Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Lamaran


__ADS_3

*


*


Sesampainya di rumah, Siska membagikan kabar bahagia yang dialaminya pada semua orang. Dengan semangat bercerita tentang baik dan ramahnya orang tua Darren, juga tentang bagaimana gaulnya Ayahnya Darren.


Semua orang yang mendengarkan akhirnya merasa lega setelah mendengarnya, karena Siska diterima oleh kedua calon mertuanya.


Tak lupa, Siska juga bercerita tentang pembelian hadiah mahal yang diberikan pada calon mertuanya. Penolakan dan akhirnya penerimaan setelah melakukan beberapa kesepakatan.


Tidak ada yang keberatan dengan hadiah besar yang diberikan Siska. Itu uang Siska, ia juga berhak memberi hadiah besar pada orang tua Darren. Karena selain mendidik anaknya menjadi sosok laki-laki sejati, keduanya juga sangat menerima Siska dengan baik.


Lagipula, Darren sering kali membantu dan mendampingi keluarga Siska. Jadi, dua hadiah senilai 2M lebih tidak menjadi masalah bagi keluarganya. Siska sendiri terlampau mampu membelikan keduanya hadiah besar, apalagi Siska juga mempunyai uang penjualan dan penyewaan rumah di ibukota. Belum keuntungan dari 3 kedainya yang ber M M juga.


Selain Siska, Ergan, Geri juga dua kakak Siska masing-masing sudah menghasilkan uang sendiri. Keluarganya kini tidak kekurangan seperti yang dialami di masa lampau.


Setelah bercerita, Siska kemudian beristirahat. Uqi dan Uni bahkan ikut tidur bersama Siska. Karena Siska pergi lama sekali menurut keduanya, membuat keduanya rindu. Sekalian, Siska juga menenangkan keduanya perihal nenek dan kakek baru nanti yang pastinya akan bersikap baik dan menerima keduanya dengan baik pula.


Lalu besoknya Siska menjalani aktivitas seperti biasa, sampai mempersiapkan rumah untuk kedatangan keluarga Darren. Sampai lusa, pada pukul 7 malam, Darren dengan kedua orang tua nya pun datang bersama rombongan keluarga lainnya. Berencana melamar Siska.


Siska yang awalnya mengira jika lamaran hanya akan diselenggarakan kedua keluarga secara sederhana dan kecil-kecilan, tentu saja terkejut. Apalagi ia tidak menghias rumah sedemikian rupa. Juga rombongan keluarganya juga lumayan. Ada 3 keluarga yang mengikuti calon mertuanya dan Darren datang.


Siska kira hanya Darren dan dua calon mertuanya saja yang datang, tapi ia salah. Bahkan Sahni dan Haris datang, menambah jumlah orang yang terlihat sekitar 15 orang yang datang untuk melakukan lamaran, aslinya menjadi saksi lamaran Darren dan Siska.


Meski begitu, Darren dan keluarga tidak keberatan sama sekali karena tujuan awalnya memang kecil-kecilan untuk lamaran, sekedar mengikat sebelum akhirnya masuk ke jenjang yang lebih serius, yakni pernikahan.

__ADS_1


Acara lamaran berlangsung begitu saja. Dalam dua jam, prosesi lamaran dan penentuan tanggal pernikahan telah selesai di lakukan. Itu adalah tanggal 3 Maret, yakni dua bulan ke depan. Karena selain harus memesan gedung dan menyiapkan segalanya, Siska dan Darren masih harus fitting baju, juga menyelesaikan semua pekerjaan agar nanti ketika cuti nikah, tidak diganggu oleh pekerjaan.


Setelah sepakat pada tanggal dan bulan penetapan pernikahan, Lamaran pun benar-bebar selesai. Tak lupa, Darren membawa hadiah besar yang kemarin disetujui oleh Siska dan dua orang calon mertuanya ketika sedang makan malam di restoran Adamas.


Dua orang tua terkejut dan berniat menolak, apalagi ketika tahu jika dua hadiah ini juga sama halnya dengan hadiah yang Siska berikan pada keduanya kemarin malam. Dan hal ini benar-benar sangat mahal untuk keduanya. Apalagi Estika, ibu Siska. Kemarin lusa juga baru saja dibelikan set perhiasan dan baju-baju baru.


Tapi karena Siska dan Darren meyakinkan keduanya, akhirnya Suherman dan Estika pun menerimanya dengan tidak enak hati. Kedua calon mertua Siska juga ikut andil membujuk keduanya agar menerimanya. Juga, Tuan Edden yang sengaja berkata akan touring dengan motor tersebut bersama.


Semua bercanda dengan santai pada malam itu. Sampai Siska bertanya dengan terkejut, ketika Suherman mengiyakan ajakan touring Tuan Edden.


Siska ini ingat betul, selain usianya yang sudah tua, Ayahnya mengalami masalah penglihatan, maka dari itu ia juga berhenti menjadi sopir truk di masa lalu. Tapi setelah dilihat-lihat hari ini, mata kedua Ayahnya lebih jernih, tidak terlihat putih seperti sebelumnya.


Ah, lihat Siska. Ia bahkan tidak tahu jika Suherman sudah beberapa kali melakukan pemeriksaan dan pengobatan selama dirinya di ibukota, dan sibuk bekerja beberapa bulan ini. Suherman juga kadang membawa Uqi ketika Uqi dititipkan padanya. Anaknya bahkan lebih tahu daripada Siska sendiri.


Setelah keluarga Darren pamit pada pukul 10 malam, keluarga Siska akhirnya tidur pada malam bahagia tersebut. Terlebih Siska, tidur di atas kasur dengan mengangkat tangan ke atas, dan melihati jari manisnya yang sudah dipasangi cincin oleh Darren.


Siska tertawa kecil, ia bahkan tidak menyangka jika dirinya ternyata akan kembali berhubungan dengan seorang lelaki setelah kelahirannya kembali. Lagi, dan lagi, ia kembali bersyukur atas berkah yang menimpanya tersebut.


Sampai ponselnya berbunyi, dan Darren lah yang menghubungi Siska, mengabari jika dirinya sudah sampai ke rumahnya yang ada di kabupaten.


Wistara mempunyai dua kediaman utama. Yang satu di ibukota dan satu lagi di kabupaten. Kedua orang tua Wistara sering berada di kabupaten, karena selain bisnis, nenek Darren dikuburkan di pemakaman khusus Wistara di kabupaten sini. Alhasil, keduanya lebih sering menetap di kabupaten daripada ibukota. Darren sendiri akhir-akhir ini sering menatap di ibukota, karena pekerjaannya. Tapi begitu selesai ia sering pulang ke kabupaten karena ingin dekat Siska. Bahkan seringkali menginap di rumahnya Siska.


"Kau sudah sampai?" Tanya Siska sebelum Darren angkat bicara di seberang telfon.


"Hm'm, aku hanya mau mengabarimu saja." Balas Darren dari seberang telfon.

__ADS_1


"Yasudah, istirahatlah, bukankah besok kau masih harus bertemu seseorang dari pemerintahan?" Ucap Siska mengingatkan Darren.


"Hmm, sebentar lagi, aku ingin mendengarmu bicara dulu. Tidakkah kau rindu padaku?" Tanya Darren.


"Jangan menggila, baru setengah jam lalu kita bertemu." Ucap Siska seraya terkikik geli, mendengar pernyataan Darren.


"Setengah jam itu sangat lama. Jangan mengejek dan menertawaiku. Kau menyebalkan, bahkan tidak merindukanku balik." Gerutu Darren memulai kemanjaannya.


"Ya, ya, baiklah, baiklah. Tidak menertawaimu lagi, tidak akan. Sekarang, menurut lah, bersihkan dirimu dan tidur, besok kau haru bangun pagi-pagi sekali." Ucap Siska.


"Hmm? Janjiku dengan pejabat itu pukul 10 pagi. Jadi meski aku tidur larut, aku tidak akan kesiangan nanti." Ucap Darren.


"Tidak mau pergi jogging bersama, hmm? Bukankah kau bilang ingin ikut olahraga denganku?" Tanya Siska menggoda Darren.


Darren tidak ingat ia pernah meminta Siska agar dirinya ikut olahraga, tapi jika itu Siska, siapa yang tidak mau? Haha.


"Baiklah, tapi jangan matikan panggilannya. Ayo tidur dengan sambungan telfon menyala." Pinta Darren.


"Tidak mau, aku takut membuat suara aneh, sudah ah aku tutup sekarang saja---Tuut!"


Setelah mematikan sambungan telfon secara sepihak, Siska langsung mendapat satu pesan dari Darren yang berisi 'Kau tidak sayang padaku lagi, bahkan tidak rindu dan tidak mau aku telfon~' Membuat Siska terkekeh kecil. Siska tidak membalas lagi, dan langsung tidur, menyusul kedua anaknya yang sudah lelap.


*


*

__ADS_1


__ADS_2