
*
*
Ngomong-ngomong tentang Darren, ia sudah tiga hari tidak menemui Siska. Entah apa yang sedang dikerjakannya sampai sesibuk itu dan tidak meluangkan waktu. Padahal biasanya setiap makan siang dan makan malam, ia akan datang pada Siska, memaksa Siska agar mau makan bersama. Memaksa dengan cara halus, yakni Uni. Sebagai senjata yang Darren pakai agar Siska mau makan bersama.
Siska jelas tidak ada pilihan lain bukan jika Uni sudah sangat ingin makan bersama Darren. Alhasil ia mau tidak mau selalu menurut.
Darren tahu kelemahannya. Dan ia selalu memanfaatkan celah tersebut agar Siska mau bersa dengannya. Selain Uni, Siska paling lemah dengan perhatian dengan hal-hal kecil. Hal sederhana yang seperti kaki lecet saja, Darren perhatikan. Siska yang jelas tidak menerima perlakuan itu dulu, tentu saja tersentuh.
Kembali ke Uni, ia sedang menatap Siska dengan mata bujukannya seperti biasa. Membuat Siska mau tidak mau menyetujui Uni memakan es krim yang diinginkannya. "Baiklah, baiklah, berhenti mengeluarkan raut begitu. Ibu lemah, oke, ibu tidak akan bisa menolak. Uni menang, sayangku paling pintar membujuk." Ucap Siska seraya mencubit hidung Uni.
Uni berseru kecil dengan senang, kemudian tertawa ketika Siska mencubit hidungnya, begitupula dengan pelayan yang melayani Siska dan Uni. Sudah biasa, ia melihat pemandangan seperti ini. Akan ada 1 kali setiap 3 hari setiap kali Uni ingin es krim. Dan Siska akan selalu kalah pada bujukan Uni.
"Nona, pesanan makannya apa saja?" Tanya pelayan tersebut.
"Seperti biasa saja. Oh ya, hari ini dia juga tidak datang?" Tanya Siska.
Dia yang Siska maksud tentu saja Darren. Pelayan ini jug tahu, jika Darren selalu makan siang dan makan malam disini dengan Siska. Alhasil, ia sendiri sudah hafal kebiasaan keduanya yang akan makan siang dan makan malam disini.
Pelayan terlihat ragu ketika mau menjawab Siska. Tapi Siska melihat keraguan itu, dan tersenyum menatapnya. "Bicaralah, tidak apa-apa, aku tidak akan menjadikannya sebuah masalah." Ucap Siska membuat pelayan tersebut akhirnya angkat bicara.
"Tuan Wistara sudah datang lebih dulu daripada Nona. Dia makan siang lebih awal, hanya saja... eu," Pelayan kembali menghentikan ucapannya. Melihat Siska sejenak dengan ragu, tapi begitu Siska menganggukan kepanya, akhirnya ia melanjutkan ucapannya. "Dengan nona yang biasa menganggu kalian makan siang. Anak dari pimpinan Hartono. Aku ada sempat memfoto mereka berdua juga, apa nona mau melihatnya?" Tanya pelayan tersebut.
__ADS_1
Setelah sebulan Siska selalu berkunjung kemari, keduanya memang akrab melebihi pelayan dan pelanggan. Jadi **** ragu, ia juga tidak segan untuk membicarakan fakta yang ia lihat.
"Chika, perlihatkan padaku." Pinta Siska, ia sudah menyebut namanya, itu artinya Siska tidak ingin disela lagi. Membuat pelayan yang disebut Chika ini, langsung mengeluarkan ponsel dari apron pelayan miliknya.
Tapi Chika mengurungkan niatnya. "Nona, aku tidak mau dipecat. Apa boleh aku memperlihatkannya ketika aku sudah selesai bekerja saja? Siang ini, shiftku lebih cepat selesai. Pukul 12.30 sudah pulang. Bagaimana jika begini? Apa boleh, nona?" Tanya Chika, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menjadi tidak enak pada Siska.
"Berapa gajimu disini?" Tanya Siska.
"Hah? Eum 4 juta nona, tidak termasuk uang lembur." Ucap Chika. Bingung, karena Siska malah beralih pada menanyakan gajinya.
Siska mengernyitkan dahinya. "Siang ini juga, undur diri dari pekerjaan disini. Aku ada pekerjaan yang lebih baik untukmu. Bukankah kau juga bisa memasak? Aku ada membangun satu restoran di dekat universitas." Ucap Siska seraya tersenyum.
"Ah? Restoran itu milik nona? Astaga, itu bahkan sudah populer sebelum dibuka. Nona, aku mau! Apalagi majikanku adalah nona yang baik hati ini. Aku akan mengundurkan diri sekarang juga. Nona, ini ponselnya kau pegang dulu saja. Setelah memberi pesanan ini aku langsung mengundurkan diri. Tunggu aku, oke, nona?!" Ucap Chika dengan semangat.
Siska terkekeh menatap kepergian Chika. Uni sudah anteng dengan ponsel Siska sejak tadi. Jadi, Siska pun beralih lada ponsel Chika yang sudah masuk me galeri. Siska mengklik satu foto dan memang terlihat Darren dan Kathrin disana. Sedang makan berdua.
Dan... Ah sudahlah. Siska enggan menyebutkannya. Moodnya hilang seketika setelah melihatnya.
"Mbuu, mbuu, lihat ini, kenapa tisuenya tidak mau terangkat?" Tanya Uni pada Siska. Uni sedang bermain permainan memasak. Ia butuh tisue dalam permainan tersebut tapi tisue nya tidak mau kunjung terangkat.
Siska mendelik lada ponselnya. "Ganti permainan saja ya sayang? Tisuenya begitu jelek, jadi tidak mau terangkat." Ucap Siska seraya tersenyum hingga matanya menyipit.
Uni yang melihatnya menjadi sedikit bergidik. Ibunya terlihat menyeramkan. Alhasil Uni hanya bisa mengangguk dan menuruti ibunya yang menggantikan permainan ke permainan lain.
__ADS_1
Setelah mengganti permainan, Siska menatap tisue yang ada di atas meja, alhasil tangannya bergerak dan menggenggam tisue kotak tersebut. Tangannya kemudian meremas tisue tersebut sampai tak berbentuk. Jangan lupa, mata tajamnya dengan kilatan kesal menatap tisue yang dirusaknya.
"Nona, kau baik-baik saja? Apa tisuenya boleh berikan padaku?" Tanya seorang pria di meja sebelah Siska. Ia tidak sengaja melihat Siska melakukan hal tersebut. Dan merasa ngeri sendiri melihatnya. Tapi ia pikir, daripada tisuenya dirusak lebih baik berikan padanya yang sedang butuh, jadi ia memberanikan diri.
"Kau butuh tisue ini?" Tanya Siska ramah.
"Y-ya, berikan padaku saja." Balasnya.
"Oh, tapi tisue ini sangat jelek. Kau yakin masih mau?" Tanya Siska makin ramah, tapi semakin terlihat seram.
"K-klau begitu tidak perlu nona, terimakasih. Aku akan meminta pada pelayan saja." Ucap pria tersebut, seraya menganggukkan kepalanya, kemudian dengan cepat pergi meninggalkan mejanya dan menghampiri pelayan.
Sedangkan Uni, juga mengintip sesekali kegiatan ibunya. Dan ia sama sekali tidak berani menatapnya terang-terangan, apalagi mengajak ibunya mengobrol. Sangat seram, jangan sampai dirinya ikut terkena Omelan ibunya.
"Cih memang dasar laki-laki. Tidak suka, benci, sudah disebutkan tapi tetap saja makan bersama kan? Ternyata hanya omong kosong saja ya? Aih harusnya dari awal aku tidak memberinya kesempatan bukan? Ah, baik, lihat saja nanti. Aku akan mengabaikannya sampai dia kebingungan sendiri. Mari beri pelajaran pada laki-laki yang bermulut kosong itu." Gumam Siska, berdecih kesal.
"Menyebalkan!" Desisnya kemudian. "Diluar sok sekali tidak mau, dibelakang ternyata mau, mau juga. Memang laki-laki ini tidak cukup satu wanita, semua sama saja." Lanjutnya bergumam.
10 menit kemudian, pesanan yang di pesan Siska akhirnya datang. Tapi tidak diantar oleh Chika. Dan Siska paham, Chika mungkin masih mengurus masalah pengunduran dirinya hari ini.
*
*
__ADS_1