
*
*
Ergan merebahkan dirinya di atas sofa, meluruskan pinggangnya yang terasa sedikit sakit karena dijadikan pesuruh Siska belanja hari ini. Baru kali ini ia merasa sebegitu lelahnya hanya untuk belanja. Mengerikan, menemani wanita belanja ke pusat perbelanjaan besar. Lebih baik ke mini market saja, itu yang paling benar.
Di seberangnya, di sofa lainnya, ada Uqi yang sama-sama kelelahan, bedanya, Uqi duduk bersandar dan memejamkan kedua matanya. Ia lelah, tapi mulutnya sedikit tersenyum, seolah puas dan senang dengan kegiatan jalan-jalan hari ini.
"Uqi sayang baik-baik saja?" Tanya Siska, ketika ia masuk dan melihat Uqi memejamkan mata dengan raut terlihat lelah. Siska jadi khawatir, takut anak sulungnya tersebut sakit nantinya.
Siska duduk di samping Uqi dan menatapnya sendu, tangannya terangkat merapikan rambut Uqi dan mengusapnya lembut.
Uqi membuka mata dan menatap ibunya yang terlihat khawatir, membuat Uqi tersenyum, "Uqi baik-baik saja, Bu. Jangan khawatir." Ucap Uqi dengan tangan menggenggam tangan Siska.
"Ibu terlalu lama berbelanja, ya? Maaf ya, sayang, lain kali ibu akan lebih cepat, tidak akan membuat Uqi kelelahan lagi, oke?" Ucap Siska.
"Tidak, aku senang asal bersamamu, Bu. Aku tidak lelah." Balas Uqi tersenyum, sampai kedua matanya menyipit.
Ergan yang ada di sebrang keduanya diam-diam merekam, dan mencibir keduanya merasa kesal. Untuk apa di rekam? Ah benar, apa dirinya sudah bilang jika saat ini sudah menjadi mata-mata Darren?
Ia akan mengirimnya pada Darren nanti. Uqi ini, meski masih kecil, dan anak kandung Siska, tapi sering sekali dicemburui calon kakak ipar barunya. Haha. Laki-laki yang saat ini jauh dari Siska tersebut, akhir-akhir ini juga sering berebut Siska dengan Uqi jika ia sedang datang ke rumah.
Uqi sendiri tidak mau kalah, mengikuti permainan Darren dan berakhir keduanya akan dimarahi Siska juga dihukum bersamaan di bawah tatapan mata semua orang. Jika keduanya sudah di satu ruangan bersama, pastilah langsung berebut Siska, sama-sama ingin bermanja dengan Siska.
Siska sendiri pusing, di satu sisi anaknya, disisi lain calonnya. Alhasil, ia bersikap adil dengan suka menghukum keduanya, meski akhirnya ia selalu berat sebelah dengan mengedepankan anaknya, Uqi.
Salah? Tidak. Uqi anaknya, sudah jelas darah dagingnya, terlebih masih kecil disini. Sedangkan Darren, meski Siska sama-sama sayang, tapi Darren masih tetap belum resmi dan tidak berhak merebut kasih sayangnya pada Uqi. Bukan merebut, istilahnya adalah ingin diperhatikan juga sama seperti dirinya memerhatikan Uqi.
__ADS_1
Darren sudah besar, tapi sifat dan perilakunya hampir sama dengan Uqi. Benar-benar membuat Siska pusing sendiri. Tapi meski begitu, jika Uqi ada masalah atau lebih pendiam, Darren lah yang paling perhatian padanya, ia akan dengan sengaja mencari gara-gara dengan Uqi agar Uqi mengeluarkan emosinya, mau gerutuan, pekikan, kekesalan, Darren sengaja melakukannya. Emosi yang dikeluarkan sangat baik bagi anak kecil seperti Uqi.
Dan Siska merasa hangat jika Darren sudah melakukan hal tersebut. Ia tidak hanya tidak mencari gara-gara sendirian, tapi juga mengajak Uni menganggu Uqi di kamarnya. Kadang memang membuatnya tertawa, dan Uqi akan mengadu padanya dengan mata berkaca-kaca.
Darren benar-benar sayang pada dua anaknya. Meski ia bukan anak kandung Darren, tapi kasih sayangnya sama seperti ia memperlakukan anak kandungnya sendiri.
Kembali pada Ergan, ia kini telah berhasil mengirimkan video yang baru saja di ambilnya, dengan pesan, 'Lihat ini! Apa tidak mau pulang, merebut kasih sayang putrimu, tuan pangeran? Haha, kau kalah lagi dengan anakmu sendiri.'
Pesan tersebut Ergn kirimkan berikut videonya. Kemudian ia tertawa sendiri setelah mengirim pesan, mengejek Darren adalah hal menyenangkan, apalagi jika senjatanya Uqi. Ah, kini wajah Darren pasti sudah mulai memerah kesal.
Tapi, yasudahlah. Ia hanya bertugas memanasi Darren, sekaligus menjadi mata-matanya. Juga tidak peduli pada balasan Darren berikutnya, ia langsung menutup ponselnya.
"Kakak ketiga, dimana barangnya? Mau dibereskan sekarang tidak? Aku mau istirahat, tapi mending kerjakan sekalian saja, jadi nanti malam bisa langsung senang-senang." Ucap Ergan seraya mendudukkan dirinya sendiri.
"Oh kalau begitu sekarang saja. Minta supir dan penjaga di depan membantu bawakan barangnya. Mari senang-senang di rooftop saja, supaya nanti bisa lebih jelas melihat keindahan kembang api! Susun secantik mungkin ya!" Ucap Siska semangat.
"Menurut saja, mau menemani Uqi dulu. Setelah Uqi tidur nanti, aku ke atas akan membantumu, oke tidak? Ajak Geri juga, supaya kau tidak terlalu lelah." Ucap Siska lagi membuat Ergan menghela nafas dan pasrah saja.
Malamnya, semuanya ikut sibuk, apalagi Rendra dan Sapta juga sudah datang, semua keponakan juga sudah datang dan sama-sama membantu, entah menusuki jagung, sosis, bakso, dan daging, acara bakar-bakaran akan dilakukan pukul 11 nantinya, dan sekarang disiapkan dengan saling membantu agar lebih cepat.
Kecuali anak-anak, seperti Uqi, Uni, dan Desi, ketiganya sudah tidur dan akan dibangunkan nanti pukul 11, karena ketiganya ingin ikut merayakan tahun baru bersama-sama. Terlebih tahu jika ada kembang api, ketiganya ingin ikut menyalakannya.
Semua ada di rumah, kecuali Darren. Ia entah mau datang atau tidak. Tapi sejak 3 hari memang tidak ada kabar padanya. Meski Siska menelfon dan mengiriminya pesan, ponselnya tidak aktif.
Siska tidak peduli lagi, terserah padanya. Tidak datang juga terserah saja, Siska tidak akan mengatakan apa-apa meski aslinya sedikit kecewa, karena keduanya sudah berjanji akan merayakan tahun baru bersama sebelumnya.
Darren mengingkari janjinya? Biarlah. Itu urusannya sendiri. Siska tidak akan memaksanya untuk datang jika memang ia benaran tidak mau. Masih ada Uqi dan Uni, juga keluarganya yang lain yang menemaninya.
__ADS_1
Sampai jam 11 tiba, Siska turun dan membangunkan Uqi juga Uni, Desi dibangunkan sendiri oleh Putri, jadi ketika kelimanya naik, mereka naik bersamaan.
Uqi dan Uni yang diselimuti jaket tebal oleh Siska, terlihat sangat senang dan semangat. Uni apalagi, ia yang sudah lebih fasih berbicara juga bersorak-sorak senang ketika melihat pemandangan di atas sana sangat indah, ia juga melihat satu kerdus yang diisi kembang api, dan menjadi sangat tertarik setelahnya.
Uqi lebih pendiam, tapi ia juga tersenyum lebar, hanya tidak seheboh adiknya, Uni. Uqi juga lebih suka menempel pada Siska, berbeda dengan Uni yang berlari ke sana dan kemari menghampiri setiap paman, dan kakek serta neneknya.
Siska tertawa gemas melihat tingkah bocah kecil satu itu. Semangatnya begitu besar. Dan semangat tersebut mempengaruhi semangat orang lain juga. Auranya positif sekali, Uqi bahkan senang melihat adiknya yang sangat bersemangat.
"Bergabunglah dengan Uni, sayang. Oh atau mau membantu ibu memanggang daging dan sosis?" Tanya Siska menatap Uqi lembut.
"Mau membantu Ibu saja. Uni sudah banyak yang menemani, tidak apa-apa jika tidak menemaninya sekarang." Balas Uqi, kemudian Siska menganggukkan kepalanya dan membiarkan Uqi mengikutinya mendekati pemanggangan.
Pemanggangan yang dibeli Siska ini lebih pendek, jadi ia memanggang seraya duduk, dan Uqi juga bisa ikut memanggang sambil berdiri di samping dirinya yang terduduk. Keduanya memanggang dengan obrolan hangat antara ibu dan anak, sesekali juga Siska tertawa karena melihat wajah Uqi yang terlihat sedikit hitam terkena arang.
"Uqi, bisa bantu paman membawa arang tambahan di bawah, tidak?" Tanya Rendra pada Uqi.
Uqi melihat sekeliling, tapi ia tidak banyak bicara dan hanya mengangguk saja mengiyakan. "Ibu hati-hati terkena tanganmu. Jangan sampai terluka." Ucap Uqi sebelum pergi meninggalkannya.
"Baik, baik, ibu akan berhati-hati. Memang Uqi yang paling baik, yang paling ibu sayang, muach." Ucap Siska seraya mengecup pipi Uqi. Membuat Uqi malu sendiri.
"Ibu Uqi sudah bilang jangan ber---"
"Baiklah-baiklah, ibu hanya kelepasan saja. Sudah sana, pemanmu menunggu tuh." Ucap Siska seraya menunjuk Rendra. Membuat Uqi mengangguk dan pergi bersama Rendra menuruni tangga.
*
*
__ADS_1