
*
*
"Sejak kapan kita saling mengenal?" Seru Siska tiba-tiba, ia berjalan datang, dari arah belakang Ergan dengan wajah datar.
Dirinya baru saja menyelesaikan negosiasi dengan Wasilah, keduanya mencapai kesepakatan yang saling disukai, tapi begitu ia berpisah dengan Wasilah, lihatlah apa yang sudah Ergan dan anak-anaknya alami.
Siska heran, mengapa pula pria bajingan di depan Ergan bisa masuk, terlebih dengan membawa wanita selingkuhannya? Cih, dipikir-pikir dia hanya sedikit kaya saja, mana mampu masuk dan memesan makanan di restoran Adamas ini? Secara, restoran ini merupakan restoran kelas atas, harga makanan juga tidak main-main mahalnya.
Harga ayam bakar saja bisa lebih mahal 20-40ribu disini. Ada keberanian darimana bajingan yang miskin ini datang kemari, dan duduk di meja yang sama dengan adiknya pula? Oh! Siska baru terpikir, mungkinkah ia melihat mereka semua masuk, jadi ia dengan berani masuk dan berniat numpang makan? Haha, betapa rendahannya, pikir Siska.
"S-siska." Gumam Aldo pelan, yang masih bisa di dengar oleh Ergan.
"Siska apa? Panggil kakakku Nona!" Desis Ergan sinis.
"Apa maksudmu? Memangnya dia nona besar? Cih!" Giliran wanita Aldo yang membalas.
"Bukan giliranmu untuk bicara, kau, tidak ada hak!" Balas Siska tajam, membuatnya langsung terdiam. "Pergi sana, kami tidak menerimamu, selagi aku masih berlaku sopan. Jangan sampai aku memanggil satpam disini untuk menyeret kalian keluar. " Lanjut Siska sinis.
"Ada apasih? Kita hanya menyapa anak-anak Aldo saja. Memang salah? Ada hal baik, juga tidak bagi-bagi dengan Ayahnya. Harusnya senang dihampiri Ayahnya begini, itu artinya mereka berdua masih disayang Ayahnya!" Ucap wanita Also, lagi, membuat Aldo terlihat bodoh di mata Siska.
Siska sampai tertawa kecil, kali ini, sudah sangat jelas niat mereka berdua datang dan duduk di mejanya. Apa katanya tadi? Ada hal baik kenapa tidak dibagi dengan Ayahny? Betapa lucunya, selingkuhan bodoh ini. Pikir Siska.
"Pelayan!" Panggil Siska seraya melambaikan tangannya ke udara, memangil pelayan, membuat satu pelayan menghampirinya dengan ramah.
"Ada yang bisa aku bantu, nona?" Tanya pelayan tersebut.
__ADS_1
"Aku minta pindah meja, tiba-tiba saja ada dua orang asing duduk di meja kami. Sudah kami usir, tapi mereka berdua tetap tidak mau pergi. Jadi, biarkan kami yang mengalah saja, mungkin keduanya memang suka tempat duduk ini. Tolong, ya." Ucap Siska, membuat pelayan tersebut menganggukkan kepalanya. Dan memanggil beberapa pelayan lain, untuk memindahkan menu yang telah dipesan oleh Siska sebelumnya ke meja lain yang ada di dekat jendela.
Aldo yang ditinggalkan, mulai gugup, ia berpikir harus pergi sekarang juga.
"Tuan, anda mau kemana?" Tanya satu pelayan yang berniat melayaninya.
"Kami ada urusan, lain kali baru makan disini." Ucap Aldo seraya mengibaskan tangannya. Ia bahkan menyeret wanitanya yang sedikit enggan keluar dari restoran Adamas.
"Apa maksudmu? Kau mempermainkan kami, ya? Setelah membuat pelanggan kami tidak nyaman dan minta pindah meja, sekarang kau malah mau pergi?!" Tanya pelayan tersebut, jelas sangat tersinggung, merasa dipermainkan.
Meski dengan suara sedang, tapi nadanya jelas datar dan menusuk. Senyum pun, dipaksakan, membuat wajahnya menjadi seram, karena menahan emosi juga.
"Aku bilang ada urusan, adakah hak pelayan sepertimu melarangku pergi?" Tanya Aldo tebal muka.
"Cih! Aku memang pelayan, tapi tahu tidak jika kau bertindak semena-mena disini, aku bisa melaporkanmu! Bukankah kau tadi juga memaksa masuk kemari, sedangkan aku lihat bajumu juga dekil sekali? Memangnya kau mampu membayar?" Tanya Pelayan itu, dengan suara kecil. Jangan sampai didengar pelanggan lain, dirinya sebetulnya harus profesional, tapi ia sudah cukup bersabar dari awal mula dua pelanggan menyebalkan ini masuk.
Disisi lain, Siska, Ergan dan kedua anaknya, makan dengan tenang, sesekali melihat ke arah meja yang diduduki keempatnya sebelumnya. Dimana Aldo dan selingkuhannya, masih berbicar dengan satu pelayan.
Wajah oelayan sangat tidak enak dilihat. Tentu Siska tahu apa yang terjadi disana dengan melihat wajah pelayannya saja. Jika itu Siska, ia juga akan bersikap sama, ketika menghadapi orang yang mempermainkannya.
Aldo masih saja begitu congkak setelah ketahuan mempermainkan para pelayan ini. Lihatlah, sekarang keduanya diseret satpam, Aldo dan wanitanya bahkan memaki dengan keras, mengutuki restoran Adamas. Daftar hitam, sudah pasti ada namanya tertera.
"Cih! Rasakan, dasar bajingan!" Desis Siska kesal, berkata pelan sekali, malah terkesan berbisik, karena tidak mau didengar kedua anaknya ia mengumpat kata-kata kasar. "Sudah cukup, simpan ponselmu dan makanlah." Lanjutnya, beralih pada Ergan yang masih saja merekam Aldo dan selingkuhannya yang diseret keluar.
"Aku akan menguploadnya nanti, pasti akan lebih banyak yang menonton kontenku ketika rilis." Ucap Ergan, seraya tersenyum. "Ngomong-ngomong, kak, kenapa kita memilih mengalah dan pindah meja daripada mengusir keduanya tadi?" Tanya Ergan yang sebetulnya penasaran.
"Malas meladeni, kenapa pula harus buang-buang tenaga pada orang yang tidak tahu diri, benarkan Uqi?" Tanya Siska seraya tersenyum.
__ADS_1
Uqi mengangguk, "Benar Bu, Uqi benci dia." Ucapnya penuh kebencian.
"Sayang, makanlah, setelah ini Ibu janji tidak akan membuatmu bertemu dengannya lagi, oke? Uni juga, nak, makan yang banyak ya." Ucap Siska seraya tersenyum.
Uqi dan Uni mengangguk, menurut perintah Ibunya. Keduanya lebih tenang dan santai kali ini, tidak seperti tadi wajah keduanya tegang dan ada ketakutan di diri Uni.
"Kak, kau juga makanlah." Ucap Segan seraya menyodorkan satu piring yang belum disentuh, itu memang bagian Siska. Tapi porsinya sudah di tata sedikit, sengaja, karena ia tahu ia akan makan bersama Wasilah tadi.
"Ya, makan, makan." Balas Siska seraya mengambil sendok dan garpu.
"Ngomong-ngomong, kak, bagaimana negosiasinya?" Tanya Ergan kemudian.
"Lancar, sudah tanda tangan kontrak juga. Aku juga sudah pegang uangnya. Ada di tasku, pulang dari sini kita setor uang ke bank, oke!" Ucap Siska seraya tersenyum bangga.
Ergan lebih bangga, "Oke!" Ucapnya seraya tersenyum. Kakaknya ini memang tiada dua hebatnya. Gorengan saja bisa menjadi berpuluh-puluh juta harganya. Siapa yang akan berpikir jika kakaknya ini kaya dari menjual gorengan begitu.
"Tapi, 1 hari lagi, kita harus bersiap mengganti produk, para peniru mungkin akan bermunculan, terlebih makanan ini gampang ditiru. Juga, pelanggan mungkin sudah mulai merasa bosan." Ucap Siska.
"Tapi, kak, bukankah masih banyak yang membeli? Popularitas kios juga meningkat, gara-gara konten di tutubku?" Ucap Ergan.
"Kau benar, ah begini deh, aku tidak akan menghapus produk lama, hanya saja mungkin akan berkurang banyak jumlahnya. Dan besok, adalah hari terakhir kita berjualan produk ini secara penuh." Ucap Siska.
Mengingat besok adalah hari Minggu, jadi dirinya berpikir akan berjualan lebih banyak, jadi waktunya lebih lama. Apalagi, besok adalah hari dimana Ergan harus mempersiapkan semuanya untuk masuk sekolah lagi.
"Setelah dari bank, kita belanja keperluan sekolah kalian yang masih belum terbeli, oke." Ucap Siska lagi seraya tersenyum senang.
*
__ADS_1
*