
*
*
"Aiyoo, kenapa semuanya terlihat gugup?" Tanya Siska seraya tersenyum.
Siska paham, setelah mendengar masalah yang keluar dari kakak pertamanya, Rendra. Semua yang mendengar pasti menjadi tidak enak hati. Termasuk Siska.
Masalahnya seperti yang bibi Darmi bilang waktu itu, tapi tidak sepenuhnya benar, kakak pertama bermasalah dengan orang penting di kantor. Anak dari direktur pemasaran lebih tepatnya, yang juga merupakan teman kantor Rendra.
Katakanlah, setiap siang ini kakak iparnya, Santi selalu mengirimkan makan siang ke kantor kakak pertamanya, Rendra. Setiap kali itu juga, Santi selalu berpapasan dengan anak dari direktur pemasaran ini, namanya Doni. Singkat cerita, Doni ini ternyata diam-diam suka pada Santi. Apalagi Santi pada dasarnya memang ramah pada setiap teman kerja Rendra.
Doni menyatakan perasaan pada Santi, tapi Santi menolaknya. Doni marah, lalu memaksa Santi, sampai hampir melecehkan Santi. Kemudian Rendra melihatnya, dan langsung memukul Doni membabi buta. Akhirnya Doni masuk rumah sakit. Direktur pemasaran mendengar hal ini, dan tentu saja langsung memecat Rendra yang memang ada divisinya, alias bawahan Direktur pemasaran ini.
Rendra membuktikan diri, dan bergerak cepat langsung meminta rekaman cctv di ruang keamanan. Setelah dapat, ia menunjukkannya pada direktur tersebut, tapi bukan hanya tidak percaya, direktur ini malah mengancam Rendra dan langsung memecatnya tanpa pesangon.
Rendra yang emosi, melihat sifat atasannya sama dengan anaknya, langsung saja menghajarnya. Sampai akhirnya, ia ditendang secara tidak terhormat dari perusahaan.
"Kakakmu diancam, dia juga bukan orang sembarangan, Siska." Ucap Sapta menghela nafas, menatap adiknya yang malah tersenyum tanpa beban.
"Apa maksudmu, kakak kedua? Kakak pertama tidak berbuat salah. Ia hanya membela kakak ipar, itu hal yang benar. Tidak perlu takut pada ancamannya." Ucap Siska makin tersenyum.
"Siska, mereka orang berpengaruh." Ingat kakak ipar keduanya, Putri, menatap Siska dengan serius.
__ADS_1
Ada apa dengan Siska, pikir kedua sejoli ini. Bukannya gugup, tidak enak hati, dan takut, tapi malah tersenyum tanpa beban.
"Kakak pertama masih punya buktinya, ingat?! Jika mereka macam-macam, sebarkan di sosial media. Jangan takut, warga sosial media tahu mana yang benar mana yang salah. Juga, tentang si Doni ini. Jika dia berani berlaku seperti itu, itu artinya dia sering melakukannya. Tinggal dicari saja bukti kejahatan lainnya. Tenang, jejak digital tidak bisa hilang sepenuhnya." Lanjut Siska menjelaskan.
"Sosial media? Kau tahu jika ingin postinganmu dilihat banyak orang, kau harus punya penggemar banyak. Kau tahu apa? Ponsel saja baru beli beberapa hari yang lalu, kan?" Desis kakak keduanya.
Siska memutar kedua bola matanya kesal. "Jangan meremehkan ku, kak. Bapak bahkan tahu, kemarin aku yang menyebarkan video paman Rusdi sampai populer di aplikasi burung biru. Bukankah kakak ipar kedua kemarin memberitahumu juga?" Tanya Siska heran.
"Ha? yang benar? Mana aku tahu itu kau, Putri hanya memberitahu masalah Rusdinya saja." Bela Sapta, yang memang tidak tahu.
"Yasudah, sekarang tahu, kan? Tenanglah. Semua akan ada jalan keluarnya." Ucap Siska tersenyum simpul, kembali tenang, rasa kesalnya juga meluap begitu saja.
Akhirnya, setelah mendengar pernyataan Siska, semua orang dapat menghela nafas lega. Beban yang tadi dirasakan oleh Rendra dan Santi pun, seketika meluap.
Rendra yang bahkan tidak tahu menahu tentang perasaan istrinya seketika menundukkan kepala dan diam-diam meneteskan air matanya. Ia merasa bersalah, kenapa pula dirinya tidak sadar tentang perasaan Santi.
"Kakak ipar, tidak apa-apa, semuanya akan baik-baiak saja. Ingat, ada aku, dan kami semua. Tidak perlu takut, kakak tidak melakukan kesalahan apapun. Kuatlah, demi Geri." Ucap Siska seraya menepuk lembut punggung kakak iparnya.
Pasti, sangat berat. Setiap wanita yang dilecehkan banyak sekali yang tidak mendapat keadilan. Apalagi jika orang yang melecehkan ini seorang yang berpengaruh. Bisa apa wanita lemah tanpa kekuatan?
Dan hal inilah, yang membuat beban dan mental wanita terguncang. Hal memalukan, yang bukannya mendapat keadilan, tapi malah mendapat penghinaan dan ejekan dari orang-orang.
"Kak, bawa kakak ipar istirahat dulu. Kau juga istirahatlah, habis perjalanan jauh, pasti lelah. Sisanya biar Siska yang urus." Ucap Siska seraya melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Rendra beranjak, dan Santi menurut begitu tangannya dituntun oleh Rendra. Ia pergi setelah mengucapkan terimakasih pada Siska.
Sepeninggal keduanya, Siska akhirnya bisa menghela nafasnya. Ia menatap kedua orang tua dan pasangan yang kini menatap dirinya.
"Kakak kedua, kakak ipar kedua, kalian juga beristirahatlah. Aku butuh mengobrol dengan Bapak, dan Mama." Ucap Siska tersenyum. Membuat kakak keduanya, meski enggan pergi, tapi tetap ditarik pergi oleh Putri secara paksa.
"Bapak jangan menyalahkan diri sendiri, Mama juga, tenanglah. Kita pikirkan solusi bersama-sama." Ucap Siska seraya tersenyum. "Aku ingat, Bapak ada teman seorang direktur. Apa bisa kita meminta bantuannya?" Lanjut Siska bertanya.
"Kenapa bapak melupakan itu? Ah tapi, Bapak tidak yakin dia mau membantu bapak apa tidak? Lihatlah, keadaan keluarga kita begini. Mungkin sangat tidak sebanding dengan teman Bapak." Ucap Ayahnya kembali putus asa.
"Baiklah, nanti Siska cari orang saja, agar bisa mencari bukti lainnya perihal kejahatan Doni itu. Aku kenal beberapa bos, siapa tahu mereka setara dengan direktur pemasaran itu. Jadi jangan terlalu dipikirkan, ya Pak, Ma. Serahkan semuanya padaku." Balas Siska menenangkan keduanya. Membuat keduanya mengangguk dengan rasa syukur.
"Jika ada kesulitan, bilang pada Bapak, nak. Bapak akan membantu sebisa bapak." Balas Ayahnya seraya mengelus kepala Siska lembut. Membuat Siska menganggukkan kepalanya. Kemudian keduanya meninggalkan Siska, berpamitan masuk ke kamar untuk mengistirahatkan diri. Terlebih Ayahnya yang baru saja pulang dari kebun, butuh bersih-bersih dan mengistirahatkan tubuh.
Tinggal Siska seorang diri di ruang tengah. Tapi dirinya tidak berniat beranjak pergi. Memikirkan masalah, yang tiada habisnya. Siska jadi sadar, di kehidupan pertamanya, Ayah dan Ibunya pasti sangat tersiksa. Rumah tangga Siska hancur, Rendra dan Sapta tertimpa masalah diwaktu yang berdekatan. Siska bahkan tidak tahu bagaimana keadaan kedua orang tuanya waktu itu. Pasti sangat berat.
Siska menghela nafas lagi, matanya yang terpejam kemudian terbuka. "Kali ini, aku harus bisa memperbaiki semuanya. Keadaan keluarga, keadaan ekonomi, dan pandangan orang-orang. Aku harus bisa mengangkat derajat Bapak dan Mama." Gumamnya seraya tersenyum kecil.
"Sudahlah, pikirkan dulu untuk besok. Aku harus bertemu Bu Wasilah di restoran Adamas pukul 2. Ayo siapkan Cappuccino Cincaunya saja dulu." Gumamnya kembali, menyemangati diri sendiri, seraya beranjak meninggalkan ruang tamu. Tapi berbelok menghampiri Uqi dan Uni dulu sebelum benar-benar ke dapur.
Ya, Cappuccino cincau inilah yang akan ia tambahkan sebagai bonus minuman untuk pembelian 3000 dagangannya oleh Bu Wasilah. Siska cukup percaya diri, jika Bu Wasilah pastinya akan menyetujui minuman yang ia sembahkan padanya nanti.
*
__ADS_1
*