Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Memancing


__ADS_3

*


*


Setelah hari pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya banyak kejutan yang memang Darren rencanakan dengan baik. Siska senang dan ia bahagia. Keduanya semakin saling menyayangi dari hari ke hari.


Sampai hari ke tujuh, yakni hari terakhir keduanya berada di kapal pesiar, Darren tidak lagi merencanakan kejutan untuk Siska. Tapi sebagai gantinya, Darren menggunakan hari terakhir tersebut, untuk menebus hari pertama yang gagal menikmati matahari terbenam bersama.


Tapi selain matahari terbenam, kini Darren juga memanggil Siska agar bisa menyaksikan matahari terbit di atas kapal pesiar. Keduanya duduk di atas kursi menghadap ke arah timur, menatap matahari yang mulai menunjukkan dirinya.


Di samping keduanya yang berdampingan dan berangkulan dengan selimut menutupi keduanya, ada meja kecil dengan termos air panas juga coklat yang telah di simpan di masing-masing gelas. Ada dua gelas, milik Darren satu dan milik Siska satu.


Lalu ketika matahari sepenuhnya terbit, Siska dengan cepat keluar dari selimut meski angin kencang. Ia meminta Darren untuk memotret siluet tubuhnya yang sedang menikmati matahari terbit. Begitupun sebaliknya, Siska menyuruh Darren juga berpose agar Siska dapat memotret Darren.


Setelah satu sama lain saling potret, lalu keduanya memanggil satu awak kapal dan menyuruhnya memotret kebersamaan Darren dan Siska. Yang dipanggil tentu saja Steve. Dan Steve dengan inisiatifnya memotret segala momen meski keduanya tidak menyuruhnya lagi. Selain itu, Steve juga membiarkan kamera merekam kegiatan keduanya dari awal, jadi ketika Darren memanggilnya, Steve memang sudah siap di tempat.


"Sudah, yuk, masuk saja?" Ajak Darren ketika melihat Siska mengusap kedua bahunya sendiri. Kedinginan, padahal Siska memakai jaket tebal. Hanya saja, selimut yang awalnya dipakai keduanya, kini terlepas. Alhasil udara dingin menerpa dirinya.


"Sebentar lagi, masih belum puas." Ucap Siska seraya tersenyum.


"Kau sudah kedinginan sayang." Ucap Darren, seraya menggenggam kedua tangan Siska. Meniupnya membuat udara hangat terasa ke kulit tangan Siska.


"Peluk aku saja?" Goda Siska seraya menarik turunkan alisnya, tak lupa senyum genit juga ia keluarkan.


"Kau semakin berani! Huh, kalau saja tidak ada Steve, ah tapi aku tidak akan melakukannya. Kita akan turun kapal besok. Hari ini, aku akan membiarkanmu bebas!" Ucap Darren seraya menganggukkan kepalanya. Kemudian merubah posisinya sendiri, menjadi duduk di belakang Siska setelah menyuruh Siska maju sedikit.


Jadi posisinya, Darren memeluk Siska dari belakang. Merangkul perutnya, dan menyimpan kepalanya di atas kepala Siska. Tak lupa, selimut yang sebelumnya digunakan juga dibentangkan di depan Siska, jadi bagian depan Siska juga tertutupi dengan hangat.


"Eumm, nyaman sekali." Gumam Siska seraya termundur sedikit. Membuat Darren berdehem memperingatkan Siska. Tapi Siska malah terkekeh dengan sengaja.

__ADS_1


"Sayang, aku sudah janji akan membebaskanmu hari ini, jangan main-main ya!" Desis Darren seraya memejamkan kedua matanya.


"Haha, baiklah, baiklah, aku hanya bercanda saja." Balas Siska.


"Bercandamu berbahaya! Huh!" Dengus Darren, mengeratkan pelukannya, dan Siska bersandar dengan nyaman. Keduanya kembali tenang, melihat matahari terbit.


Meski tidak ada suara dan obrolan, keduanya sangat nyaman berada dalam situasi dan kondisi saat ini. Cukup dengan orang yang dikasihi dan terkasih, meski diam, perasaan akan terasa nyaman dan hangat.


"Aku mencintaimu, sayang." Ucap Darren seraya mengecup pucuk kepala Siska dengan lembut. Membuat Siska memejamkan mata, merasakan sensasi di sayang oleh Darren.


"Aku juga mencintaimu. Terimakasih sudah menyiapkan banyak hal dalam 7 hari ini. Ah tidak, terimakasih karena hadir di hidupku." Ucap Siska.


Percakapan terakhir, sebelum keduanya masuk ke kamar. Percakapan tersebut juga terekam oleh kamera yang Steve nyalakan. Ya, Steve masih merekamnya, sampai akhir. Steve sendiri kagum dengan Darren dan Siska karena keduanya terlihat benar-benar saling mengasihi.


Untuk dirinya yang masih bujangan di usia kepala tiga, pemandangan tersebut juga cukup menyiksa. Tapi meski begitu, ia tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Apalagi, keluarga Wistara memperlakukannya dengan sangat baik. Selain mengerjakan tugas, ia juga dengan senang hati menjaga keduanya di kapal pesiar.


Lebih ke balas Budilah yang dilakukan Steve saat ini. Karena dulu, jika tidak ada Darren dan keluarga Wistara yang menopang dan membantunya bangkit, maka Steve sudah hilang dari dunia ini.


Darren mengijinkan, karena ketika hari ke 7, keluarga Imanuel lah yang mempunyai kuasa untuk memerintah awak kapal. Tapi tetap dengan batasan yang telah Darren terapkan. Kali ini, Darren menyetujuinya, karena Darren mau memancing dengan Siska.


Entah apa yang akan dilakukan keluarga Imanuel, Darren sama sekali tidak peduli. Darren bebaskan mereka di kapal pesiar, asal tidak menganggu dirinya dan Siska. Seperti hal nya pertengkaran waktu itu. Darren sangat tidak suka dan sangat menentangnya. Mengganggu ketenangan, apalagi jeritan-jeritan wanita, memekakkan telinga.


Memancing santai, Darren tidak berharap mendapat ikan, karena selain memancing dijadikan alasan, itu hanya kamuflase semata agar keduanya ada kegiatan di atas kapal. Juga agar pikiran Darren tidak kemana-mana hari itu, karena memang sudah berjanji akan membebaskan Siska, mengistirahatkan tubuhnya agar kembali fit keesokan harinya.


Sebab besok, Keduanya akan berlabuh di negara tetangga. Dan satu Minggu yang tersisa akan Darren dan Siska habiskan di negara tetangga tersebut. Tempat pelabuhan bulan madu keduanya.


Masih di benua yang sama, tapi tempat tersebut adalah salah satu tempat yang ingin Siska kunjungi, ketika dirinya dan ibunya Estika sering menonton serial drama dari negara tersebut.


Tak hanya Estika, Bahkan Suherman juga senang dengan serial yang ditayangkan dari negara tersebut. Terlebih genre action, karena Suherman suka sekali adegan perkelahian dalam drama.

__ADS_1


Mengingat hal tersebut, akhirnya Darren memilih negara tersebut untuk kegiatan bulan madu selama satu Minggu terakhir. Dan hal inilah yang membuat Tuan Edden dan Nyonya Wasilah bersikeras Darren bisa menggunakan kapal pesiar peribadi keluarga.


Karena selain liburan, keluarga Imanuel juga sekalian mengantarkan barang ke negara tersebut. Jadi, selain Darren Siska turun nanti, keluarga Imanuel juga akan berkunjung selama satu dua hari di ngara tersebut.


Darren tidak peduli, dan tidak mau tahu. Yang ia pedulikan adalah Siska, Siska, dan Siska.


"Ah! Punyamu bergerak!" Pekik Siska membuat Darren terkejut, karena sempat melamun.


Darren mengusapi dadanya, kemudian ia menatap Siska yang menertawainya. Setelahnya ia mencubit pipi Siska gemas. Barulah ia beralih pada pancingannya.


"Oh! Oh! Itu benar-benar ada ikannya!" Pekik Darren dengan semangat. "Steve, bantu aku mengangkat ikannya!" Lanjutnya setelah berhasil menarik ikan yang didapatnya.


Siska bahkan bersorak senang karena Darren mendapatkan hasil. Begitupun Darren, ia senang ketika melihat Siska senang.


"Kauihat itu, sayang? Ikannya besar bukan?" Ucap Siska pada ponsel.


Ya, ia sedang melakukan panggilan video Dengan kedua anaknya. Ia juga memperlihatkan jika Darren mengajaknya memancing. Lalu ketika ia melihat Darren yang melamun, ia memekik dengan iseng, tapi siapa yang tahu jika umpan yang dilempar Darren ternyata benar-benar dimakan oleh ikan.


"Tuan muda! Ini ikan Giant Trevally ukuran sedang. Untuk pengalaman pertama, kau bisa dibilang hebat!" Puji Steve dengan mengacungkan jempolnya. "Orang yang pertama kali memancing, biasanya hanya akan mendapat ikan bawal, dan kerapu biasa. Tapi lihat ini, Tuan muda memang luar biasa! Ukuran sedang Giant Trevally sudah ukuran 2 kali lipat ikan bawal!" Ucap Steve dengan semangat, penuh pujian.


"Wow! Kau hebat, sayang!" Puji Siska ikut mengacungkan jempolnya pada Darren. Sedangkan tangan satunya ia mengarahkan ponsel pada ikan yang di pegang oleh Steve pada layar, memperlihatkannya pada Uqi dan Uni yang juga berteriak heboh karena melihat ikan besar.


Uni paling heboh, ia sampai memanggil kakek dan nenek juga Geri dan Ergan yang ada di rumah untuk sekedar melihat ikan yang di dapat Darren.


Ergan apalagi, ia berbinar. Pikirannya tiba-tiba melintas ke lautan, juga rekaman ponsel. Hanya ada konten dan uang ketika melihat ikan dan lautan di layar ponsel yang dipegang Uqi. Raut dan binar matanya seolah mengatakan, ini bisa dicoba.


"Jangan macam-macam. Kau harus kuliah nanti. Jangan berpikir untuk pergi ke laut hanya untuk membuat konten memancing!" Ucap Siska, seolah tahu pikiran Ergan. Membuat semua orang tertawa, kecuali Uni yang tidak terlalu mengerti.


*

__ADS_1


*


__ADS_2