
*
*
Siska makan dengan perasaan dongkol. Tapi ia tetap menyuap satu sendok per sendok ke mulutnya. Bagaimana tidak dongkol, ayolah, Darren sedari tadi menatapnya yang sedang makan. Ia menopang dagu di atas meja, menatap Siska dengan senyum lebar di bibirnya.
Siska malas, kesal, dan ingin sekali marah, ingin sekali meraup wajah Darren yang terlihat menyebalkan. Siska menyesal ia dulu sempat protes pada raut tanpa ekspresi milik Darren. Demi apapun, Siska lebih baik melihat raut datarnya daripada rautnya saat ini.
Lihat, lihat, Darren seperti orang gila. Senyum mihat Siska, terkadang cekikikan sampai suaranya terdengar oleh orang-orang di sekitarnya. Membuat keduanya menjadi pusat perhatian disini, oleh keluarganya.
"Darren..." Panggil Siska dengan lembut tapi penuh penekanan, tak lupa senyum yang membuat kedua matanya menyipit.
"Hmm? Kau butuh minum?" Tanya Darren langsung mengangkat kepalanya, tidak lagi menopang dagu di atas meja dengan kedua tangan.
"Bisa tidak?" Tanya Siska.
"Bisa! Bisa! Tentu saja bisa! Kau mau apa?" Tanya Darren antuasias.
"Kalau begitu, silahkan pergi! Tidak bisakah kau membiarkanku makan dengan tenang? Argh! Kau menyebalkan. Pergi sana jangan ganggu aku makan!" Keluh Siska dengan kesal.
Darren berubah merengut, kemudian menggelengkan kepalanya, "Tidak mau!" Ucapnya kemudian kembali menopang dagu dia tas meja dengan kedua tangan.
Siska menghela nafas, dan oke, biarkan saja menuasi menyebabkan satu ini di depannya. Siska hanya perlu cuek, anggap saja tidak ada.
"Nona, setelah makan, silahkan cek dokumen yang telah aku kirim padamu. Itu adalah laporan keuangan hari ini. Dan ini, sisa uang cash setelah dikurangi pembelian bahan-bahan yang akan datang beberapa saat lagi. Sisa uang lainnya ada di rekening restoran. Nona cek saja, aku sudah menghitungnya dan jumlahnya benar." Jelas Satria.
__ADS_1
"Tidak lihat bosmu sedang makan? Apa tidak bisa. menunggunya selesai dulu?" Tanya Darren dengan perubahan raut wajah yang cepat. Menatap Satria datar dan tajam, tidak seperti tahapannya pada Siska.
"Maaf, Tuan. Aku harus segera pergi menemui satu distributor, ada kendala dalam pengiriman. Jadi hanya bisa mengganggu nona yang sedang makan." Ucap Satri seraya membungkuk meminta maaf.
"Sudahlah, Satria kau pergi saja urus urusanmu. Dia biar jadi urusanku." Ucap Siska seraya melambaikan tangan pada Satria, dan menunjuk Darren yang kembali berubah rautnya setelah Satria pergi meninggalkan keduanya dengan keluarga Siska yang masih duduk-duduk di sekitar.
"Kau membelanya!" Ucap Darren tidak terima.
Siska menghela nafas, menatap Darren dengan gemas. Apakah dia sadar jika dia menggemaskan? Aih, sifatnya berubah menjadi kekanak-kanakkan begini setelah Siska menerimanya disisinya. Kenapa Siska tidak tahu sebelumnya, ya?
"Sudahlah, jangan mempersulit Satria, dia sudah cukup lelah dengan pekerjaan hari ini. Jangan buat ulah. Tunggu, aku selesaikan makan dulu. Setelah ini, temani aku menghitung dan mengecek laporan keuangan." Ucap Siska, menepuk kepala Darren dua kali, membuat Darren terlihat seperti anak anjing yang menggemaskan.
Sahni dan Haris, yang memang sedang menunggu Tuannya di sana, bahkan menelan ludah, dengan tatapan tidak percaya melihay sifat abnormal yang dikeluarkan Darren. Pemandangan yang membuat sakit mata tersebut, terlalu tiba-tiba bagi Sahni dan Haris yang selama ini melayani Darren. Tidak pernah keduanya melihat Darren begitu jinak sebelumnya, meski dengan ibunya, Darren akan tetap berwajah datar hanya nada dan tatapan matanya saja yang berubah lembut.
Tapi lihat, apa yang terjadi sekarang, Darren bukan hanya tidak berubah jinak, tapi membuat ekspresi-ekspresi menjijikkan di mata Haris dan Sahni. Untuk anak kecil mungkin memang menggemaskan, tapi hei, Darren sudah mau kepala tiga, masih berperilaku begitu. Astaga, membuat Sahni dan Haris langsung memasang barrier pelindung untuk masa depan.
Disisi lain, selain Sahni dan Haris, ada juga keluarga Siska yang tak henti menatap Darren. Tapi karena dipelototi oleh Siska semuanya akhirnya bubar, membubarkan diri dengan menyibukkan diri dengan kegiatan masing-masing, meski sesungguhnya masih saja mencuri pandang pada keduanya.
Seperti Ergan, disini kameranya tidak pernah ia matikan, dari awal ia selalu merekam momen Siska dan Darren. Meski sudah ditegur, Ergan tetap saja merekam tanpa sepengetahuan keduanya.
"Ergan, kau sudah minta izin lada sekolah belum?" Tanya Siska kemudian.
Ergan, Geri, Desi, dan Uqi harus meminta izin pada sekolah sebab keempatnya masih akan tinggal diinukota selama dua hari lagi.
Siska tidak memaksa, tapi memang kemauan keempatnya, alhasil ia hanya bisa menyetujui. Lagipula orangtuanya juga sudah mengizinkan, jadi Siska bisa apa? Terlebih Uqi, Siska memang mau menghabiskan lebih banyak waktu juga dengan Uqi dan Uni nanti.
__ADS_1
Karena Siska mungkin masih harus ada diibukota selama dua mingguan lagi, setelah semuanya menjadi stabil dan cukup orang yang bekerja diibukota sini.
"Sudah, aku sudah menghubungi wali kelasku. Uqi juga sudah, mama yang menghubunginya. Geri dan Desi diwakilkan oleh ibu-ibunya. Jadi, aman!" Balas Ergan.
"Baiklah, kalau begitu, ajak Bapak dan Mama pulang dulu. Mereka butuh istirahat, kau juga ajak yang lainnya pulang saja. Aku akan menyusul nanti setelah menyelesaikan masalah dokumen." Ucap Siska. "Jangan menolak, besok bukankah masih mau membantu disini? Harus bangun pagi dan cukup istirahat, bukan? Pergilah." Ucap Siska lagi, ketika Ergan mau membuka mulut untuk menolak titah Siska.
Ergan akhirnya hanya mengangguk dan setuju dengan pasrah.
"Jangan memasang wajah sedih, bukankah kau juga mau mengedit video yang baru diambil pagi ini? Mau mempostingnya di tutub kan? Jangan sampai lupa, ya, tempat ini masih butuh promosi gratis dari seleb tutub kita, haha." Ucap Siska seraya mengedipkan matanya, kemudian tertawa pelan.
Sepeninggal Ergan keluarga, Darren juga menatap Sahni dan Haris dengan tatapan penuh arti. Tapi keduanya tidak mengerti, membuat Sahni dan Haris mengabaikannya.
Darren mendengus, kemudian ia mendekati keduanya. "Pergi sana, pulang saja." Usir Darren tanpa basa basi membuat kedua sejoli tersebut terkejut.
Diusir oleh bos sendiri, apa yang kalian rasakan? Apalagi keduanya adalah orang penting untuk bosnya.
"Masih pukul 6, pergilah kencan dengan Sahni. Ah, ajak dinner anak-anakmu. Oke." Lanjut Darren setelah berpikir tentang alasan lainnya.
Sahni berdiri, diikuti Haris, tapi Haris yang tidak terima langsung berkata, "Bilang saja mau berduaan, tidak perlu cari alasan. Dasar habis manis sepah dibuang." Omel Haris dengan berani.
"Beraninya, kau?!" Desis Darren melotot, dengan suara tajam.
Haris memasang wajah penuh ejekan, kemudian pergi dengan cepat meninggalkan Darren yang dibuat kesal olehnya.
*
__ADS_1
*