqi, tentu saja. Tapi begitu keluar, kebetulan bos penguasa pasar sedang mau pergi dengan sepeda motornya. Siska yang ditawari, tentu saja tidak menolak. Tanpa tahu, jika diam-diam si bos tersenyum kecil, meski raut datar yang diperlihatkan pada Siska.


"Bos, kenapa kau ada di kedaiku?" Tanya Siska heran.


"Bukankah kau membayar penjagaan selama 3 bulan kedepan? Ini bahkan masih belum satu bulan. Jadi kami tetap menjaga kedai kalian, meski kulihat ada cctv." Ucap bos penguasa. Membuat Siska takjub.


"Bos, itu kalimat terpanjang yang kau ucapkan, haha! Hebat!" Ucap Siska yang malah salah fokus pada pembicaraannya penguasa.


"Berhenti memanggilku bos, panggil aku Darren jika tidak sedang transaksi." Balas penguasa.


"Hoho, jadi namamu Darren? Keren sekali, bos?" Tanya Siska tertawa. Tidak sadar jika dirinya banyak tertawa ketika dengan Darren. Padahal tidak ada yang lucu.


"Hmm." Beo Darren kembali ke setelan pabrik. "Sudah sampai, turunlah." Lanjutnya seraya menghentikan laju motornya.


"Sudah sampai? Aiyoo, terimakasih banyak, b--Darren! Kau sibuklah, tadi juga bilang ada urusan, kan?" Ucap Siska tersenyum lebar.


"Jangan tersenyum, kau terlihat jelek." Ucap Darren yang kemudian pergi, tanpa menunggu respon Siska yang sudah pasti kesal dikatai jelek. Jika dipikirkan ekspresinya, sudah pasti membuat Darren menyunggingkan senyumnya.


Kali ini, ia menang. Satu langkah lebih depan, daripada laki-laki yang mengantarkan Uqi kemarin. Yah, ia melihatnya, dan hal inilah yang memicu dirinya, memberanikan diri mengantar Siska, itupun atas suruhan bawahannya.


Haha, gengsinya besar sekali.


*

__ADS_1


*


__ADS_2